
Hingga membuat aku jatuh ke dalam pasir tersebut sampai ke pinggangku, untungnya aku masih bisa bangkit dan keluar dari sana sendiri.
"Aaaahhh....brushhh" suaraku yang jatuh menancap pada pasir.
Untungnya jatuhnya kali ini tidak terlalu sakit karena kami mendarat di sebuah Padang pasir juga kami tidak terjebak seperti sebelumnya yang jatuh di lumpur hisap hingga membuat Devano hampir mati tenggelam disana.
Aku melihat ke sekitar sambil membersihkan diriku dan aku tidak menemukan keberadaan tiga pria yang aku cari-cari.
"Eh... Dimana mereka semua? Devano.... Avan.... Arshaka.... Hey dimana kalian?" Teriakku aku mencari keberadaan mereka.
Aku berusaha untuk berjalan meski pasir di sana cukup dalam dan membuat aku sedikit sulit untuk menapakkan kakiku dia atasnya, belum lagi cuaca yang sangat panas dan matahari begitu terik berada seperti di atas kepalaku, baru saja aku berjalan di sekitar sana hanya beberapa saat aku sudah merasa sangat lelah dan kakiku terasa sangat pegal, udara disini sungguh sangat panas aku bahkan sangat kehausan sekarang, dan rasanya seperti akan mati jika terus disana.
"Aaahhh..... Dimana mereka semua, aduhh kenapa sepanas ini, aku sedang berada dimana lagi ini, semuanya tertutupi pasir bagaimana aku harus mencari arah sekarang" gerutuku memikirkan.
Hingga teriakkan seseorang mulai terdengar olehku.
"Emely..... Emely dimana kau?" Teriakan Devano yang aku sangat jelas mengenali suaranya.
Aku langsung berbalik dan menatap kesana kemari mencari keberadaan dia aku juga segera menyahuti teriakannya itu dan balik memanggil dia meski tenggorokanku sangat sakit.
"Devano aku di sini, dimana kau?" Balasku berteriak tak kalah kencang.
Namun disaat aku tengah berteriak dan mencari keberadaan Devano tiba-tiba saja awan hitam muncul di hadapanku dan terlihat pasir di ujung sana membentuk sebuah ombak yang sangat besar seperti sebuah ombak di lautan, aku sangat kaget melihat penomena alam yang sangat dahsyat itu untuk pertama kalinya.
"Wahhh....apakah ini yang dinamakan badai pasir?" Ucapku berdiri mematung melihatnya semakin dekat ke arahku.
Saking takut dan kagetnya aku tidak bisa bergerak apalagi berlari aku hanya berdiri tertegun melihat betapa dahsyat badai pasir yang bergelombang itu, semuanya seakan dia telah dan dilewatinya dengan cepat hingga ketika badai itu semakin mendekat ke arahku tiba-tiba saja sebuah tangan dari dasar pasir menarik kakiku hingga membuat aku jatuh menerobos ke dalam sana.
"Aaaaarkkkkkhhh" teriakku kaget sangat kencang.
Aku tidak berani membuka mataku karena aku pikir saat itu aku sudah mati terbawa badai pasir tersebut namun seseorang menyentuh pundakku pelan.
__ADS_1
"Ahh....siapa kau?" Tanyaku kaget melihat seorang pria dengan wajah yang begitu polos menatap ke arahku,
Wajahnya cukup tampan dengan pakaian putih yang dia kenakan, dia hanya tersenyum lembut kepadaku dan mengulurkan tangannya membantuku untuk bangkit berdiri.
Awalnya aku tidak mengerti apa maksud dia namun dia segera berbicara kepadaku dengan suaranya yang sangat merdu hingga aku merasa terperangah dan seperti akan terhipnotis dengan perkataannya itu.
"Ehh... Apa yang mau kau lakukan?" Tanyaku kaget dan menyingkir ke belakang disaat dia mengulurkan tangannya kepadaku,
"Ayo, aku hanya ingin membantumu berdiri, apa kau akan terus duduk disitu, wargaki sudah menolong teman-teman yang datang bersamamu juga" ujar dia kepadaku.
Karena mendengar masalah teman-temanku aku segera membalas uluran tangannya dan bangkit berdiri sambil membersihkan pakaianku yang habis dengan pasir.
"KA..kau benar-benar sudah menolong teman-temanku juga?" Tanyaku memastikan,
"Iya, tapi sekarang mereka tidak ada disini" balas dia dengan santai dan memberikan segelas air kepadaku.
Dia tahu saja jika aku ini sangat kehausan sedari tadi, tanpa merasa curiga sedikitpun aku langsung saja mengambil segelas air yang dia berikan kepadaku dan meneguknya sekaligus.
Aku terus menatap dia dengan serius, mulai dari melihat pakaiannya yang terlihat aneh juga dia yang begitu santai, hingga aku mulai mendekatinya karena masih merasa penasaran kemana teman-temanku yang lainnya, meski saat itu aku juga masih merasa sedikit takut dan tetap berjaga-jaga kepadanya.
"Eum....eum....hey...bisa kita bicara? Aku ingin tahu siapa kau dan dimana teman-temanku sekarang?" Tanyaku kepada pria dengan ikat kepala yang berwarna putih melingkar di jidatnya itu.
Dia hanya membalas aku dengan anggukan dan dia berjalan ke sebuah kursi yang ada disana lalu mempersilahkan aku duduk di sampingnya, aku pun segera duduk dan menatap dia lagi dengan lekat.
"Apa kau akan terus menatapku seperti itu, apa yang mau kau tanyakan?" Tanya pria itu memulai pembicaraan.
Padahal sebenarnya aku sedari tadi merasa bingung harus menanyakannya dari mana kepada dia, dan aku juga bingung melihat dia yang tidak bicara juga sedari tadi, hingga ketika dia mengatakan itu langsung saja aku menanyakannya dengan cepat, karena aku pikir ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mulai berkomunikasi kepadanya.
"Kenapa kau masih diam? Jika kau diam saja aku harus pergi sekarang" ujar pria itu menambahkan,
"E..eh ... Tunggu aku akan bicara sekarang, aku hanya ingin menanyakan mengenai teman-temanku yang kau bilang mereka sudah di selamatkan oleh orang-orangmu, sekarang dimana mereka, aku ingin menemuinya" ucapku mengatakan semuanya,
__ADS_1
"Mereka sudah aman dan ada di rumah temanku, mungkin sekarang mereka tengah menikmati jamuan disana, tapi aku tidak bisa membawamu menemui mereka sekarang" balas dia kepadaku,
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menemui mereka?" Tanyaku merasa heran dan sedikit meninggikan suaraku kepadanya,
"Pelankan suaramu, aku tidak sudah seseorang yang bicara keras seperti kau barusan" balas dia yang menatapku dengan datar.
Aku langsung menutup mulutku dan meminta maaf kepadanya karena baru sadar bahwa barusan sudah membentak dia.
"O..ohh...maaf aku tidak tahu, tapi aku sangat tidak terima dan tidak mengerti kenapa kau tidak bisa membawa aku untuk menemui mereka saat ini, aku sangat merindukanmu mereka semua dan kami harus segera pergi dari sini" ucapku mendesaknya,
"Apa kau buta dan tuli?" Tanya dia padaku membuat aku terperangah merasa heran.
Sampai tangannya menunjuk ke atas dan aku langsung menengadahkan kepalaku ke atas sana dimana aku langsung bisa melihat betapa dahsyatnya sebuah badai pasir yang terjadi diatas sana, semua pasir berterbangan dan juga ada bebatuan kecil yang ikut berterbangan dalam gumpalan pasir tersebut, semua gulungan pasir yang bergelombang itu membentuk seperti awan hitam yang akan hujan namun semua itu adalah pasir yang keras dan menyakitkan jika mengenai kulit, sebab menyatu dengan semua kotoran.
"Astaga....a..a...apa itu badai pasir?" Tanyaku kepada pria itu,
"Iya, dan karena badai pasir ini aku tidak mungkin keluar dari rumah, karena bisa-bisa kau meninggal terhempas badai pasir itu ataupun terkubur hidup-hidup" ujar pria itu membuat aku sulit menelan salivaku sendiri ketika mendengar ucapannya.
"KA..kau membuatku takut saja, tapi memang badainya besar sekali, aku tidak pernah melihat sesuatu se menyeramkan ini" balasku sambil terus menatap ke atas dengan terperangah.
Semua itu sangat menakutkan dan tiada hentinya saat aku mencoba hendak memegang bagian atap ruangan itu, tiba-tiba saja pria tersebut menahan tanganku dan melarang aku untuk menyentuhnya.
"Berhenti!" Ucapnya mendominasi.
Padahal saat itu aku hanya ingin menyentuhnya saja karena aku sangat penasaran, dimana aku masih bisa melihat badai di atas sana namun aku masih damai dan tenang di bawah sini, itu terlihat sangat aneh dan sama sekali tidak terlihat sebuah penghalang atau dekat diantara ruangan itu dengan bagian luar sana.
Aku menatap ke arah pria itu dengan menaikkan kedua alisku dengan heran.
"Kenapa kau menahan tanganku, aku hanya ingin menyentuhnya saja" balasku kepadanya dan bertanya,
"Itu sangat rentan dan akan rusak jika kau menyentuh ya tanpa sihir, jadi jangan coba-coba untuk menyentuhnya jika tidak ingin badai itu merusak persembunyian kita" balas pria itu sambil menurunkan tanganku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk patuh karena paham barusan aku hampir saja membuat kekacauan hanya karena rasa kepenasaran di dalam diriku ini, tali setiap kali aku penasaran aku selalu tidak bisa menahannya hanya kalo ini dia saja yang bisa dan berani menahanku seperti itu, bahkan aku juga menuruti ucapannya itu.