
Aku sangat kaget sekali saat mendengar jawaban dari kakek tersebut yang begitu keras sambil mengetuk tongkatnya di lantai sangat kuat, aku juga hanya bisa mengatur nafasku yang terasa sangat sulit di kendalikan oleh diriku sendiri, Devano juga mengusap punggungku beberapa kali untuk berusaha menenangkan aku yang terlampau kaget sebelumnya.
"Emely apa kamu baik-baik saja?" Tanya Devano terlihat mencemaskanku.
Aku hanya bisa membalasnya dengan anggukan dan kakek itu langsung meminta kami untuk keluar dari gua aneh tersebut yang dia namai sebagai gua pengabulan.
"Keluar kalian dari guaku, dan pergilah cari tempat yang aman untuk menginap, ada masalah yang harus kakek selesaikan di dalam gua ini" ucapnya begitu saja dengan memalingkan pandangan kepada kami.
"Kek....tapi dimana jalan keluarnya, sekeliling kami gelap dan semua terasa hampa juga kosong, kemana kita harus berjalan?" Tanyaku dengan kebingungan melihat sekeliling ruangan itu yang hanya terdapat buku-buku berjajar rapih.
Devano juga baru menyadari bahwa tidak ada pintu yang sebelumnya sempat dia masuki ke dalam ruangan itu.
"Hah? Di....dimana pintunya, bukankah tadi kita masuk kemari lewat sebuah pintu?" Tanya Devano tak kalah heran.
Kakek itu tiba-tiba saja menyuruh aku untuk fokus dan mencoba mencari keberadaan pintu itu lagi.
"Heh gadis api, coba fokuskan pikiranmu dan perhatikan baik-baik sekeliling rak buku di ruangan ini dengan baik" ucap kakek itu kepadaku dengan menatap sinis lewat ujung matanya.
Aku menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan lalu ku pejamkan mataku beberapa saat untuk menenangkan diriku dahulu dan mencoba untuk berfokus pada pikiranku sendiri hingga ketika aku membuka mata kembali lalu melihat ke sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan buku itu, aku mulai melihat sebuah pintu yang menjulang tinggi dan megah, pintu itu juga perlakuanmu terbuka dan seakan ada seseorang yang mengajak aku untuk masuk ke dalamnya.
Tanpa sadar aku turun dari kursi dan berjalan perlahan menghampiri pintu itu karena sangat penasaran dan ingin memastikan apakah itu pintu yang dimaksud oleh kakek atau bukan.
Disisi lain dari sudut pandang Devano dia justru tidak bisa melihat apapun dan dia berjalan dari belakang mengikuti Emely karena kakeknya menyuruh dia agar mengikuti Emely dengan cepat.
"Emely kau mau kemana? Hey, Emely apa kau kesurupan?" Tanya Devano berteriak menahanku.
Tapi aku tidak bisa mendengarnya saat itu bahkan aku tidak sadar jika aku tengah berada disana bersama kakek tersebut dan Devano, yang terdengar di telingaku hanya suara aneh dari balik pintu itu.
Aku seperti terhipnotis dan tidak mengingat apapun serta tidak menyadari hal-hal disekitarku dan hanya berfokus pada pintu itu serta ingin masuk ke dalamnya dengan segera.
__ADS_1
"Heh, bocah tengik! Cepat kau ikuti dia dan pegang tangannya jika ingin keluar dari gua ini" ucap kakeknya tersebut.
Devano pun segera berlari menyusul Emely dan memegang ujung pakaiannya karena Devano masih merasa sedikit takut pada Emely yang tidak sadarkan diri seperti itu.
"Dasar bocah penakut!" Celetuk sang kakek saat melihat apa yang dilakukan Devano.
Hingga aku mulai berusaha untuk menyentuh sesuatu yang gelap dari balik pintu tersebut dan tiba-tiba saja tubuhku seperti terhisap ke dalam dengan waktu yang sangat singkat sampai aku baru menyadari semua itu tepat ketika aku tiba-tiba saja muncul di hutan sebelumnya dan saat aku berbalik di sana hanya ada sebuah tebing tinggi dan jalan buntu seperti yang pertama kali aku lihat bersama kakek aneh itu.
"Aahhh.....apa yang barusan terjadi, apa itu nyata?" Ucapku sambil refleks langsung meraba dinding tebing itu dengan kedua tanganku.
Aku berusaha mendorong tebingung itu dan memukul bebatuan cadas coklat yang ada disana, tapi semua itu sungguhan dan aku tidak menemukan sesuatu yang janggal di sekitar sana.
"Eugh...eughhh....ini keras dan ini tebing sungguhan, ta..tapi dimana kakek aneh itu?" Ucapku semakin keheranan.
Devano masih berdiri tidak jauh dariku dan dia hanya menatap dengan termenung dan tidak bergerak sedikitpun, aku berusaha untuk menyadarkan dia karena dia terlihat tidak sadarkan diri dan seperti orang yang mengalami syok berat.
"Devano?, Hey.... Devano sadar! ada apa denganmu?" Ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya hingga dia tiba-tiba saja ambruk terjatuh ke bawah dengan lemas.
Aku panik melihatnya yang lemas dan terlihat masih sangat syok seperti itu, dan aku tidak tahu bagaimana cara untuk menenangkan dia agar dia sadar sama sepertiku.
"Devano apa kau baik-baik saja? Hey ayo sadar, jangan membebaniku seperti ini" ucapku sudah mulai sangat panik.
Akhirnya Devano mau mengeluarkan suara dan menatap fokus kembali kepadaku.
"Emely apa ini sungguh kau, ini bukan halusinasi kan, atau ilusi kakekku kan?" Tanyanya sambil menangkup wajahku begitu saja.
Aku sangat kesal dan langsung mengeratkan gigiku dengan kuat untuk menahan emosi yang sudah hampir meledak dalam diriku.
Devano seenaknya menyentuh wajahku dengan tangan kotornya yang sudah menyentuh tanah basah barusan, dan dia menekan-nekan pipiku seenaknya, itu sangat membuat aku kesal dan langsung saja menghempaskan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
"Aishh..... Devano kau cari mati!" Bentakku sambil menangkis tangannya itu dengan kuat.
Bukannya takut saat aku membentak padanya dan menangkis tangannya itu, dia justru malah terlihat tersenyum senang dan langsung memelukku begitu saja.
"Aaa... Emely sekarang aku sangat yakin bahwa ini adalah kau sungguhan, aku sangat takut kehilanganmu" ucapnya yang membuatku sangat jijik.
Aku kembali mendorong dia dengan kuat hingga Devano melepaskan pelukannya dariku.
Segera aku bangkit berdiri sambil membersihkan wajahku yang cemong karena tanah kotor akibat Devano barusan yang memegangi wajahku tanpa izin, tidak lupa aku juga membersihkan pakaianku yang sudah terlihat sangat-sangat kotor.
"Heh! cepat bangun, kita harus pergi mencari tempat berlindung" ucapku kepadanya.
Dia terlihat kesulitan berdiri tapi aku tidak perduli padanya, aku membiarkan dia berdiri sendiri dan pergi dengan cepat meninggalkannya. Sampai kami sudah berjalan cukup lama tapi tidak kunjung menemukan tempat untuk benaung juga, disekeliling kami hanyalah hutan belantara dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan daun yang lebar.
Suara jangkrik berderik dan kodok yang terus bersautan semakin terdengar nyaring di telinga, dan bukan hanya suara itu saja melainkan terdengar suara-suara aneh lainnya yang kami tidak tahu itu berasal dari mana atau suara hewan jenis apa.
"Emely tunggu aku, jangan jauh-jauh dariku, aku akan melindungimu" ucap Devano sambil menggandeng tanganku dengan erat.
Aku hanya menatapnya dengan sinis dan benar-benar ingin menamparnya saat itu, sudah jelas dia terlihat ketakutan dan memegangi tanganku dengan bergetar, tapi dia masih sok-sokan ingin melindungi aku, ucapannya sangat membuatku muak.
Tapi melihat wajahnya aku sungguh tidak tega untuk menamparnya dan hanya bisa menghembuskan nafas kasar menahan emosiku.
"Haaahh...dasar kau penakut!" Ucapku sambil mengeratkan gigi dengan kuat.
Aku terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan hingga aku menemukan kumpulan ranting pohon yang sempat aku tinggalkan sebelumnya, meski ranting itu terlihat berantakan aku masih bisa mengenalinya dari panjang dan ukuran ranting yang aku punguti sebelumnya.
"Ah....itu bukannya ranting yang aku kumpulkan, berarti ini tempatku sebelumnya saat menemukan kakek" ucapku memikirkan.
Aku melihat ke sekeliling dan aku merasa tempat itu cukup aman karena tidak terlalu banyak pohon rimbun dan tinggi di sekitar sana, sehingga aku pikir tidak akan ada hewan buas yang berani datang ke tempat terbuka seperti itu.
__ADS_1
Aku segera memunguti dan mengumpulkan kembali ranting-ranting kering tersebut dan segera membuat api unggun hanya dengan menggunakan kekuatan dan keterampilan tanganku, sedangkan Devano hanya duduk melihat dan bersandar di salah satu pohon dekat sana.
"Aishh..... Apa disini kita jiwa yang tertukar?, Harusnya kau yang seorang laki-laki melindungiku dan membuat api unggun untuk menghangatkan badan, kenapa malah aku yang melakukan pekerjaan berat seperti ini, haisssss..... Menjengkelkan!" Gerutuku sangat kesal.