
Aku benar-benar sangat jengkel melihatnya dia sudah tertidur dengan lelap entah sejak kapan sedangkan aku bahkan tidak bisa bersantai barang sejenak saja di hutan belantara ini, semua ketakutan mulai muncul di dalam pikiranku, aku melihat sekeliling yang terasa semakin gelap, hanya ada cahaya remang-remang dari api unggun yang aku buat.
Aku tidak bisa tertidur karena harus menjaga api itu agar tetap menyala, jika api itu padam aku hanya takut hewan buas bisa saja datang melewati jalanan ini dan membahayakan aku.
"Dasar pria lemah dan penakut! Bagaimana bisa dia tetap tidur dengan cepat dan terlihat begitu lelap dalam keadaan mencekam seperti ini, apa dia tidak punya otak!" Gerutuku sangat kesal sambil terus mematahkan ranting yang ada disana.
Aku mematahkan ranting-ranting itu dengan sekali pukulan di pahaku dan juga menggunakan kedua lenganku sekaligus, hingga tidak lama aku pun mulai merasa semakin mengantuk, dan mataku perlahan menutup sedikit demi sedikit, hingga tiba-tiba saja suara cekikikan yang menggelegar mulai terdengar di telingaku dan aku langsung kaget terperanjat mendekati si bodoh Devano yang masih tertidur di dekat pohon.
"Hihihi....hihihi.....hihii...." Suara tawa cekikikan mirip suara kuntilanak yang sering kita dengar.
Bulu kudukku terasa berdiri semua dan aku kesulitan menelan salivaku sendiri, aku memeriksa kesana kemari dan menatap ke segala arah di hutan itu, tapi tidak ada yang bisa aku temukan disekitar sana hingga lama kelamaan suara cekikikan kuntilanak itu semakin redup dan menghilang.
Dadaku masih belum bisa tenang dan terus berdegup sangat kencang, keringat dingin mulai keluar dari dahi dan tanganku, ini adalah hal paling menakutkan yang pernah aku alami, ranting yang aku kumpulkan juga sudah hampir habis sehingga tidak ada lagi yang bisa aku lemparkan untuk memperpanjang nyala apinya.
"Bagaimana ini, tidak mungkin aku harus pergi mencari kayu bakar di tengah malam dalam hutan antah berantah seperti ini?" Gerutuku berbicara kebingungan sendiri.
Aku tidak tahu saat itu sudah pukul berapa namun jika aku mengira-ngira dari suara hewan yang semakin kesini semakin tidak terdengar aku pikir ini sudah lewat tengah malam, aku berusaha membangunkan Devano karena api unggun nya sudah hampir habis.
"Devano.....syuut....hey...cepat bangun..... Devano!" Ucapku membangunkannya sambil menggoyangkan tangannya dengan kuat.
Dia akhirnya mulai mengerjakan matanya dan membenahi duduk dengan tegak lalu bertanya kepadaku.
"Eummm...ada apa Emely aku sangat mengantuk" ucapnya yang membuatku langsung menjitak kepalanya secara refleks.
"Peletak....apa aku gila hah? Kau masih mementingkan tidurmu dalam keadaan mencekam seperti ini? Dasar kau idiot!" Bentakku sangat kesal padanya.
Tiba-tiba saja saat Devano meringis kesakitan suara lolongan serigala terdengar begitu keras dan membuat siapapun yang mendengar akan merinding di buatnya.
"Aaaauuuummm......" Suaranya yang begitu nyaring dan terasa tidak jauh dari sekitar kami.
__ADS_1
Aku dan Devano langsung mendekat satu sama lain dan kami saling tatap dengan membuka mata lebar karena sama-sama merasa takut.
"Prop...." Api unggun nya mati dan sekitar sana gelap gulita.
Aku tidak bisa melihat Devano dengan jelas begitu pula sebaliknya dan tiba-tiba saja Devano langsung memelukku dengan erat sambil menjerit ketakutan membuat aku semakin terbawa suasana.
"Aaaarkkk..... Emely" teriaknya sambil memelukku dengan erat,
"Devano diam! Kau akan membuat hewan buas menghampiri kita jika kau berteriak sekencang itu!" Bentakku kepadanya.
Devano pun akhirnya diam dan bisa aku rasakan getaran serta detak jantungnya yang lebih mirip pelari maraton, karena merasakan itu aku tahu dia lebih merasa takut dari pada diriku sendiri sehingga aku membalas pelukannya dan mengusap punggungnya perlahan untuk memberikan ketenangan kepadanya.
"Tenang.... Devano tenang!, jangan menjadi penakut seperti ini, kau akan membuat aku semakin repot jika ketakutan dan panik begini, ayo tenangkan dirimu" ucapku sampai akhirnya dia bisa jauh lebih tenang.
Aku mencoba untuk meminta Devano melepaskan pelukannya dariku karena aku sangat membenci dia jika dia terus memelukku seerat itu, bahkan aku kesulitan bergerak dan bernafas karena dirinya.
"Devano sampai kapan kau akan memelukku aku tidak bisa bergerak jika kau terus seperti ini!" Ucapku sudah sangat emosi,
Aku langsung mendorong dia dan api tiba-tiba saja muncul dari kedua tanganku.
"KAU!" Bentakku sambil mendorongnya sangat kuat.
Lalu api mulai muncul di kedua telapak tanganku dan aku merasa kaget juga sangat aneh ketika menyadarinya.
"A..a... Api, Emely itu api?" Ucap Devano yang sama kagetnya denganku.
Aku senang karena kekuatan spiritual ini datang di waktu yang tepat.
Aku segera menutup mataku dan berusaha untuk memfokuskan diri dan menyatukan emosi di dalam jiwaku dengan kekuatan spiritual yang aku miliki, hingga aku mulai merasa tenang dan api di tanganku mulai redup perlahan, lalu aku mulai menaikkan amarah dan emosi di dalam diriku lalu api itu juga semakin membesar dan sangat besar sampai Devano berteriak panik tidak jelas dengan ketakutan sendiri.
__ADS_1
"A..a...api....itu apinya membesar.... Emely awas API!!" teriak Devano membuyarkan kefokusan di dalam diriku.
Api yang sudah berusaha aku pertahankan dengan semua kekuatan yang aku miliki langsung padam dengan sekejap karena Devano berteriak tidak jelas membuyarkan fokusku.
"Devano apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan padaku?" Tanyaku dengan sorot mata dingin kepadanya menahan emosi.
Aku sudah menggenggam kedua tanganku dengan kuat dan ingin melemparkan tinjuan kepadanya saat itu juga. Tapi dia masih tetap terlihat santai tidak merasa bersalah juga tidak mengetahui dimana letak kesalahannya tersebut.
"Ada apa, memangnya aku melakukan kesalahan? Aku justru menolongmu berkatku api di tanganmu langsung redup berkat aku, iya kan?" Ucapnya benar-benar konyol dan tidak tahu diri.
Aku langsung menjewer telinganya dengan kuat sampai dia meminta ampun kepadaku.
"Rasakan ini kau memang tidak mengerti dasar konyol, biang kerok!" Ucapku merutukinya dengan puas,
"A..a..ahhh...aduhhh...sakit! Emely tolong lepaskan tanganmu dari telingaku, ini sakit Emely tolong lepaskan aku mohon hey!" Ucapnya meringis dan memohon.
Aku pun menghembuskan nafas kasar dan segera melepaskan telinganya itu.
"Haduhh...telingaku pasti merah sekarang" ucapnya mengusap telinganya sendiri.
Saat itu jelas sekali awalnya aku melihat telinganya itu benar-benar merah karena aku menjewer telinganya dengan sekuat tenaga namun disaat dia menyentuh telinganya tidak berselang lama telinganya kembali baik-baik saja seperti semula bahkan terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Aku kaget dan terperangah melihat semua itu dan beberapa kali mengucek mataku karena masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat.
Saat Devano tengah menyentuh dan mengusap lembut telinganya itu, aku langsung menahan tangannya dan memeriksa telinga dia lebih dekat dan lebih menyeluruh lagi.
"Eh... Emely apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku...AA..ahh...kenapa kau menarik telingaku lagi" ucapnya sangat cerewet.
"Diam aku hanya memeriksa saja" ucapku sedikit membentaknya.
__ADS_1
Aku memeriksanya dengan seksama dan semua itu sungguh nyata, telinganya terlihat baik-baik saja dan tidak terlihat bekas jeweran ku yang sebelumnya sangat merah bahkan mirip seperti cap jempol tangan di telinganya itu.