Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 18


__ADS_3

Uap putih menguar cukuplah deras, tepatnya melalui mulut wadah berbentuk bunga teratai yang tanpa ragu pula menyebarkan uap beraroma tersebut ke bagian dari ruangan berbunyi gesekan demi gesekan nan halus. Yang mana Kasim Ma sibuk menggesek batuan tinta hitam.


“Taizi, apa kau baik-baik saja?”


Yang ditanya malah terus saja menarikan kuas di atas lembaran kerta putih, barangkali dokumen yang jika dilihat dari meja dipenuhi tumpukan demi tumpukan. Sesekali pula, dirinya akan menyentuh bahkan memijat-mijat ringan kedua pelipisnya.


“Mari cari udara segar,” ucapnya, membangunkan diri pun keluar dari ruangan. Pun Kasim Ma serta merta mengikuti, seraya Lin Feng yang berjaga tak terkecuali.


Urusan pekerjaan memanglah begitu memusingkan, tapi ini adalah tugas yang harus dilakukan. Sejak dilahirkan sebagai seorang pangeran, dan sejak dirinya diangkat menjadi Putra Mahkota. Hidup bagai tak lagi bisa dijalankan sesuai dengan keinginan sendiri. Apa-apa diarahkan, apa-apa diputuskan, dan apa-apa selalu memusingkan.


Setidaknya berharap, untuk saat ini saja. Langkah demi langkah yang digerakkan kian menjauhi kediaman ini mampu menghilangkan penat yang dirasakan. Tiba pada suatu tempat yang menyajikan tontonan indah dari mekaran chahua merah muda, bagai menyapa kedatangan dengan penuh senyuman tepat di bagian taman depan dari suatu kediaman asri.


“Taizi,” panggil seseorang, menolehkan seketika Jin Kai ke arahnya yang mendekat. Mendapati Dayang Yun, tersenyum penuh ketulusan dan juga kehangatan. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya kemudian.


“Aku hanya merindukan pemilik kediaman ini ... Mufei*,” jawab Jin Kai, sendu menatap chahua yang barangkali menjadi suatu hal terpenting baginya ataupun seseorang yang disebutnya ibu tadi.


“Masuklah ke dalam, aku akan menyiapkan beberapa camilan untukmu,” tawar Dayang Yun, yang mana diterima seketika oleh Jin Kai.


Namun, Dayang Yun yang seharusnya mulai menyiapkan apa yang ditawarkan malah sama sekali tak bisa melepaskan pandangan dari Putra Mahkota yang telah membawa diri masuk ke dalam kediaman bersama Kasim Ma, sementara Lin Feng memposisikan diri tepat di pintu masuk.


Ibunya Jin Kai, tak lain adalah seorang selir kesayangan raja. Masa itu, tabib mengatakan bahwa sang ratu taklah mampu melahirkan seorang penerus, menjadikan Jin Kai sebagai pangeran pertama yang lahir jatuh ke dalam tangan sang ratu. Karena itulah aturan dalam istana, belum lagi sang ratu memang memiliki hubungan dekat dan baik dengan ibunya Jin Kai.


Oleh karenanya, posisi Putra Mahkota jatuh secara otomatis ke dalam tangan Jin Kai. Jin Kai yang saat ini merasa hidupnya bukanlah hidup sesungguhnya. Jabatan yang begitu memberatkan terus saja mengungkung dirinya, pun membatasi apa yang menjadi kebebasan yang diharapkannya mampu dirasakan layaknya seorang pria normal.


Tak heran, kediaman yang terlihat asri dari luar ini malah kian terasa kosong dan hampa bahkan terasa dingin di dalamnya. Terus Jin Kai memerhatikan lukisan sang ibu yang tergantung, memanggil kaca-kaca bening di kedua netra lekatnya itu. Pun desahan dikeluarkan begitu saja, mengedarkan pandangan ke sekitaran mendapati ruangan memanglah bersih, tertata baik dalam kerapian yang barangkali tak pernah berubah sedari ibunya masih hidup.


Namun, suara apa ini? Kediaman yang biasanya tak pernah ramai, setidaknya itu yang ada dalam kenangan Jin Kai malah sekarang dipenuhi akan suara. Suara seorang gadis muda yang entah bagaimana sukses mengeringkan sepasang netra Jin Kai yang diarahkan lurus ke luar sana, pun senyuman kemudian tersungging. Bagai, segala macam kesedihan, kesepian dan rasa lain yang membebani diri terangkat sepenuhnya. Mendapati Dayang Yun yang menghadap gadis ini.


“Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau lupa yang terjadi padamu terakhir kali, Nona?”


“Tentu saja aku tidak lupa. Hampir saja aku kehilangan nyawa, tapi aku ingin melihat chahua. Dayang Yun tahu sendiri, dalam istana hanya tempat ini di mana aku bisa melihatnya.” Memandang penuh keterpukauan pada mekarnya chahua. “Selain itu, kakakku adalah Ketua Departemen Dekorasi, sementara aku sendiri sudah mendapat izin boleh datang ke istana.”


“Tetap saja kau tidak boleh sembarangan masuk ....”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Dayang Yun!” seru seseorang yang memotong, tak lain adalah Jin Kai sendiri yang menghampiri. Pun menjadikan Zhen Xian sendiri berbalik, bertukar pandang pada sang Putra Mahkota.


“Jin Kai! Tidak ... maksudku, Taizi,” ucap Zhen Xian yang merendahkan suaranya. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya, basa-basi tuk mengurangi kecanggungan yang dirasa, atau barangkali untuk mencairkan rasa keterkejutannya mendapati Jin Kai di sini.


Lagian bukankah ini pertanyaan bodoh? Sebagai seorang Putra Mahkota, tentu seluruh bagian istana adalah rumahnya, mau ke mana dirinya pergi atau berada itu adalah suatu kebebasan baginya.


“Dayang Yun dan Kasim Ma juga Lin Feng adalah orang terdekatku, tidak perlu sungkan bagimu memanggil namaku,” balas Jin Kai, ramah. “Kau pasti sangat menyukai chahua, aku ingat betul Zhen Chen rebutan tusuk konde chahua denganku,” ucapnya sambil melihat tusuk konde yang dikenakan Zhen Xian.


“Hmm ... di rumahku juga ada, tapi tidak bermekar indah seperti di sini.”


Serta merta Jin Kai menoleh pada taman, sangatlah senang rasanya bertemu dengan seseorang yang punya kesukaan serupa dengan sang ibu. Tak heran, jika kediaman ini memiliki papan nama yang bertuliskan ‘Kediaman Chahua’. Pun Jin Kai sontak melepaskan gantungan giok berwarna putih dengan ukiran naga dari pinggangnya, suatu giok dengan rumbai hitam.


“Ambillah, dengan ini tidak ada yang bisa melarangmu datang kemari.”


Ukiran naga, bukankah itu ukiran yang hanya bisa digunakan oleh orang tertentu saja. Katakan seperti raja ataupun penerus sahnya. Akankah baik-baik saja jika menerima hal ini? Tentu Zhen Xian meragu, belum lagi ingatan akan sang kakak yang meminta tuk tak terlalu dekat dengan Jin Kai masihlah jelas teringat. Namun, apa ini? Jin Kai malah memberi benda berharganya bagai benda itu bukanlah apa-apa.


“Kurasa kau sedikit berlebihan. Bagaimana mungkin aku bisa mengambil barangmu?”


Namun, Jin Kai tak peduli dan malah meraih tangan Zhen Xian, menjadikan Kasim Ma bersipandang dengan Lin Feng yang juga heran akan sikap Putra Mahkota mereka ini.


“Aku yang memberikan, tentu tidak akan apa-apa. Lagian, tidak ada yang berani melawan perintahku,” jawab Jin Kai.


“Jika Chen Ge marah, kau harus membelaku. Apa kau mengerti?”


“Pasti, jadi jangan khawatir, tapi apa Zhen Chen sibuk sekarang?”


“Dia sedang rapat, karena itu aku berkeliaran dan berakhir di sini.”


“Rupanya begitu,” gumam Jin Kai, tampak memikirkan sesuatu yang tak mungkin Zhen Xian ketahui apa. Akan tetapi, Jin Kai malah mengulurkan tangan. Apa dia ingin Zhen Xian menerima ulurannya ini? “Aku akan menunjukkan sesuatu. Ikutlah aku.”


Belum sempat menjawab, atau memberikan respons apa pun. Jin Kai sudah main tarik saja tangan Zhen Xian, membawanya ke sisi lain dari kediaman ibunya ini. Tepatnya area belakang dari Kediaman Chahua, tanpa ketinggalan pula Kasim Ma dan Lin Feng juga mengekor.


“Whoahh ...!” Tak mampu Zhen Xian jelaskan dengan kata-kata bagaimana harus mendeskripsikan tempat ini. Indah dan cantik, jelas kata yang umum. Karena bagi Zhen Xian sendiri tempat ini, tidak ... lebih tepatnya taman belakang dipenuhi mekaran chahua ini bagaikan taman bunga dengan satu jenis bunga saja. Pun di sini, terdapat ayunan yang akan membuat siapa saja duduk di sana tak akan mampu membangunkan diri lagi.

__ADS_1


“Ini tempat favorit Mufei. Sewaktu kecil, aku sering menghabiskan waktu dengannya di sini. Karena itu, aku meminta Dayang Yun tetap menjaga seluruh bagian kediaman ini agar aku bisa kembali mengenang kenangan indahku.”


“Kedekatanmu dengan ibumu pasti seperti aku dengan keluargaku, tapi kau tidak perlu sedih ... karena ibumu pasti sudah bahagia di atas sana. Melihat putranya telah dewasa, sudah menjadi Taizi bahkan memiliki teman dekat seperti Lin Feng, Kasim Ma, Zhen Chen dan aku.”


Kasim Ma dan Lin Feng tersenyum kecil, membenarkan perkataan Zhen Xian. Jadi, tak heran jika Jin Kai tersenyum memandang hangat Zhen Xian yang entah tahu atau tidak bahwa ucapannya tadi benar-benar sungguh berarti. Sangat berarti malah.


“Apa kau mau naik?” tawar jin Kai, menunjuk ayunan yang bagai meminta Zhen Xian tuk mendudukinya.


“Bolehkah?”


Meraih kembali tangan Zhen Xian, lalu membawanya duduk ke atas ayunan. Itulah jawaban yang Jin Kai berikan atas pertanyaan Zhen Xian tadi. Pun tak segan Jin Kai mengayunkan, merubah suasana dipenuhi akan tawa dengan Jin Kai yang tampak begitulah menikmati waktunya sekarang. Tak heran pula, Kasim Ma dan Lin Feng sukses dibuat meninggalkan tempat. Biarkan mereka memiliki waktu pribadi nan berharganya sendiri, karena Putra Mahkota memang sangat memerlukan hal itu.


Lantas, bagaimana dengan Zhen Chen yang baru saja menyelesaikan rapat? Sang adik menikmati waktu, sementara sang kakak dibuat panik.


“Kau mencari Zhen Xian?” tanya Meng Jun, pun anggukan yang didapat sebagai jawabannya. “Dia sudah dewasa, kenapa kau selalu khawatir tiap kali tidak melihatnya? Tidakkah kau terlalu berlebihan sebagai saudara?”


“Aku tahu, hanya saja aku tidak bisa mengabaikannya. Aku pergi dulu.”


Pertama, Zhen Chen tentunya mencari ke sekitaran Departemen Dekorasi. Tak menemukan apa-apa, dia pun menanyakan kepada pelayan istana yang ditemui. Bahkan kemudian mencari ke halaman Aula Utama Istana. Namun, tak juga menemukan bahkan petunjuk saja tidaklah ada. Di mana rasa panik terlihat bagai kian sulit dikendalikan.


Maka, hanya ini satu kesempatan yang dimiliki. Kediaman Jin Kai.


“Aku ingin bertemu dengan Taizi.”


“Maaf. Tuan, Taizi sedang tidak berada di tempat,” jawab pelayan.


Ke mana kau, Xian'er...? Mungkinkah ... chahua?


Tungkai bergerak begitu saja tanpa diberi perintah, berbagai pikiran jelek muncul tanpa dimintai. Dienyahkan, bagaimana bisa? Kian berusaha Zhen Chen menghilangkan, kian pula pikiran itu menghantui. Kejadian hukuman cambukan, bahkan suara cambuk dan rasa sakit ketika cambuk itu menyengat, menggores kulit bahkan daging, masihlah begitu terasa.


Oleh karenanya, sepanjang larian Zhen Chen, tiada sekalipun dirinya berhenti berharap bahwa kejadian itu tak akan terulang kembali.


Note:

__ADS_1


*Mufei berarti ibu (merujuk ke ibunya yang seorang selir raja).


__ADS_2