Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 41


__ADS_3

“Taizi! Taizi!”


Seruan dari seorang Kasim Ma begitulah memenuhi hari, membawa Lin Feng yang berjaga tepat di luar dari kediaman Jin Kai ini bergegas masuk. Mendapati sang Pangeran Agung pada akhirnya menyudahi ketidaksadaran yang dialaminya.


“Panggilkan tabib,” pinta Lin Feng, bergegas pula Kasim Ma memenuhi permintaan Lin Feng yang kini mendekati Jin Kai. “Kau baik-baik saja, Taizi?”


Di mana Jin Kai sendiri yang mulai membukakan sepasang netra ini hanya mampu menyesuaikan kembali penglihatan sembari pandangan dipenuhi tanda tanya, setidaknya dipahami oleh Lin Feng jikalau pangeran ini ingin tahu sudah berapa lama waktu berlalu.


“Empat hari sudah, Taizi.”


Namun, akankah kesadaran kembali pangeran ini membawa kebahagiaan? Terutama bagi seseorang yang berada di antara kesenangan dan tidak, berkat harga yang harus dibayarkan tak lain adalah kebebasan hidupnya sendiri.


Dia-lah, Zhen Xian, yang kini membawa sepasang tungkainya menghampiri kediaman Jin Kai, mendapati kediaman ini begitulah ramai akan kedatangan satu demi satu anggota inti kerajaan.


Oleh karenanya, Zhen Xian berakhir menyembunyikan diri. Bukankah akan sangat tidak menguntungkan dirinya jikalau bertemu Raja dan Permaisuri saat ini? Yang mana Putri Mahkota Bai Hua-lah, sosok satu-satunya yang mengetahui kehadiran Zhen Xian. Namun, putri ini memilih diam seolah tak tahu pun masuk bersama seorang tabib yang baru saja tiba bersama Kasim Ma.


“Bagaimana? Apa Taizi baik-baik saja?”


Tabib masih merasakan denyut nadi, tak ada reaksi melainkan hanya keseriusan. Dan hal itu sukses mensunyikan suasana sebelum akhirnya senyuman dimunculkan sang tabib ini. “Huangdi tidak perlu khawatir. Taizi sudah melewati masa kritis dan hanya perlu istirahat saja kini,” jawabnya.


Mendengar hal ini, Raja dan Permaisuri seketika tenang. Yang mana Putri Mahkota bergeming tanpa reaksi apa pun. Bahkan ketika tabib menerangkan secara detail ramuan obat seperti apa yang harus digunakan agar racun sepenuhnya keluar dari tubuh sang Pangeran, Putri Mahkota masihlah bersikap sama.


Alhasil, Raja meminta Kasim Ma dan juga Lin Feng mengantarkan tabib tersebut keluar. Yang tentunya dipahami Lin Feng jikalau Raja hanya ingin waktu pribadi keluarga saja. Pun Jin Kai membangunkan diri, memposisikan diri duduk bersenderkan punggung pada ranjangnya. “Bagaimana dengan tahanan itu? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya dari balik bibir yang masihlah memucat.


“Untuk apa kau peduli? Dia sudah menyakitimu dan sudah seharusnya kau segera menghukum pria itu,” ucap tegas Raja, dan jelas saja Jin Kai bereaksi tak setuju. Jika saja bukan karena tubuh fisiknya masih lemah, sudah dapat dipastikan Jin Kai akan bersitegang dengan ayahnya ini.


Oleh karenanya, Permaisuri angkat bicara. Mendudukkan diri pada pinggiran ranjang Jin Kai, menggeleng kecil sebagai sinyal bagi sang Pangeran untuk menenangkan diri. Tepatnya, jangan melawan sang ayah. “Ini waktunya untukmu memulihkan diri. Jangan berpikir apa pun dulu.”


Akan tetapi, Jin Kai menanggapi ucapan Permaisuri ini bagaikan angin lalu. Tetap saja tujuan dan fokus utama Jin Kai adalah sang ayah. “Biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini, Huangdi. Aku akan bersepakat dengan tahanan itu, bolehkah?”


“Meracuni Taizi hukumnya adalah hukuman mati, termasuk seluruh anggota keluarganya!”


“Tapi belum ada yang pasti. Huangdi, aku akan mencari tahu dan mengurusnya, kumohon izinkan aku dan beri beberapa hari lagi untuk mengurus masalah ini.”


Namun, bukannya respons yang didapat, Raja malah membawa diri keluar dari kamar. Di mana tindakan diam ini dipahami Jin Kai sebagai suatu persetujuan, dan hal itu sukses melepaskan ketegangan pundak yang seketika diturunkan sembari mengembuskan kelegaan.


“Istirahatlah, jangan berpikir apa pun,” tambah permaisuri, mengikuti jejak sang suami setelahnya.


Katakan saja, meninggalkan Putri Mahkota seorang diri yang tak mampu menurunkan pandangan pada Jin Kai. Sedangkan mulut, wanita ini biarkan terus bungkam tanpa barangkali ada niatan untuk dibukakan jikalau saja itu hanya sebuah kata. Pun Jin Kai, tak lagi mampu menahan akan keanehan sang Putri Agung ini. Bertukar pandang akhirnya, tentu bukan untuk melepaskan rindu atau hal semacam keromantisan dari pasangan suami-istri. “Apa ada yang ingin kau sampaikan? Jika tidak ada, pergilah. Aku ingin istirahat.”


“Keahlianmu semakin hari ... semakin membaik, Taizi.”

__ADS_1


Bukankah kesenjangan hubungan mereka terasa semakin jauh dan semakin jauh? Yang mana netra Putri mahkota yang sedari tadi tenang, sekarang tampak bergetar dengan sikap dingin Jin Kai. Meskipun sang suami sering memperlakukan dirinya seperti ini, tetap saja hal ini terasa berat. Namun, sejadinya Putri Mahkota tidak ingin menunjukkan sikap itu. Apalagi membiarkan Jin Kai mengetahui perasaan terlukanya. Itu jelas hal terakhir dari harga diri yang ia junjung dan jaga dengan baik selama hidupnya.


“Memaksa apa yang tidak menyukaimu dan memaksa agar menjadi milikmu adalah langkah gagal dalam hidupmu. Mungkin, kau diajarkan untuk menjaga, mengambil, merebut bahkan menyakiti dan mengkhianati, tapi ...! Itu semua hal yang berkaitan dengan takhta dan politik kerajaan,” ucap Putri Mahkota, memulai. “Mengenai hati dan perasaan seseorang, bagaimana bisa digunakan dengan cara yang sama seperti yang diajarkan padamu, Taizi? Pada akhirnya, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Tidak bisa memperbaiki apa yang telah rusak. Itu ... adalah hal yang tidak bisa kau cari jawabannya dari ajaran atau buku apa pun,” lanjutnya.


“Maka aku akan mencari jawabannya dengan caraku.”


“Bersiaplah dengan konsekuensinya.” Seraya membawa diri meninggalkan ruangan, netra berkaca-kacanya berusaha tidak dibiarkan menetes, justru memaksakan senyumanlah yang dirinya lakukan.


Bertepatan dengan itu pula, ia berpapasan dengan Lin Feng yang memberi hormat. Namun, tak sama sekali Putri Mahkota ini menghentikan langkah. Pun Lin Feng mampu menangkap kesedihan di balik senyuman yang terpancar. Yang mana Lin Feng sendiri bertindak seakan tidak mengetahui apa pun dan terus masuk menghadapkan diri pada Jin Kai.


“Bagaimana kondisi Zhen Chen?”


“Tidak ada yang berani melukai atau menyiksanya tanpa perintah darimu,” jawab Lin Feng.


“Bagaimana dengan Zhen Xian?”


Pertanyaan itu, akhirnya menurunkan pandangan Lin Feng. Tampak berada di antara akan memberitahukan atau tidak, menimbang baik-baik. Namun, bagaimana mungkin tidak memberi tahu? Karena cepat ataupun lambat, Jin Kai pun akan tahu seberapa banyak perubahan dari seorang Zhen Xian.


Beruntung saja, Kasim Ma masuk seraya menyela. Setidaknya ada alasan bagi Lin Feng untuk tidak menjawab sesegera mungkin.


“Taizi, obatmu telah siap.”


“Letakkan di meja. Aku akan meminumnya nanti.”


“Tapi, Taizi ... saat ini di luar Nona Zhen sedang menunggu.”


“Kenapa baru memberitahuku sekarang?! Cepat suruh dia masuk,” tegas Jin Kai, menyentuh dadanya seraya terbatuk-batuk kecil. “Lin Feng, kau juga keluarlah.”


Namun, Lin Feng tampak kurang setuju akan permintaan Jin Kai ini. Alih-alih menjauh, Lin Feng malah mendekatkan diri lebih lagi. “Taizi, biarkan aku menemanimu,” pintanya, tapi Jin Kai menatap seolah semua akan baik-baik saja, dan pertemuan ini mampu ia atasi dengan baik pula.


Alhasil, Lin Feng menarik diri. Meskipun begitu, bukan berarti Lin Feng tak menyadari bagaimana ketakutan dan khawatirnya Jin Kai. Kemampuan menyembunyikan perasaan yang biasanya Jin Kai kuasai, entah bagaimana sekarang malah tidak dipergunakan dengan baik.


Kemungkinan pertama, bisa saja karena kesehatan yang belumlah pulih sepenuhnya, dan kemungkinan kedua ... bisa saja karena perasaan terhadap Zhen Xian adalah kelemahan sesungguhnya. Menjadikan Jin Kai sendiri, tampak begitulah rapuh di balik tubuh seorang Putra Mahkota yang tidak seharusnya bersikap demikian.


Tak mengherankan apabila Lin Feng mendesah berat. Mendapati diri telah berada di luar dari kediaman seraya melihat Zhen Xian masuk menggantikan dirinya dengan wajah dingin layaknya telah membeku itu. Pun gadis ini sama sekali tak ada niatan untuk memandang balik Lin Feng yang menghentikan langkah.


“Jangan terlalu menyakitinya. Dia baru saja bangun dari masa kritis, bisakah kau melakukannya?”


Pun Zhen Xian menghentikan langkah. “Itu bukan urusanku. Terlebih ... itu dirinya sendiri yang melakukan,” jawabnya, kembali melangkahkan sepasang tungkai.


“Kasim Ma, biarkan saja mereka berdua.”

__ADS_1


Yang mana Kasim Ma sendiri menuruti, keluar bersama Lin Feng yang tampak enggan sebenarnya meninggalkan kedua orang berselisih tersebut. Namun, tetap saja mereka harus bertemu cepat ataupun lambat.


Maka, inilah pertemuan pertama dari Jin Kai dan Zhen Xian setelah kejadian keracunan yang terjadi.


Jin Kai, yang bahkan Zhen Xian tak ingin pandangi kini membangunkan diri dari ranjang. Mendapati gadis ini bersikap demikian, tak mungkin orang secerdas Jin Kai tak paham artinya, bukan? “Kau sudah tahu rupanya.”


“Lepaskan Chen Ge. Bersihkan namanya dan jangan pernah mengusik orang-orang di sekitarku, ini bukan permintaan ... melainkan peringatan.”


“Apa begitu sulit menjadi wanitaku? Apa begitu sulit bagimu menerima diriku?”


“Lakukan seperti yang kuminta. Besok aku akan masuk ke istana sebagai selirmu.” Berbalik pergi, tak ingin berlama-lama lagi dalam ruangan ini. Karena memang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan pada pria tak tahu diri, tapi berkekuasaan ini. Sungguh ironis, bukan? Harus dirinya yang justru terlibat dalam kehidupan pria penuh tipu muslihat ini.


Namun, Jin Kai sejadinya menahan sebelah tangan Zhen Xian yang seketika itu pula dihempaskan kuat. Yang mana tindakan Zhen Xian barusan, sukses membuat Jin Kai terdiam dalam netra berkaca-kaca. Sesaat, hanya sesaat saja. Diam dan dingin yang memenuhi ruangan kamar ini.


“Saat menjadi selirku, Kediaman Chahua akan menjadi kediamanmu,” ucapnya, berusaha menahan gemetar akibat keterkejutan akan perubahan total sikap gadis yang dulunya ia kenal ceria juga ramah ini. Tentu Jin Kai sudah membayangkan akan seperti ini jadinya, tapi tetap saja berat untuk diterima. Sedangkan Zhen Xian sendiri, tanpa mengatakan apa-apa membawa kembali dirinya meninggalkan ruangan. “Zhen Xian.”


“Jangan pernah memanggilku seperti itu!”


“Ingatlah, Zhen Chen masih berada dalam tanganku. Sampai kapan pun hal itu juga akan.”


Marah yang tak tertahankan dirasakan Zhen Xian kian bergejolak. Segera membalikkan tubuhnya mendekati Jin Kai dengan tatapan penuh kebencian. “Jika kau berani menyakitinya ... aku tidak akan mengampunimu,” kecamnya.


“Akhirnya kau menatapku. Haruskah dengan cara ini agar kau melihatku?” tanya Jin Kai, lebih tepatnya pertanyaan putus asa.


“Kau yang membuat semua menjadi seperti sekarang. Kau yang menggunakan cara licik! Kau mengancam dan memaksaku, menjadikan diriku seperti sekarang!”


“Karena aku menyukaimu!” seru Jin Kai akhirnya. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun mendapatkanmu kecuali diriku! Hanya diriku!”


“Ke depannya ... jangan pernah memanggil namaku! Jangan harap atau bahkan berpikir sedikit saja bisa mendapatkan hatiku!”


“Apa?”


“Aku ...!” Mencoba mengatur deru napas, pun sebulir air mata luruh tanpa dimintai. “Tidak akan menyerahkan diriku padamu, ingatlah itu baik-baik ... Taizi!” Berlarian meninggalkan ruangan setelah menancapkan kata-kata tajam itu pada Jin Kai yang juga ikutan meluruhkan air mata.


Sesak, begitulah sesak dada ini rasanya. Belum lagi dikarenakan kesehatan yang memang belumlah pulih, di mana sepasang tungkai tak lagi mampu menahan tubuh. Terduduk lemas pada pinggiran ranjang, membenamkan wajah ke bawah seraya isak tangis kecil menguasai dirinya. Benarkah sesulit itu menjadi wanitaku, Zhen Xian?


“Taizi!” panggil Kasim Ma yang baru saja masuk, mendapati sang Pangeran bertingkah demikian, bagaimana bisa mendekat lebih lagi? “Dia akan mengerti nanti, beri dia waktu untuk menerima semuanya, Taizi.”


Menggeleng-geleng. “Tidak ... dia tidak akan menerimaku. Tatapannya penuh kebencian, bahkan melihatku saja kini dia enggan.”


Dan untuk pertama kalinya bagi Lin Feng maupun Kasim Ma, menyaksikan terpuruknya Jin Kai hanya karena seorang gadis. Hal itu, membuat mereka tidak bisa mengatakan apa-apa. Kenyataan bahwa Jin Kai menggunakan cara kejam untuk mendapatkan Zhen Xian bukanlah kebohongan belaka. Hal itu tidak bisa dianggap suatu pembenaran dan tidak bisa dimaafkan dengan mudah dan cepat.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu pula jikalau masalah ini barangkali hanyalah awal dari segalanya. Awal dari sebuah kejadian dan awal dari jalan cerita hidup mereka yang terlibat. Karena hal yang menanti di depan sana, bisa saja jauh lebih berat dan kejam pula. Sedangkan masalah saat ini, bisa dianggap rangkaian proses melatih diri untuk hal yang lebih besar tersebut, bukan?


Tentu, setidaknya berharap masalah tak akan akan semenyeramkan itu. Karena biar bagaimanapun, Jin Kai menyukai Zhen Xian adalah benar adanya. Sebagai seseorang yang mencintai, apa mungkin mampu melihat gadis pujaan hatinya terluka lebih parah? Yang mana bisa saja, hal itu justru akan menjadi kelemahan paling besar yang dimiliki dari seorang Putra Mahkota Kerajaan Yunnan-Fu ini.


__ADS_2