
Aku hanya bisa menatapnya dengan sedikit terperangah dan kaget tidak tahu harus melakukan apa sekarang, namun disaat aku sudah membiarkan Mauren menghampiriku akhirnya Mauren tersenyum kepadaku dan dia mengajakku untuk kembali duduk di tribun seperti sebelumnya.
"Emely ayo duduk dulu, kakimu pasti sakit setelah jatuhkan, itu terlihat lecet biar aku membantumu memeriksanya" ucap Mauren begitu perhatian dan lembut padaku.
Aku tetap menatapnya dengan tatapan aneh dan saling menatap dengan Devano karena kami berdua sama-sama tidak menyangka melihat Mauren yang sikapnya berubah sedemikian rupa dengan bertolak belakang cukup jauh dengan tingkah awalnya.
Aku berusaha tetap tenang dan terus membiarkan Mauren melakukan apapun yang ingin dia lakukan kepadaku dan yang aku tidak sangka adalah saat itu dia sungguh mengobati luka di kakiku yang lecet bahkan dia pergi untuk mengambil obat merah untuk bisa mengobati lecet di kakiku lebih baik.
"Ya ampun Emely apa kamu tidak merasa sakit, lihat lututmu tergores dan lebam begini, tunggu disini sebentar oke, aku akan segera kembali untuk membawa beberapa obat untuk lukamu" ucapnya dengan serius dan segera pergi terburu-buru dari sana,
Sedangkan aku hanya tetap dia seperti orang linglung tidak jelas dan aku hanya bisa menatapnya dengan penuh keheranan sampai ketika dia pergi dari tempat tersebut aku langsung membuang nafas kasar dan merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Haaahhh...ada apa dengannya apa dia sehat atau salah memakan sesuatu ketika di UKS?" Ucapku bertanya-tanya,
"Hey, kau harus tetap berhati-hati, kenapa kau masih membiarkan dia berada dekat denganmu, apa kau mau mati yah!" Bentaknya dengan keras.
Bukannya memberikan solusi kepadaku dia justru malah semakin membuatku pusing karena bentakannya yang terus saja memintaku untuk menjaga jarak dari Mauren padahal tanpa dia beri tahu pun, aku sudah sangat mengerti dengan hal itu.
"Aishh....duk....diam kau!, Semua ucapan yang keluar dari mulutmu hanya membuatku semakin pusing mendengarnya" ucapku sambil menginjak kakinya cukup kuat,
"Adududuh....sial kau ini, kenapa harus menginjak kakiku sih" gerutu dia meringis kesakitan,
"Rasakan saja, itu balasan karena kau terus hanya bisa banyak bicara tanpa memberikan solusi apapun atas masalah yang ada" balasku dengan puas melihatnya meringis kesakitan.
__ADS_1
Aku merotasikan mataku dan terus memalingkan pandanganku darinya, rasanya aku selalu merasa kesal dan ingin menginjak kakinya lebih keras lagi, tapi untung saja aku lebih memiliki banyak kesabaran kali ini sehingga aku tidak melanjutkan niatku itu dan aku lebih fokus dengan lutut serta kakiku yang terasa ngilu dan sakit sekarang.
"Aduhh....kenapa jadi sakit begini padahal tadi baik-baik saja" ucapku menggerutu sambil memegangi kakiku yang sakit.
Devano tiba-tiba saja turun dari tribun dia berjongkok di hadapanku dan memeriksa kakiku dengan menyentuhnya perlahan dan aku yang kaget dengan apa yang dia lakukan, langsung saja aku menepuk tangannya yang hendak menyentuh lututku saat itu.
"Peletak.....mau apa kau?" Ucapku dengan sinis,
"Aduhhh...heh aku hanya ingin memeriksa lukamu kenapa kau malah memukulku?" Bentak Devano bertanya sambil memegangi tangannya yang aku tepuk sebelumnya.
Aku menatapnya dengan sinis dan mengeratkan gigiku dengan kuat karena aku tidak mau dia menyentuh kulitku, rasanya tidak sudi berhubungan lebih dekat dengan pria menyebalkan sepertinya, aku langsung menggeser tubuhku menjauhinya dan dia justru malah kembali mendekatiku dan tetap berusaha menyentuh lututku yang terluka.
"Hey ....diamlah, aku hanya akan memeriksa kakimu apa kau ini panda sungguhan?" Ucapnya membuatku sangat kesal.
"Esssttt....aaaaww, aishh kau ini punya perasaan atau tidak sih, sudah tahu itu terluka kenapa kau malah menekannya!" Bentakku sambil menahan tangannya.
"Hey, aku hanya menyentuhnya sedikit kenapa kau lebay sekali" balas Devano yang tidak merasakan.
Aku dan dia terus saja berdebat satu sama lain dan saling membentak tidak ada yang mau mengalah sedangkan aku terus membentaknya karena dia terus membuatku jengkel dan kesal.
Disisi lain Mauren yang sudah kembali dari mengambil obat dia melihat Devano yang begitu dekat dengan Emely sehingga dia merasa sedikit sedih dan cemburu dengan kedekatan mereka berdua.
"Mereka?, Kenapa mereka sangat dekat" ucap Mauren dengan perasaannya yang sensitif.
__ADS_1
Aku tidak sengaja melihat Mauren yang berdiri mematung tidak jauh dari tempatku duduk dan aku langsung memanggil namanya hingga membuat dia langsung tersadar dan segera berjalan mendekatiku.
"Mauren?" Ucapku dengan sedikit bingung.
Aku tidak tahu sejak kapan dia berada disana tapi aku juga menatapnya dengan mengerutkan kedua alisku bersamaan sebab dia terlihat melamun dan sedikit murung ketika berdiri disana melihat ke arahku, aku tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya hingga dia terlihat seperti itu, tapi ketika aku memanggilnya dia langsung kembali terlihat ceria seperti sebelumnya dan dia segera berjongkok di hadapanku lalu langsung mengobati luka di kakiku dengan begitu ramah dan hati-hati.
"Aahh, Emely maaf ya tadi aku sedikit lama, sini lemaskan kakimu aku akan mengoleskan obatnya dan mungkin ini akan sedikit perih, kamu tahan ya" ucapnya dan aku menjawabnya dengan anggukan segera.
Dia begitu telaten dan sangat serius dalam mengobati lukaku, sejak saat itu aku sangat yakin bahwa Mauren tidak sejahat kelihatannya, apa yang aku lihat sebelumnya jelas sekali bahwa itu bukan Mauren yang saat ini berjongkok di hadapanku, perlahan senyum mengembang di wajahku dan aku sangat senang karena mau bagaimanapun berkat Mauren aku bisa merasakan memiliki seorang teman yang perhatian kepadaku untuk pertama kalinya.
Disaat teman-teman yang lain menjauhiku, mengataiku di depan dan belakang, bahkan sering menertawakan aku ketika aku berjalan melewati mereka, tetapi Mauren justru begitu perhatian dan mau mengobati lututku yang terluka dengan begitu lembut dan penuh ketulusan.
Aku sama-sama seorang wanita, jadi aku paham betul mana tatapan dan perlakuan yang tulus dan mana yang hanya sebuah kepura-puraan, mulai saat itu aku semakin yakin bahwa Mauren adalah gadis yang baik, mungkin saat itu dia hanya tengah kerasukan itulah yang aku pikirkan kini tentangnya.
"Apa aku salah mengira tentang bayangan dan aura hitam di tubuhnya kemarin ya?" Gumamku memikirkan.
"Nah....sudah selesai, Emely ingat jangan bergerak terlalu banyak yah, jangan sampai lukamu terbuka lagi. Oke" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya dan dia tersenyum kepadaku dengan cerah.
Aku mengangguk dan membalas senyumannya dengan senang.
Disaat aku berniat untuk memberikan kesempatan agar bisa dekat dengan Mauren si Devano sialan itu justru malah mengacaukan rencanaku dia tiba-tiba saja menarikku dengan paksa dan berkata cukup kasar kepada Mauren.
"Heh, sudah cukup aktingnya apa kau tidak puas sudah hampir membunuhnya dua kali, mungkin si bodoh ini akan tertipu denganmu tapi tidak denganku, panda ayo kita pergi" ucap Devano sambil langsung menarikku dengan paksa.
__ADS_1
Aku tidak bisa berontak meski aku sudah berteriak meminta dia agar melepaskan tangannya dariku, namun dia sama sekali tidak mendengarkan teriakkan ku itu dan terus saja menyeretku menjauh dari tribun juga menjauh dari Mauren.