
Apa ini semacam aktivitas memulai hari? Karena jujur saja, ini hal baru bagi seorang pria yang barangkali baru saja membangunkan diri dari tidurnya seraya meregangkan tubuh di bawah pohon penghalau sinar mentari yang bahkan belumlah meninggi.
Orang-orang, tidak. Tepatnya harus memanggil mereka para pelayan Zhen Xian, setidaknya. Entah karena alasan apa pula, mereka berkumpul dan bukannya bekerja. Yang mana mulut berucap tak terdengar itu terlihat cukuplah tak asing, semacam saat di mana Zhen Xian terlibat rumor. Benar, kurang lebih seperti itulah raut wajah mereka kini.
Namun, rumor apa lagi yang bisa dijadikan topik kali ini? Apa benar gara-gara Jin Kai semalam pergi sewaktu tengah malam? Padahal yang kebanyakan orang tahu dalam istana ini Jin Kai sangatlah menyukai Zhen Xian.
“Kemarilah.”
Seruan tersebut, seketika membawa langkahnya mendekat. Siapa lagi jika bukan Dayang Yun si pemanggilnya.
“Ada apa? Kali ini apa lagi yang terjadi?”
“Kau adalah pelayan pribadi Selir Zhen, apa kau sudah membaca buku terkait aturan istana ini?”
“Aku baru saja datang ke istana kemarin, dan buku yang kau berikan sangatlah banyak untuk mampu kubaca hanya dalam semalam. Dayang Yun, setidaknya berikan aku waktu 3 hari, bisakah?”
Pun Dayang Yun tak ingin memperpanjang masalah ini, kembali ke inti dari permasalahan yang sekarang diketahui Que Mo memanglah telah tersebar rumor lagi terkait Zhen Xian. Hanya saja, bukanlah rumor seperti yang dikira, terkait Jin Kai semalam yang meninggalkan Kediaman Chahua, melainkan rumor yang sukses menegangkan wajah Que Mo sembari berlarian masuk dalam kediaman pun langsung menuju kamar Zhen Xian yang masihlah damai dalam alam mimpinya.
Benar, alam mimpi memang selalu indah untuk manusia. Karena jelas sekali, di sana tidak ada rumor penghancur nama baik atau apa pun itu namanya yang akan sukses membawa ketidaktenangan, bukan?
“Bangunlah! Bukan waktunya kau tidur sekarang. Cepat bangunlah!” Yang mana Zhen Xian sendiri taklah bergeming, gadis ini masihlah sama sulitnya dibangunkan. “Aku sungguh menghormati Zhen Chen selama ini, kesabarannya membangunkanmu memang tidak ada duanya,” gumam Que Mo, memondar-mandirkan diri seraya berpikir. Jika harus menarik lepas selimut, bukankah itu tidak sopan?
Maka hanya ada satu cara yang akan membuat gadis ini lepas seutuhnya dengan dunia mimpi, yaitu memberitahukan kenyataan akan alasan kenapa pagi Que Mo pun bagaikan tersambar petir.
“Huanghou mencarimu. Cepat bangun dan temui ibu mertuamu atau kau akan kena hukuman lebih parah lagi.” Dan jikalau saja cara ini masihlah tak berhasil, maka Zhen Xian benar-benar dinobatkan sebagai Ratu Tidur yang gemar pula makan. “Kubilang Huanghou mencarimu, kau tidak dengar?”
Mencariku? Siapa yang mencariku? Apa aku benar tidak salah dengar ...? Huanghou ... Huanghou ...! pekiknya dalam hati, sepasang netra benar saja terbuka lebar seraya bertanya-tanya kembali pada Que Mo yang menarik dirinya bangun. Apakah benar yang barusan didengarnya? Tapi ... tapi kenapa Permaisuri ingin menemuinya sepagi ini? “Ada apa? Maksudku, kenapa?”
“Kurasa ada hubungannya dengan kejadian kemarin.”
“Kejadian kemarin?” tanya Zhen Xian tak mengerti, kenapa pula Que Mo tidak memberitahukan secara jelas dan lengkap? Yang mana pria ini begitulah sibuk membantu mempersiapkan pakaian, menarik pun mendudukkan Zhen Xian di meja rias seraya mulut berseru memanggil Dayang Yun.
Bukankah, ini pagi yang sungguhlah ramai? Mengalahkan decit-decit burung yang barangkali tertawa menyaksikan, dan senang pula berkat kediaman yang dulunya sepi ini sekarang kembali hidup layaknya suatu kediaman seharusnya ada.
Namun, akan bagaimana nasib seorang Zhen Xian kini? Kenapa bisa hidupnya selalu dipenuhi rumor dan rumor? Dan herannya lagi, mereka menanggapi setiap rumor itu dengan sangatlah berlebihan. Bahkan hal kecil saja bisa berubah menjadi sangatlah besar, lantas akan seperti apa jadinya jikalau hal itu sedari awal adalah hal besar? Sudah dapat dipastikan hukuman mati di tempat akan segera dilakukan, bukan?
Alhasil, inilah tempat yang menjadi kunjungan Zhen Xian di hari kedua menjadi seorang selir berkat jebakan Jin Kai. Menghadap Ibu Mertua yang begitulah sukses membuat lidah keluh. Pun memandang saja rasanya berat, berkat aura tak biasa darinya yang menyebar ke seluruh bagian dari kediaman terbilang mewah ini.
Jika bukan karena bisik-bisik Dayang Yun yang meminta untuk memberikan hormat, sudah dapat dipastikan Zhen Xian akan melupakan hal paling dasar itu, tanpa lupa pula mengucapkan pagi. Berikutnya, ia kembali diam menanti hal apa yang akan disampaikan Permaisuri yang duduk di hadapannya.
“Apa tidurmu nyenyak?”
Sempat tak menyangka, karena yang ditanyakan sungguh di luar dari yang diperkirakan. Jangan heran apabila Zhen Xian menurunkan kewaspadaan, semacam merasa bersalah telah berpikir yang tidak-tidak. Siapa yang tahu, jikalau Permaisuri sebenarnya taklah seburuk itu dan baik layaknya Putri Mahkota.
__ADS_1
“Benar, aku tidur lumayan nyenyak semalam, Huanghou.”
“Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu?” Dan pertanyaan ini sukses pula memejamkan sepasang netra Zhen Xian, barangkali pula menyesal sempat menyamakan Permaisuri dengan Putri Mahkota. “Apa kau tahu apa yang telah kudengar saat bangun pagi ini?” tanyanya lagi.
Yang mana Zhen Xian sendiri kian erat menggenggam tangan saling terpautnya. Namun, apa salahnya hingga patut diperlakukan seperti ini? Bagai dirinya bergabung dalam istana ini secara sukarela saja, dan untuk apa pula harus bertingkah ketakutan? Yang pada akhirnya Zhen Xian mengangkat wajah tertunduk sedari tadi, langsung menatap Permaisuri.
“Aku tahu, Huanghou. Itu rumor yang mengkaitkan tindakanku terhadap saudaraku kemarin.”
“Juga!” seru Permaisuri, memeranjatkan Zhen Xian. “Sikap orang lainnya yang memanggil namamu, termasuk pelayan pribadimu. Apa menurutmu itu pantas?” tanyanya, mengarahkan jari telunjuk pada Que Mo yang juga tertunduk.
Jujur saja, perlakuan Permaisuri ini sama mengesalkannya dengan Jin Kai. Setiap dari ibu dan anak ini, biar kata bukanlah hubungan kandung, tapi intinya sama. Ingin menjauhkan Zhen Xian dari orang-orang terdekat hanya demi martabat yang katanya nama baik keluarga kerajaan. Namun, apa itu nama baik keluarga kerajaan? Yang mana Putra Mahkota sendiri begitulah kejam akan tipu muslihat, sedangkan Raja yang duduk pada singgasana tertinggi kerajaan dahulunya tak kurang dari seorang pembunuh karena rasa iri dan cemburu pada abdi setianya.
Konyol, bukankah ini sungguh konyol?
“Mereka adalah orang terdekatku. Lantas ....”
“Huanghou!” sela Dayang Yun, bersujud. “Selir Zhen baru saja menjadi seorang selir dan masuk istana, belum terbiasa dengan hal itu dan masih harus banyak belajar lagi. Mohon, Huanghou mengertilah!” pinta Dayang Yun lebih lagi, wajah tertunduk diliriknya pada Que Mo.
Serta merta, Que Mo ikut mensujudkan diri. Mau tak mau, suka tidak suka, dan hal itu kian menjadikan Zhen Xian diam menahan kekesalan.
“Sebagai pelayan pribadi Selir Zhen. Aku tidak akan lupa identitasku dan akan menasihati Selir Zhen ke depannya.”
Yang mana mendengar ucapan Que Mo barusan, sebulir air mata luruh dalam ketertundukannya. Jika terus-terusan hidup seperti ini, bukankah akhirnya ia ataupun Que Mo akan tunduk karena rasa mengintimidasi istana?
Taizi? Apa kau pikir dengan melakukan hal ini aku akan mengurangi kesalahanmu padaku? Yang mana ucapan Permaisuri berikutnya sukses menyadarkan Zhen Xian, mengangkat wajah tertunduk itu untuk mendengar lebih jelas lagi.
“Kau boleh bertemu dengan saudaramu, tapi harus tahu batasan. Juga ...! Jangan biarkan orang lain memulai gosip tidak berdasar. Apa kau mengerti?”
“Aku tahu. Terima kasih atas kebaikanmu, Huanghou,” jawab Zhen Xian, dan Permaisuri mengizinkan pergi.
Sepanjang perjalanan kembalinya Zhen Xian ke Kediaman Chahua, Dayang Yun terus memberitahukan rutinitas pagi yang harus dilakukan. Katakan saja, memberikan hormat pagi bersama Putra Mahkota dan Putri Mahkota di Aula Merak dari Kediaman Ibu Suri. Namun, mendengar nama Putra Mahkota saja sudah membuat Zhen Xian muak lebih dahulu. Lantas, bagaimana bisa dirinya bersedia hadir?
Tentu, penolakan menjadi hal utama yang dikeluarkan Zhen Xian. Tak peduli bagaimana akan Dayang Yun menyelesaikan permasalahan ini, harusnya wanita paruh baya ini sudah handal, bukan? Maka serahkan saja padanya, karena Zhen Xian sendiri sungguh butuh waktu seorang diri untuk mencurahkan segala kekesalan dalam hatinya. Yang mana kekesalan itu kian membuncah ketika ia mendapati semua orang memerhatikan diam-diam, tapi sejadinya pula Zhen Xian menghiraukan pandangan tersebut.
Maka dari itu, jangan salahkan Zhen Xian dengan mengatakan ia harus lebih banyak lagi belajar mengontrol emosi. Karena kini, dalam kamar pribadinya, gadis ini mengamuk layaknya siap menelan siapa pun yang mencarinya. Bahkan Que Mo saja tak menggubris dan hanya menonton saja. Semacam, itu hal yang harus dilakukan seseorang sewaktu kesal.
“Dasar! Apa yang kalian lihat?! Tidak pernahkah kalian melihat adik dekat dengan saudaranya?!” serunya sejadi mungkin seraya menarik selimut, membuang bantal sampai menginjak-nginjak bantal tersebut. “Menyebalkan, sungguh menyebalkan! Apa kalian pikir aku mau menjadi selir! Jikalau kalian mau posisi ini, maka ambil saja ... dengan senang hati aku akan bertukar dan kembali hidup bebas sebagai Zhen Xian yang dulu. Siapa yang mau? Katakan siapa yang mau?!”
Namun, benarkah seruan curahan hati seseorang yang kesal ini seketika didengarkan? Karena bayang-bayang seseorang benar saja menghampiri kini, yang mana Que Mo sendiri sukses dibuat bergeming. Pun mulut pria ini seketika pula meminta Zhen Xian berhenti. Akan tetapi, bukannya berhenti, Zhen Xian malah dengan terang-terangan menjelekkan Jin Kai selaku Putra Mahkota. Di mana jika diteruskan, yang ada Zhen Xian akan segera dihukum pasung barangkali.
“Ada apa denganmu, Que Mo?! Kenapa menghentikanku? Apa kau sekarang sudah lunak akan kehidupan ...” Berbalik, mendapati sosok yang sebelumnya tidak ada, tapi kini ada yang entah sejak kapan pula hadir. “Uhukk!” Dan sisa ucapan pun tertelan kembali, tergantikan dengan batuk barusan. “Ta-Taizifei ....”
“Apa kau masih butuh waktu sendiri?” tanyanya, dan Zhen Xian segera merapikan diri seraya menendang bantal yang menjadi bahan pelampiasan tadi masuk ke dalam kolong ranjang tidurnya. “Tidak, kurasa sudah cukup.”
__ADS_1
Pun Que Mo undur diri dengan alasan akan menyiapkan teh juga camilan, sedangkan Zhen Xian sendiri membawa Putri Mahkota keluar dari kamar, mengajak duduk ke ruangan utama. Rasanya, sungguhlah aneh kini. Di mana duduk berhadapan dengan Putri Mahkota yang dikagumi dalam status selir dari suaminya.
“Apa yang membawamu kemari, Taizifei? Bukankah seharusnya kau pergi ke Aula Merak?”
“Aku sedang dalam perjalanan ke sana, lalu tiba-tiba terpikirkan dirimu. Mengingat aku belum sempat berkunjung kemari, jadi aku mampir sebentar. Tak menyangka, aku malah menyaksikan sesuatu yang benar-benar menghibur tadi,” kekeh Putri Mahkota, dan hal itu pun membuat Zhen Xian ikut terkekeh pula. “Satu hal lagi, jangan memanggilku Taizifei, cukup panggil saja Jiejie*. Bukankah itu akan kian mendekatkan kita?”
Dengan cepat pula Zhen Xian mengangguk menyetujui, belum pernah dirinya merasakan bagaimana memiliki seorang kakak perempuan. Apalagi secantik Putri Mahkota nan baik dan berhati hangat seperti ini. Jelas saja ia tidak akan melewatkan kesempatan baik ini, bukan? “Baik, Jiejie.”
“Juga, kedatanganku kemari untuk memberitahumu jangan melakukan hal ceroboh dan cobalah menahan diri. Sulit memang, tapi kau akan terbiasa nanti,” ucapnya, tanpa ada lagi senyuman atau apa pun yang mengartikan ucapannya ini sungguhlah serius. Dan sebagai seorang yang dari lahir telah menjadi seorang putri kerajaan, dan sekarang seorang Putri Mahkota di kerajaan jauh dari kota asalnya. Tentu Zhen Xian tahu betul bagaimana berartinya ucapan ini. “Hanya itu hal yang bisa kau lakukan untuk melindungi dirimu juga orang di sekitarmu, Zhen Xian,” lanjutnya.
“Kurasa sampai kapan pun, aku tidak akan terbiasa hidup di sini.”
“Jika seperti itu, kenapa tidak mencoba membuka hatimu pada Taizi?”
Yang mana Zhen Xian menggeleng. “Kurasa itu terlalu sulit dan tidak akan pernah bisa.”
“Apa mungkin di hatimu ada orang lain?”
Yang mana lagi-lagi Zhen Xian menggeleng. “Dari kecil aku selalu bersama dengan Chen Ge ... tidak pernah berpisah sekalipun atau memikirkan untuk berkencan dengan orang lain. Bagiku, Chen Ge adalah orang terpenting dalam hidupku sama seperti kedua orang tuaku. Jadi, siapa pun yang menyakiti mereka ... itu berarti menyakitiku pula.” Mendesah, wajah tertunduk. “Selain itu, aku tidak pernah menyukai Taizi. Apalagi setelah tahu apa yang diperbuatnya, itu hanya menambah kemarahan yang mana kesempatan menganggap dirinya sebagai teman hilang sudah.”
“Taizi tidak pernah menyukai wanita sebelumnya. Kau adalah wanita pertama yang dia sukai.”
“Jiejie tidak perlu berbohong padaku. Semua orang tahu betapa kalian saling menyukai.”
“Jika begitu, kenapa menurutmu hingga sekarang diriku belum juga mengandung?”
“Karena masih muda?” tebak cepat Zhen Xian, tapi reaksi Putri Mahkota sangatlah aneh. Seolah tebakan yang terlontar barusan sepenuhnya salah. “Bukankah?”
“Taizi tidak pernah menganggap diriku sebagai istrinya. Kami tidak pernah tidur bersama, belum lagi di mata Taizi ...” ucapnya menggantungkan, wajah yang biasanya tenang itu pun menunjukkan suatu kesedihan pun kesepian teramat. “... aku hanya istri di atas nama untuk memenuhi kursi Putri Mahkota saja.”
Keluh, itulah yang barangkali Zhen Xian alami hingga tak ada kata-kata apa pun yang bisa dikeluarkan. Hantaman kenyataan ini, bukankah sungguh kejam bagi Putri Mahkota itu sendiri?
Selama ini seluruh orang, baik dalam istana maupun luar istana selalu mengatakan sebaliknya. Yang mana Zhen Xian seketika tersadarkan, bahwa apa yang dialaminya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Putri Mahkota yang kini menyunggingkan senyuman. Seakan, hal yang dialaminya dengan Jin Kai bukanlah hal besar dan sudah terbiasa. Lantas, haruskah Zhen Xian kini mulai membuka hati juga pada Jin Kai? Menerima pria kejam yang nyatanya memanglah suaminya itu, siapa yang tahu jikalau hal itu akan memudahkan segalanya.
Seperti hari ini contohnya, Permaisuri tidak menghukum hanya karena Jin Kai yang memohon demikian. Tanpa Jin Kai, jelas saja saat ini ia tak akan bisa duduk santai mendengarkan kenyataan akan kehidupan pribadi Putri Mahkota, dan barangkali hukuman cambuk seperti yang pernah dilakukan Dayang Chu dulu-lah yang akan dialaminya.
Namun, hadirnya Que Mo yang katanya tadi akan menyiapkan teh serta camilan, membuyarkan segala pemikiran aneh yang ada. Merutuk diri akan bagaimana bisa pemikiran itu terlewatkan begitu saja dalam benaknya.
Akan tetapi, ada apa dengan Que Mo yang bahkan tak sama sekali terlihat membawa baki atau apa pun untuk disajikan ke meja? Yang ada, pelayan pribadi yang sekaligus teman dekatnya ini malah memampangkan kepanikan sembari napas memburu layaknya telah menempuh jarak larian yang terbilanglah jauh.
Apa mungkin ... kabar buruk lagi?
Note:
__ADS_1
Jiejie berarti kakak/saudara yang lebih tua.