
Terus saja mengekori, memerhatikan punggung Jin Kai yang bahkan tak akan berpaling barang sedikit saja. Pun Kasim Ma tak diizinkan ikut, tetap di Kediaman Chahua menjaga situasi di sana sampai setidaknya dirasa aman. Tepatnya memastikan Zhen Xian, gadis itu tak berulah yang aneh-aneh akan keputusan Jin Kai mengurung Que Mo. Juga, dipercayakan pada Kasim Ma akan penjagaan yang kini telah dihadiri beberapa pengawal kerajaan berjaga.
“Lin Feng, sudah kau penuhi apa yang kuminta?”
Yang mana Lin Feng mengiyakan, tapi tidak sepenuhnya berharap Jin Kai akan melancarkan aksi ini. Tak heran jika sepanjang perjalanan mereka ke Kediaman Raja, Lin Feng terus saja bergeming seraya berharap sekali jikalau Jin Kai sungguh akan menghentikan langkah, menghentikan pula permainannya. Namun, harapan tetaplah hanya harapan belaka. Salah bicara, yang ada Jin Kai malah kian memanas. Sudah cukup awalan paginya dipenuhi pertengkaran dengan Zhen Xian, pujaan hatinya.
Akan tetapi, bagaimana dengan nanti setiba di Kediaman Raja? Kemurkaan seperti apa yang akan Raja tunjukkan. Dan Lin Feng akhirnya mempertunjukkan kilas balik yang memenuhi kepalanya, tepat di tengah kota yang mana sang surya belumlah terlalu menampakkan diri. Di mana sepasang netra menangkap atau mungkin lebih tepatnya mengunci target, seorang wanita di usia akhir 50an yang membawa keranjang anyaman penuh akan jenis sayur-sayuran berlenggang pergi melewatinya.
“Bibi Liang.” Pun yang terpanggil seketika menghentikan langkah, bertanya-tanya siapa pria muda seumuran Zhen Chen ini. Namun, tepat ketika melihat pedang yang dibawakan pria muda ini. Bibi Liang malah menjatuhkan keranjang belanjaan sembari netra membulat tatkala tungkai dibawanya berlarian menjauh.
Sekiranya, akan seberapa lama dan jauh bagi seorang wanita tua ini mampu kabur? Di saat Lin Feng bahkan tak perlu terlalu banyak mengeluarkan energi, telah mampu menghadang pun menahan Bibi Liang dengan mudahnya yang memohon untuk dilepaskan.
Mungkinkah dirinya tahu jikalau Lin Feng adalah bagian dari kerajaan? Ataukah mungkin pula dirinya tahu Lin Feng adalah seorang utusan untuk menangkapnya?
“Tuan, ada apa ingin menemuiku?”
“Karena kau kabur, tampaknya kau tahu aku siapa, bukan?”
“Huangdi ... apa Huangdi mengutusmu untuk menangkapku?” Dan Lin Feng melepaskan tangan yang menahan wanita tua ini, ingin tahu lebih lanjut bagaimana bisa seorang wanita tua yang berpenampilan layaknya orang desa terpencil ini tahu hanya dengan melihat sebilah pedang yang tersarung saja. “Tidak bisakah melepaskanku, Tuan? Seperti semalam, ketika dirimu hanya memata-mataiku dan pergi begitu saja.”
Ternyata dia tahu akau mematai-matainya kemarin, sudahlah .. itu tak lagi penting. Sama seperti bagaimana mudahnya bagi seorang Lin Feng yang nyatanya diketahui tak banyak bicara dan bergaul ini, tapi di luar sana malah memiliki banyak pasang telinga juga mata yang setia padanya. Pantasan saja, mudah bagi pria ini mendapatkan infomasi terkait siapa Bibi Liang dalam keluarga Zhen itu.
“Ini perintah, menurutmu bagaimana bisa aku membantah perintah sebagai bawahan setia anggota kerajaan?”
“Aku tidak tahu apa-apa, sungguh, Tuan.” Mohon Bibi Liang, bersujud dengan sangat seraya mulut terus mengulang-ngulang ucapan yang sama. “Diriku sungguh tidak memiliki informasi apa-apa terkait yang Huangdi inginkan.”
Jika memang tidak tahu apa-apa, kenapa pula harus setakut ini, bukan? Wanita tua ini, benar-benar ceroboh. Bahkan Lin Feng tak ingin mendengar lebih lagi akan mohonan, meminta Bibi Liang bangun agar tak menjadi pusat perhatian lebih banyak lagi orang-orang yang memang kian ramai seiring menerangnya hari.
“Jika ingin menyelamatkan nyawa seluruh keluarga kecilmu di desa sana, maka datanglah ke istana hari ini tepat ketika gerbang dibukakan.” Menyerahkan suatu benda secara paksa, tak lain giok putih ukiran naga berumbai hitam pada Bibi Liang. “Hanya perlu tunjukkan itu, maka penjaga gerbang akan membawamu ke mana kau harusnya pergi.” Mengikis jarak lebih lagi, Lin Feng mendekatkan mulutnya tepat pada sebelah telinga Bibi Liang yang bahkan lupa caranya bernapas barangkali. “Jika tidak datang, maka kau akan dijadikan buronan karena telah mencuri benda berharga dari seorang Taizi.”
Bukankah itu sama saja dengan tak memberi kesempatan atau jalan lain selain menerima? Yang mana Lin Feng berlalu pergi begitu saja meskipun tahu wanita tua itu tak lagi mampu berdiri kokoh, dan kepergian itu pula yang mengakhiri kilas balik dari seorang Lin Feng ini. Tepat ketika Raja menanyakan dengan suara lantang akan alasan kenapa Putra Mahkota kemari sepagi ini, yang bahkan Raja sendiri belumlah usai menikmati sarapannya.
“Huangdi, ada hal penting yang ingin kulaporkan.”
Raja seketika meminta kasim pribadinya menyingkirkan makanan yang ada, menanti hal apa yang ingin disampaikan putranya. Bisa saja itu terkait Jenderal Wei, bukan? Tapi, apa benar mampu secepat ini? Dan Raja tanpa segan pula mengangguk, menyetujui putranya ini untuk melaporkan segera daripada membuang-buang waktu mempertanyakan hal yang sudah pasti akan diketahui nanti.
“Bawa orang itu masuk.” Mengarahkan pandangan pada Lin Feng, yang mana Lin Feng pun akhirnya membawa masuk apa yang diinginkan sesuai titah Jin Kai. Menghadapkan Bibi Liang yang tangannya terikat bersujud pada Raja. “Sudah kutemukan siapa anak Jenderal Wei yang meresahkanmu selama ini, Huangdi.”
Mendengar ucapan itu, ketenangan Raja seketika pula hilang termakan kemarahan yang sedikit demi sedikit menjalar ke seluruh tubuh. Bayangkan saja, apa yang dicarinya selama ini pada akhirnya mampu diketahui, dan Jin Kai adalah sosok yang sangat berjasa dalam kasus ini. Namun, siapa dan di mana anak Jenderal Wei itu berada? Jikalau sampai terbukti berada di area dari istana ini, maka bersiaplah mendapatkan amukan Raja yang kini telah bangkit dari duduk santai seraya sepasang netra nyalang diarahkan lurus pada Bibi Liang.
__ADS_1
“Ketua Departemen Dekorasi, Zhen Chen,” beritahu Jin Kai, tapi Raja tampak ingin tahu lebih banyak lagi alih-alih hanya nama dan pekerjaan. Akan tetapi, Jin Kai bergeming. Di mana Raja yang tak lagi tahan menanti akhirnya berseru menyadarkan, atau tepatnya menyadarkan sang putra untuk tak perlu ragu.
Alhasil, kata keluarga Zhen keluar dari mulut Jin Kai.
“Apa wanita ini buktimu?! Jikalau pemuda bernama Zhen Chen itu benar adalah Wei Lang!”
Mengangguk, Jin Kai pun paham kalau sang ayah tak cukup puas hanya dengan bukti hidup yang dibawakan ini. Namun, mari biarkan dahulu Bibi Liang berucap, mendesak wanita tua ini untuk mengatakan apa pun yang diketahuinya. Apa pun itu tanpa terlewatkan. Jika tidak, harusnya Bibi Liang sendiri sudah paham betul hal apa yang akan dialaminya.
Bukankah Lin Feng yang kini tak bereaksi apa-apa telah menyampaikannya? Tak mengherankan, apabila sekali pelototan dari Jin Kai saja, wanita akhir 50an ini menuruti. Biar kata begitulah ketakutan, ragu pula mengangkat wajahnya agar mampu dilihat jelas oleh Raja.
“Hamba hanya seorang pekerja dalam keluarga Zhen selama dua generasi. Tahun itu, memang benar Tuan dan Nyonya Zhen belum dikaruniai seorang anak setelah pernikahan selama 3 tahun, tapi ... tapi dalam semalam mereka memutuskan mengangkat seorang anak laki-laki. Huangdi, hamba sungguh tidak tahu asal usul anak itu ... hamba sungguh tidak tahu, Huangdi.” Terus saja memohon, Bibi Liang bahkan menempelkan dahinya pada lantai seakan tak akan lagi berani meluruskan tubuh gemetaran itu seperti sediakala.
“Taizi, bagaimana bisa aku percaya hanya dengan ucapan satu wanita ini saja? Apa kau pikir bisa membodohiku?!”
Jin Kai seketika meminta sang ayah untuk tenang dahulu, tidak pula terlihat hadirnya kepanikan melainkan yang ada hanyalah berupa keyakinan teramat. Dan barangkali itulah yang menjadikan Raja akhirnya menenangkan diri, tampak siap mendengarkan penjelasan sang putranya ini.
Tentu saja, kembalinya sang ayah yang tenang kian meningkatkan keyakinan seorang Jin Kai ini. Namun, tidak dengan Lin Feng yang diam-diam mendesah sembari memejamkan netra. Seakan gambaran jelas telah dirinya lihat, akan seperti apa reaksi Raja dan bagaimana kacaunya ke depan nanti.
Semua rencana dan permainan Jin Kai ... kini benar-benar akan dimulai.
“Pertama, lokasi hilangnya pelayan yang membawa kabur anak Jenderal Wei tahun itu tidaklah jauh dari kediaman keluarga Zhen. Kedua, hari di mana Zhen Chen menjadi anak angkat pasangan Tuan dan Nyonya Zhen bertepatan dengan hari pembantaian keluarga Jenderal Wei, dan ketiga ...!” Mengeluarkan potret Jenderal Wei, diperlihatkan langsung pada Raja.
Namun, yang jadi pertanyaan Raja adalah gulungan satunya di mana sang putra masihlah belum membukanya, seolah meminta sang ayah untuk mempersiapkan diri lebih lagi akan bukti yang satu ini.
Tak peduli bagaimana dan berapa lama dilihat pun, dua potret ini memang seperti yang dikatakan Jin Kai ... sangatlah mirip. Lantas, jikalau ini kebetulan saja, apakah benar akan ada jenis kebetulan yang seperti ini? Zhen Chen, pemuda itu jelas sekali adalah Wei Lang, tidak bisa dipungkiri karena semua bukti memanglah mengarah padanya.
“Apa bukti itu masih belum cukup, Huangdi?”
“Beraninya ... beraninya mereka menyembunyikan hal ini dariku. Beraninya!” murka Raja, menghempas kuat dua potret ayah dan anak tersebut seraya menginjak-nginjaknya. Pun Jin Kai segera memundurkan langkah sembari mensujudkan diri untuk menenangkan sang ayah yang begitulah sulit mengendalikan amarah.
Namun, marah tetaplah marah, tidak peduli bagaimana bersujud dan memohon hal itu tak akan mengurangi kemarahan seorang Raja. Tak menutup kenyataan pula jikalau Zhen Chen memasuki istana dan bekerja sebagai Ketua Departemen Dekorasi, dan hal itu kian melebarkan pikiran-pikiran tak masuk akal Raja seraya kepanikan mulai hadir. “Apa mungkin dia berencana untuk membunuhku?! Makanya bekerja di sini selama ini.”
“Hari ini, aku sudah memberhentikan Zhen Chen secara resmi. Huangdi, tidak perlu khawatir lagi.”
Bagaimana tidak khawatir? Bibit dari pengkhianat terbesar kerajaan ini telah diketahui kini, bisa saja bibit itu menunas atau barangkali kini telah menjadi pohon besar yang siap menghancurkan kerajaan. Menghancurkan takhta dan kekuasaan yang telah lama dipegang. Bagaimana pula dengan rakyat jikalau tahu hal ini? Bagaimana jika mereka berani mendukung anak Jenderal Wei diam-diam tanpa sepengetahuannya selama ini? Telah membangun semacam perkumpulan atau apa pun itu untuk secara serentak melawan kerajaan.
“Tidak ... itu tidak boleh terjadi, tidak boleh!” teriak Raja, menutup dua telinga seraya sepasang tungkai dibawa bergerak sana-sini. Entah jenis suara apa lagi yang kali ini merasuki, yang bahkan kasim pribadinya saja tak diizinkan mendekat apalagi menyentuh dirinya kini yang menajamkan pandangan pada Bibi Liang.
“Bunuh wanita itu!” serunya, menunjuk. “Jangan biarkan siapa pun tahu mengenai hal ini!”
__ADS_1
Yang serta merta pula Jin Kai bergerak, menarik pedang Lin Feng lepas dari sarungnya. Desingan pun kemudian suara libasan yang terdengar, tapi Lin Feng sendiri tak tahu pasti apa yang terjadi berkat kelincahan dan kecepatan berpedang yang Jin Kai keluarkan. Namun yang pasti, suara mohonan dari wanita akhir 50an itu tak lagi terdengar. Yang mana pula percikan darah menghiasi lantai yang tadinya bersih tanpa noda, pun Raja barulah bisa mendudukkan diri kembali tenang.
Apakah Bibi Liang tak bersalah ini meregangkan nyawa tanpa rasa sakit?
Itulah pertanyaan pertama kali yang terlintas di benak Lin Feng setelah menyaksikan mayat tergeletak tak jauh dari keberadaan Jin Kai yang mengangguk. Anggukan yang bagai memberitahukan jikalau memang kematian wanita tua ini taklah sesakit yang terlihat.
Akan tetapi, tetap saja yang merasakan dingin dan tajamnya sebilah pedang bukanlah mereka yang masih hidup. Jadi bagaimana bisa tahu pasti, bukan? Biar kata luka libasan di leher Bibi Liang yang menganga itu memanglah terlihat benar, dalam sekali sapuan langsunglah tewas.
“Lin Feng, singkir dan bereskan mayatnya dengan bersih. Ingat! Tidak ada yang boleh tahu.”
Segera Lin Feng menuruti, atau memang ia tak lagi tahan berada dalam ruangan ini. Terlalu menyesakkan, terlalu mencekik untuk melihat ayah dan anak itu hampir memiliki kegilaan yang sama.
Apa itu kerajaan sebenarnya? Apakah benar cara kerjanya seperti ini biar kata mereka berkekuasaan? Bukankah harusnya mereka melindungi rakyat, mensejahterakan dan mendamaikan bukannya malah membunuh orang tak bersalah hanya karena permasalahan dan keinginan pribadi?
Tersadarkan, lagi dan lagi Lin Feng mengingat peringatan Zhen Chen dulu. Yang akhirnya apa, pengawal setia ini malah menyalahkan diri sendiri karena telah gagal membawa Jin Kai ke jalan yang benar. Jalan penuh kejujuran sebagai calon pemimpin yang akan menjadi panutan banyak orang.
Yang mana Jin Kai sendiri kini, kembali mendapatkan titah dari Raja. Titah yang pastinya Lin Feng sendiri tak ingin dengar, karena sudah tahu arahnya tak jauh-jauh dari pemusnahan sejumlah keluarga.
“Kuperintahkan kau untuk membereskan hal ini dengan diam-diam. Bunuh seluruh keluarga Zhen beserta pekerja mereka. Semuanya! Tanpa tersisa satu pun. Begitu juga dengan selirmu, Taizi.”
Kembali Jin Kai bersujud, teramat menakutkan membayangkan Zhen Xian pun ikut serta dalam pemusnahan keluarga itu. “Huangdi, Selir Zhen sama sekali tidak tahu mengenai hal ini. Mohon Huangdi pertimbangkan kembali.”
“Jika selirmu tahu kau membunuh keluarganya. Apa kau pikir dia tidak akan balas dendam padamu!”
“Akan kupastikan dia tidak akan melakukan itu, bahkan hanya sekadar berpikir saja. Huangdi, aku akan bertanggung jawab penuh dengan perkataanku. Mohon Huangdi penuhi permintaanku!”
Kembali Raja dibuat kesal, beraninya menentang titah. Biar kata itu adalah putranya sendiri, tapi tetap saja Jin Kai bukanlah sekadar putra saja melainkan calon Raja masa depan. Yang mana seorang Raja tak seharusnya memiliki hati lunak, terutama tergila-gila dengan seorang wanita biasa yang tak lebih dari keluarga Zhen yang sangat dibenci Raja kini.
Namun, Jin Kai selama ini telah bekerja keras dalam setiap kasus terkait Jenderal Wei, hasil kerjanya tak perlu lagi dipertanyakan dan sangatlah memuaskan. Lantas, haruskah menolak satu-satunya permintaan yang dimintainya kini?
“Baik, selirmu bisa kulepaskan, anggap saja ini hadiahku padamu, Taizi. Hadiah atas kerja keras yang sudah kau lakukan, tapi ingatlah ...! Jika Selir Zhen menyakitimu maka aku akan segera menghukum matinya.”
“Aku akan selalu mengingatnya. Terima kasih, Huangdi, atas kebaikanmu."
Kelegaan memenuhi, Jin Kai perlahan pula membangunkan diri dari sujud menegangkan tadi. Mendapati sang ayah mengeluarkan suatu benda berwarna keemasan nan mewah seukuran telapak tangan, berbentuk pipih taklah begitu tebal ataupun tipis. Tampak pula terbuat dari emas murni dengan ukiran naga juga memiliki rumbai berwarna merah di bagian bawahnya menjuntai.
Bukankah itu ...? Pun lamunan Jin Kai pecah, berkat sang ayah yang dengan tegasnya meminta mendekat sembari menyerahkan benda keemasan itu. “Dengan token itu, kau bisa memimpin semua prajurit istana.”
Diberi kepercayaan seperti ini, Jin Kai bahkan tak tahu harus sedih atau senang. Namun, tak menutup kemungkinan jikalau ambisi telah merasuki dirinya yang menggenggam token begitulah kuat. “Huangdi jangan khawatir. Aku akan menyelesaikan tugas ini dengan sebaik mungkin, tidak akan mengecewakanmu.”
__ADS_1
Jelas saja ia tidak akan mengecewakan, karena ini bisa dikatakan tugas terakhir dan setelahnya ia pun akan memiliki Zhen Xian sepenuhnya, biar kata gadis itu akan kian membenci dirinya. Akan tetapi, setidaknya tidak akan ada lagi Zhen Chen yang menjadi sosok pengganggu hubungan di antara mereka suami dan istri ini.
Zhen Chen, takdirmu memanglah kejam. Namun, jangan khawatir. Setelah kepergianmu, aku akan menjaga Zhen Xian sebaik mungkin.