
Zhen Xian akhirnya membuang kembali pandangan, tepat ketika Putri Mahkota menempatkan sebelah tangannya pada Jin Kai yang terkesiap akan sentuhan tiba-tiba yang didapatkan itu. Pun hal itu membuat Jin Kai serta merta menarik lepas, tapi kenapa Putri Mahkota begitulah berkukuh tidak ingin melepaskan?
“Taizi, apa kau mendengarku?”
Yang mana barulah Jin Kai menyadari, jikalau Permaisuri masihlah berbicara padanya. Pantas saja, Putri Mahkota begitulah berani menyentuhnya, dan tepat ketika Jin Kai telah kembali ke kesadaran. Saat itu pula Putri Mahkota menarik kembali tangannya dan bertindak seakan tidak terjadi apa-apa barusan.
“Huanghou, aku mendengarmu,” timpal Jin Kai akhirnya. Akan tetapi, kapan Permaisuri akan mengakhiri ucapannya? Tampak kali ini yang menjadi target tak lain adalah Zhen Xian, berkat pandangan lurus yang dilemparkan memanglah mengarah pada gadis itu.
Oleh karenanya, Jin Kai pun mulai paham. Alasan kenapa sedari awal Permaisuri begitu banyak bicara, biar kata Jin Kai sendiri taklah mendengar pasti apa yang disampaikan. Ternyata, segala ucapan hanyalah basa-basi. Lantas, apa yang diinginkan Permaisuri dari Zhen Xian sebenarnya? Apakah ingin menyudutkan? Tapi kenapa? Jelas saja Zhen Xian tidaklah memiliki apa pun yang dapat dipergunakan untuk menambah keuntungannya. Kecuali, fakta jikalau Jin Kai adalah sosok yang sangat melindungi Zhen Xian. Yang mana artinya, target nyata Permaisuri tak lain memanglah Jin Kai, putra angkatnya sendiri?
Namun, apa ini? Dengan cepat Raja menyela, menghentikan seketika Permaisuri. Apa mungkin pula Raja tahu tujuan sesungguhnya sang istri? Karena menurut pandangan Jin Kai sendiri, memang begitu adanya. Dan yakinlah pula, jikalau hanya Jin Kai seorang dalam aula ini yang paham akan situasi barusan. Di mana Raja sendiri sempat melirik sebentar pada Jin Kai, biar kata akhirnya pandangan dijatuhkan pula pada Zhen Xian.
“Selir Zhen, hal itu juga berlaku untukmu. Kudengar hubunganmu dengan Taizi tidak baik, apa kau memiliki sesuatu untuk dikatakan?”
Pun mendengar penuturan Raja, bagaimana bisa Zhen Xian diam, bukan? Meskipun sangat tidak sudi untuk menjawab. Namun, Raja tetaplah Raja. Jadi, dengan meneguhkan hati sejadinya, Zhen Xian pun membalas. “Huangdi, sebagai seorang anak yang baru saja kehilangan seluruh keluarga dalam semalam ... terlebih orang yang membunuh mereka adalah suamiku sendiri. Apa pantas bagiku untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?”
“Kami tahu kesulitanmu, tapi sudah 2 tahun berlalu dan kau masih saja bersikap dingin pada Taizi. Selir Zhen, bukankah sudah waktunya kau berhenti dan mulai menjalani kehidupan barumu sebagai seorang selir?”
“Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, rasa sakit itu akan terus terasa dan menjadi mimpi buruk bagiku.”
“Apa kau sadar apa yang barusan kau katakan?!”
“Huangdi, tenangkan amarahmu,” ucap Jin Kai segera. Situasi tidak akan baik jikalau Raja sungguhan marah, terlebih bagaimana bisa Zhen Xian begitulah mampu mengatakan hal-hal demikian langsung tanpa disaring terlebih dahulu? Mengharuskan Jin Kai lagi dan lagi menunjukkan pada semua orang yang hadir, betapa lemahnya Jin Kai jika dihadapkan dengan keselamatan Zhen Xian. “Selir Zhen hanya terlalu terbawa perasaan akan topik ini. Mohon Huangdi tidak menganggapnya serius,” lanjutnya beralasan, setidaknya alasan itu dapat diterima sang ayah. Yang mana sang Raja sendiri memanglah terlihat lebih tenang.
__ADS_1
“Jadi, Selir Zhen ... kau ingin mengatakan padaku bahwa keputusan membunuh seluruh keluargamu adalah salah?”
“Aku tidak berani mengatakan bahwa keputusanmu salah, Huangdi. Hanya saja aku tidak bisa mengerti, alasan dibalik keputusanmu,” ungkapnya, meminta bantuan Que Mo untuk membantunya bangun dari duduk. Pun dengan langkah berani, gadis ini melangkah ke bagian tengah aula seraya pandangan tak pernah lepas sebentar saja dari Raja yang menanti perkataannya lebih lanjut. “Orang tuaku membesarkan Chen Ge seperti anak mereka sendiri. Hidup dengan sederhana seperti rakyat lainnya, bahkan saat dirinya tahu mengenai kenyataan ... tidak pernah dirinya memikirkan rencana jahat apalagi balas dendam, tapi ... karena ketakutanmu itu, Huangdi, pada akhirnya telah membunuh banyak nyawa, membunuh rakyatmu sendiri.”
“Kau ... beraninya menilai diriku yang seorang penguasa ini!”
Serta merta Jin Kai membawa diri ke tengah aula, bergabung dengan Zhen Xian yang tidak juga menunjukkan tanda-tanda jikalau ia telah bersalah dengan mengatakan atau membuat Raja semarah ini. “Huangdi, mohon ampun. Itu aku yang tidak mengajarkan Selir Zhen dengan baik. Mohon Huangdi mengizinkan aku membawa Selir Zhen kembali ke kediamannya dan menghukum dengan caraku.”
“Selir Zhen, kutanya kau ... apa kau sadar jika sikapmu ini telah salah?”
Penuh harap pula Jin Kai menolehkan pandangan pada Zhen Xian. Meminta baik-baik agar gadis ini mengakui kesalahan dan memohon ampun, tapi ... tampaknya gadis ini tidak sama sekali berniat melakukan hal itu. Malahan, dengan keyakinan ia memajukan lagi langkahnya seakan menantang Raja.
“Lantas apakah aku salah?! Kalian membunuh dengan brutal tanpa ampun, tanpa mendengarkan penjelasan apa pun dari mereka dan ...!”
Yang mana bentakan Jin Kai sukses mendiamkan Zhen Xian, mendapati Putra Mahkota ini mendekatinya dengan netra nyalang. “Kubilang cukup,” tekannya, menarik pergelangan tangan Zhen Xian. Namun, sejadinya pula Zhen Xian melepaskan diri, tidak sudi pria yang telah membunuh keluarganya ini menyentuh sedikit saja bagian dari tubuhnya.
Alhasil, pertunjukkan pun terjadi.
PLAKK!
Yang mana hampir semua pasang mata menyaksikan, membulat tak menyangka akan ada hari di mana Jin Kai menampar gadis yang sangat dilindungi selama ini tepat di hadapan banyak orang pula. Sontak saja, Que Mo menghampiri, memastikan jikalau Zhen Xian dengan sebelah pipi memerah bercapkan jelas telapak tangan ini baik-baik saja. Pun Putri Mahkota turut serta membangunkan diri dari duduknya, mendapati Zhen Xian meluruhkan air mata.
Namun, jelas air mata itu bukan air mata kesedihan, justru air mata kemarahan. Di mana kedua tangan terkepal pun rahang mengencang, dan Zhen Xian akhirnya lekat memandangi Jin Kai. Seakan kenyalangan di balik sepasang netra yang ditujukan pada Putra Mahkota ini adalah pemutus dari hubungan suami-istri mereka, biar kata hubungan mereka selama ini memanglah hanya di atas nama saja.
__ADS_1
“Huangdi ... kau begitu memercayai Taizi. Apa pernah sekali saja kau meragukan Taizi? Apa pernah ...! Huangdi berpikir bahwa Taizi adalah dalang dibalik semuanya?! Dalang yang membuat kasus dan permasalahan lama Jenderal Wei terbuka lagi! Hanya untuk menjadikanku selirnya!”
“Hentikan!” Dan bentakan itu seketika mendiamkan Zhen Xian, mendapati Ibu Suri-lah sosok yang menghentikan barusan. “Apa kalian lupa bahwa aku masih di sini?!” bentaknya lagi, menjadikan Jin Kai dan lainnya di tengah aula bersujud seraya meminta Ibu Suri menenangkan diri. “Aku mengundang kalian malam ini hanya untuk makan bersama, dan bukannya untuk saling bersitegang seperti ini! Aku rasa usiaku sudah terlalu panjang hingga harus melihat ini ... dosaku pastilah berat.”
Bagi sebagian orang, termasuk pula Zhen Xian sendiri. Mungkin ini kali pertama melihat Ibu Suri akan semarah ini. Sampai harus Raja dan Permaisuri sendiri turun tangan, bahkan setelahnya Raja hanya bergeming, tahu jikalau perdebatan ini tidak akan baik bagi kesehatan Ibu Suri sendiri.
“Selir Zhen, aku mengerti kesulitan hatimu, tapi tidak seharusnya kau berkata seperti itu meskipun hatimu terluka.”
“Aku mengerti, Huangtaihou.”
“Untuk menenangkan hati juga sebagai bentuk dari hukumanmu yang telah berucap lancang. Aku memutuskan Selir Zhen untuk sementara ini mengasingkan diri ke kuil, dan barulah bisa kembali setelah mendengar titah dariku.”
DEG!
“Tidak, Huangtaihou. Mohon biarkan Selir Zhen dihukum dalam istana saja, dan aku sendiri yang akan memastikan hukumannya. Mohon Huangtaihou penuhi permintaanku!”
“Apa dengan cara menampar itu salah satu hukuman yang kau katakan, Taizi?”
“Huangtaihou, a-aku!”
Yang mana Ibu Suri tidak memedulikan sama sekali permohonan Putra Mahkota setelahnya, sampai titik di mana Permaisuri harus angkat bicara dan meminta Jin Kai menerima keputusan yang ada. Namun, bagaimana bisa menerima keputusan pengasingan ini? Sangat enggan pula menghentikan permohonan biar kata Ibu Suri memanglah tampak tidak akan mengubah keputusannya lagi. Yang ada justru Jin Kai akan dicap sebagai Putra Mahkota yang tidaklah menghormati keputusan dari petinggi kerajaan jika terus-terusan bersikap seperti ini.
Oleh karenanya, dengan sangat berat hati, Jin Kai pun akhirnya terdiam seraya membungkukkan sebagian tubuhnya menerima keputusan yang ada. Akan tetapi, netra menajam sembari rahang dikencangkan. Apalagi ketika mendengar secara jelas dan lantang, ketika Zhen Xian, gadis itu begitulah patuh dan akan menerima dengan sangat jenis hukuman pengasingan ini. Mendapati pula, diam-diam gadis itu melirik Que Mo. Seakan puas, tidak ... barangkali sangatlah puas akan hasil yang didapatkan ini.
__ADS_1
Lantas sekiranya, harus diapakan Zhen Xian ini agar taklah berani macam-macam? Agar gadis ini sadar sepenuh dan seutuhnya, jikalau sebenci, sekesal, semarah dan sedendam apa pun hal itu tidak akan berguna. Karena ia tetaplah dan akan selamanya menjadi istri dari seorang Putra Mahkota Jin Kai dari Kerajaan Yunnan-Fu ini.