
Samar-samar tertangkap suara ayah dan ibu menjauh, Zhen Xian yang menempelkan sebelah telinganya pada balik pintu tertutup kamarnya sontak bernapas lega. Namun, keterkejutan seketika memundurkan langkahnya berkat sang kakak yang masuk begitu saja tanpa mengetuk. “Mereka sudah pergi,” beritahunya.
Mengangguk paham, Zhen Xian menutup kembali pintu pun mengunci bahkan jendela yang terbuka ditutupnya pula. Duduk, dirinya menatap cermin perunggu sementara sebelah tangan menyingkap sebagian pakaian mempertunjukkan bahu yang harusnya mulus, kini tertampil luka mengering kehitaman berkat sabetan beberapa hari lalu. Pun Zhen Xian mengoleskan sejumlah obat di atasnya.
“Akan berapa hari lagi untuk hilang sepenuhnya? Kalian tidak boleh seperti ini, di tubuh Chen Ge saja kalian mampu menghilang cepat, lantas kenapa di tubuhku tidak?"
Dalam kasus sang kakak, Zhen Chen yang barangkali masih menanti di depan kamar, bisa dikatakan sungguh ajaib memang. Luka itu sembuh lebih cepat dari perkiraan dan tak lagi berbekas. Tabib bahkan sedikit tak percaya, tapi apa yang bisa dipungkiri karena tabib itu sendiri yang merawat dari luka masih sangatlah segar sampai mengering bahkan berbekas hingga menghilang sekalipun.
Pun kokokan ayam pertanda hari kian siang, mengharuskan Zhen Chen yang memang masih menanti di depan kamar sang adik berakhir mengetuk. Selain sudah menjadi rutinitas akan mengantarkan bunga-bunga ke toko, ada hal lain yang lebih spesial tak boleh terlewatkan. Hari di mana kompetisi mendekorasi ulang tahun Putra Mahkota, akhirnya dimulai.
“Ayo!” seru Zhen Xian, penuh semangat seolah dirinya bagian dari peserta, dan meskipun tempat yang akan didatangi ini terbilang memiliki kenangan buruk, tapi kedua saudara Zhen ini tampak tak lagi memedulikan. Pun Que Mo terlihat mengikuti keduanya yang berjalan pergi meninggalkan rumah setelah berpamitan dengan kedua orang tua mereka.
Oleh karenanya, di sinilah kini mereka. Berdiri di depan gerbang utama istana dengan beberapa orang lainnya telah berdatangan.
“Ge, semangat! Kau pasti bisa. Aku akan menunggumu dengan kabar bahagia.”
Mengangguk mengiyakan, pun Zhen Chen mengarahkan pandangan pada Que Mo. “Kalian pergilah mengantar bunga, segera kembali setelahnya dan jangan membuat masalah di kota,” nasihatnya yang memang tak bisa sepenuhnya tidak khawatir.
“Kau tidak perlu khawatir begitu, aku akan menjaga Zhen Xian dengan baik dan kau hanya perlu fokus mengikuti seleksi,” ucap Que Mo, ucapan yang menjadi pengantar kepergian Zhen Chen masuk ke dalam istana sana. Tanpa lepas sekalipun, Zhen Xian memandang pun melambaikan tangan hingga benar-benar tak lagi melihat keberadan sang kakak. “Ayo kita pergi!” ajak Que Mo kemudian. Menarik gerobak penuh bunga dengan Zhen Xian membantu dari belakang.
Sementara Zhen Chen sendiri, dibawa ke suatu tempat dalam istana yang memiliki halaman cukup luas. Bangunan yang terbangun begitu mewah dalam keseragaman warna, termasuk pula pahatan demi pahatan atau ukiran yang menghiasi bagai menambah kemewahan itu sendiri hidup. Barangkali di sini pula akan menjadi ajang dari kompetisi, karena puluhan orang telah menanti dalam posisinya yang tampak telah diatur sesuai urutan pendaftaran waktu lalu. Seratus? Tidak, mungkin di bawah itu. Entahlah, karena Zhen Chen sendiri sibuk mencari urutan posisinya.
“Perhatian semuanya!” seru seseorang, mendiamkan seketika keramaian yang sempat terjadi, pun peserta beralih memusatkan pandangan ke pria yang baru saja masuk dengan membawa sebuah gulungan bambu di tangan kanannya.
Peraturan terkait kompetisi, itulah yang dibacakan. Barangkali pria paruh baya inilah panitia penyelenggara acara. Selain itu, memberitahukan tugas seperti apa yang harus diselesaikan, berapa banyak babak yang harus dilewati dan penilaian seperti apa yang akan menguntungkan bagi semua peserta.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama, mereka semua memulai kompetisi babak pertama, yaitu menjaga kesegaran bunga dalam kurun waktu yang telah ditetapkan.
Pun para pelayan diizinkan masuk, membawa keranjang dipenuhi berbagai jenis bunga dalam warna-warni berbeda pula, ada juga vas porselen putih polos serta peralatan semacam gunting dan pisau bahkan air dalam wadah kecil dimasukkan ke dalam vas. Barulah kemudian masing-masing diserahkan pada para peserta, dan waktu yang diberikan untuk memikirkan caranya hanyalah ... setengah batang hio*.
Namun, ada apa dengan Zhen Chen? Bukannya mulai bergerak, dirinya malah meninggalkan posisi dan mendekati seorang penjaga atau barangkali pengawas. Pun setelahnya membawa tungkai pergi meninggalkan area kompetisi di mana peserta lainnya telah bergerak dengan begitu antusias, pun tak sedikit pula ditemukan yang sombong seolah siap akan memenangkan kompetisi ini.
Tidak mungkin Zhen Chen menyerah akan kompetisi, bukan? Pasalnya, hio terus saja terbakar memendek, tapi dirinya belum juga menampakkan tanda-tanda kemunculan kembali. Peserta lainnya pun sudah sebagian besar menyelesaikan, menyajikan bunga ke dalam vas porselen siap menanti habisnya waktu yang diberikan, memerhatikan hasil kerja peserta lain.
Sungguhkah Zhen Chen pergi? Hio benar-benar akan segera mencapai batasnya, barangkali hanya dalam hitungan sepuluh jari saja, dan para peserta jelas telah menyelesaikan tugas. Akan tetapi, di saat waktu hampir habis ini pula Zhen Chen justru memunculkan kembali dirinya dalam langkah yang terburu-buru. Kedua tangan sibuk mengangkut ember kayu yang berisi air, tergenangi daun seukuran daun teratai di atasnya seolah berfungsi menutupi air dari paparan sinar matahari langsung. Atau barangkali, terdapat fungsi lain? Seperti efek mendinginkan mungkin?
Dalam gerak cepat, Zhen Chen yang menjadi pusat perhatian para peserta lainnya membuang habis air dalam vas porselen, mengganti dengan air yang baru dibawanya. Barulah, tanpa ambil pusing atau memang ini cara terbaik yang hanya Zhen Chen yang tahu, bunga-bunga dalam keranjang diambil dan dimasukkan begitu saja tanpa lagi memotong tangkai atau membersihkan daun atau apalah dari bagian bunga, dan waktu ... pada akhirnya habis.
“Hufff ....” desahnya, tersenyum puas sambil menyeka peluh dari wajahnya yang lega pun puas. Bahkan pria panitia penyelenggara, diam-diam tersenyum menyaksikan dari posisinya.
“Baiklah, sekarang waktunya melihat apakah bunga dalam vas kalian benar tidak akan layu. Waktu yang diberikan, paling lama juga setengah batang hio mulai dari sekarang. Para juri ... silahkan masuk untuk memantau.”
Tak heran, baru saja beberapa menit berlalu, sebagian besar bunga dalam vas sudah menciut. Alhasil, juri meminta angkat kaki, pun peserta yang gagal seketika menuruti yang kian lama kian mengurangi jumlah hingga sebagian besar dari jumlah peserta awal hilang. Serta merta, waktu setengah hio pun berakhir, dan bagi peserta yang masih bertahan sontak lolos ke babak berikutnya.
Babak kedua, yaitu merangkai bunga. Semua peserta dibawa ke suatu tempat lainnya, tak tahu pula bagian dari sisi mananya istana nan luas ini. Yang pasti, tempat ini memiliki banyak bangunan beruangan cukup besar yang bersekat-sekat. Pun jika dibukakan salah satu ruangan yang ada, seluruhnya berisi beragam jenis dan warna bunga.
“Kalian bebas memilih dan mengambil bunga apa pun yang kalian inginkan, keluarkan semua ide terbaik kalian dan berkonsentrasilah. Waktu yang akan diberikan kali ini lebih lama dari babak pertama tadi, sebatang hio.”
Serta merta para peserta bergerak, entah karena otak mereka memang telah mendapatkan konsep rangkaian seperti apa yang akan dibuat, atau memang karena tidak ingin dianggap seperti orang yang berpikiran kosong. Entahlah, karena di antara mereka semua, Zhen Chen justru menjadi satu-satunya yang terdiam mematung, bahkan ketika hio habis setengah bagian.
Bagi beberapa peserta lainnya yang sibuk merangkai, malah masih sempat-sempatnya menertawai sikap Zhen Chen yang jelas saja tak menggubris, atau barangkali tak menyadari berkat senyuman yang tersungging pun tungkai mulai bergerak kini. Mantap dan tahu persis bunga jenis apa dan warna apa yang akan diambil. Katakan saja yang berwarna putih, merah, kuning, merah muda dan sebagainya beserta tanaman daun lainnya. Merasa cukup, barulah Zhen Chen membawa ke tempat yang sudah disediakan.
__ADS_1
Keluarkan semua ide terbaik kalian dan berkonsentrasilah. Ucapan dari panitia penyelenggara ini mungkin saja tertanam dalam, karena Zhen Chen memanglah bertindak demikian. Namun, kedua tangan yang mana tangan kanan memegang gunting sedangkan tangan kiri memegang tangkai bunga sibuk dengan lincahnya. Satu demi satu, bunga-bunga yang telah dipotong itu dikumpulkan dan hio kian mengecil dan mengecil hingga kini habis menyisakan abu saja.
“Biarkan para dayang masuk,” seru pria panitia, dan suasana mulai diramaikan oleh para dayang yang jelas mengagumi keindahan berbagai konsep rangkaian bunga ini. Berkeliling membawa tungkai mereka yang tampak tak akan lelah bahkan berapa lama pun waktu yang dihabiskan, tentu dengan wajah penuh senyuman dengan netra berbinar-binar.
“Baiklah, kalian semua sudah melihat. Sekarang aku minta kalian semua berdiri dekat rangkaian bunga yang paling kalian sukai.”
Mengikuti arahan, para dayang mulai bergerak tak tentu arah sana-sini ke tempat yang ingin dituju. Pun ketiga juri mencatat setiap hasil, barulah meminta para dayang tersebut pergi demi mendapatkan kembali ketenangan.
“Kami akan membacakan hasil. Bagi nama yang nanti tidak dipanggil, mohon segera meninggalkan tempat ini,” beritahu salah satu juri, dan tanpa menanti lagi satu demi satu nama dibacakan. Alhasil, buku yang dibawa juri tertutup. “Dan yang terakhir ... Zhen Chen.”
Mendengar namanya terpanggil, tentu membuat Zhen Chen memberi hormat menunjukkan rasa terima kasihnya. Akan tetapi, ketiga juri termasuk pula pria panitia bersama-sama mendekatinya. Memuji bakat atau keahlian Zhen Chen dalam merangkai bunga yang bertemakan istana dengan jenis bunga biasa atau tergolong sangat murah di pasaran. Namun, terlihat elegan di bawah naungan Zhen Chen ini.
“Kami ingin mendengar cerita dari balik rangkaian bungamu, kuyakin semua peserta yang berhasil lolos ini pun ingin, bukankah begitu?” tanya salah satu juri, dan disetujui pula oleh peserta yang nyatanya kini hanya tersisa 8 orang saja jika mengecualikan Zhen Chen di dalamnya.
“Bunga ini mewakili apa yang terjadi dalam masyarakat, melambangkan rakyat miskin. Sedangkan warna melambangkan istana kerajaan yang menjadikan rakyat miskin tak terpandang dan hidup dalam kesusahan, kini hidup jauh lebih baik dengan kehadiran dan kebaikan dari seorang raja.”
“Bagus, sungguh penjelasan yang bagus dan menarik. Baiklah, peserta Zhen Chen berada diperingkat teratas lagi untuk babak kedua ini.”
Sekarang, tiba pada waktunya memasuki babak ketiga.
“Dalam babak terakhir ini, kalian akan dibagi ke dalam tiga tim yang dipimpin oleh 3 peringkat atas. Kalian akan menjadi bagian dari Departemen Dekorasi Kerajaan selama 3 hari. Dua hari adalah waktu bagi kalian memikirkan, kompromi serta membuat desain dekorasi akan suatu ruangan kosong, dan hari ketiga ... adalah hari penentuan tim siapa yang akan menang,” jelas pria panitia penyelenggara dengan antusiasnya.
Sementara para peserta, termasuk pula Zhen Chen yang sudah pasti menjadi pemimpin dari salah satu tim hanya bisa mengedarkan pandangan ke peserta lainnya. Saling melempar pandangan dan kebingungan berkat rasa asing yang kian menguar. Lantas, sebaik apa cara berinteraksi Zhen Chen si ahli bunga yang belum diketahui siapa pun ini?
Note:
__ADS_1
*Hio itu dupa berbentuk batangan.