
Tak banyak hal yang bisa dilakukan dalam istana ini, apa-apa tak diizinkan dan apa-apa memiliki aturan. Padahal di luar sana, hari begitulah cerah yang mana sangatlah cocok untuk berjalan-jalan bebas di kota nan ramai. Namun, tidak sejak dirinya menyandang gelar seorang selir.
Selain makan, tidur, bersantai dan merawat taman chahua dalam kediaman ini. Zhen Xian, gadis yang menganggap tempat tinggalnya adalah penjara ini hanya bisa merenung sembari mendesah layaknya sekarang. Di mana pandangan terus saja memerhatikan para pelayan di luar sana. Entah apa yang mereka lakukan, tapi memanglah terlihat ada hal yang menjadi pekerjaan dan harus diselesaikan.
Setidaknya para pelayan itu jauh lebih baik, bukan? Ada hal yang mampu dilakukan guna membunuh waktu bosan ini.
Lantas, apa harus aku menyibukkan diri juga? Sembari membawa diri kembali masuk dalam kediaman diikuti Que Mo dan juga Dayang Yun.
Maka, inilah hal yang dilakukan Zhen Xian. Bermain catur.
Hanya saja, berapa lama memang gadis berjiwa bebas ini mampu menahan diri dalam permainan yang banyak menggunakan pikiran seperti ini? Kecuali, gadis ini berniat menyingkirkan pikiran-pikiran yang masih menghantuinya terkait kecupan sang kakak pagi tadi. Mungkin, Zhen Xian akan sangat mampu bermain selama berjam-jam lamanya.
“Selir Zhen ... Selir Zhen.” Yang mana sosok yang dipanggil justru masih saja diam, padahal ini giliran mainnya. Pun Que Mo selaku si pemanggil sempat dibuat bertukar pandang dengan Dayang Yun, takut-takut jikalau dayang paruh baya ini malah akan melaporkan keanehan Zhen Xian pada Jin Kai pastinya. “Selir Zhen pasti bosan, tampaknya harus melakukan hal lain,” bohong Que Mo sembari otak memikirkan apa yang harus dilakukan untuk meredam kecurigaan Dayang Yun ini.
Pada akhirnya, Que Mo menyingkirkan papan catur dari meja, meminta Dayang Yun mempersiapkan sesuatu pun kemudian membawanya kemari nanti. Saat itulah, Zhen Xian gadis ini tersadar dari lamunan, kebingungan ke mana papan catur telah pergi dan kenapa pula Que Mo menghentikan permainan yang baru saja dimulai.
“Kau sungguh ingin membuat Dayang Yun melaporkan sesuatu yang aneh-aneh pada Jin Kai? Tepatnya apa yang mengganggumu dari sejak pagi tadi? Apa telah terjadi sesuatu pada Zhen Chen? Apa karena itu kau bertingkah seperti ini?”
“Tidak ada, sungguh,” timpal Zhen Xian, yang pastinya Que Mo pria ini tak akan percaya, bukan? “Jadi, apa yang kau minta pada Dayang Yun untuk lakukan sekarang?” tanyanya, mencoba mengalihkan topik.
Benar saja, Que Mo termakan pancingan dan hendak memberitahukan. Namun, Dayang Yun telah menghampiri lebih dahulu. Di mana tangan sibuk membawa sesuatu layaknya keranjang bambu kecil yang isinya dipenuhi potongan kain warna-warni, ditempatkan pula di hadapan Zhen Xian. “Buat apa kain-kain sutra ini?” Pun terdapat jarum di sana. “Jangan bilang ....” Mengarahkan pandangan pada Que Mo, dan pria ini pun mengangguk membenarkan.
“Taizi pasti akan sangat menyukainya, Selir Zhen,” ucap Dayang Yun, mengeluarkan isian keranjang, menyusunnya agar mudah bagi Zhen Xian dalam pemilihan warna.
Yang mana pada akhirnya, Zhen Xian berakhir berkutat dengan jarum dan juga sejumlah potongan kain warna-warni ini. Tak lagi melamun, dan tak lagi bersikap aneh, setidaknya menenangkan Que Mo yang kini menarik diri dari ruangan meninggalkan Zhen Xian pribadi dalam pengawasan Dayang Yun seorang.
“Selir Zhen, kau sungguh pandai membuat kantong wewangian,” puji Dayang Yun.
Siapa yang membuat untuknya. Mendapati Que Mo kembali masuk, menggiring seseorang tepat di belakangnya yang tak lain adalah Putri Mahkota. Serta merta pula, Zhen Xian bangun dari duduknya. “Jiejie, kau datang,” ucapnya, tersenyum.
“Aku tidak sedang mengganggu, bukan?”
“Tentu saja tidak. Kemarilah dan mari membuat kantong wewangian bersama,” ajak Zhen Xian, membawa Putri Mahkota duduk berhadapan dengannya. “Kalian berdua keluarlah, aku akan memanggil begitu perlu sesuatu,” pintanya dan segera dipatuhi Que Mo dan Dayang Yun, pun beberapa pelayan dalam ruangan ikut pergi juga. Benar-benar menyisakan Zhen Xian dan Putri Mahkota saja.
Putri Mahkota memanglah Putri Mahkota, darah biru yang mengalir di setiap tetes darahnya sungguh berdampak pada pemilihan warna kain sutra yang akan digunakan. Semacam, warna itu akan terlihat kurang pantas di tangan orang lain, tapi jikalau di tangannya sudah pasti akan sangat cocok. Katakan saja, warna yang dipilihnya tak lain adalah warna hijau dari burung merak.
“Maaf, terakhir kali aku berkunjung ... aku malah tidak bisa membantu banyak.”
Pun Zhen Xian yang sedang menjahit menghentikan kegiatannya, mencoba memikirkan kembali apa yang terjadi kali terakhir Putri Mahkota ini berkunjung. Dan benar saja, kejadian itu, saat di mana sang kakak ditangkap bersama Meng Jun juga Mo Zhu pun kemudian dihukum cambuk, sedangkan ia malah dikurung dalam Kediaman Chahua ini.
“Itu sudah berlalu. Selain itu, jika Taizi sudah mengeluarkan titah siapa memang yang mampu menghentikan? Seorang selir sepertiku, tentu tidak akan mampu.”
“Apa kau tahu ... Taizi merawatmu sepanjang malam saat kau sakit? Dia menyeduhkan obatnya sendiri dan menyuapimu. Bahkan, menyeka keringatmu lalu meminta Lin Feng memanggil saudaramu untuk berkunjung ke kediaman ini menemuimu.” Yang pastinya Zhen Xian dulu pernah menebak, tapi berusaha menyangkal karena memang tidak ingin tahu apa pun terkait Jin Kai pria mengesalkan itu. “Jangan terlalu membencinya, dan cobalah membuka hatimu.”
“Jiejie, kau sungguh menyukai Taizi, bukan?”
Tergagap, seakan mendapat suatu pertanyaan yang begitulah tak disangka-sangka akan datang padanya, dan Zhen Xian sontak saja tersenyum akan sikap pertama kali yang dilihatnya dari Putri Mahkota yang biasanya tenang ini. “Aku tahu, aku bisa melihat dari matamu. Hanya saja aku tidak mengerti, kenapa kau menyukainya setelah dia menyakitimu dan memperlakukanmu dengan dingin?” tanya Zhen Xian. “Maaf jika pertanyaanku sudah melewati batas, Jiejie.”
__ADS_1
Pun Putri Mahkota menggeleng, senyum kecil yang tertampil seakan memberitahukan bahwa itu bukanlah masalah besar. “Itulah lemahnya kita jika menyukai seseorang. Tidak peduli bagaimana dia menyakiti kita, pada akhirnya diri kita masih bisa memaafkan. Jika dirinya terluka, diri kita akan sangat khawatir. Jika dirinya dalam bahaya, kita akan ketakutan. Dan jika dirinya bahagia, maka tentu diri kita akan bahagia.”
“Rupanya begitu,” gumam Zhen Xian.
“Jika kau bersama dengan orang yang kau sukai, maka jantungmu akan berdetak cepat. Selain itu, ada perasaan di mana tidak ingin berpisah dan merasa nyaman di saat bersamaan.”
DEG!
Jantung berdetak cepat? Perasaan di mana tidak ingin berpisah? Kain sutra keemasan yang hendak dijadikan kantong wewangian pun digenggamannya erat, Zhen Xian ragu-ragu mengarahkan pandangannya pada Putri Mahkota. “Bagaimana jika perasaan tadi ditujukan pada saudara kita sendiri?”
“Bagaimana mungkin jantung kita berdetak cepat saat bersama saudara? Rasa khawatir, takut dan nyaman mungkin bisa, tapi jika jantung yang berdetak cepat ... kurasa tidak mungkin.”
“Benarkah? Lalu apa yang terjadi padaku?” gumam Zhen Xian. Tidak mungkin ... tidak mungkin aku menyukai Chen Ge. Bagaimana bisa? Tidak, tidak mungkin.
“Zhen Xian, kau ... kenapa?”
Menggeleng-geleng. “Tidak, aku tiba-tiba teringat sesuatu,” ucapnya sembari melanjutkan kembali kesibukannya. Tepatnya menyembunyikan apa yang mengganggu pikirannya.
Hal ini, sungguh terasa berat. Bukan hanya tak tahu pasti apa yang dirasakan, melainkan juga tak tahu harus seperti apa menghadapi jenis perasaan yang tak seharusnya dirasakan ini. Apalagi hal ini baru saja dirasakan, atau memang telah sejak lama hanya saja Zhen Xian tak menyadari?
Jikalau demikian, apakah benar ini perasaan suka pada seorang pria? Tapi kenapa di antara banyaknya pria yang ada, pria itu harus kakaknya sendiri? Dan apa yang harus dilakukan jikalau sang kakak tahu akan perasaan konyol ini?
Perasaan ini sungguhlah merepotkan. Yang mana saat jari tertusuk jarum hingga mengeluarkan sedikit cairan merah saja, taklah membuat Zhen Xian merasakan sakit atau apa pun. Seakan telah mati rasa. Dan hal itu terus terjadi secara berulang-ulang, pun sang surya yang menyaksikan tak lagi tahan dan malah bergerak turun dari puncak singgasanannya untuk siap menenggelamkan diri seraya cahaya kemerahanlah yang disisakannya kini.
Pun Putri Mahkota yang menyaksikan keindahan cahaya tersebut, mengalihkan pandangan pada Zhen Xian yang masih saja berkutat dengan kantong wewangiannya. “Sudah sore, tidak kusangka akan menghabiskan waktu selama ini tanpa kusadari.” Yang artinya juga, Putri Mahkota harus segera kembali ke kediamannya.
“Benar juga, aku juga tidak sadar akan terus menjahit hingga selama ini,” kekeh Zhen Xian, menunjukkan hasil buatannya yang memang akan segera selesai. Berbeda dengan hasil Putri Mahkota yang telah rampung, begitulah indah layaknya yang terjual di kota dengan harga terbilanglah cukup mahal bagi kebanyakan orang.
Akan berapa lama menyelesaikannya? Entahlah, yang pasti Zhen Xian bertekad merampungkan apa yang telah dibuat dengan sepenuh hatinya ini.
Di mana kehadiran Que Mo yang menghampiri seraya membawa baki berisikan teh saja tak lagi dihiraukan. Tentu, hal ini menjadi suatu pemandangan aneh bagi Que Mo sendiri, Zhen Xian gadis ini sangatlah berbeda. Jujur saja, pandangan yang dipancarkan Zhen Xian pada kantong wewangian buatannya cukuplah terbilang unik. Yang mana kadang mulut akan menyunggingkan suatu senyuman yang barangkali saja gadis ini tak sadar.
Apa ini? Perasaan macam apa ini? Tidak mungkin Jin Kai orangnya, bukan?
Pun seruan kebahagiaan Zhen Xian sukses membuyarkan lamunan tak masuk akal Que Mo. Mendapati gadis ini mengacung riang kantong wewangian yang akhirnya memanglah rampung dikerjakan. “Aku pasti sudah gila memikirkan hal barusan.”
“Apa yang kau gumamkan?” tanya Zhen Xian, tapi berikutnya tampak tak begitu ingin tahu, malah ia menunjukkan kantong wewangian keemasan bercorak chahua merah muda di atasnya. “Lihatlah. Apa menurutmu ini bagus?”
Serta merta Que Mo melipatkan kedua tangannya, memasangkan wajah seakan sedang berpikir keras. “Untuk seorang pemula, kurasa tidak begitulah buruk.”
“Memangnya apa yang kau tahu? Aku membuatnya tulus dari hati, bukan sembarangan membuat.”
“Apa itu untuk Zhen Chen?” Dan tanpa ragu, gadis ini mengiyakan. “Benar saja, memangnya kepada siapa lagi kau akan membuat sesuatu dengan penuh perasaan seperti ini.”
“Chen Ge yang memberikan tusuk konde ini padaku.” Menyentuh tusuk konde chahua yang selalu melekat di kepalanya. “Makanya, aku juga akan memberinya sesuatu.”
Sontak, ucapan Zhen Xian menarik minat tersendiri pada Que Mo yang mendudukkan diri didekat gadis yang dilayaninya ini. “Kalian sudah seperti sepasang kekasih. Apa kau sadar?” Dan benar saja, gadis muda nan polos ini tak tahu apa-apa. “Sungguh tidak tahu sama sekali?” tanya Que Mo, tepatnya meyakinkan. Siapa yang tahu jikalau gadis ini sedang berpura-pura, bukan? Meskipun tampaknya tidak dan kali ini sungguhan ia tak tahu.
__ADS_1
Oleh karenanya, tak ada alasan bagi Que Mo tidak memberitahukannya, bukan?
“Seorang wanita jika memberikan kantong wewangian, itu berarti si wanita menyukai pria itu. Sama halnya dengan tusuk konde, yang mana artinya si pria menyukai gadis penerima tusuk konde itu. Anggap saja, dua benda ini adalah tanda cinta umumnya di antara pasangan,” jelas Que Mo. “Jika kalian bukan saudara, aku sendiri akan percaya kalau-kalau kalian memang saling menyukai. Jujur saja, hal itu sudah beberapa kali aku pikirkan, terutama ketika Zhen Chen memandangmu.”
“Apa maksudmu ... Chen Ge, dia menyukaiku?”
“Itu hanya anggapan, Zhen Xian,” ucap Que Mo yang membangunkan diri dari duduknya, pun menyajikan teh untuk dinikmati di waktu sore begini.
Sedangkan Zhen Xian sendiri, malah melamun. Mata tak bisa lepas dari kantong wewangian yang barangkali saja wajah sang kakak mampang di sana sembari tersenyum padanya. Benarkah Chen Ge ada perasaan semacam itu padaku?
Yang mana detik berikutnya, gadis ini menggeleng-geleng tak percaya akan hal itu. Sudah cukup gila memikirkan ia menyukai sang kakak, lantas haruskah memikirkan sang kakak juga menyukainya? Sudah gila, jelas ini suatu kegilaan. Di mana kegilaan ini sendiri bermula dari sejak pagi tadi sang kakak mengecup keningnya, mungkin ini hanya efek keterkejutan saja, bukan? Karena sang kakak melakukan hal di luar dari kebiasaannya.
Namun, tetap saja Zhen Xian tidak mampu menenangkan pikiran kusutnya. Pun memilih berjalan ke luar dari kediaman yang pengap ini. Tentu saja diiringi beberapa dayang bawahan serta Dayang Yun juga Que Mo pastinya. Dengan alasan hanya ingin menikmati udara sore hari. Akan tetapi, apa seperti ini reaksi dari seseorang yang sedang menikmati udara? Terus saja mendesah seakan tertekan, mulut tak mengucapkan sepatah kata pun dengan pandangan kosong layaknya jiwa tak sedang bersama tubuh. Belum lagi, tak ada tanda-tanda di sepasang netra mengedarnya itu jikalau sedang menikmati keindahan sekitar.
Tak mengherankan jika Que Mo akhirnya angkat bicara, menanyakan apa yang sedang dipikirkan gadis ini. Dan jawaban yang didapat hanya berupa penyangkalan, jikalau tidak sedang memikirkan apa pun, belum lagi kata-kata itu diucapkan secara tergagap. “Kau pikir bisa membohongiku? Hal itu tertulis jelas di wajahmu.”
“Benarkah? Lalu ... apa yang kau lihat?”
“Memikirkan seseorang.”
Serta merta pula Zhen Xian menarik Que Mo sedikit menjauh dari Dayang Yun dan dayang pengikut lainnya. “Apa kau benar melihatnya? Lalu ... apa kau tahu perasaan seperti apa yang sedang kurasakan?”
“Kalau itu ... aku tidak bisa jelas mengatakannya. Kau sendiri yang harus mencari tahu.”
“Jika aku tahu tidak akan aku menanyakannya padamu. Aku juga sudah cukup gila dengan pikiranku.”
Yang mana pusat dari kegilaan pikiran Zhen Xian sejak pagi tadi terlihat tak jauh berada dari posisi Zhen Xian kini berada, ada pula Meng Jun dan Mo Zhu. Ketiganya saling mengobrol yang tampak begitulah mengasyikkan jikalau melihat dari senyuman Zhen Chen.
“Bukankah itu adikmu?” Mo Zhu menunjuk, dan tentu saja Zhen Chen mengikuti arah yang ditunjukan padanya. Pun tanpa berlama-lama lagi, sepasang tungkai ahli sekaligus jenius bunga ini dibawanya mendekati posisi sang adik.
Namun, sang adik malah bertingkah aneh. Yang mana sekaligus menghentikan percakapannya dengan Que Mo, lalu bergeming mematung ditempat seraya menurunkan pandangan bagai tak berani memandang langsung Zhen Chen.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Zhen Chen, menyadari jikalau sang adik ini merasa canggung, dan mungkin itulah kenapa Zhen Chen malah tersenyum. “Kenapa kau begitu diam?” tanyanya yang barangkali saja sedang menggoda sang adik, bukankah seorang pria suka melakukan hal-hal demikian pada gadis yang disukainya?
“Ti-tidak! Siapa yang diam?” bantah Zhen Xian, berdeham membersihkan kerongkongan dari sisa kegugupan yang ada. “Apa ... apa kalian akan kembali pulang?” tanyanya lagi, masih tak berani juga memandang langsung sang kakak.
“Hmm, ini sudah hampir gelap, sudah waktunya kami kembali,” jawab Meng Jun.
“Kalau begitu kalian kembalilah. Aku juga akan kembali ke kediamanku,” ucap cepat Zhen Xian, semacam terburu-buru dan tidak betah berada di sini lebih lama lagi. Takutnya jika lebih lama lagi, yang ada ia malah tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk bicara.
Pasalnya, pandangan sang kakak begitulah lekat padanya, dan lewat pandangan itu pula terasa seolah ada sesuatu yang mengalir atau menjalar aneh di dalam diri Zhen Xian. Kian pula mendetakkan jantung gadis ini, lebih parah lagi dari kejadian pagi tadi.
“Sebelum kembali ikutlah denganku.” Dengan mudahnya menahan sebelah pergelangan tangan Zhen Xian, kemudian menautkan tangan mereka dalam genggaman erat seorang ahli bunga seraya membawa pergi gadis ini.
Sontak saja, Que Mo dan kedua teman Zhen Chen ini sibuk mengalihkan pandangan para dayang, terutama Dayang Yun sendiri. Entah apa pula alasan yang akan mereka katakan untuk menyelamatkan Zhen Xian dari suatu pelaporan Dayang Yun pada Jin Kai nanti. Setidaknya berharap, Que Mo mampu menghadirkan alasan yang masuk akal dan diterima baik. Tidak, Que Mo harusnya mampu, bukan?
Karena Zhen Chen dan Zhen Xian sendiri percaya akan hal itu, biar kata Que Mo barangkali kini telah merutuki keduanya jauh dalam hati seorang pelayan pribadi ini. Di mana Zhen Xian sendiri, tak akan merasakan rutukan itu.
__ADS_1
Bagaimana bisa, jikalau situasi dan kondisi kini di mana ia sedang bergandeng tangan bersama sang kakak terlalu menyenangkan untuk mampu diganggu siapa pun. Terus saja ia menyunggingkan senyuman, merasakan kehangatan dan kelembutan tangan dari sang kakak. Padahal, hal ini sudah sering dilakukan dulu, tapi bagi Zhen Xian saat ini sungguhlah terasa berbeda. Seolah hal ini baru dirasakan olehnya, dan hal itu membuat hatinya menghangat seraya pandangan tak mampu diarahkan ke lain hal selain pada terpautnya kedua tangan mereka ini.
Namun, ke mana Zhen Chen akan membawa Zhen Xian pergi? Akankah benar, kepergian mereka saat ini akan berujung baik-baik saja?