Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 20


__ADS_3

Meninggalkan kediaman diikuti beberapa dayang, penampilan memukau dari Putri Mahkota Bai Hua ini seakan menyambut datangnya pagi cerah. Tak lagi sederhana layaknya semalam, atau barangkali penampilan mewah yang bagai menunjukkan posisi tingginya ini hanya berupa zirah tuk menutupi keterpurukan yang dirasakan.


Surai hitamnya secara keseluruhan terangkat, yang mana berbagai macam aksesoris keemasan menghiasi pun berjuntai-juntai seiring dengan pergerakan anggun nan santainya. Wajah yang tertepa angin ini pun sedikit memerah di bagian kedua pipi, bibir yang tersenyum begitu mendapat sapaan dari para pelayan yang ditemui itu pun serupa sekali dengan warna buah persik. Alis tipis hitam, dibuat memanjang begitulah rapi. Pun jubah terluar bewarna dasar biru gelap yang terseret-seret, menampilkan ukiran penuh corak bunga bersulur yang ditenun dengan benang emas.


Meskipun demikian, sepasang netra masih terlihat lelah yang mana terlihat pula sedikit membengkak. Namun, siapa yang akan menduga perlakuan macam apa yang didapat sang Putri Mahkota semalam. Tak akan pula mereka menduga bahwa sang Putri Mahkota menangis, tak kunjung pula bisa tidur akan perlakuan sang suami yang mengabaikan.


Apanya yang malam spesial? Hal itu hanya berupa angan-angan kesenangan di antara para pelayan dan dayang wanita yang tak tahu-menahu saja. Di mana kini Putri Mahkota dan rombongannya tiba pada suatu bangunan beraura kuat, mendapati sang suami menanti. Entah apa pula yang dilakukan pria dingin ini, terus mengarahkan pandangan pada papan nama yang tergantung bertuliskan ‘Aula Merak’. Yang mana pula berarti bagian dari Kediaman Ibu Suri.


“Taizi,” sapanya, tapi pria ini hanya mengangguk tanpa menolehkan pandangan. Hanya Kasim Ma saja yang membalas dengan memberikan penghormatan sebelum akhirnya meninggalkan kedua pasangan suami-istri ini berdua saja.


“Ayo, mereka pasti sudah menunggu cukup lama.”


Melangkah beriringan, selangkah demi selangkah menaiki anak tangga yang tak terlalu banyak ini. Pun pintu dari aula terbuka begitulah lebar, marmer hitam menjadi penyambut awal tuk lebih mendekatkan posisi pada tengah aula. Mendapati hadirnya tiga orang menduduki kursi yang terbilang bukanlah kursi biasa, lurus memandang mereka secara bergantian.


“Hormat pada Huangtaihou*, Huangdi**, Huanghou***,” ucap mereka secara bersamaan, pun wajah dibiarkan menunduk. Karena inilah salah satu aturan dalam keluarga kerajaan, bahwa setiap pagi harus memberi hormat pada anggota keluarga yang lebih tua. Tak terkecuali pula dengan selir, jikalau Jin Kai memang memilikinya.


“Bangunlah.”


“Terima kasih, Huangdi.”


“Kenapa kalian terlihat tidak sehat?”


“Huangtaihou, semalam adalah malam yang sudah direncanakan untuk mereka. Mungkin itu yang membuat mereka seperti kehilangan energi,” jawab Permaisuri.


“Ahhh ... aku mengerti. Berharap kali ini akan segera hadir anggota baru dalam kerajaan.” Tersenyum hangat, Ibu Suri tentu sangat berharap akan hal itu. Namun, ucapan yang bermaksud baik ini malah mulai mengarah ke arah memanas.


Tepatnya Raja, berdeham cukup kuat. Raut wajah yang dilemparkan pada sang putra pun taklah mengenakkan. “Kalian sudah menikah lama dan masih belum saja memiliki anak. Taizi! Apa kau tahu berapa banyak orang merasa khawatir akan hal ini?”


“Aku mengerti dan akan terus bekerja keras. Huangdi, tidak perlu begitu khawatir dan fokus saja dengan urusan kerajaan.”


“Jika tahun ini masih belum ada kabar kehamilan Taizifei, maka jangan salahkan aku memaksamu tegas mengambil selir. Bahkan barangkali ini akan menjadi jenis titah dariku, dan bukannya permintaan belaka.”


Lagi dan lagi topik ini, garis wajah Jin Kai serta merta pula mengeras. Namun, sejadinya tak menunjukkan terang-terangan akan hal itu. Melainkan memilih mengepal sebelah tangan yang mana disaksikan pula oleh sang istri. “Aku mengerti, Huangdi,” ucapnya.


“Memiliki selir bukan berarti cintamu pada Taizifei berubah, tapi itu adalah salah satu tugasmu, Taizi. Tugas untuk sesegera mungkin memiliki keturunan,” ucap Permaisuri. “Taizifei, apa benar yang kukatakan barusan?”


“Itu benar, Huanghou. Dengan kehadiran selir, aku bisa berbagi tanggung jawab dan posisi Taizi akan lebih kuat serta stabil. Selain itu, aku bisa memiliki teman untuk diajak mengobrol dalam istana ini.”


Permaisuri pun puas akan jawaban itu, tak terkecuali pula Raja dan Ibu Suri. Karena memang itulah sikap yang harus dimiliki seorang Putri Mahkota, mendukung kemajuan Putra Mahkota dan bukannya memendam rasa cemburu karena sang suami memiliki wanita lain. Tak heran, Raja terus saja memberikan pujian pada menantu sahnya ini.

__ADS_1


“Baiklah, kami kembali dulu,” sela Jin Kai, memberi hormatnya. Yang mana pula Putri Mahkota Bai Hua dibuat mengikuti. Pun berakhir keduanya melangkah menjauh meninggalkan aula, di mana Raja sendiri terus mengucapkan ketidaksukaannya terkait sikap menyela sang putra barusan yang dianggap lancang.


Sementara Jin Kai sendiri, masa bodoh. Terus mempercepat langkah hingga titik di mana dirinya tak lagi mampu menahan dalam kepura-puraan mengabaikan. Menghentikan langkah saat ketika telah berada di luar dari Aula Merak ini, pun lurus atau lekat memandang sang istri. Di mana Jin Kai sendiri mendekatkan wajahnya, lebit tepatnya lagi mendekatkan mulutnya pada telinga sang istri.


“Jangan mengatur hidupku. Memiliki selir atau tidak adalah keputusanku,” bisiknya, tersenyum kemudian menatap sang istri yang mematung. Pun Jin Kai memegang sebelah bahu dan menepuk-nepuk lembut, tepukan yang ditanggap Putri Mahkota sebagai pemberitahuan lebih tuk tak melewati batas dan hanya menjadi Putri Mahkota yang diam saja layaknya burung dalam sangkar. “Taizifei terlihat sangat cantik hari ini, dan teruslah demikian. Jangan mengecewakanku,” lanjutnya yang berlalu pergi bersama Kasim Ma.


Ini bukan masalah besar Bai Hua, dari sejak menikah kau sudah hidup seperti ini ... tidak perlu menangis atau merasa sakit.


Namun, bagaimana bisa tidak merasa sakit? Dirinya juga seorang wanita, butuh perhatian dan kehangatan dari sang suami. Apalagi dalam kehidupan istana yang begitulah membosankan ini. Selain pada suami, kepada siapa lagi dirinya bisa bersandar? Akan tetapi, sang suami saja taklah pernah bersikap layaknya suami. Pun netra berembun yang disertai pula helaan napas berat menguar pelan, khawatir jikalau ada yang melihat sikap tertekannya ini.


Alhasil, senyum paksaan pun menghiasi wajah yang melangkah pergi bersama rombongannya.


Menyedihkan? Tentu saja menyedihkan. Jikalau ini harga yang harus dibayarnya sejak terlahir dalam kemewahan, alangkah dirinya berharap untuk tidak terlahir demikian. Mungkin, menjadi orang biasa memanglah yang terbaik di dunia ini. Setidaknya, akan jauh lebih bebas.


Tak perlu pula jauh-jauh mengambil contoh, layaknya seseorang yang baru saja tiba di Departemen Dekorasi ini. Ceria penuh semangat menyapa semua orang yang hadir, sungguh suasana yang jauh berbeda, dan terpenting penuh kehangatan layaknya hari yang kian menghangat menandakan sang surya kian meninggi.


“Kau sungguh berniat akan terus kemari?” tanya Mo Zhu.


“Kenapa? Merasa terganggu?” tanya balik Zhen Xian, yang sebenarnya tak terlalu peduli juga akan jawaban apa yang didapat. Jika dirinya mau, maka siapa yang mampu menahan? Kecuali sang kakak pastinya. Namun balik lagi, sang kakak saja masih mengizinkan, selama dirinya tak berbuat masalah saja.


“Mana berani aku mengatakan hal seperti itu pada adiknya Zhen Chen,” timpal Mo Zhu, karena memang itulah kenyataannya.


Selain berwajah kalem dan teduh, Zhen Chen juga pria dengan jiwa pemimpin. Ketegasan yang entah darimana datangnya itu bagai terpendam jauh dalam dirinya, terasa tidaklah seperti seseorang yang murni dari keluarga biasa. Katakan saja sekarang ini misalnya, saat ketika di mana dirinya hanya mengeluarkan beberapa kata patah, orang-orang seketika memerhatikan dan mengikuti ucapannya yang meminta tuk melihat ruang penyimpanan bunga.


Pasalnya, hal lain yang lebih genting dan harus diselesaikan ada di depan mata kini. Tepat ketika pintu dari ruang penyimpanan bunga dibukakan, tak hanya Zhen Chen yang tak puas melainkan Mo Zhu juga Meng Jun mengeluarkan reaksi serupa.


“Kita tidak bisa menggunakan bunga yang telah tersimpan dalam ruangan,” ucap Zhen Chen, mengambil setangkai bunga yang layu tak bertulang. “Mau tak mau, kita harus menggunakan cara yang lebih merepotkan.”


“Kau benar, tidak peduli bagaimana kita mengatur suhu ruang hasilnya tetaplah tidak memuaskan.” Meng Jun menambahkan.


“Itu berarti kita harus menggunakan bunga yang baru dipetik, bukan? Tapi apa kita ada waktu?” tanya Mo Zhu.


“Jika bicara waktu, tentu kita punya. Kita bisa mendekorasi sewaktu subuh, tapi permasalahan ada di bagian bunga. Ada satu jenis bunga yang sulit didapatkan apalagi dalam kondisi segar,” ucap Zhen Chen, yang mana Mo Zhu dan Meng Jun sendiri dibuat bertanya-tanya akan reaksi Zhen Chen yang bagai tak memiliki cara keluar lainnya.


“Keluarga kami memiliki semua jenis bunga yang kalian akan gunakan, tapi untuk chahua sendiri kami tidak memiliki,” jelas Zhen Xian kemudian.


“Benarkah? Jika begitu ini masalah besar, keluarga Zhen kalian saja tidaklah menanam bunga ini, lantas apa kabar dengan keluarga bunga lainnya? Sudah pasti mereka pun tidak menyediakan?” tebak Mo Zhu yang mana tak ditanggapi siapa pun, yang berarti pula tebakannya benar.


“Chahua adalah bunga dari Kerajaan Dali, tentu saja banyak orang tak bisa sembarangan menanam bunga ini. Jadi, bagaimana sekarang? Tidak mungkin kita berangkat ke Dali, bukan?” tanya Meng Jun, dan dirinya pula yang menjawab tidak.

__ADS_1


Kerajaan Dali, atau kerajaan Putri Mahkota Bai Hua ini terbilang cukuplah jauh. Jika harus bepergian pulang dan pergi, akan membutuhkan waktu sekitar seminggu. Sedangkan acara ulang tahun Putra Mahkota Jin Kai saja tinggal beberapa hari lagi. Mana ada waktu untuk itu? Belum lagi, siapa yang bisa menjamin bunga ini masih akan dalam keadaan segar? Terlalu berisiko pun keberhasilannya sangatlah kecil.


“Ge, mungkin aku bisa memberi tahu cara mendapatkan chahua segar, tapi tidak tahu kau akan setuju atau tidak.”


“Akan kuputuskan setelah kau mengatakannya.”


“Kediaman ibunya Jin Kai terdapat sebuah taman di belakangnya, dan taman itu dipenuhi dengan chahua. Akan lebih dari cukup jika kita menggunakannya.”


“Akankah Jin Kai mengizinkannya? Mengingat itu bunga kesayangan ibunya,” ucap Zhen Chen yang membawa sepasang tungkainya bergerak, mondar-mandir dalam keterdiaman. Namun, otak berputar lebih. Barangkali memikirkan kembali perselisihan dirinya dengan Jin Kai kemarin.


Mungkinkah Jin Kai akan mengizinkan?


Pun Zhen Xian mendekati sang kakak, tahu apa yang sedang dipikirkan. Tak heran, gadis ini meminta maaf. “Semua salahku,” ucapnya lirih, mendesah tak berani memandang sang kakak.


“Kurasa tidak ada cara lain. Mari kita coba bicarakan dengan Jin Kai nanti.”


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Meng Jun.


Akan tetapi, Zhen Chen hanya menggeleng. Yang mana pula Zhen Xian tak berniat lebih menjawab, barangkali masih merasa bersalah. Bukannya memudahkan sang kakak, dirinya malah menambah masalah lebih berat lagi tuk dipecahkan.


Alhasil, Zhen Chen yang peka akan perasaan sang adiknya ini hanya bisa mengalihkan perhatian. Berinisiatif pula tuk mengajarkan berbagai macam rangkaian bunga di sela-sela diskusi mereka. Cara ini, barangkali mampu menyingkirkan pikiran mengganggu sang adik. Kesibukan, bukankah cara yang paling tepat tuk mengalihkan pikiran?


Benar saja, inisiatif Zhen Chen membuahkan hasil. Bahkan tak lebih dari mereka malah tenggelam dalam kesibukan, sibuk pula menyingkirkan jenis bunga yang memang harus disingkirkan dari ruang penyimpanan ini. Yang pasti, Zhen Xian mulai merasa lebih baik dan hal itu sukses pula membuat Zhen Chen jauh merasa lebih baik.


Mengenai akan bagaimana bicara dengan Jin Kai, Zhen Chen hanya bisa mengatakan dalam hati. Pikirkan nanti saat sudah bertemu saja.


Namun, akan seperti apa Jin Kai menanggapi kira-kira? Yang mana tanpa sadar pula, sang surya kini telah bertengger di puncak dari ketinggian. Sinar yang begitulah menyengat dengan sedikit angin menggelitiki kulit ini pun menjadi pengantar seseorang mendekat.


Lin Feng, pengawal pribadi Jin Kai yang entah kenapa datang kemari. Pun taklah terlihat keberadaan Jin Kai dengannya. Sontak saja, dua saudara Zhen menghentikan langkah. Di mana Meng Jun dan Mo Zhu pun ikutan mematung.


“Taizi ingin bertemu dan mengajak kalian berdua makan bersama.”


“Kebetulan, aku memang ingin bertemu dengannya,” balas Zhen Chen, dan merasa langit telah membantunya kini.


Kesempatan yang baik, kenapa pula tidak dimanfaatkan dengan sebaiknya, bukan? Yang mana Zhen Xian sukses dibuat tegang, bertukar pandang pada sang kakak yang malah tersenyum. Sungguhkah tersenyum, atau hanya berupa senyuman tuk menyamankan saja?


Notes:


* Huangtaihou berarti Ibu Suri.

__ADS_1


** Huangdi berarti Raja.


*** Huanghou berarti Permaisuri.


__ADS_2