Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 38


__ADS_3

Seekor burung kecil berdecit-decit bagai sedang memanggil kawanan lainnya untuk kemari, bertengger pada teras dari rumah yang masihlah menolak siapa pun untuk masuk ini. Gebrakan yang tak tahu pula suara gebrakan apa itu, tapi tertangkap jelas bunyi dari langkahan terlingkupi ketergesa-gesaan.


Burung-burung kecil ini pun kian penasaran, sebelum akhirnya mengepakkan sayap-sayap kabur tepat ketika seseorang keluar. Zhen Xian yang barangkali taklah tidur semalaman, wajah kusut, bibir sedikit memucat dengan kantong hitam di bagian bawah dari matanya terpampang. Pun berlarian dirinya seraya berseru memberitahukan kedua orang tuanya jikalau ia akan pergi.


Yang mana panggilan sang ayah bermaksud menghentikan diabaikan, tidak. Tepatnya tak begitu dipedulikan, dan hanya dibalas seperlunya tanpa menoleh. “Aku akan segera pulang setelah mengetahui semua baik-baik saja,” serunya.


Namun, tetap saja Tn. Yan tak bisa tidak khawatir. Berakhir meminta Que Mo yang kebetulan baru akan bekerja ke lahan bunga untuk menyusul, memintanya ikut bersama Zhen Xian. Setidaknya, hal itu lebih baik ketimbang Zhen Xian seorang diri, bukan? Pun sang istri hanya bergeming, mendekati suaminya yang kini mendesah seraya berkecak pinggang.


Ini kali pertama, Zhen Chen tak memiliki kabar apa-apa di balik alasannya yang tak pulang. Bukankah ini aneh? Dan jikalau pun mabuk dan akhirnya menetap di istana, harusnya pasti ada kabar yang dikirimkan. Karena begitulah Zhen Chen, tak akan membuat keluargnya khawatir. Terlebih sang adik, yang memang kemarin malam telah mengatakan dengan jelas bahwa ia akan menunggu kepulangan sang kakak.


Oleh karenanya, jangan berpikir sikap dari keluarga Zhen ini terbilang berlebihan. Apalagi Zhen Xian yang kini telah tiba di kota, mendapati orang-orang masih juga suka berkumpul sana-sini membentuk suatu kelompok. Yang dibicarakan pasti tak jauh-jauh dari rumor terkait anak Jenderal Wei yang masih hidup. Sungguh memuakkan, setidaknya bagi Zhen Xian yang jelas akan mengunjungi istana.


Namun, Que Mo mulai curiga akan obrolan orang-orang ini. Langkah mengekori Zhen Xian pada akhirnya dihentikan untuk menangkap lebih jelas lagi apa yang didengarnya taklah salah.


“Taizi ...?” gumamnya. “Kenapa mereka membawa-bawa Taizi dalam rumor Jenderal Wei?” Menggeleng, karena memang itu bukanlah urusannya. Zhen Chen, itulah alasan kenapa dirinya kemari sepagi ini. Akan tetapi, langkah yang hendak menyusul Zhen Xian terhenti, semacam ada sesuatu yang mengurungkan niatannya seraya pandangan berubah menjadi keingintahuan lebih, dengan kata lain penasaran akan apa yang dibicarakan semua orang dalam kota ini.


“Taizi diracuni semalam dan sekarang masih tak sadarkan diri.”


“Kudengar banyak tabib yang merawat.”


“Bukankah itu berarti kondisinya parah?”


Barulah akhirnya Que Mo tersadarkan, jikalau yang menjadi topik pembicaraan kali ini bukan lagi terkait Jenderal Wei. “Zhen Xian!” teriaknya, dan yang terpanggil pun akhirnya menghentikan langkah. Mendapati wajah Que Mo tidaklah baik, pun akhirnya Zhen Xian mendengar jelas obrolan orang-orang.


“Sungguh berani nyali orang itu meracuni Taizi seperti ini.”


“Mungkin orang itu sudah tidak ingin hidup lagi.”


“Taizi, bagaimana jika meninggal?”


“Sssttttt ...! Taizi orang yang baik, langit pasti akan menolongnya.”

__ADS_1


Tercengang, Zhen Xian bahkan mengedarkan pandangan ke sekitaran yang mana memanglah benar, topik yang dibicarakan benar adalah Jin Kai. Hanya ... bagaimana bisa seorang Putra Mahkota teracuni dengan begitulah mudah? Belum lagi, kejadiannya semalam.


“Chen Ge ... bagaimana dengan Chen Ge?” lirihnya, ketakutan mulai merambat ke sekujur tubuh. Jikalau bukan Que Mo, sudah dipastikan gadis ini tak lagi mampu berdiri melainkan terduduk lemas di jalanan utama ini. “Que Mo, kita harus ke istana. Aku takut, aku takut Chen Ge ....” Menutup mulut, tak lagi ada niatan untuk melanjutkan seraya melepaskan diri dari papahan Que Mo.


Kembali keduanya melanjutkan perjalanan menuju istana. Mulut boleh diam, tapi siapa yang mampu meyakini jikalau pikiran demikian adanya?


Pasalnya, Jin Kai teracuni di malam ketika sedang bersama Zhen Chen. Yang mana pula berarti, bisa saja Zhen Chen terkena dampak dari kasus ini. Bagaimana jika ikut teracuni? Dan bagaimana jika tidak ada yang begitu peduli dengan Zhen Chen? Karena semua tabib barangkali akan dikerahkan untuk merawat dan menyelamatkan Jin Kai alih-alih seorang Ketua Departemen Dekorasi, bukankah begitu aturannya?


Namun, siapa lagi kini yang berseru memanggil? Padahal gerbang memasuki istana sudah di depan mata, yang mana Zhen Xian sendiri mendapati sosok yang memanggil adalah Mo Zhu. “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya, dan belum sempat pula menjawab, sosok lainnya yang tak asing pun menghadirkan diri bergabung.


Dia-lah Meng Jun.


“Apa kalian sudah dengar Taizi diracuni semalam?”


“Apa?! Diracuni?!” pekik Mo Zhu, yang mana pula masih sadar jikalau ini area dari istana, rapat menutup mulutnya. “Bagaimana bisa? Bukankah Zhen Chen semalam bersama Taizi? Bagaimana jika Zhen Chen disalahkan dan dijadikan tersangka?”


“Berhentilah bicara omong kosong,” tegas Que Mo, sedikit kesal. Tak menyangka pula bagaimana bisa Mo Zhu mengatakan hal-hal terkutuk itu dengan begitulah mudah. Pun Que Mo mengalihkan pandangan pada Meng Jun. “Apa orang yang meracuni sudah tertangkap?”


Sementara Zhen Xian sendiri membawa sepasang tungkai memasuki istana akhirnya, indra pendengaran bagai telah tertutup. Tertutup oleh ucapan omong kosong Mo Zhu, terus terngiang dalam kepalanya. Tidak mungkin ... tidak terjadi apa pun padamu, bukan? Aku harap ini semua hanya perasaanku saja.


Tak heran apabila Mo Zhu akhirnya menjadi bahan ceramahan Que Mo, dengan Meng Jun tak lagi ingin mendengarkan ocehan dan memilih berdampingan berjalan dengan Zhen Xian yang terus saja termenung. Namun, tidak lupa akan arah menuju Departemen Dekorasi. Yang mana barangkali gadis ini sedang berharap penuh akan mendapati sosok sang kakak di sana, entah itu sibuk dengan pekerjaan atau apa pun itu. Selama Zhen Chen ada, maka segalanya baik-baik saja.


Karena itu pula yang kuharapkan padamu, Zhen Chen. Meng Jun pun berakhir mendesah, tak kalah khawatir dan cemasnya seperti Zhen Xian.


Akan tetapi, apa yang terjadi di Departemen Dekorasi tak jauh berbeda dengan di kota. Satu hal yang berbeda, topik pembicaraan mereka terdapat informasi yang tak diketahui masyarakat. Terkait, pelaku yang meracuni Putra Mahkota itu sendiri.


Pun Zhen Xian tak lagi sanggup memajukan langkah, melainkan kian mundur dan mundur hingga membawa diri berlarian pergi seraya netra berlinangan air mata. Yang mana Meng Jun dan Que Mo seketika pula dibuat memastikan kembali apa yang didengar barusan taklah benar. Alhasil, jawaban yang didapat memanglah benar, pelaku tersebut adalah Zhen Chen sendiri.


“Bagaimana ini, apa ucapan omong kosongku sungguh terjadi?” lirih Mo Zhu, tungkai tak lagi kuat menahan bobot tubuhnya. Terduduk pun menampar wajahnya sendiri berkali-kali. “Harusnya aku berpikir dua kali sebelum mengatakan hal-hal terkutuk seperti itu,” ucapnya lagi. Pun Meng Jun dan Que Mo hanya bisa bergeming, tapi hanya sesaat saja sebelum akhirnya bergegas pergi. Tanpa mengecualikan Mo Zhu yang dibantu Meng Jun untuk segera sadarkan diri dari keterpurukan. Belum saatnya kini bersedih, masih ada hal lain yang harus dilakukan.


Kejadian ini, apakah mimpi? Jelas-jelas saja kemarin mereka semua bersenang-senang, lantas kenapa sekarang malah menjadi mimpi buruk begini? Bahkan jika harus demikian kejadiannya, kenapa tak menunggu beberapa hari lagi? Sungguh kejam, hal ini sungguhlah kejam. Terutama bagi Zhen Xian sendiri.

__ADS_1


“Izinkan aku masuk, aku ingin bertemu dengan Zhen Chen, Ketua Departemen Dekorasi yang katanya dibawa ke penjara ini semalam.”


“Maaf, Nona. Sudah menjadi perintah bagi kami untuk tidak membiarkan siapa pun masuk hingga Taizi bangun.”


“Dia adalah saudaraku, atas hak apa aku tidak boleh menemuinya?! Atas hak apa kalian mengurungnya tanpa bukti apa pun?!”


Namun, penjaga tak sama sekali menanggapi. Terus saja menahan mempertahankan apa yang diperintahkan. Memang betul, perintah atasan yang berkuasa tak mampu mereka patahkan, konsekuensinya terlalu besar untuk ditanggung penjaga berpangkat biasa seperti mereka ini. Akan tetapi, kenapa perintah itu bagai telah mematikan empati ataupun perasaan mereka pula? Sampai tak sedikit pun, barangkali sedikit saja merasa tersentuh akan mohonan Zhen Xian yang bagai kesulitan bicara berkat isak tangis sesak dadanya mengambil alih kerja mulut.


“Biarkan kami masuk!” seru Que Mo akhirnya, mendekat pun memastikan pula Zhen Xian baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini, tanggung jawabnya untuk menjaga Zhen Xian. Bukankah inilah janjinya dengan Zhen Chen? “Tuan, hanya sebentar saja, sungguh tidak bisakah?”


Diam, penjaga bahkan bertindak seolah tidak melihat siapa-siapa di hadapan mereka. Lantas, haruskah Que Mo menahan lebih lama lagi kekesalan ini? Yang mana Meng Jun dan Mo Zhu hanya bisa terpaku di tempat menyaksikan keributan yang tercipta, sungguh tak tahu harus berbuat dan bertindak seperti apa.


“Hentikan!”


Bukan kalimat, melainkan hanya satu kata saja cukup menjadikan penjaga keras kepala untuk begitulah patuh. Bahkan tak ragu pula mereka merendahkan sebagian tubuh, memberi hormat pada sosok yang didekati segera Zhen Xian.


“Lin Feng, kau mengenal Chen Ge orang yang seperti apa, bukan? Kau tahu dia tidak akan melakukan hal seperti itu, untuk apa pula dia menyakiti Taizi? Itu sungguh tidak masuk akal, sungguh tidak mungkin.”


“Dia bersama dengan Taizi seorang diri kemarin. Hal itu menjadikan dirinya tersangka dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selama Taizi belum sadarkan diri.”


“Tidak mungkin!” Mencengkeram erat lengan Lin Feng, lekat memandang pengawal pribadi Jin Kai ini. “Kau tahu betul orang seperti apa Chen Ge. Lin Feng, kumohon padamu biarkan aku masuk dan bertemu dengannya. Kumohon padamu, biarkan aku bicara dengan Chen Ge.”


“Aku hanya seorang pengawal yang mengikuti perintah. Maaf, aku tidak bisa membantu,” ucapnya, melepaskan diri dari cengkeraman Zhen Xian dengan begitu mudahnya seraya menarik diri pergi dari area penjara ini.


Tak peduli bagaimana kerasnya memanggil, Zhen Xian hanya melihat punggung pengawal pribadi itu kian menjauh dan menjauh. Rasa sesak di dada pun kian menekan pun menghantam, bernapas? Bagaimana caranya mampu bernapas di kala kondisi kacau seperti ini? Sudah untung Zhen Xian sendiri tak kehilangan kesadaran, yang mana menunjukkan gadis ini masihlah kuat tekadnya untuk membantu menyelamatkan sang kakak dari tuduhan.


“Pasti ada cara lain, pasti ada dan harusnya memang ada. Karenanya, tenangkan dahulu dirimu, kumohon.”


“Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Que Mo? Jelas-jelas Chen Ge tidak bersalah, tapi mereka mengurungnya. Jika sampai Huangdi mengeluarkan perintah, maka semua sudah terlambat!” teriaknya. “Aku harus meminta bantuan ... siapa ...? Siapa yang bisa kumintai bantuan?” ucapnya yang bagai bergumam. Namun, kepala yang biasanya hanya diisi dengan makanan dan keinginan bebas keluyuran bermain. Kini jelas telah diisi dengan hal lain.


Hal apa itu? Tentu tidak siapa pun yang tahu. Satu hal yang pasti, Zhen Xian tampak yakin ketika membawa diri menjauh dari area penjara ini. Pun meminta Que Mo, Meng Jun dan Mo Zhu untuk tidak mengikutinya, tegas meminta. Tak mengherankan apabila hal itu sukses membuat ketiga pria ini bertukar pandang, bukan? Saling menerka-nerka yang akhirnya pandangan pun diarahkan ke pintu masuk penjara.

__ADS_1


Zhen Xian, gadis itu jelas berbeda jauh dari biasanya.


__ADS_2