Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Menemukan pengendali air


__ADS_3

Saat berbalik aku benar-benar merasa kaget melihat di hadapanku ada sebuah mimbar tempat duduk yang berjajar rapih dan orang-orang yang mengelilingi lapangan itu, serta disisi lain aku melihat ada seorang pemuda yang tengah diikat diatas sebuah kayu besar serta ada sebuah tali berbentuk lingkaran di depannya, kedua tangan dan kaki pria tersebut di ikat dengan kuat menggunakan sebuah tali yang besar dan aku sangat panik melihat dia terus di dorong oleh dua orang di belakangnya yang memakai pakaian sangat aneh seperti di jaman kerajaan kuno.


Aku bingung dan menatap ke sekitar dimana semua orang-orang yang berdiri memutariku di sekitar sana semuanya mengenakan pakaian yang aneh dan mereka juga menatapku dengan tatapan tajam dan sebagian seperti takut denganku, sedangkan tiga orang yang duduk di mimbar depan yang seperti sebuah panggung atau mimbar kerajaan mereka menatapku dengan sangat tajam, ada seorang kakek tua di tengah-tengah yang duduk di bangku tahta kerajaan paling tinggi, juga di sebelah kanannya ada seorang wanita yang juga kulihat cukup tua dia memakai mahkota di kepalanya dan ada satu lagi di sebelah kiri, seorang pria dengan mahkota kecil dan sepertinya usia dia seumuran denganku.


Aku bingung harus menjawab apa dan beberapa orang datang menghampiriku dari depan dengan tongkat yang mirip tombak panjang lalu mereka menodongkan bagian tajamnya ke arahku hingga membuat aku kaget setengah mati.


"Siapa kau, jawab atau kami akan membunuhmu sama dengan pria disana!" Bentak sang ria tua itu sambil memukul kursinya cukup keras,


"O..oh...tunggu, tunggu aku....aku seorang manusia sama seperti kalian semua, lihat ini aku punya tangan, kaki dan kepala, aku juga bisa bicara dengan kalian semua aku manusia baik aku tidak jahat, tolong jangan todong aku seperti ini" ucapku memohon sambil segera menunduk pada pria tua yang aku pikir pimpinan disana,


Semua orang diam dan aku sangat takut saat melihat pria tua itu mulai berdiri hingga tidak lama kemudian burung raksasa yang tadi membawaku terbang kembali ke sana dan dia menjatuhkan Devano tepat menimpa tubuhku dari atas hingga aku merasakan punggungku yang sakit di duduki olehnya.


"Aaaaa....brukkk...." Suara Devano yang menimpa tubuhku,


"A..aduhh...heu...heu....." Ucapku merasakan sakit di punggungku,


"Eh.... Seperti kenapa tidak sakit, dan aku merasa mendengar suara Emely tapi di mana dia, dan siapa orang-orang aneh ini?" Ucap Devano kebingungan sendiri.


Rasanya saat itu aku ingin menghajarnya dan membakar dia sampai menjadi abu dan aku buang abunya ke sungai nil, dia sama sekali tidak sadar bahwa saat itu kami tengah dalam bahaya dan dia berada diatas tubuhku.


"Heh, sialan sampai kapan... Kau ... Akan duduk di pinggangku!" Bentakku sambil menepuk kakinya dengan kuat hingga akhirnya dia segera bangkit berdiri.


"Eh.... Emely, ma...maafkan aku, aku tidak sengaja sungguh maafkan aku" ucapnya meminta maaf sambil membantuku berdiri.


"Aishh..... Kau!" Ucapku hampir menepuk kepalanya itu.


Namun aku hampir saja melupakan tengah berada dimana saat itu dan pria tua tadi langsung membentak keras dan menyuruh para prajurit yang ada di hadapan kami untuk menyerang begitu saja tanpa mau mendengarkan pembicaraan dariku dulu.


"Prajurit tangkap mereka berdua, merek pasti adalah komplotan dari pria penyihir itu!" Bentak pria tua itu.


Dan langsung saja para prajurit yang membawa tombak itu menyerang kami, dan aku tidak bisa diam saja disaat para prajurit itu mulai menyodongkan senjata mereka kepadaku, sedangkan aku sendiri tahu bahwa Devano tidak sehebat aku dalam bertarung, sehingga aku langsung menangis semua serangan yang mereka berikan.


"Ah....ha...ha..... Devano cepat berlindung di belakangku!" Teriakku padanya sambil terus menangkis semua serangan lawan menggunakan api di tanganku.


Tapi saat itu sepertinya aku salah perkiraan sehingga salah satu tombak tajam itu mengenai tanganku sedikit hingga darah mengalir keluar dan aku sangat marah saat melihat tanganku terluka.


"Seeerttt.....aahhh" tanganku terluka.


"Aishh..... Sialan beraninya kau melukai tanganku, rasakan ini huaaaaaa" teriakku sambil menghembuskan api yang sangat besar ke arah semua prajurit itu dengan kuat hingga mereka semua langsung jatuh seketika.


Pria tua yang sepertinya raja dan juga penguasa di tempat itu melihatku dengan sorot mata yang tajam dan aku tahu sepertinya raja itu membenciku sekarang, apalagi setelah melihat apa yang aku lakukan pada prajuritnya.


Aku merasakan sakit pada tanganku dan nafasku mulai tidak teratur karena sudah menghabiskan cukup banyak energi setelah aku baru saja jatuh, aku mulai sedikit lemas namun untungnya Devano langsung menyentuh tanganku hingga luka itu langsung sembuh seketika dan aku bisa kembali lebih baik daripada sebelumnya.


"Emely apa kamu baik-baik saja?" Tanya Devano padaku,


"Aku baik setelah kau mengobatiku, dan sepertinya tombak yang mereka gunakan memiliki racun di dalamnya" ucapku menduga.


Karena aku bisa merasakannya, ketika tanganku terluka oleh kakek aku tidak selemah itu namun ketika aku terluka oleh tombak tadi padahal lukanya hanya kecil rasa lemasmya jauh lebih terasa dan mataku hampir kabur di buatnya, untunglah Devano membantu mengobati lukanya dengan cepat.


Aku menghadap pada raja itu dan berusaha menjelaskan kepadanya bahwa kami bukan orang jahat.


"Raja atau siapapun kau... Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku dan temanku ini bukanlah orang jahat, aku hanya manusia biasa yang tersesat ke tempat ini, aku bisa menjelaskannya pada kalian jika kalian membebaskan ku" ucapku menjelaskan.


Tiba-tiba saja ada seorang prajurit menghampiri raja itu dan membisikan sesuatu kepadanya.


Kemudian pandangan raja yang memakai sebuah mahkota paling besar itu langsung berubah dia tidak terlihat sekejam sebelumnya dan dia langsung menghembuskan nafas berat lalu membungkuk ke arahku juga Devano.


"Maafkan aku putra putri langit, aku telah bersikap sembarangan dan ceroboh sebagai seorang raja, kalian di persilahkan untuk tinggal di kerajaan, dan semua rakyatku berikan hormat kepada putra putri yang turun dari langit ini dia adalah berkah yang diberikan oleh langit, hormat putra putri langit hormat!" Ucap pria tua itu sambil merentangkan kedua lengannya.

__ADS_1


Kemudian ucapannya itu langsung diikuti oleh semua orang yang mengelilingi kami di sekitar sana. Mereka semua langsung menunduk memberi aku dan Devano hormat sedangkan kami berdua hanya clingukan kebingungan hingga kami hanya bisa membalas dengan gerakan menunduk seperti dalam film kerjaan yang pernah aku tonton.


"Hormat putra putri langit, hormat!" Teriak mereka serempak dan sangat keras.


"Haha... Hormat... Hormat" ucapku membalasnya dengan Devano,


Kemudian dia orang wanita mempersilahkan kami untuk pergi namun aku melirik ke arah pria yang tengah siap untuk di gantung secara paksa oleh dua orang prajurit tidak jauh dari tempatku berdiri.


Entah kenapa saat melihatnya aku merasa orang itu tidak aneh bagiku dan aku merasa dia tidak berasalah padahal aku sama sekali tidak mengetahui apa kesalahan yang telah dia perbuat sebelumnya hingga harus menerima hukuman gantung diri seperti itu.


"Putra putri langit mari saya tunjukan jalan menuju kerajaan" ucap salah satu wanita itu dengan anggun dan membungkuk,


"Eh .. tunggu kami masih ingin berada disini dan siapa pria yang ada disana, mengapa dia harus menerima hukuman gantung diri seperti itu?" Tanyaku kepada pelayan wanita tersebut,


"Dia adalah penyihir es, pria itu miliki kekuatan mengendalikan air dan dia tidak berhasil mendatangkan hujan hingga harus dihukum mati karena dianggap membohongi kerajaan" ungkap pelayan wanita itu.


Saat mendengarnya aku sangat kaget begitu pula dengan Devano, aku pikir bagaimana bisa anak sebesar dia bisa mengendalikan air dan memiliki kekuatan es, apalagi harus mendatangkan hujan.


"Devano kau tahu apa yang harus kita lakukan?" Ucapku menatapnya memberikan kode,


"Emely jangan, awas saja jika kau coba-coba untuk membantu pria asing itu, kita saja sudah bersyukur tidak terbunuh tadi" ucap Devano kepadaku,


"Aishh... Kau ini murid kakek Kerto atau bukan sih, apa kau tega melihat pria itu di bunuh dengan cara yang kejam begitu? Sudah kalau kau tidak mau diajak bekerja sama, biar aku yang melakukannya sendiri" ucapku sambil langsung berbalik dan menghentikan proses hukuman gantung itu.


"Cepat seret pria pembohong itu dan gantung kepalanya di tali!" Teriak sang raja sudah memberikan perintah.


Segera dua prajurit itu terus mendorong belakang tubuh pria itu dan mulai memasukkan kepalanya ke dalam tali, hingga perlahan sebuah benda yang digunakan untuk menahan tubuhnya di tarik sampai pria itu tergantung dan menderita di sana.


Aku tidak bisa diam saja saat melihat seorang pria tergantung di depan mataku sendiri dan wajahnya sudah terlihat merah padam dengan kedua tangan dan kaki yang di ikat kuat hingga dia tidak bisa berontak sedikitpun.


Aku tidak bisa menahan diriku untuk menolongnya, segera ku angkat tanganku ke atas dan melemparkan api yang ada di tanganku ke arah tambang besar yang membuat pria itu tercekik hingga dia langsung jatuh ke bawah dan ternyata Devano menangkapnya segera sehingga dia tidak jatuh langsung ke tanah.


"Wahh... Bagus, ternyata dia memang anak yang cukup patuh padaku" ucapku sambil tersenyum kecil melihatnya.


"Kalian..... Kenapa kalian membantu manusia pembohong itu!" Bentak sang raja sambil memukul tahta tempat duduknya,


"Wahh ... Sepertinya kita akan dalam bahaya lagi Emely, sekarang bagaimana kau bisa menyelesaikannya" ucap Devano sambil terus membuka ikatan di kaki dan tangan pria asing itu,


"Raja yang agung, dengarkan aku sejenak, sebegitu seorang putri dari keturunan langit aku menentang keras hukuman gantung yang membuat semua orang menderita, mereka yang melihat dan dia yang merasakan, hukuman ini tidak pantas untuk seorang manusia. Dan kami juga manusia yang sama, karena kau raja yang agung aku memohon kepadamu untuk menjadi lebih bijak dan mencari kesalahannya dahulu baru memberikan hukuman yang setimpal pada pelakunya" ucapku sambil membungkuk dan bicara sangat lantang dengan logat seperti mereka yang aku tiru,


"Hah? Sejak kapan dia bisa memainkan peran drama seperti itu" gerutu Devano kebingungan.


Devano membawa pria itu yang terlihat sangat lemah ke sampingku dan sang raja terlihat berpikir keras hingga akhirnya dia mengijinkan untuk melepaskan pria tersebut dan dia juga mendengarkan nasehatku.


"Baiklah karena kalian putra putri dari langit aku akan mendengarkan nasehat kalian, pelayan bawa mereka bertiga ke dalam kerajaan dan berikan pasilitas terbaik" ucapnya melepaskan kami bertiga.


Aku benar-benar sangat lega dan membungkuk memberi hormat raja itu dengan tangan yang gemetar, hingga ketika berjalan mengikuti pelayan yang menunjukkan jalan padaku aku tidak bisa berbicara sedikitpun dan merasakan tanganku yang gemetar tiada henti juga keringat dingin yang bercucuran di dahiku.


"Wah... Emely tadi kau sangat hebat, sepertinya kau akan menjadi aktris terkenal jika kita kembali ke permukaan" ucap Devano sambil tertawa kecil menggodaku,


"Aishh.... Dasar bodoh apa kau tidak lihat tanganku terus bergetar dengan keringat dingin seperti ini? Aishh... Aku sangat takut sekali tadi ahhh... Sekarang aku merasa sangat lega" ucapku sambil terus berjalan mengikuti pelayan itu.


Hingga akhirnya kami berada di dalam sebuah kamar yang mewah dimana ada dua ranjang disana, Devano merebahkan pria yang lemah itu ke ranjang dan mulai mengobatinya namun Devano tiba-tiba saja berteriak kepadaku dengan wajah yang panik.


"Emely..... Emely cepat kemari!" Teriak Devano kepadaku.


Saat itu baru saja aku hendak beristirahat, dan dia malah berteriak memanggilku sehingga terpaksa aku harus kembali bangkit dengan perasaan yang kesal dan sangat emosi pada Devano yang sudah menggangguku.


"Apa lagi sih, apa kau tidak bisa berhenti menggangguku sejenak saja!" Bentakku kepadanya dengan keras,

__ADS_1


"Cepat kemari pria ini sudah aku sembuhkan namun tangannya berubah dingin dan menjadi es seperti ini, cepat lihat kemari!" Ucap Devano membuat aku kaget.


Aku segera bergegas melihatnya dan ternyata apa yang dikatakan oleh Devano sungguh nyata, tangan kedua pria itu sangat dingin dan apapun yang kamu dekatkan pada tangannya semua berubah menjadi es, aku sangat kaget melihatnya dan aku pun berusaha untuk menyembuhkannya dengan memanaskan tanganku lalu aku menyentuh tangannya dengan mengeluarkan panas dari tubuhku.


Hingga tidak lama akhirnya pria itu bangun dan dia mulai berusaha bangkit dari ranjang dibantu oleh Devano.


"Ehh... Akhirnya kau sadar, apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Devano kepadanya,


"Aku merasa sangat sehat dan segar, hanya saja tanganku terasa panas dan kekuatanku seperti terserap oleh sebuah api" ucapnya sambil memeriksa kedua tangannya tersebut.


Aku terperangah dan langsung menyembunyikan kedua tanganku ke belakang, aku tahu itu pasti karena aku yang menyentuh tangannya tadi untuk melelehkan es dan menghangatkan dirinya. Devano juga melirik ke arahku dengan tatapan yang datar.


"Apa? Kenapa kau melihat ke arahku, aku hanya berusaha menyadarkannya dan lihat dia sadar karena aku kan?" Ucapku langsung,


"Terimakasih sudah menyelamatkan aku putra-putri dari langit" ucapnya sambil membungkuk.


Aku langsung menghentikannya karena sebenarnya aku dan Devano bukanlah putra dan putri dari langit kami hanya tidak sengaja jatuh dan berada di dunia antah berantah ini.


"E...eh....sudah jangan seperti itu, aku sangat terganggu dengan sebutan putra putri dari langit, aishh.... Menggelikan sekali" ucapku sangat frustasi mendengarnya.


Sedangkan Devano justru malah terlihat bangga saja dengan sebutan itu dan dia malah menyuruh pria asing tersebut untuk terus memanggilnya putra dari langit.


"Ahah... Tidak masalah jika padanya kau panggil saja dia Emely, jika padaku aku memang putra dari langit yang baik hati dan bijak sana aku adalah Devano putra dari langit hahaha" ucap Devano mengikuti cara bicaraku saat berkata pada raja sebelumnya,


"Peletak..... Beraninya kau meledeki aku dengan nada bicara itu, aku mau aku bakar hingga musnah hah?" Bentakku sambil menepuk kepalanya cukup keras hingga dia meringis kesakitan memegangi belakang kepalanya yang aku tepuk.


"Aishhh.... Bisakah kau bersikap seperti seorang wanita, kenapa kau selalu menepuk kepalaku?" Ucapnya sambil memegangi kepalanya.


Aku hanya merotasikan matanya dengan kesal dan melihat pria asing yang baru kami selamatkan itu malah tertawa cekikikan menertawakan aku dan Devano yang berdebat satu sama lain.


"Heh... Apa yang kau tertawakan, beraninya kau menertawakan orang yang sudah menyelamatkan hidupmu" ucapku sambil menatapnya dengan tajam hingga pria itu langsung diam membisu.


Tapi saat aku memalingkan pandangan dan tidak sengaja melihat ke arah tangan pria itu lagi, tangannya terlihat kembali pucat pasi dan membeku seperti sebelumnya, aku langsung meraih tangannya dengan cepat.


"Heh ada apa dengan tanganmu, apa kau memiliki seperti sebuah kekuatan es atau mengendalikan air?" Ucapnya menanyakannya,


"I..iya tapi darimana kalian tahu tentang kekuatanku ini?" Balasnya balik bertanya.


Aku sangat senang mendengar itu dan refleks langsung berpelukan dengan Devano saking merasa senangnya.


"Aaahh.... Devano kita telah menemukan satu penguasa kekuatan spiritual, kita akan segera bertemu kakek" ucapku sambil memeluknya dengan erat,


"Iya.... Emely sangat menyenangkan, hiks...hiks... Ini mengharukan sekali, untuk pertama kalinya aku bisa merasakan pelukanmu" ucap Devano yang membuat aku langsung tersadar.


Saat sudah sadar aku langsung mendorong tubuhnya dengan keras hingga Devano terjungkal ke belakang, dan aku langsung menepuk nepuk seluruh badanku untuk menghapus semuanya yang pernah menempel dengan tubuh menyebalkan milik Devano itu.


"CK...... Menjijikan sekali aku benar-benar sudah gila karena memeluk pria sialan sepertimu" ucapku sangat kesal,


"Aaaahh... Emely kau membuat hatiku sakit dengan perkataanmu itu" ucap Devano sambil bangkit kembali dan duduk di sampingku lagi,


"Sudahlah aku akan beristirahat yang terpenting kita sudah menemukan satu pengendali elemen spiritual, dan kau pemilik kekuatan air, ikutlah dengan kami jika kau ingin selamat" ucapku mendominasi sambil menunjuk wajahnya,


"I...iya putri langit aku akan mengabdikan diriku padamu sebagai bentuk terima kasih" ucapnya sambil menyentuh tanganku dan aku merasa sangat damai.


Sentuhannya itu bisa memadamkan emosi dan kekesalan dalam diriku sehingga untuk beberapa saat aku diam termenung dan merasakan kedamaian yang belum pernah aku rasakan, ini sangat nyaman untukku namun Devano langsung menarik tanganku segera.


"Ehh... Apa yang kau lakukan pada Emelyku?" Ucap Devano membuat aku segera tersadar,


"Tenanglah aku hanyaemberikan dia sedikit ketenangan dari kekuatan air yanga ada di tubuhku, semua orang yang menyentuh aku akan bisa merasakannya dan tidak tidak memiliki efek samping apapun" ucapnya menjelaskan.

__ADS_1


Aku mengabaikan mereka berdua dan segera pergi ke ranjangku lalu tertidur dengan memalingkan pandanganku ke balik dinding dan merasa aneh saat tadi bersentuhan dengan pria itu, efek dari tangannya sungguh terasa dia benar-benar bisa membuat aku tenang.


Tapi aku merasakan kekuatanku menjadi jauh lebih kuat setelah menyentuhnya, aku seperti bisa menyerah energinya itu.


__ADS_2