Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 65


__ADS_3

Sebelah tangan diacungkan, langkah pun ikut terhenti. Zhu Qiang, mengedarkan pandangan sebelum akhirnya berfokus pada satu titik. Kembali sepasang tungkai dibawanya bergerak sembari langit ikut bergemuruh mendatangkan cahaya kilatan bersahut-sahutan. Yang mana mempertunjukkan beberapa prajurit Zhu telah berpencar, tepatnya mengepung titik target yang tak lain adalah rumah keluarga Zhen.


Namun, tanda tanya besar cukup jelas Zhu Qiang tampilkan. Pasalnya rumah ini seakan tak berpenghuni, dan semakin teryakini pula ketika beberapa prajurit mendobrak masuk memeriksa. Alhasil, bukan hanya tak ada siapa pun, melainkan tidak ada pula tanda-tanda satu pun lilin menyala sebelumnya.


Tidak mungkin misi perburuan mereka telah bocor, bukan? Bisa saja pemilik rumah bukannya kabur, melainkan memang tak pulang saja, bukan? Dan tak berselang lama dari kekalutan seorang Komando Zhu ini, seorang prajurit dengan napas sedikit memburu mendekat. Sontak saja, Zhu Qiang dan prajurit lainnya keluar pun menuju bagian dari belakang rumah tanpa pemilik ini.


Di sinilah akhirnya Zhu Qiang berada, di antara prajurit yang mungkin telah sedari awal berjaga. Tidak, mungkin mengintai akan lebih cocok mengingat mereka menjadikan misi kali ini sebagai misi perburuan. Pun Zhu Qiang, apa mungkin berencana membunuh Tuan dan Nyonya Zhen terlebih dahulu sebelumnya? Atau mungkinkah ada rencana lain yang tak diketahui? Seperti misalnya Putra Mahkota meminta untuk melakukan suatu misi rahasia. Entahlah apa itu, karena kini ia pun akhirnya memerintahkan prajurit pembawa busur untuk bersiap menembakkan target.


“Serang!”


Desingan begitulah jelas, apalagi gemuruh langit tak lagi bersuara seolah terusir akan lesatan panah. Menghunjam, hanya untuk akhirnya melihat pemandangan mengusir paksa mereka yang berada di dalam rumah pekerja keluarga Zhen.


Teriakan demi teriakan terjadi, keterkejutan pun menghentikan larian mereka. Menyaksikan tempat tinggal yang menaungi selama ini malah berakhir kacau seperti ini, padahal tadi mereka masih bersenang-senang merayakan ulang tahun pun bercengkerama penuh senyuman. Lantas sekarang, apa-apaan ini? Pantaskah diperlakukan layaknya penjahat besar? Bahkan prajurit kini mengepung seraya mengarahkan runcingnya pisau panah lurus pada mereka semua, mensujudkan pula tanpa dimintai.


“Bunuh mereka semua.”


“Tunggu!”


Sontak Zhu Qiang menajamkan pandangan pada pria yang menghentikannya ini, tak terlihat ada ketakutan atau apa pun yang menggerogoti dan itu jujur saja menjadi daya tarik tersendiri bagi sang komando untuk mendekat lebih lagi. “Anda ...?” Menggantungkan kalimat, berpikir lebih lagi siapa memangnya yang berani bersikap demikian dalam pengepungan seperti ini, bukan?


Tuan Zhen? Lantas wanita di sebelahnya ini ... harusnya Nyonya Zhen. Menyeringai, Zhu Qiang siap mendengarkan hal apa yang hendak diucapkan Tuan Zhen ini. Namun sebelum itu, ada sesautu pula yang harus disampaikan terlebih dahulu. Memang akan terlihat jauh menyedihkan, bukan? Jikalau membunuh begitu saja tanpa membiarkan mereka tahu sebabnya apa.


Setidaknya harus menjelaskan, atau barangkali memberitahukan bahwa seseorang yang dipanggil Bibi Liang telah meregangkan nyawa tepat di tangan Putra Mahkota Jin Kai beberapa hari lalu. Dan harusnya, Tuan dan Nyonya Zhen tak perlu lagi mendengarkan penjelasan panjang lebar, bukan? Karena suami-istri ini tahu lebih dari sekadar tahu, alasan kenapa pengepungan mendadak ini terjadi.


“Siapa pun yang menangkap dan membunuh anak Jenderal Wei, kalian akan diberkahi hadiah dari Huangdi!” Sontak saja para pekerja bergumam, tak tahu apa maksud dari anak Jenderal Wei ini sebenarnya siapa. Di mana Tuan Zhen hanya bergeming, tapi tangan dibiarkan menggenggam tangan gemetar sang istri yang memejamkan mata. “Tuan Zhen, Nyonya Zhen ... katakan, di mana Wei Lang? Tidak, mungkin haruskah aku memanggil anak itu dengan sebutan Zhen Chen?”


“Aku sungguh tidak paham maksudmu, Tuan.”


“Tuan Zhen, hal sudah sampai ke tahap seperti ini, dan Anda masih berani menyangkal? Apa Anda tahu, itu sama saja mempertanyakan keyakinan Huangdi!” bentak Zhu Qiang. “Tuan Zhen, Anda orang cerdas dan harusnya telah paham betul situasi ini tak bisa dihindari, bukan? Karena itu, Anda tak sama sekali terkejut dan bersikap seolah ini memang sepantasnya terjadi,” ucapnya lebih lagi, menebak. “Sekarang, tidakkah Anda merasa kasihan dengan semua pekerjamu ini?”


Yang mana Tuan Zhen mulai mengedarkan pandangan pada semua pekerja, menyadari bahwa tak seharusnya mereka mengalami hal seburuk ini hanya karena masalah pribadi keluarga. Rasa takut, khawatir bahkan mohonan yang meminta untuk dilepaskan dari mereka semua bagaikan suatu panah yang menikam berkali-kali jantung Tuan Zhen, pun Nyonya Zhen akhirnya membukakan kembali sepasang netra sembapnya.


“Katakan di mana?!” bentak Zhu Qiang lagi, mendesak sampai pedang tersarungnya pun dikeluarkan dan dihunuskan langsung pada sepasang suami-istri ini. “KATAKAN! Jika tidak ... maka ...!” Mengayunkan pedang, tampak sungguhan akan melibas. Namun, siapa targetnya? Apakah Tuan Zhen, atau justru Nyonya Zhen dahulu?


Akan tetapi, saat ketika Zhu Qiang telah membulatkan tekad akan menghabisi siapa duluan, saat itu pula derapan, ringkikan dari kuda-kuda terdengar. Bahkan seruan yang meminta berhenti pun diteriakan, mengharuskan Zhu Qiang akhirnya menuruti sembari memberikan penghormatan yang terbilang dalam pada sosok yang mendekat.

__ADS_1


Ini dia, sosok yang bagaikan kutukan bagi keluarga Zhen. Karena sejak anak-anak mengenal dirinya, hal-hal buruk mulai berdatangan hingga berada dalam tahap seperti ini. Maju ataupun mundur, tak ada bedanya. Hasil, bukankah sudah jelas?


“Haruskah aku memanggil kalian, ayah dan ibu mertua?” tanyanya, ikhlas atau tidak hanyalah ia yang paham. Dan Jin Kai pun tampak tak peduli akan keterdiaman yang didapatkan, sudah menebak dan yakin sekali jikalau perlakuan seperti ini yang akan didapat. Yang mana seringaian-lah yang akhirnya ditampilkan Putra Mahkota ini. “Katakan, di mana putra tersayang kalian, Zhen Chen? Maka aku akan berpikir kembali untuk tidak menghabisi para pekerja.”


“Taizi ... netra dan pandanganmu telah dipenuh dengan kecemburuan pun kemarahan. Meskipun aku memberi tahu keberadaan Chen’er, kau akan tetap membunuh semua orang.”


“Tuan Zhen tidaklah mengenal diriku dengan baik, jadi bagaimana bisa mengatakan hal-hal seburuk itu tentangku?” Mendekat lebih lagi, tak segan-segan pula Jin Kai merendahkan tubuhnya sejajar dengan Tuan dan Nyonya Zhen yang bersujud ini. “Tuan Zhen ... aku adalah pria yang menyukai putrimu, sangat menyukai hingga titik di mana aku harus menyingkirkan mereka yang tak seharusnya menghalangi hubungan kami. Apa Tuan Zhen pikir, ini mudah bagiku?” Menggeleng-geleng, Jin Kai mendesahkan napas yang barangkali memanglah sungguhan menyesakkan dada. “Jadi, mari kita permudah dan akhiri pula dengan sedamai dan setenangnya, bisakah?”


“Apa Xian’er tahu perbuatanmu ini? Sikap aslimu yang setara dengan gulitanya malam ini. Tidak, Xian’er pasti tahu, karena itulah dia tidak pernah dan tidak akan pernah bisa menyukaimu!”


“Tuan Zhen, lihatnya ucapan sarkas istrimu ini. Sungguh mengingatkanku pada Zhen Xian ... manis, lucu, menggemaskan. Namun, terkadang akan sangat mengesalkan hingga aku ingin mengurungnya,” ucap Jin Kai, sedikit melirih sembari mendirikan kembali tungkainya. “Sejak Zhen Xian menjadi selirku, gadis itu seutuhnya tidak ada hubungan dengan kalian para pengkhianat,” lanjutnya, memundurkan beberapa langkah sembari pandangan diedarkan pada semua pekerja. “Dari kalian semua! Katakan padaku di mana Zhen Chen, maka nyawa kalian pun masih berkesempatan untuk menetap di dunia ini lebih lama lagi.”


“Kami benar-benar tidak tahu di mana Zhen Chen, sungguh tidak tahu, Taizi,” ucap salah satu pekerja dengan gemetarnya, tapi Jin Kai malah melirik pada Lin Feng. Yang mana pengawal pribadi berwajah kaku nan tegas ini akhirnya mendekat sembari menarik keluar pedang.


BLESHH!


Tergeletak sudah pekerja yang angkat bicara tadi, netra terbuka mengalirkan sejumlah air mata. Di mana darah terus saja mengalir keluar dari leher menganga libasan maut Lin Feng, pengawal terlatih ini. Setidaknya satu nyawa yang menghilang dalam hitungan setengah kejapan mata ini sukses membangkitkan ketakutan ke tahap di mana mereka tak bisa lagi tinggal diam bersujud di tempat. Melainkan bangun, berlarian bubar. Dan hal itu pada akhirnya mengundang lesatan demi lesatan panah menembusi jantung berdetak mereka, berhenti.


“Tuan, ampuni kami! Kami mohon!”


Namun, bagaimana bisa Jin Kai percaya? Apalagi hari ini adalah hari perayaan ulang tahun Zhen Chen. Sungguh sangat tidak mungkin jika tak ada satu pun dari sekian banyak pekerja yang ada tak tahu, bukan? Hanya dengan membunuh dan membunuh-lah, caranya agar memampukan mereka untuk berkata jujur.


Kita lihat, bisa sejauh apa manusia bertindak setia di kala ketakutan kian membesar. Menyeringai, Jin Kai malah bersila tangan pada dada seakan begitulah menikmati kekacauan yang ada. Yang mana Nyonya Zhen sendiri telah berada dalam pelukan sang suami, Tuan Zhen yang memerhatikan dengan lekat bagaimana kejamnya Putra Mahkota kerajaan yang dihormati banyak orang ini. Menyadari pula, kemungkinan besar Putra Mahkota yang nyatanya suami dari Zhen Xian ini akan memiliki sikap yang jauh lebih kejam dari Raja.


Zhen Xian, gadis bebas nan hangat itu bukankah akan sangat menyedihkan jika harus terjebak terus dalam genggaman pria seperti ini?


Tak mengherankan pula kenapa Zhen Chen begitulah ingin membawa kabur Zhen Xian, bukan hanya karena perasaan menyukai gadis itu sangatlah besar, melainkan ingin membawa Zhen Xian lepas dari kehidupan neraka bersama iblis kejam penghuni tempat itu. Yang mana barangkali, Zhen Chen akan rela melepaskan perasaan cintanya pada Zhen Xian jikalau Zhen Xian sendiri memanglah bahagia ataupun menyukai sang Putra Mahkota.


“Aku paham sekarang,” gumam Tuan Zhen, memeluk sang istri lebih erat lagi seraya pandangan berpusat pada satu titik nan jauh di sana. “Kurasa kita harus melepaskan beban Chen’er.” Dan Nyonya Zhen sontak saja melepaskan diri dari dekapan sang suami, tampak setuju yang mana pula berarti Nyonya Zhen sepemikiran dengan sang suami.


Tepatnya sang suami yang masih saja tak bisa melepaskan pandangan ke satu titik nan jauh di sana, menggeleng-geleng sembari menyunggingkan senyuman seraya air mata meluruh dalam buliran demi buliran. Jagalah Xian’er, hanya kau yang pantas menjaga dan mencintainya, Chen’er. Bukan orang lain, melainkan hanya dan satu-satunya dirimu seorang.


“Die ....” Menutup mulut, serapat mungkin dan semampunya pula menghentikan isak tangis tercekat, dan di antara semak-semak tempat ia bersembunyi ini pula, ia menyaksikan pula sang ibu yang entah bagaimana membangunkan diri seraya melepaskan genggaman tangan sang ayah. Hanya untuk ... hanya untuk ....


“Xian’er, jagalah dia! Niang percayakan padamu! Katakan aku menyayanginya, dan jaga diri baik-baik!”

__ADS_1


JLEB!


DEG!


Angin kencang, langit bergemuruh. Seakan mengantarkan kepergian sang ibu yang menghunuskan diri tanpa ragu pada pedang Lin Feng. Seketika semua orang panik, berteriak mendapati Nyonya Zhen yang bahkan ibu mertua dari Putra Mahkota saja memilih menewaskan diri seperti ini. Yang mana Tuan Zhen selaku suaminya dengan sigap menangkap ambruknya tubuh sang istri, napas tersengal-sengal di mana pandangan tak lagi diarahkan pada sang suami melainkan ke arah semak-semak nan jauh di sana. Chen’er ... jangan menangis dan tetaplah hidup. Perjuanganmu masihlah dan tak seharusnya berakhir malam ini, tetaplah hidup dan penuhi misi keinginanmu terhadap Xian’er.


“A-aku ... akan me-me-nunggu-mu ….”


Terdiam dalam kebisuan, Tuan Zhen menyeka air mata yang menghiasi wajah sang istri yang telah berpulang, beristirahat selamanya ini. Mungkin inilah akhir dari perjalanan hidup, dan Tuan Zhen tak pernah menyesali keputusannya jikalau waktu mampu berputar kembali ke masa itu. Zhen Chen, atau Wei Lang masa itu tetap akan menjadi putranya, tetap akan menjadi bagian dari keluarga Zhen dan tetap akan menjadi pria terbaik bagi putri mereka, Zhen Xian.


Penyesalan satu-satunya yang dimiliki Tuan Zhen hanya satu, nyawa para pekerja yang telah berjuang bekerja mengurus bunga selama ini. Tak banyak pula dari mereka yang bebas akan luka fisik, dan hutang nyawa seperti ini harus dibayarkan dengan cara apa? Atau mungkin Tuan Zhen sendiri telah berkomitmen, akan membayar hutang besar ini di kehidupan berikutnya. Dan langit mendung malam ini akan menjadi saksi, kilatan adalah pengesah dan ... cara kematian yang dipilih adalah keyakinan sekaligus bukti nyata keseriusan yang dibuat Tuan Zhen.


Benar, kematian. Tuan Zhen, lebih memilih menewaskan diri alih-alih menjadi bahan tahanan yang dipergunakan Putra Mahkota untuk mengecam Zhen Chen. Sama seperti sang istri, yang dikatakan tadi sebelum mengembuskan napas terakhir ‘akan menunggu’, maka ia pun akan mendatangi untuk mampu berjalan ke dunia setelah kematian bersama-sama.


Darah, apa benar itu darah yang keluar dari mulut Tuan Zhen? Tapi, kenapa? Apa mungkin keracunan? Tidak, tidak mungkin. Mengharuskan Jin Kai seketika menghampiri, menyaksikan bagaimana lemah dan semakin lemahnya Tuan Zhen hingga kematian sungguh menjemputnya dengan mudah.


“Taizi, Tuan Zhen menggigit lidahnya,” lapor Zhu Qiang.


“Baik, karena itu pilihan mereka maka bunuh semua dan bakar mayat semua orang dari kediaman ini tanpa sisa!” murka Jin Kai, masa bodoh dengan informasi atau apa pun yang diharapkan dari para pekerja yang masih bertahan saat ini. Ia tak percaya, dengan kekuasaan sebagai Putra Mahkota yang dimiliki, ia tak mampu menemukan keberadaan satu orang saja yang tanpa perlindungan dan kekuasaan itu. “Jangan membuang-buang waktu lagi!”


Sementara Zhen Chen sendiri, masih belumlah mampu menerima apa yang disaksikan barusan. Dua orang tercinta, ayah dan ibu yang membesarkannya dengan penuh kasih, pun para pekerja yang kini teriakan demi teriakan terdengar samar-samar memenuhi pendengaran. Memilukan, sangat memilukan sampai titik Zhen Chen sangatlah kesulitan mengatur sesak di dada sembari tungkai tak pula mampu didirikan kembali.


Kedua kalinya, meskipun waktu lalu ia tak ingat betul bagaimana keluarga kandungnya terbunuh, tapi setidaknya tak jauh-jauh dari adegan yang baru saja disaksikan, bukan? Dan keluarga Zhen, keluarga hangat nan harmonis yang jauh dari permasalahan pun kini akhirnya hanya demi nyawanya seorang, malah mau tau mau berakhir bertemu maut dengan cara kejam seperti ini.


Sungguh ironis, tapi itulah kenyataan hidup yang dialami dan tak bisa dipungkiri. Pertemuan dengan Jin Kai, memanglah suatu kutukan. Namun, jika dipikirkan kembali, justru hidupnya yang sebagai Wei Lang-lah, kutukan sesungguhnya pada keluarga Zhen ini.


“Itu aku ... akulah yang seharusnya tak berjumpa dengan keluarga Zhen sedari dulu. Itu aku, akulah kutukan bagi keluarga Zhen ini.”


Akan tetapi, bagaimana bisa ia menyerahkan diri saat ini? Apa mungkin Jin Kai akan melepaskan para pekerja yang masih hidup? Belum lagi, bagaimana dengan Zhen Xian? Siapa yang akan membawanya keluar meninggalkan istana? Yang mana pada akhirnya, kematian ayah dan ibu akan sia-sia, bukan?


Oleh karenanya, Zhen Chen berusaha meyakinkan diri semampu dan sekuat yang ia bisa. Menghapus pergi air mata yang mengganggu, masalah belum berakhir. Jin Kai, pria itu masih akan bergerak mencari dan membunuhnya dengan keji. Setidaknya jika memang harus kehilangan nyawa, Zhen Chen pun harus memenuhi dahulu janjinya pada Zhen Xian, memastikan pula gadis itu memiliki kehidupan membahagiakan. Karena itu pula yang diinginkan ayah dan ibu, yang saat ini dan sampai kapan pun akan terus menjaga dan melihat dari atas sana.


“Aku tidak akan pernah mengecewakan pengorbanan kalian, Die ... Niang. Tidak ingin dan tidak akan pula.”


Pun kencangnya angin menjadi saksi dari tekadnya ini, atau barangkali itulah jawaban dari kedua orang tuanya. Jikalau mereka bangga dan percaya penuh pada ucapan Zhen Chen, putra mereka yang selamanya akan selalu menjadi Zhen Chen, bukannya Wei Lang, putra dari Jenderal Wei yang dituduh berkhianat.

__ADS_1


Yang mana rembulan pada akhirnya mulai memunculkan diri, seakan kabur atau diam-diam tanpa sepengetahuan awan mendung hanya untuk membantu menerangi arah pergi Zhen Chen. Pergi meninggalkan apa yang menjadi kesedihan teramat, dan luka yang dirasakan akan selalu pula membekas dalam hatinya. Selalu, dan barangkali selamanya.


__ADS_2