Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Aura Gelap


__ADS_3

Aku pun tidak bisa kembali tidur dan terus duduk di depan kaca ruang tengah yang menghadap ke depan jalanan, ya aku tinggal di sebuah rumah sewaan aku mendapatkan kamar di lantai dua sehingga aku bisa melihat pemandangan dari atas balkonku dan pemandangan dari sana lumayan bagus aku juga merasa nyaman terus duduk di sana bersama Pelik hingga matahari terbit dan Pelik perlahan menghilang.


Sebenarnya makhluk halus juga bisa berkelian di siang hari hanya saja mereka tidak seaktif di malam hari, seperti Pelik contohnya dia selalu menghilang entah pergi kemana ketika siang, bisa jadi dia bermain atau hanya berkeliling kesana kemarin hanya agar dirinya bisa mencari keluarganya atau untuk membuat dia melupakan bahwa dirinya sudah tidak menghuni raganya lagi.


Sedangkan aku kali ini segera pergi bersiap siap untuk masuk ke sekolah baruku, sebelumnya aku sudah mendaftar secara online ke salah satu sekolah negeri yang terkenal dan begitu besar, untungnya nilaiku yang pas pasan bisa lolos di sekolah itu, sebab sekolah lain sudah tidak ada yang menerima siswa baru untuk kelas tiga SMA seperti aku.


Aku bergegas pergi ke sekolah untuk memulai hari pertama menempuh pendidikan di kota baru, aku pergi ke sekolah dengan berjalan kaki karena sengaja aku menyewa rumah yang jaraknya lumayan dekat dengan sekolah, di lihat juga banyak siswa siswi lainnya yang berjalan menuju sekolah memakai seragam yang menunjukkan SMA negeri tempatku mendaftar sebelumnya.


Hingga sesampainya di depan gerbang sekolah, aku sangat takjub melihat gedung sekolah yang begitu besar dan bagus, banyak sekali siswa yang masuk ke dalam dan diperiksa oleh seorang guru yang berdiri di depan gerbang sambil membawa sebuah tongkat.


Aku sempat bingung mengapa guru itu berdiri disana sampai aku mulai tersadar ternyata guru tersebut memeriksa atribut yang digunakan oleh siswanya, aku pun berjalan menghampirinya dan dia langsung menghentikan aku.


"Hey, siapa kau kenapa masuk ke sekolah dengan pakaian bebas seperti itu?" Ucap guru itu terlihat sinis kepadaku,


"Maaf pak, saya siswa baru dan ini hari pertama saya masuk jadi saya belum mendapatkan seragam" ucapku berkata jujur,


"Oh....begitu rupanya, ya sudah ayo masuk, eh...tunggu, kau tahu dimana ruang gurunya?" Ucap guru tersebut terlihat perhatian,


Aku menggelengkan kepala karena memang tidak mengetahuinya sama sekali, aku pikir dia akan mengantarkanku namun ternyata tidak, dia justru berteriak memanggil seorang siswi dan menyuruh siswi itu untuk mengantarkanku ke ruang guru.

__ADS_1


"Ya sudah tunggu sebentar, hey...kau...Mauren...." Teriak guru itu memanggil seorang gadis yang cantik jelita.


Ya gadis cantik itu bernama Mauren dia memiliki rambut hitam yang panjang dan lebat, dia berjalan dengan anggun dan memiliki penampilan yang sangat menarik dan rapih, dia adalah perempuan yang sangat cantik yang pernah aku lihat, namun ada sesuatu dibelakangnya seperti awan gelap yang menyelimuti ruh di dalam dirinya, aku yakin sekali itu adalah aura dari ruh jahat, tapi saat Mauren menghampiriku aura gelap itu lenyap entah ke mana.


"Bapak memanggil saya?" Tanya Maure kepada guru tersebut,


"Iya, tolong kamu antar murid baru ini ke ruang guru dan jangan lupa berikan dia seragam sekolah yang lengkap" ucap guru tersebut,


"Baik pak, kamu ayo ikut aku" ucap Mauren lalu mengajakku bersamanya.


Aku hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang hingga kita sampai di depan ruang guru dan dia memintaku untuk masuk ke dalam lalu dia berkata untuk menungguku di luar dan akan mengambilkan seragam untukku, aku mengangguk dan segera masuk ke dalam ruang guru untuk memberika data-data penting mengenai pindahanku dari sekolah lama ke sekolah baru.


Karena merasa heran dan aneh akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada guru tersebut.


"Bu, kenapa saya masuk di kelas A, bukankah nilai di raport saya biasa saja ya?" Tanyaku kepada guru tersebut,


"Emely kamu itu murid baru dan ibu lihat nilai di raport kamu lumayan bagus, kamu bisa menjadi anak yang berprestasi jika tinggal di kelas unggulan karena kelas lain sudah penuh, dan ibu harap kamu bisa mengimbangi teman-temanmu yang ada disana, sulit kan untuk pindah di kelas tiga seperti ini, kamu harus bekerja keras, semangat!" Ucap ibu guru itu mengatakan alasannya.


Aku mengerti dan paham apa yang dikatakan oleh guru tersebut dan dia juga mungkin akan menjadi wali kelasku, aku keluar dari ruang guru dan wanita cantik tadi masih ada duduk di depan ruang guru menungguku, aku pikir dia akan meninggalkanku, rupanya dia menempati ucapannya sendiri.

__ADS_1


Lagi lagi aku melihat aura hitam di belakang tubuhnya namun di saat dia menatap ke arahku aura itu hilang kembali.


"Kemana aura itu pergi?" Gerutuku pelan namun Mauren tidak sengaja mendengarnya,


"Hey, siapa yang kau cari?, Tadi kau bilang aura memangnya ada teman yang namanya aura yang kau kenal di sekolah ini?" Tanya Mauren kepadaku.


Aku langsung tersadar dan langsung kembali bersikap normal menjawab ucapan Mauren.


"Tidak ada, mana seragamku?" Ucapku bertanya.


Mauren nampak menatapku dengan tatapan yang aneh dan dia memberikan seragam yang aku minta tapi dia terlalu ramah dia tiba-tiba saja mengajakku berkenalan dengan tersenyum begitu lebar dan menjulurkan tangannya mengajak bersalaman denganku.


"Ini seragammu, dan kenalkan aku Mauran aku ketua OSIS di SMA ini, siapa namamu?" Ucapnya sambil menjulurkan tangannya,


Aku tidak bisa bersalaman dengannya karena aku tahu dia memiliki aura gelap dan itu mungkin saja akan berbahaya, sehingga aku lebih memilih untuk tidak ikut campur dan menjaga jarak dengannya meskipun Mauren terlihat seperti gadis yang baik.


"Aku Emely, di mana kelas tiga A?" Ucapku dengan wajah yang datar dan menanyakan kelas kepadanya,


Mauren nampak sedih dan mungkin dia kecewa karena aku tidak menerima uluran tangan darinya, aku juga merasa sedikit bersalah kepadanya tapi aku sungguh tidak bisa terlalu dekat dengan orang yang memiliki aura gelap seperti itu, apalagi Pelik sedang tidak bersamaku saat ini, meski dia sempat sedih tapi wajahnya tetap berusaha ceria dan dia mengatakan bahwa dirinya berada di kelas yang sama denganku lalu kami pergi bersama ke kelas yang dia tunjukkan kepadaku.

__ADS_1


__ADS_2