
Terus saja pedang yang digantungkan pada dinding kayu rumah Tabib He ini menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena benda tersebut merupakan satu-satunya barang nan bersejarah peninggalan sang ayah kandung, melainkan karena ucapan Azheng kemarin padanya begitulah mengejutkan. Yang bahkan keberadaan Tabib He dalam mengantarkan ramuan siap minum saja kini tidak lagi disadarinya.
Karena memang tidak pernah terpikirkan, jikalau keputusan seperti ini akan kembali menghampiri. Waktu itu, ketika di mana ia tahu bahwa identitas aslinya adalah putra dari Jenderal Wei, ia memang memikirkan baik-baik harus bagaimana menghadapi kenyataan ini terlebih terkait kekejaman kerajaan terhadap keluarga kandungnya. Namun, keputusan akhir yang ia buat tak lain dengan merelakan kebencian dan kemarahan tersebut demi melindungi keluarga Zhen yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan penuh cinta kasih pun dengan sangatlah baik.
Dan kemarin, disela-sela Azheng menjelaskan lebih mengenai Desa Yong Gan ini, ia kembali didatangkan pada suatu keputusan sulit, tepatnya ditawarkan untuk menjadi pemimpin dalam melancarkan aksi pemberontakan terhadap Kerajaan Yunnan-Fu, terhadap Raja. Yang mana pasukan telah siap, dan dijamin di antara seluruh pasukan yang ada adalah bagian dari mereka yang memang menginginkan penuntutan keadilan kembali terhadap ayah, ibu atau bahkan anggota keluarga mereka lainnya yang dibantai kala itu secara tragis. Pun alasan terbesar dari pemberontakan yang ada ini, tak lain dan tak bukan cukuplah menggiurkan bagi Zhen Chen sendiri. Apalagi jikalau bukan pembersihan nama baik Jenderal Wei.
Bukankah sudah cukup selama belasan tahun ini, sang ayah kandung terus-terusan dicap sebagai pengkhianat besar negara? Belum lagi, keluarga Zhen beserta para pekerja yang juga dibantai hanya dalam semalam belum lama ini. Keadilan, jelas saja keadilan itu akan ada jikalau aksi ini dilakukan. Terlebih, bukankah pemberontakan ini dapat dijadikan sebagai cara untuk membawa kabur Zhen Xian juga Que Mo?
Namun balik lagi, pemberontakan terhadap Raja jelas saja bukanlah hal kecil. Akan ada banyak nyawa yang gugur pun terluka, ditambah lagi yang dilawan tak lain adalah pasukan Raja nan berpengalaman. Lantas bagaimana bisa melawan? Jelas pertempuran yang akan berlangsung nanti tidak akan berimbang. Dan bagaimanapula jikalau Raja sampai tahu keberadaan Desa Yong Gan ini? Bukankah semua orang di desa ini pun akan tewas? Baik itu wanita tua, muda atau bahkan anak-anak sekalipun.
Tak terkecuali pula, Tuan Lin selaku ayahnya Lin Feng. Tidakkah keluarga mereka juga akan terlibat? Yang mana artinya pula, pemberontakan ini hanya akan kembali menumbuhkan dendam baru tak berkesudahan.
Lalu apa yang harus kulakukan? Mendesah, pun barulah Zhen Chen menyadari akan keberadaan Tabib He. Mendapati pula ramuan yang ada di meja telah hampir dingin, dan segera pula Zhen Chen meraih dan meminum habis ramuan tersebut. “Apa yang sedang kau lakukan, Tabib He?”
“Selama kau tak sadarkan diri, aku berusaha membuatkan pakaian untukmu sembari mengisi waktu luang.” Menunjukkan pakaian sederhana yang memanglah hampir usai dikerjakan, hanya saja bagian dari lengan masihlah belum usai. “Itu ... beberapa dari warga desa ingin menanyakan tentangmu.”
Mengangguk-angguk, Zhen Chen jelas saja meminta Tabib He untuk mengatakannya saja. Kenapa pula harus sungkan, bukan?
“Mereka hanya bingung harus memanggilmu dengan sebutan apa ... Wei Lang atau justru Zhen Chen.”
Yang mana bertepatan dengan itu pula, Azheng yang barulah hadir tanpa mengetuk atau apa pun malah masuk begitu saja ke dalam rumah hanya untuk kemudian mendudukkan diri berhadapan dengan Zhen Chen. Seakan pria sangar ini menantikan pula jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut Zhen Chen yang justru tersenyum.
“Zhen Chen ... cukup panggil aku dengan Zhen Chen saja.”
Sontak Tabib He dan Azheng saling bertukar pandang, barangkali tidak pernah menyangka kalau putra Jenderal Wei ini akan lebih memilih nama keluarga Zhen tersebut alih-alih keluarga kandungnya. Apa karena pria muda ini masih berkabung? Makanya memilih nama Zhen Chen alih-alih Wei Lang?
Yang mana Zhen Chen dengan yakin menggeleng, tidak membenarkan alasan tersebut. Karena alasan yang dimilikinya cukuplah sederhana. Ia hanya tidak ingin, satu di antara dua keluarganya, baik Wei ataupun Zhen, ada yang hilang. Karena di desa ini sendiri, semua orang hanya mengenal Jenderal Wei, bukan keluarga Zhen. Jikalau Zhen Chen memilih nama Wei Lang, lantas adakah dari warga desa yang masih akan mengingat Zhen Chen dari keluarga Zhen?
__ADS_1
Tentu tidak, bukan? Namun, akan lain ceritanya jika Zhen Chen tetap menggunakan nama Zhen Chen. Setidaknya warga desa masih akan tetap tahu jikalau ia adalah putra dari Jenderal Wei, bernama Wei Lang. Apalagi di kala kini, pedang dari Jenderal Wei telah jatuh ke tangannya. Bukankah itu akan kian menguatkan identitasnya sebagai Wei Lang?
Hanya saja, tidak tahu apakah ia pantas menjadi pemilik pedang nan bersejarah ini. Di saat pedang itu sendiri berukiran kata ‘Yong Gan’, sementara ia sendiri masihlah belum bisa memutuskan pilihan terkait akankah menjadi pemimpin pasukan pemberontakan tersebut. Karena memang hatinya dipenuhi ketakutan, takut jikalau pemberontakan ini bukanlah jalan terbaik yang ada.
Jikalau saat ini ia menjelaskan pada Azheng, terkait keberatannya, akankah sekiranya Azheng menerima? Akankah pasukan pemberontakan yang ada akan menerima pula? Akankah pula sang ayah di atas sana kecewa? Memiliki putra berhati lemah seperti ini, seolah sama sekali tidak menuruni sifat sang ayah yang seorang jenderal hebat.
Oleh karenanya, Zhen Chen pun ragu untuk menyentuh kembali pedang Yong Gan peninggalan sang ayah. Karena akan terasa sangatlah berat, yang mana kedua tangan pun tidak akan mampu membawanya.
“Kau pasti sangat tertekan akan ucapanku kemarin, bukan?” ucap Azheng, memulai. “Kudengar kau cukup handal di bidang bunga, sama sekali tidak tahu kehidupan pasukan itu seperti apa. Hal itu bisa kupahami, dan tidak bisa menyalahkanmu pula.”
“Terima kasih, Paman, karena sudah memahamiku.”
“Akan tetapi, tetap saja aku dan sejumlah pasukan membutuhkanmu. Membutuhkan identitas aslimu sebagai putra Jenderal Wei, setidaknya hal itu mampu membangkitkan semangat juang semua orang.” Bangun dari duduknya hanya untuk kemudian mengambil pedang Yong Gan yang tergantung mantap, pun setelahnya menghampiri Zhen Chen seraya mensujudkan diri menyodorkan pedang tersebut. “Terimalah, jadilah pemimpin kami. Jadilah penyemangat kami!”
“Tepatnya hal apa yang bisa kalian dapatkan dari pemberontakan ini? Tidakkah kalian tahu seberapa banyak pasukan Huangdi? Belum lagi pasukan yang dimiliki Taizi, apa menurutmu pasukan dari desa ini cukup, Paman?”
Namun, tetap saja. Zhen Chen tidak seharusnya egois, apalagi jika sudah menyangkut banyak nyawa.
“Kau memang serupa dengan Jenderal Wei, bukankah begitu, Tabib He?” Yang mana Tabib He mengangguk, membenarkan. “Tapi ... kami tidak bisa lagi mundur, bahkan jika saat ini kami belumlah menemukanmu, kami akan tetap maju sesuai dengan rencana yang ada,” lanjut Azheng kemudian.
“Apa kalian barulah akan puas jikalau kekacauan itu sungguh terjadi?”
Pun kali ini Tabib He yang menjawab. “Mungkin. Karena itulah kenapa tekad semua pasukan tidak akan goyah lagi.”
Tak habis pikir Zhen Chen dibuat oleh pemikiran dari dua orang ini, tak tahu pula akan sefrustrasi apa jikalau harus menghadapi pasukan lainnya dengan sikap serupa mereka ini. Apa di sini, di desa ini, memang benar hanya ia seorang yang berpikir rasional? Ataukah ada sesuatu yang menjadi alasan kuat hingga mereka merasa nyawa bukanlah apa-apa, melainkan perlawanan dalam wujud pemberontakan jauh lebih penting?
Jika memang demikian, bisakah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya agar Zhen Chen paham dan akhirnya mampu merubah pikiran? Setidaknya untuk merubah pikiran, dibutuhkan pemahaman serupa, bukan?
__ADS_1
“Dengan pemberontakan ... biarpun kehilangan nyawa adalah hasil yang didapat, setidaknya kami tidak akan malu bertemu Jenderal Wei di atas sana. Setidaknya ada hal yang membuat kami layak dan pantas bersama kembali dengan Jenderal Wei, karena kami telah berusaha layaknya seorang pasukan.”
Meskipun singkat, tapi penjelasan Azheng barusan cukuplah memberikan dampak pada Zhen Chen. Pikirkan saja, sejak dahulu saat di mana Raja meminta pasukan Wei untuk tunduk setia, sebagian dari pasukan Wei menolak dan lebih memilih melawan meskipun tahu hasilnya adalah kehilangan nyawa. Bukankah kesetiaan telah mendarah daging? Tidak mengherankan pula jikalau kali ini, biar kata telah diberi kesempatan untuk hidup normal. Azheng masihlah sangat bertekad keras untuk melawan Raja, semacam itulah tujuan dari keberadaan hidupnya selama ini.
“Bagaimana bisa seyakin itu? Di saat pasukan yang kini kau bangun, tidak semuanya dulu adalah bagian dari pasukan Wei langsung, Paman.” Dan Azheng pun terdiam, karena kemungkinan yang diucapkan Zhen Chen memang tidak bisa disangkal. “Sungguh benar ... bukan hanya serta merta karena amarah, kebencian, ataupun keegoisan merasa telah menjalani kehidupan yang tidak adil?”
“Mereka hanyalah manusia ... beberapa kehilangan sosok ayah dalam hidup mereka, beberapa yatim piatu dan beberapa lagi bahkan ada yang cacat pun hidup dalam kesengsaraan penuh kebencian. Tidak dari mereka semua menjalani kehidupan penuh cinta kasih seperti yang kau alami, Zhen Chen, tidak semua dari mereka mendapati orang tua adopsi seperti keluarga Zhen yang pernah kau miliki itu.” Azheng memalingkan wajah, berusaha mencoba menenangkan perasaan emosionalnya yang membuncah agar setidaknya Zhen Chen tidak perlu melihat bagaimana lemahnya ia sebagai seseorang yang pernah menjadi tangan kanan seorang jenderal. “Bukankah itu manusiawi? Jikalau mereka diliputi perasaan kebencian, amarah dan juga dendam terhadap Huangdi?”
Tentu Zhen Chen paham betul jenis perasaan demikian, ia bahkan mengalami kehilangan keluarga secara tidak adil sebanyak dua kali bukannya sekali. Dan jikalau bukan karena Zhen Xian juga Que Mo, seseorang yang ingin diselamatkannya. Maka akankah hati yang ia miliki untuk melupakan kebencian dan dendam pada kerajaan akan selapang ini? Akankah pula mengesampingkan perasaan tersebut?
Benar, yang dikatakan Azheng memanglah benar. Siapa memangnya di dunia ini yang akan begitulah lapang hati setelah merasakan kekejaman Raja tidak masuk akal itu? Manusiawi? Tentu saja itu manusiawi dan Zhen Chen tidak lagi menanggapi ucapan Azheng yang kembali mensujudkan diri seraya menyodorkan pedang dengan kedua tangannya, berharap penuh putra Jenderal Wei ini akan menerima kali ini.
“Jika kau masih belum bisa memutuskan, maka kenapa tidak kau sendiri yang bertemu dan melihat mereka, para pasukan?” tawar Tabib He. “Barangkali setelahnya, kau tahu harus bagaimana dan seperti apa dalam memutuskan tawaran Azheng padamu.”
Pun Zhen Chen membangunkan diri dari duduknya, sepasang netra terus dilekatkan memandangi pedang sang ayah, atau tepatnya memandangi tulisan ‘Yong Gan’ yang ada tersebut. Namun, alih-alih menerima pedang tersebut, ia malah memina Azheng untuk bangun. Barangkali merasa tidak pantas mendapatkan sujud hormat seperti ini di kala Azheng-lah sosok yang seharusnya lebih patut dihormati.
“Baik ... akan kuterima pedang ini, dan akan kutemui pula para pasukan didikanmu itu, Paman.” Mengambil alih pedang, Zhen Chen pun menggenggam pedang berharga ini seraya menepuk-nepuk pundak Azheng.
Jangan tanyakan bagaimana pria sangar ini bereaksi, tersenyum begitulah lebar sampai di mana mendekap erat Zhen Chen seraya tertawa-tawa, tanpa sadar jikalau Zhen Chen sendiri masihlah seorang pasien yang butuh waktu dalam menyembuhkan luka tusukan dada. Oleh sebab itu, Tabib He selaku yang merawat selama ini tanpa segan pula meminta Azheng melepaskan pasiennya.
Alhasil, Azheng malah mendekap Tabib He sebagai ganti Zhen Chen, bertingkah layaknya seseorang yang telah menjadi pemenang. Dan Zhen Chen yang menyaksikan tingkah kocak dua pria ini, hanya terdiam dalam wajah yang diseriuskan. Kembali memandangi pedang Yong Gan dengan pandangan yang menyiratkan sesuatu. Setidaknya untuk saat ini, ia yakin jikalau keputusannya telah tepat dan ini pula yang terbaik.
Entah itu bagiku ... bagi seluruh orang desa ini ataupun ... Xian’er dan juga Que Mo.
Yang mana Zhen Chen berakhir mendekati jendela pun membukanya kemudian. Menyaksikan hujan kepingan es masihlah turun, menyelimuti desa ini yang barangkali telah merasakan dingin dari sejak belasan tahun lalu. Bukankah sudah waktunya, membawa mereka semua mengakhiri musim dingin dan merasakan hangatnya musim semi? Membawa mereka terbebas dalam jeratan yang ada, layaknya kelopak bunga yang terbang bebas di udara.
Aku akan datang setelah masalah di sini berhasil kuurus. Tunggulah aku, Xian’er.
__ADS_1