
"A...ahahaha... Brox, Avan kalian lucu sekali kenapa wajah kalian berdua seyegang itu, aku baik-baik saja, hanya sedikit lemas sih hehe" balasku kepada mereka.
Terlihat setelah aku berkata seperti itu Brox dan Avan juga yang lainnya langsung menghembuskan nafas dengan lega dan mereka langsung duduk di dekatku saat itu sambil mulai kembali bertanya lagi kepadaku.
"Emely kau belum menjelaskan kepada kami, apa yang sebenarnya terjadi padamu, sekarang ayo cepat katakan" tambah Devano kepadaku.
Aku tahu mereka mungkin sangat penasaran dengan apa yang terjadi denganku namun saat itu aku sendiri juga tidak mengerti apa yang aku alami saat itu sebab aku juga merasakan semuanya secara tiba-tiba dan aku hanya menuruti kata hati ku saat itu sampai semuanya terjadi dengan cepat dan begitu saja.
"Aahhh.... Begini sebenarnya tadi itu aku tidak tertelan oleh lava disana namun justru tubuhku yang menyerap semua lava itu sampai aku akhirnya terpental ke atas dan cahaya tiba-tiba saja muncul menembus awan keatas dan membelah Lavanya ke bawah, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi tadi aku merasa sayapku ini sangat kuat dan cukup berat, tapi aku juga merasa kekuatan yang aku miliki seperti bertambah pesan dan aku tidak tahu mengapa burung phoenix kecil ini bisa ada di pundakku" balasku kepadanya sambil segera aku memegangi burung phoenix kecil itu.
Burungnya sangat cantik meski api membara di sekujur tubuhnya dan entah kenapa aku merasa sangat menyukai burung itu, sedangkan semua temanku yang lain hanya menatap aku dengan menaikkan kedua alis mereka bersamaan dan mengangguk.
"Ohhhh... Begitu yah, tapi Emely aku rasa sekarang kamu sudah bisa terbang dengan sayap itu, apa kamu mau aku ajarkan caranya terbang dengan baik?" Ucap Vayu kepadaku.
Aku sebenarnya merasa senang karena bisa terbang namun sayap ini terlalu mengganggu untukku sebab aku adalah manusia biasa pada awalnya sama seperti Devano aku tidak ingin terlihat semakin buruk rupa seperti ini, dan dengan munculnya sayap berwarna hitam dan merah penuh api membara itu aku merasa diriku bukan Emely yang dulu lagi.
Sehingga saat Vayu menawarkan bantuan kepadaku aku hanya tertunduk lemas dan menghembuskan nafas dengan lesu.
"Aku tidak ingin memiliki sayap ini" ucapku hingga membuat semua orang kaget mendengarnya.
"Hah? Apa yang kau bicarakan Emely, sayap itu tampak sangat keren dan lihat api menyala di sayap itu dengan sendirinya, kau tidak perlu menyalakan api di tanganmu ketika kita ke tempat yang gelap karena sayapmu sudah melakukan itu untuk memberikan cahaya yang lebih terang" ujar Arshaka kepadaku,
"Aku tahu itu Arshaka, tapi bagaimana pun aku adalah manusia biasa dari permukaan bumi, aku tidak ingin menjadi makhluk aneh seperti ini, dan jika aku memiliki sayap ini seterusnya, aku tidak bisa hidup normal di duniaku sendiri lagi, aku takut aku tidak bisa bertemu Pelik sahabatku dalam kondisi seperti ini" balasku menjelaskan apa yang menjadi ke khawatiran di dalam diriku.
"Emely jangan memikirkan hal itu, aku akan selalu di sampingmu seperti apapun wujudmu, aku tidak perduli aku tetap menyukaimu, sangat menyukaimu" ujar Devano sambil memegangi tanganku.
Aku merasa gugup dan sedikit aneh ketika mendengar pernyataan cinta dari Devano padahal sebelumnya aku sudah biasa mendapatkan pernyataan cinta seperti itu darinya, dan tentu saja saat ini bukanlah yang pertama kali bagi aku mendengarnya.
Namun anehnya kini jantungku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut Devano dan aku juga merasa gugup saat itu, sehingga aku langsung menarik tanganku darinya dengan cepat.
"E..ehh .. Devano sudahlah jangan berbicara seperti itu kau membuat aku malu di hadapan yang lainnya" ucapku kepada dia sambil memalingkan pandangan ke arah lain karena aku tidak ingin dia melihat aku yang gugup,
"Hey Emely ada apa denganmu? Apa kau gugup karena ucapanku barusan, ayolah Emely mengaku saja bahwa kau sudah menyukai aku balik, iya kan?" Ucap Devano yang terus menggodaku.
Aku kesal sebab dia terus mendesak aku untuk mengakui hal yang aku sendiri belum menyadarinya dengan benar dan aku masih menganggap Devano sebagai pria menjengkelkan yang selalu menguntit aku di belakang.
"Aishh... Apa apaan sih kau ini, dari pada denganmu aku lebih suka dengan Arshaka atau Vayu, apa hebatnya kau, aaaahhh kau sangat menjengkelkan" balasku sambil segera menjauh darinya.
Aku tidak bisa membuat pria itu semakin percaya diri dan terus berasumsi hal yang tidak-tidak lebih lama lagi, karena aku juga takut dia semakin berani kepadaku di lain kali.
"Hmm... Emely kau menyakiti hatiku lagi, aku terluka karenamu dan ini tidak bisa aku sembuhkan sendiri" ucap Devano sambil merajuk kepadaku,
__ADS_1
"Aishhh... Kau ini lebay sekali sih, sudahlah kita harus segera bergegas mencari satu lagi rekan kita" ucapku kepadanya untuk menyudahi semua drama yang Devano buat.
Saat aku berusaha berdiri aku rupanya masih tidak sanggup untuk berdiri karena energiku belum pulih sepenuhnya.
"Aaahhh ...brukkk" suaraku yang kembali jatuh di tanah.
"Emely apa kamu baik-baik saja?" Tanya Arshaka mencemaskan keadaanku,
"Emely sebaiknya kau istirahat dahulu, lagi pula ini sudah malam, sepertinya kita jatuh di waktu yang kurang tepat saat itu, kita istirahat saja disini dahulu, dan besok baru kita mencarinya" ucap Vayu memberikan usulan,
"Ehhh ada apa dengan kalian, sudah jangan mencemaskan aku seperti itu, aku baik-baik saja kok, kita harus segera menemukan satu teman kita lagi, dengan begitu kita bisa segera mencari jalan keluar untuk pergi ke dunia permukaan dan melawan Abaddon secepatnya" ujarku kepada mereka.
Aku masih bersih keras untuk segera menemukan satu rekan pengendali elemen spiritual itu, karena aku tidak bisa melihat Pelik terus tersiksa dan teman yang lainnya terkurung di ruang bawah tanah yang bisa kehabisan oksigen kapan saja.
Bayangan yang di tunjukkan oleh kakek tetua kepadaku sebelumnya sangat mengganggu pikiranku dan semua bayangan itu seperti terus terekam dan tergambar dengan jelas dalam pikiranku sehingga aku tidak bisa terus mengulur waktu untuk menyelesaikan misi ini secepatnya.
Sayangnya disaat aku tetap berusaha untuk mencari satu temanku lagi, Avan dan Brox menahan aku begitu juga dengan yang lainnya.
"Emely berhenti, sudah cukup kau melakukan banyak hal sejak aku bertemu denganmu, kau harus beristirahat dan memulihkan energi dalam dirimu, dengan begitu baru kita bisa dengan cepat menemukannya" ucap Avan sambil menahan tanganku,
"Tapi Avan waktunya tidak banyak lagi, kita sudah benar-benar terdesak saat ini" balasku kepadanya dengan wajah yang cemas,
"Emely apa kau lupa waktu di dunia ini jauh lebih lambat dari pada waktu di dunia permukaan jadi kau tidak perlu cemas soal itu, aku yakin mereka bisa bertahan jika kita beristirahat sejenak disini" tambah Brox kepadaku,
"Cukup Emely aku tidak suka melihatmu kesakitan seperti itu lagi, kau tidak bisa memaksakan dirimu terus, bagaimana kau bisa membantu mereka jika kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri!" Ucap Vayu dengan tegas kepadaku.
Ucapan Vayu menyadarkan aku bahwa apa yang dikatakan oleh mereka semua adalah kebenaran, aku memang harus tetap sehat dan kuat sepenuhnya agar aku bisa menyelamatkan mereka, aku pun segera kembali duduk dengan tenang dan menuruti ucapan mereka untuk beristirahat dahulu di tempat itu malam ini.
"Huuhh.... Baiklah aku akan beristirahat disini dahulu, aku yakin besok aku sudah pulih lagi" ucapku kepada mereka,
"Bagus itu baru Emely yang aku kenal" ucap Vayu sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut dan dia tersenyum cerah kepadaku.
Senyuman dia selalu membuat aku tenang dan aku sangat menyukai wajah tampannya itu.
Vayu memang yang paling tampan menurutku diantara yang lainnya, walaupun memang yang lain juga memiliki wajah yang cukup tampan dan memiliki ciri khas mereka sendiri namun Vayu adalah yang paling tampan dan banyak diam, dia selalu terlihat keren dimataku meski apapun yang dia lakukan saat itu.
Sedangkan Devano yang melihat Vayu mengusap kepalaku dengan lembut seperti itu, dia langsung saja menghempaskan tangan Vayu dan balik mengusap kepalaku dengan kasar sampai terus menggerutu tidak jelas.
"Aishh... Vayu beraninya kau melakukan itu, hanya aku yang boleh menyentuh kepala Emely, iya kan Emely sini biar aku saja yang mengusapnya, begini... Nih... Iya begini" ucap Devano yang terus saja mengacak rambutku.
Aku sangat kesal padanya dan langsung saja membentak dia dengan keras saat itu juga sambil aku segera menarik tangannya yang terus mengacak rambutku tersebut.
__ADS_1
"Aaarrkkkhh.... DEVANO! Apa kau gila yah berhenti mengacak rambutku, kau bukan mengusap kepalaku jika melakukannya sekasar itu!" Bentakku kepadanya sambil menggenggam tangan dia dengan kuat hingga dia meringis kesakitan.
"A..a..ahhh... Emely sakit .. ini sakit sekali maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji Emely" ucap Devano memohon.
Aku pun segera melepaskan genggaman itu dan menatapnya dengan sinis sambil langsung saja memberikan Devano peringatan agar dia tidak bersikap seperti itu lagi kepada Vayu ataupun padaku, karena itu sangat mengganggu dan membuat aku kesal dibuatnya.
"Devano aku peringatkan kepadamu, jangan berani-beraninya kau menyentuh kepalaku lagi, atau aku akan mematahkan tanganmu itu!" Ucapku memberikan dia peringatkan sekaligus ancaman.
Aku harus mengatakan itu agar dia tidak mengacak rambutku lagi dan membuat aku harus membenarkannya lagi dan lagi.
"Iya... Iya, kenapa sih kau selalu marah dan jengkel padaku tapi tadi kau baik-baik saja dan tersenyum saat Vayu yang menyentuh kepalamu" ucap Devano sambil memonyongkan bibirnya itu.
Semua teman yang lain sudah enggan mendengar Devano yang yakin sekali bahwa saat itu dia pasti akan mulai merajuk dan membandingkan, sehingga yang lainnya langsung menjauh dari Devano dan segera mencari tempat untuk berbaring sendiri dan menutup mata mereka untuk menghindari ke kesalahan Devano.
"Aahhh... Aku mengantuk ayo Brox kita tidur lebih dulu saja" ucap Avan sambil menarik tangan Brox dan tidur di samping Devano saat itu.
Sedangkan Vayu dan Arshaka merebahkan tubuhnya di samping kiriku, saat itu Devano ada tepat di samping kananku dia berdampingan dengan aku secara langsung sedang di sebelah kanan ada Vayu yang berdampingan langsung padaku, sehingga disaat Vayu hendak tidur dan wajahnya menghadap ke arahku Devano langsung merasa kesal saat itu.
"Eh...eh .eh... Ada apa sih dengan kalian semua, hey.... Ayo bangun aishhh kalian menghindariku yah" ucap Devano sambil menggoyangkan tubuh Avan dan Brox yang ada di dekatnya namun mereka sudah tertidur dengan cepat.
"Brox... Avan.. bangun kalian berdua, aishhh kenapa kalian malah menantangku seperti ini, aahhh aku tidak ingin di abaikan hey... bangunlah" ucap Devano yang terus saja merasa kesal sendiri.
Sedangkan yang lainnya sudah menutup mata mereka dan berpura-pura tidur untuk menghindari Devano yang selalu uring-uringan tidak jelas dalam setiap saat dan tidak ada yang bisa menghentikan dia ketika dia sudah seperti itu.
"Heh.. Vayu apa lagi yang kau lakukan, menghadaplah ke arah Arshaka jangan menghadap pada Emely, hey... Vayu cepat ubah posisi tidurmu itu Aishhh!" Ucap Devano melebihi tingkah kekesalan dalam dirinya.
Sayangnya Vayu tidak mendengarkan ocehan Devano dan dia terus saja tertidur dengan lelap, begitu juga denganku aku ingin tidur saat itu namun suara Devano yang sangat mengganggu sungguh tidak bisa di hentikan sehingga aku langsung menarik tangannya dan dia langsung jatuh ke sampingku, aku pun langsung berbalik menghadap ke arahnya, dan mencium pipinya sekilas.
"Aahhhhh....." Suara Devano yang aku tarik untuk segera tidur,
"Much..... Tidurlah aku lelah" ucapku setelah menciumnya.
Aku langsung menutup mataku saat itu dan kembali membenarkan posisiku dengan tidur terlentang.
Sedangkan Devano malah membelalakkan matanya sangat lebar sambil langsung memegangi pipinya yang aku kecup saat itu dia mulai tersenyum senang dan segera tertidur dengan bibirnya yang terus tersenyum lebar.
"Aahhh... Emely baru saja memberikan aku kecupan selamat malam, aaahhh aku tidak bisa tidur jika begini" gumam Devano di dalam hatinya yang tengah berbunga-bunga saat itu.
Sedangkan aku tahu dia memang akan seperti itu, namun aku melakukannya juga karena terpaksa tidak ada cara lain lagi untuk membuat dia tenang dan segera menutup mulutnya yang bawel tersebut, sehingga setelah aku melakukan itu barulah aku bisa beristirahat dengan tenang walaupun aku tahu mungkin esok pagi Devano akan mulai menjadi gila dan terus tersenyum sampai mulutnya pegal.
Aku tidak perduli dengan dampaknya yang penting bagiku saat itu adalah aku harus tidur dan beristirahat dengan tenang dan cukup agar aku bisa memiliki energiku sepenuhnya ke esokan pagi, sebab aku tidak pernah tahu makhluk apa yang ada di dunia aneh ini, dimana semuanya terlihat begitu gelap dan dingin, semuanya cukup menyeramkan dan gunung berapi yang tidak jauh dari tempatku beristirahat saat itu kini sudah tidak mengeluarkan lava panas lagi dan nampak sekali gunung tersebut seperti sebuah gunung yang mati dan tandus.
__ADS_1
Mungkin semua itu karena lava yang dia keluarkan sebelumnya sehingga membuat semua hal yang ada di sekitarnya hangus terbakar dan hancur tanpa jejak sedikitpun.