Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 67


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian.


Gemercik demi gemercik memenuhi pendengaran, pandangan yang tertangkap pun taklah begitu jelas. Bukan karena ada kain penghadang, sekat atau apa pun yang menutupi atau mampang dalam ruangan remang-remang berpendar cahaya lilin saja. Melainkan, hanya karena putihnya uap yang menguar dari suatu kolam permandian. Kolam yang menjadi pusat dari gemercik air itu sendiri ada.


Beberapa pelayan wanita terlihat pula sibuk menaburkan sekumpulan kelopak bunga mawar merah, yang mana membuat air jernih di hampir keseluruhan kolam ini pun tak lagi terlihat. Belum lagi aroma harum asli dari bunga begitulah tercium, menenangkan pikiran siapa pun pastinya jikalau merendamkan diri di sana. Ditambah lagi, beberapa pelayan lainnya mulai menaruh sejumlah rempah-rempah yang senantiasa pastinya akan kian menyehatkan pun menghangatkan tubuh lebih lagi.


Begitu kolam siap, barulah tampak seseorang dengan rambut tergerai memanjang sepinggang masuk. Mengenakan busana kain putih polos tanpa corak atau sedikit warna apa pun menghiasi, di mana rambut tergerai terawat itu pun tak mengenakan aksesoris penghias apa pun. Kecuali satu, benda yang dianggapnya sangatlah penting dari sejak dulu diberikan dan tidak akan pula dilepaskan.


Sebuah tusuk konde bermotifkan chahua.


Perlahan, ia mengulurkan tangan ke dalam kolam air. Entah untuk memastikan adakah sesuatu, ataukah hanya sekadar untuk memastikan apakah suhu airnya sudah cocok untuk dirinya? Entahlah, karena netra menajam dan wajah kaku penuh ketegasan, atau barangkali wajah itu telah lupa bagaimana caranya bersikap ramah, tersenyum apalagi tertawa. Yang pasti, gadis yang tak lain adalah Zhen Xian ini berakhir membuat seluruh pelayan bersujud, hanya dengan lewat sorot nyalangnya saja.


“Apa kalian mau aku berendam di air sepanas ini?!”


“Kami akan segera menambahkan air dingin, Selir Zhen.”


“Que Mo!” panggil Zhen Xian, dan yang dipanggil seketika menghampiri. “Bawa keluar dan cambuk mereka semua!”


“Selir Zhen, mohon ampuni kami, Selir Zhen! Mohon ampuni kami!”


“Ampun?” tanyanya tak menyangka, pun kemudian tertawa layaknya sosok antagonis di dalam cerita-cerita yang suka pendongeng jalanan ceritakan. “Istana ini mengajarkan untuk tidak berbuat salah, yang mana salah berarti harus dihukum tanpa ampun,” tekannya, memalingkan wajah kemudian seakan tak sudi lagi melihat pelayan-pelayan tersebut. “Bawa mereka!”


Dengan yakin pula, dan tanpa ampun. Que Mo tentu menuruti dengan sangat kemauan Zhen Xian. Pun pelayan pribadi yang kini mengenakan sejumlah kain pengikat di kepalanya ini, juga memiliki reaksi yang tak jauh berbeda dengan Zhen Xian. Rasa sakit kehilangan masa lalu, jelas telah membuat mereka barangkali lupa caranya untuk bersikap baik. Terlebih dalam istana terkutuk ini. Di mana, sampai kapan dan berapa lama harus tetap di sini tak lagi membuat tahan diri mereka. Jika tidak diluapkan pada pelayan, lantas harus ke mana larinya rasa kesal dan kemarahan itu, bukan?


Oleh karenanya, sedikit saja kesalahan yang dilakukan akan cukup dijadikan Zhen Xian sebagai alasan untuk menghukum dengan cara sesuka hatinya. Masa bodoh dengan apa yang akan dikatakan orang-orang dalam istana ini, karena pada dasarnya akan ada selalu sosok yang melindungi dari belakang secara diam-diam. Siapa lagi jikalau bukan pembunuh seluruh keluarganya, Putra Mahkota Agung yang orang-orang masihlah puja-puja.


Yang mana Zhen Xian sendiri saat ini telah merendamkan sebagian tubuh dengan rileksnya. Tak lagi terlihat jikalau ia merasa kepanasan akan air dari kolam ini seperti yang dikeluhkan, yang ada hanyalah ia menikmati pun sibuk meraih dan memainkan kelopak demi kelopak bunga mawar sampai titik di mana seakan dirinya sedang memerhatikan dengan saksama kelopak tersebut seraya bersenandung.


Namun, senandung yang terdengar cukup riang ini malah menyendukan sepasang netra, mengundang embun hingga mengubahnya menjadi luruhan berupa buliran air mata yang menapaki kedua pipi, menetes pun terjatuh kemudian tepat pada air kolam. Pun jatuhan itu pula menjadi awalan dari sejumlah seruan demi seruan, juga rintihan seiring akan datangnya celetar cambuk memecahkan udara.


“Tuan, ampun! Tuan, kumohon ampuni kami!”

__ADS_1


Yang mana bukannya berhenti, Que Mo malah kian mengencangkan lontaran cambukan. Tak pula terlihat rasa bersalah, kasihan atau jenis perasaan lainnya yang menunjukkan ia akan berhenti. Sampai titik di mana pelayan wanita yang menjadi korban kekerasan hukuman ini tak lagi mampu menyuarakan apa-apa, bahkan bergerak sedikit saja sudah terlihat sangatlah kesulitan.


Apa mungkin tewas? Atau hanya memainkan sandiwara saja untuk sekadar dilepaskan? Karena tidak mungkin seseorang akan begitulah mudah tewas, bukan? Apalagi pelayan-pelayan wanita dalam istana ini memang suka bersandiwara, tak bisa dipercaya begitu saja berkat sikap mereka yang hormat di depan, tapi di belakang belum tentu demikian.


“Hentikan!” seru seseorang, dan Que Mo akhirnya barulah berhenti, mendapati seseorang yang berseru tak lain adalah Dayang Yun yang mendekat seraya melemparkan pandangan lekat penuh ketidaksukaan. “Mereka adalah pengikutku, jadi sudah seharusnya aku pula yang menghukum mereka!”


“Aku hanya mengikuti perintah Selir Zhen. Apa mungkin ... perintah Selir Zhen tidak cukup kuat untuk dipatuhi? Dan hanya perintah Taizi saja yang harus dipatuhi?!”


“Kau tahu bukan itu maksudku ...!”


“Lalu apa maksudmu, Dayang Yun?” Sontak Dayang Yun mengarahkan pandangan ke asal suara yang menyela barusan, menurunkan seketika pandangan saat tahu seseorang yang menyela adalah Zhen Xian. Yang mana Zhen Xian sendiri hanya mengenakan pakaian tipis dengan rambut terurai basahnya, menatap dingin Dayang Yun berkali-kali lebih dingin dari udara saat ini yang cukup menusuk ke tulang-tulang. “Apa benar perintahku tidak berlaku?”


“Bukan seperti itu, Selir Zhen.”


“Lalu ...! Apa maksudmu menghentikan Que Mo mencambuk mereka?!”


“Itu karena mereka ...!”


PLAKK!


Namun, keganasan dari seorang Zhen Xian, gadis yang dulunya riang dan penuh kebaikan ini malah tampak belumlah puas menghukum. Ia merebut cambuk dari genggaman Que Mo, bertubi-tubi pula mencambuk punggung Dayang Yun. “Siapa pun yang berani melawan harus dihukum! Bukankah itu yang diajarkan istana pada kalian?!” murkanya, menghempaskan cambuk seraya ia memposisikan tubuh lebih dekat lagi berdiri di hadapan Dayang Yun. “Berani sekali lagi menghentikan perintahku ... maka akan kucabik-cabik tubuhmu,” kecamnya, berlalu pergi masuk kembali ke dalam kediaman yang diekori pula oleh Que Mo.


Bukankah memang begitu cara kerja bawahan di istana? Dan Zhen Xian ingin mempertegas jikalau tingkatan yang dimilikinya jauh lebih tinggi. Di mana mereka yang lebih rendah haruslah mengikuti dan bukannya melawan, bahkan jika yang dititahkan adalah hal salah sekalipun, tetap harus dilakukan.


Sementara Dayang Yun barusan, bukankah bersikap seakan dirinya orang suci dan orang terbaik yang pernah ada? Apanya yang menolong bawahan, bukankah jelas wanita tua itu hanya takut jikalau mata-mata yang disebarkan olehnya dalam Kediaman Chahua akan berkurang satu demi satu.


“Kau tidak seharusnya keluar dengan pakaian tipis dan rambut basah seperti ini,” oceh Que Mo, mendapati luka lecet menghiasi telapak tangan Zhen Xian yang bahkan gadis ini taklah sadar barangkali. Dengan cepat pula, Que Mo mengobati dengan hati-hati. “Lain kali jika ingin memberikan hukuman cambukan, biarkan saja aku yang melakukan. Aku tidak suka melihatmu melukai dirimu sendiri seperti ini.”


“Pelan-pelan, Que Mo.”


Pun tiupan lembut diberikan Que Mo kemudian, mendapati pula gadis ini murung. “Apa kau lapar? Ingin kubuatkan sesuatu?”

__ADS_1


Menggeleng-geleng, air mata-lah yang justru mengalir. “Aku merindukan masakan Niang, merindukan Die ... juga ....” Terisak, tapi mencoba keras ingin mengeluarkan kata-kata tersebut. “Merindukan Chen Ge ... hiks ...!”


“Bertahanlah ... karena aku mampu bertahan di sini selama ini juga berkat dirimu.”


Zhen Xian mengangguk-angguk, menyeka pergi air mata yang mengganggu pandangan. “Dia tidak akan melupakan janjinya, aku percaya itu.” Dan dengan yakin Que Mo membenarkan, menyentuh keningnya yang tertutup ikatan kain. Yang mana di balik kain yang menutupi kening tersebut, telah terukir bekas luka. Luka yang akan selalu menjadi pengingat akan malam dua tahun lalu. Hari di mana ia bersujud membenturkan kening sewaktu memohon pada Jin Kai untuk menghentikan aksi pembantaian seluruh keluarga Zhen.


Malam itu, jelas malam yang menjadi titik terendah dalam hidup. Namun, apa yang terjadi pada malam pembantaian itu? Terutama ketika Jin Kai kembali ke istana bersama prajurit atau pasukan Zhu, melaporkan pada Raja jikalau misi telah usai dilakukan.


Pasalnya, malam itu Kediaman Chahua terjaga begitulah ketat. Di mana Zhen Xian yang terkurung tak bisa melangkah sedikit pun keluar. Hanya tangisan demi tangisan yang mampu dilakukan, tangisan akan hilangnya sudah keluarga hangat yang dimiliki. Pun Que Mo, tak tahu pula bagaimana kondisinya tepat setelah mendapat hukuman pukulan sebanyak lima puluh kali.


Akan tetapi, apa ini? Zhen Xian dibuat tercengang seraya menyeka air mata di seluruh wajah sembari membangunkan diri dari duduk terpuruknya. Mendapati atap dari kediaman, berlobang pun tampak sosok Lin Feng melompat turun dengan mudahnya seakan ketinggian bukanlah apa-apa baginya. Dan tak tahu pula bagaimana bisa pria ini mampu naik ke atas atap sana tanpa diketahui satu pengawal pun, dan Zhen Xian tak ingin bertanya hal-hal tak penting demikian. Karena jelas, ada hal yang jauh lebih penting, bukan?


Yang mana belum sempat bertanya, Lin Feng telah lebih dahulu menyerahkan suatu benda, tak lain berupa kantong wewangian dengan corak chahua merah muda di atasnya. “Apa ini cukup untuk membayar hutangku pada kalian?”


Dengan sangat hati-hati, Zhen Xian yang berusaha menahan isak tangisnya berakhir mengambil kantong wewangian. Mendapati pula sedikit noda darah menghiasi, dan dengan tangan gemetar itu pula ia menyentuh noda yang ada seakan merasakan bagaimana sakit dan terlukanya pemilik dari kantong wewangian ini, saat itu.


“Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka parah?”


“Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja, tapi ... perlu waktu untuk kembali pulih.”


“Para pekerja ...? Orang tuaku?” Dan Lin Feng terdiam, pria ini jelas tak ingin mengatakan. “Katakan, beritahu aku, Lin Feng,” ucap Zhen Xian lagi, dan meskipun benar Lin Feng memberanikan diri memandang langsung, tapi tetap saja pria berwajah tegas nan kaku ini bersikukuh dengan keyakinannya, tak kunjung berucap. Melainkan hanya sorot sepasang netranya saja yang menunjukkan begitu banyak penyesalan, dan juga kedukaan. “Apa Jin Kai ... apa dia yang membunuh orang tuaku?” tanya Zhen Xian pada akhirnya, setidaknya ingin dan harus tahu kenyataan dari kejadian sebenarnya itu seperti apa. “Lin Feng ....”


Pun Lin Feng akhirnya berucap, dan kalimat awal yang keluar begitulah menikam dalam hingga sukses membuat Zhen Xian kehilangan sejumlah energi, limbung pun terperosok kemudian dalam keterdudukan terpuruk. Yang mana harusnya, Zhen Xian sendiri tahu betul jikalau kabar buruklah yang akan didengarkan. Namun, mengetahui jikalau ayah dan ibunya bunuh diri demi melindungi sang kakak, bukankah jauh lebih menyakitkan? Karena ia tak pernah menyangka akan demikian akhir dari pelaporan yang didapatkan.


“Bertahanlah, akan tiba waktunya Zhen Chen menemuimu.” Tanpa lupa pula, Lin Feng meminta atau tepatnya menasihati untuk tidak melakukan hal-hal bodoh. Meskipun sadar betul jikalau orang terbodoh saat ini bukanlah Zhen Xian, melainkan dirinya sendiri yang dari sejak awal taklah menghentikan tindakan bengkok Jin Kai.


Akan tetapi, ketika pengawal pribadi Jin Kai ini hendak pergi. Entah karena suatu alasan atau hal apa, setetes air mata mengalir dari wajah kaku nan tegasnya itu. Sungguh tampak tak seperti Lin Feng biasanya, pemandangan ini bukankah yang pertama kali? Yang mana menandakan pula jikalau rasa penyesalan yang dirasakan dalam hatinya begitulah besar, dan kian pula meluruhkan air mata saat di mana Zhen Xian mengucapkan terima kasih.


“Sekarang ... hutangmu pada kami sudah lunas, Lin Feng.”


Namun, keterdiaman-lah yang menjadi respons Lin Feng. Seakan mencerna kembali jikalau ucapan yang ditangkapnya taklah salah. Pun Zhen Xian tanpa ragu berakhir mengulang kembali ucapannya.

__ADS_1


Alhasil, Lin Feng hanya bersikap sebagaimana seseorang yang akhirnya bebas dari suatu ikatan kencang pada dada. Tak mengherankan apabila helaan napas terdengar seraya ia menyeka air mata, menghadirkan senyuman dari balik wajah yang biasanya kaku dan tegas ini.


Bukankah Lin Feng ... pantas mendapatkan pengampunan tersebut?


__ADS_2