Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 14


__ADS_3

Suara ketukan ini sungguhlah mengganggu, memaksa sepasang netra terpejam yang tenang berakhir bergerak dalam ketidaktenangan. Apakah sudah pagi? Kenapa terasa waktu cepatlah berlalu? Pun masih banyak lemparan pertanyaan keraguan dari gadis muda yang mabuk semalam ini, terus memandang langit-langit kamar bagai meminta jawaban. Meskipun sebenarnya jawaban itu jelas adanya bahwa hari memanglah telah pagi.


“Xian’er bangunlah!”


Serta merta Zhen Xian berdeham berkali-kali, membersihkan kerongkongannya tuk memudahkan menjawab sang kakak yang kian mengetuk pintu jika tak diberi jawaban apa pun. Barulah kemudian, dirinya menghentikan sesi berbaring sambil memegang kepala yang barangkali berat dan sakit. Rintihan kecil keluar begitu saja, memijat-mijat kedua pelipis dengan terus membawa sepasang tungkai berdiri menjalankan tugas sebagaimana mestinya.


Tentu, pemicu gadis ini begitulah semangat tak lain karena sang kakak akan menyertakan dirinya ikut bersama ke istana. Ingatan semalam bagai suatu gambaran utuh yang sama sekali tak terpecah-pecah, tak terkecuali Jin Kai teman minumnya ikut terbawa.


Tak heran, Zhen Xian yang telah siap berbenah diri tanpa pula lupa mengenakan tusuk konde pemberian sang kakak ini dibuat menutupi wajah dengan kedua tangan. Barangkali merutuki diri lewat gumaman yang tak jelas terdengar memenuhi kamarnya ini.


Mau tak mau pula, dirinya keluar kamar.


“Pagi semua.”


Sapaan yang begitu lemas, tapi dibalas semangat oleh ibu yang sibuk menyiapkan sarapan, dan ayah yang sedang duduk di meja berhadapan dengan sang kakak yang memerhatikan.


“Kemari dan minumlah sup ini agar kondisimu lebih baik,” ucap Zhen Chen yang dituruti seketika Zhen Xian, mengambil posisi duduk bersebelahan dengan sang kakak yang menyodorkan mangkuk.


Anehnya, Zhen Chen tak lagi membahas apa pun. Apakah dia marah? Bahkan sampai ketika ibu telah selesai menyiapkan sarapan dan mereka memulai acara makan sekalipun, Zhen Chen tak juga banyak bicara mengenai mabuk yang dialami semalam.


Namun, jika diperhatikan, sang kakak ini tampaknya taklah marah, melainkan dipenuhi pikiran. Bukankah jelas pikiran apa yang ada di benaknya? Kompetisi dekorasi, bukankah babak penentuan pemenangnya besok? Dan Zhen Xian yang paham, sontak saja merasa lega. Tanpa terasa, kini tiba pada waktunya tuk berangkat ke medan kompetisi ini.


“Kau akan ikut?” sergah Que Mo, menghentikan seketika langkah kedua saudara Zhen yang menoleh padanya.


“Hmm, maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu,” jawab Zhen Xian.


“Itu lebih baik daripada kau berkeliaran sendiri lalu membuat masalah,” balas cepat Que Mo, mengarahkan pandangan pada Zhen Chen. Suatu pandangan yang barangkali mempertanyakan akankah Zhen Xian baik-baik saja ikut ke istana? Dan Zhen Chen membalasnya dengan sekali anggukan, anggukan yang membawa Zhen Chen dan Zhen Xian berangkat meninggalkan Que Mo yang kembali ke lahan bunga.


Maka, dimulailah hari yang sesungguhnya, hari baru dalam menghadapi dan menjalankan berbagai aktivitas yang siap melelahkan dan mungkin akan ada suatu kejutan yang akan segera mereka ketahui. Kejutan yang tidak akan mereka sangka, hingga kini tibalah mereka di istana tuk mulai menyiapkan dekorasi sesuai dengan rencana.

__ADS_1


Seluruh tim sibuk merangkai dan menempatkan bunga menghiasi ruangan yang telah terpilih kemarin, sementara Zhen Xian kadang akan mengambil bunga dari tempat penyimpanan lalu memberikan pada lainnya. Terkadang dia hanya malas-malasan dengan melihat sibuknya semua orang dan terkadang membantu lagi karena merasa bosan.


Tentu, pandangan Zhen Chen tidak pernah lepas dari Zhen Xian bahkan selalu menasihati untuk tidak pergi ke mana-mana jika tidak ingin terlibat masalah seperti kunjungan istana waktu lalu.


Akan tetapi, tindakan Zhen Chen yang begitu perhatian menjadikan beberapa orang yang tidak tahu hubungan persaudaraan mereka menjadi salah paham. Oleh karenanya, rumor tak berdasar mulai menyebar ke bagian pelayan wanita istana yang mengagumi Zhen Chen. Misalkan saja, seperti situasi saat ini. Zhen Xian yang celingak-celinguk berkat seruan salah satu dari tiga wanita berseragam sama ini.


“Aku?” tanya Zhen Xian yang menunjuk dirinya sendiri. “Ada apa?”


“Apa kau benar kekasih Zhen Chen?”


“Ha?!”


“Semua orang mengatakan kalau kau kekasihnya. Apa benar?”


Ahhh ... kalian menyukai Chen Ge, tapi sayangnya aku tidak akan membiarkan Chen Ge bersama pelayan seperti kalian. Yang terpenting, itu aku yang tidak ingin kehilangan.


“Benar atau tidak itu bukan urusan kalian.” Malas meladeni, Zhen Xian berlalu pergi begitu saja. Masa bodoh ketiga wanita pelayan ini akan mengatakan apa, itu derita mereka, bukan? Pun Zhen Xian menggeleng-geleng tak paham akan cara kerja istana ini, kenapa pelayannya bahkan bersikap sama seperti warga di luar sana. Apakah sebegitu menariknya menelan rumor? Enakkah rasanya?


“Kalian!” murka Zhen Xian, segera membangunkan diri yang tersungkur tanpa lupa membersihkan debu-debuan yang melekat pada kain pakaiannya dengan tatapan tidak akan membiarkan dirinya dikerjai, berakhir pula diarahkan lurus pada ketiga pelayan yang dengan lancangnya menjatuhkan dirinya tadi. “Kalian cemburu? Ckckckck ... asal kalian tahu, Zhen Chen punya selera yang tinggi dan tidak akan memandang kalian yang seorang pelayan istana. Jadi ... berhentilah menyukai seorang pria yang tidak akan kalian dapatkan dalam kehidupan ini. Mungkin, kalian harus menunggu beberapa kehidupan lagi.”


“Kau! Beraninya bicara seperti itu!” Tanpa segan menarik, atau tepatnya menjambak sejumlah rambut hitam Zhen Xian yang tiada hentinya berteriak tuk dilepaskan. Namun, bukannya melepaskan, malah aksi jambak-menjambaklah yang terjadi.


Patutkah hal ini dipertontonkan? Harusnya tidak, bukan? Dan bersyukurlah tidak seorang pun yang ada di sekitaran, jika tidak sudah dapat dipastikan keributan ini akan tersebar.


Tidak! Apa ini akan memengaruhi penilaian terhadap kompetisi Chen Ge?


Sedangkan Zhen Chen sendiri, barulah menyadari sang adik taklah berada didekatnya. Mencari-cari ke luar, tak juga menangkap barangkali sedikit bayangan saja. Pun dirinya kembali masuk ke ruang dekorasi. “Apa kalian melihat Xian’er?”


“Bukankah dia pergi ke kamar mandi?” ucap Meng Jun, menoleh pada Mo Zhu yang membenarkan. “Jangan khawatir, sebentar lagi dia pasti kembali,” lanjut Meng Jun, kembali sibuk dengan apa yang dikerjakannya.

__ADS_1


“Kalian lanjutkan, aku pergi sebentar mencarinya.” Bergegas pergi, raut wajah sekalipun tak lagi enak dipandang, memucat begitu saja dalam kepanikan dan kekhawatiran.


“Tak heran jika orang-orang salah paham akan hubungan mereka.” Mo Zhu menggeleng heran tanpa menghentikan kegiatan merangkai bunga-bunganya.


Sulit juga tuk menasihati, karena mereka memang saudara kandung yang tak terpisahkan sejak kecil. Katakan saja seperti saudara kembar yang saling menjaga, bagaimana bisa memisahkan? Barang sejenak saja yang satu pergi, akan terasa kekosongannya.


Barangkali, itulah yang dirasakan dua saudara Zhen ini. Setidaknya itulah yang dipahami Mo Zhu, selaku yang menjelaskan pada Meng Jun yang diam mendengarkan. Sementara Zhen Chen sendiri, sibuk mencari ke sekitar kamar mandi yang berposisi taklah begitu jauh dari Departemen Dekorasi. Alhasil, suara keributan para wanitalah yang menjadi pengantar arah langkahnya, mendapati sang adik berada di dalam keributan itu.


“Apa yang kalian lakukan?!” serunya, menghentikan seketika perkelahian jambak-menjambak. Pun menarik segera sang adik ke sampingnya, memerhatikan adakah luka yang didapat.


“Mereka duluan yang mulai. Kau tidak bisa menyalahkanku.”


“Tepatnya apa yang terjadi?”


“Tuan, apa kau tahu berapa banyak hati para wanita yang kau sakiti? Bagaimana mungkin kau memiliki kekasih bahkan mengajaknya kemari?”


“Karena itu kalian mengeroyoknya?”


“Dia begitu angkuh, tentu saja kami kesal, Tuan.”


“Aku bahkan tidak mengenal kalian, tapi kalian melakukan hal seperti ini? Apa aku pernah memberi janji pada kalian? Kalian adalah pelayan istana, tidakkah kalian diajarkan tata krama?”


Diam, lagian apa yang bisa dikatakan? Ucapan Zhen Chen memanglah benar, bahkan Zhen Chen sendiri taklah pernah bicara atau bahkan melirik mereka. Tak heran, ketiga pelayan wanita yang barangkali malu ini bergegas pergi. Meninggalkan Zhen Chen yang kembali memerhatikan sang adik, pun merapikan rambut yang mencuat keluar, sungguh berantakan.


“Ini semua terjadi karenaku.”


“Ge, hal ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Itu mereka yang salah. Selain itu, aku bukan orang lemah yang akan menerima perlakuan kasar mereka,” ungkap Zhen Xian, sebelah tangan terkepal diangkatnya, menunjukkan betapa tangguhnya dia dalam menghadapi para wanita pelayan tadi. Tentu, tujuan utamanya meredakan rasa bersalah sang kakak. “Baiklah, aku baik-baik saja. Ayo kembali dan fokus pada kompetisimu,” lanjutnya tanpa lupa memasangkan senyuman ceria, tanpa ragu pula mengulurkan sebelah tangan menanti sang kakak meraih dan menggenggamnya.


Namun, alih-alih meraih uluran tangan sang adik, justru Zhen Chen memberikan pelukan hangat. Mengembuskan napas lega, bersyukur tak terjadi hal-hal yang sangat menakutkan. Seperti misalnya, tertangkap oleh Ketua Dayang, Dayang Chu yang pernah mencambuk mereka beberapa waktu lalu. Bukankah Ketua Dayang itu tipe pendendam? Siapa yang tahu jika wanita itu akan berbuat ulah kembali.

__ADS_1


Mengetahui kekhawatiran sang kakak, bagaimana bisa Zhen Xian berdiam diri? Membalas pelukan, tentu menjadi suatu keharusan yang dapat diberikannya saat ini.


__ADS_2