
Seruan Zhen Xian menjadi pengantar keluarnya Zhen Chen dari kamar, mendapati meja makan telah dihadiri seluruh keluarganya pun tak terkecuali Que Mo.
Tak seperti biasanya, bukan? Zhen Chen menjadi bagian terakhir yang bergabung, dan hari ini menjadi hari perdana di mana dirinya menjabat posisi resmi di istana. Tak heran, cuaca dan udara di luar sana begitulah semangat menyambut, meskipun aktivitas sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Namun, hari ini tentu harus menjadi suatu pengecualian.
“Ge, cepatlah kita sarapan. Jangan terlambat di hari pertamamu.”
“Kau serius akan pergi denganku?” Mendudukkan diri, Zhen Chen barulah menyadari sarapan pagi ini terlihat cukup tidak sederhana. Bagai akan mengantar sang anak ke medan peperangan, penuh sekali hidangan enak dan bergizi. Berlebihan? Tentu Zhen Chen menganggap demikian.
“Tentu saja, aku juga bisa membantumu mempersiapkan pesta ulang tahun Jin Kai,” jawab Zhen Xian, menyadarkan Zhen Chen yang seketika memulai sarapannya.
“Masalah pengantaran bunga ke toko, kalian bisa mengandalkan aku,” tutur Que Mo, dan Zhen Xian yang dipenuhi keceriaan dan semangat pagi pun memberikan dua jempolan pada Que Mo.
Lantas, dimulailah kini giliran orang tua yang bicara. Tepatnya memberikan nasihat. Jelas saja sebagai orang tua tidak ingin anak-anaknya terlibat masalah, apalagi tempat itu istana. Sedikit-sedikit, hukuman yang didapat akan terkait nyawa.
Namun, apa benar hanya itu saja alasannya? Alasan yang mana ayah dan ibu terlihat bersikap tak sebagaimana biasanya, semacam ada sesuatu yang tak mampu diungkapkan dan hal itu ditangkap Zhen Chen selaku yang paling mendengarkan ketimbang sang adik yang malah sibuk mengisi mulutnya.
Mungkin aku hanya berpikir terlalu jauh. Pun Zhen Chen yang berucap dalam hati ini tersadar begitu mendapati mangkuk nasinya terhidang lauk pemberian sang ibu, tersenyum pada putranya yang serta merta memakan pemberian lauk tersebut.
Benar, bagaimana mungkin kedua orang tuanya akan menyembunyikan sesuatu, bukan? Jelas tidak mungkin, dan tak pula ingin berlarut-larut tenggelam memikirkan hal tersebut. Pun Zhen Chen mengingatkan kembali sang adik terkait nasihat orang tua mereka, dibalas pula dengan anggukan dan jawaban yakin tuk tak perlu khawatir.
Alhasil, tibalah mereka di istana, tepatnya Departemen Dekorasi, tempat yang akan menjadi daerah kekuasaan Zhen Chen. Yang mana orang-orang di dalamnya tak lagi begitu asing dengan Ketua Departemen baru mereka ini. Semua, sungguh terasa lebih mudah bagai Zhen Chen telah cukup lama bekerja di sini.
__ADS_1
“Zhen Chen!” seru seseorang, tak lain adalah Mo Zhu yang datang bersama dengan Meng Jun. “Zhen Xian, kau juga datang.”
“Tentu saja,” balas Zhen Xian, senyumnya perlahan memudar. “K-kalian, kenapa melihat kami begitu?” Sukses membuat Zhen Xian sendiri menoleh pada sang kakak, Zhen Chen yang tampak paham maksud dari tatapan curiga penuh tuntutan penjelasan yang dilemparkan Mo Zhu dan Meng Jun ini.
“Katakan, bagaimana kalian bisa dekat dengan Taizi?” tanya Mo Zhu, pun Zhen Xian tergagap harus menjawab seperti apa. Akan tetapi, jawaban saja belum selesai diucapkan, Meng Jun sudah lebih dahulu bertanya. “Bagaimana kalian bisa saling mengenal dan dekat?”
“Itu masalah pribadi, jadi kami tidak bisa mengatakan apa-apa. Selain itu, Taizi meminta untuk tidak membicarakan masalah ini,” tutur Zhen Xian, berdalih. Atau jika tidak demikian, rentetan pertanyaan akan terus ditanyakan. “Atau kalian ingin ... menentang Taizi?”
“Tidak, tidak,” ucap Mo Zhu cepat, refleks pula menyentuh lehernya. “Aku lebih baik memilih tidak tahu apa-apa,” lanjutnya lagi, dibenarkan pula Meng Jun dengan anggukan demi anggukan.
Setidaknya, satu masalah terkait rasa penasaran dua teman kakaknya ini beres dengan baik. Pun Zhen Chen, menjadikan ketenangan ini sebagai kesempatan memanggil semua orang yang merupakan bagian dari departemen ini tuk berkumpul.
“Ingat! Kita hanya punya waktu seminggu untuk mendekorasi pesta ulang tahun Taizi. Jadi prioritaskan hal ini dulu sebelum hal lain,” tegasnya. “Selain itu, kalian tidak perlu memanggilku secara resmi. Cukup panggil aku Zhen Chen, kecuali di depan orang-orang luar departemen kita, baru kalian bisa memanggil dengan sebutan Tuan atau apa pun itu. Apa kalian mengerti?”
Tanpa menunda waktu, Zhen Chen membagi tugas semua orang. Seperti memastikan atau menjaga suhu ruang penyimpanan agar tidak terlalu kering ataupun lembap, termasuk menyingkirkan segera bunga yang telah layu atau rusak. Pasalnya jika dibiarkan, itu akan menjadi semacam penularan ke bunga segar sekitarannya. Selain itu, perlu tuk memastikan pasokan bunga akan tersedia hingga seminggu ke depan nanti dengan kualitas terbaik.
“Baiklah itu saja dulu. Jika ada hal lain, aku akan segera memberi tahu,” ucapnya menyelesaikan, semua orang pun membubarkan diri mengerjakan segera tugas yang telah dibagikan. “Dan kalian.” Menatap Meng Jun dan Que Mo, juga pastinya sang adik. “Ikut aku.”
Keluar bahkan meninggalkan area Departemen Dekorasi. Tak tahu pula sejak kapan Zhen Chen bisa begitulah hafal setiap seluk-beluk istana ini, semacam ada peta dalam kepalanya yang terpampang lebar dan jelas. Namun, abaikan itu. ke mana tepatnya Zhen Chen akan membawa mereka? Terasa area kali ini beraura tak main-main, penjagaan pun terasa kental di sana-sini. Belum lagi, lokasi yang terbilang cukup jauh.
“Aula Utama,” gumam Zhen Xian, membaca papan nama yang tergantung pada bangunan nan gagah dan besar. Tak heran, aura sekitar sini begitulah kuat dan berbeda, terasa bagai terintimidasi yang akan membuat siapa pun tunduk.
__ADS_1
Benar, inilah tempat di mana raja dan para menteri mengadakan rapat atau pertemuan penting biasanya. Pusat atau katakan saja jantung dari keseluruhan istana nan luas ini. Karena tempat inilah, yang menciptakan atau mewujudkan kesejahteraan rakyat atau suatu negara berjalan dengan baik atau tidak. Keputusan, bukankah diputuskan bersama di sini?
“Kita akan mendekorasi tempat ini. Jadi pikirkan dekorasi seperti apa yang akan kita buat dengan halaman luas ini tanpa menghilangkan aura kuat dari Aula Utama Istana,” ucap Zhen Chen, berharap akan ada setidaknya satu atau dua patah kata ide yang akan dikeluarkan dari kedua teman juga termasuk rekan kerjanya ini. Namun, Meng Jun dan Mo Zhu tampak membutuhkan waktu.
“Kurasa kalian harus menggunakan warna bunga yang lebih polos agar tidak bertabrakan dengan warna istana yang cerah dan kuat,” sela Zhen Xian, sempat ragu untuk melanjutkan, tapi sang kakak tampaknya ingin mendengarkan lebih lanjut. Tak terkecuali dengan Meng Jun dan juga Mo Zhu yang sontak memusatkan pandangan padanya.
“Pada bagian Aula Istana gunakan warna-warna muda, sedangkan pada bagian halaman gunakan warna terang dan kuat. Dengan begitu warna tidak akan kontras dan tempat yang kosong akan terlihat berwarna. Bagaimana jika kita menggunakan chahua?”
“Chahua mewakili cinta abadi. Kenapa kau memilih bunga ini?” tanya Meng Jun.
“Zhen Xian pasti merujuk pada cerita cinta Taizi,” jawab Mo Zhu, pun Zhen Xian mengangguk membenarkan.
“Biasanya dalam kerajaan. Entah raja atau pangeran akan memiliki banyak selir, tapi lihatlah Taizi yang hingga sekarang tidak memiliki selir satu pun. Belum lagi akan selalu menentang jika kerajaan memintanya mengambil selir.”
“Kurasa itu bukan ide yang buruk. Mari kita lakukan seperti yang dikatakan Xian’er,” dukung Zhen Chen. Melempar pandangan puas pada sang adik, Zhen Xian yang terus memerhatikan Aula Utama Istana. Barangkali otak sedang sibuk menggambar desain seperti apa yang akan dilakukan nanti. Desain bertemakan cinta sejati,’kah?
Diketahui hampir di seluruh Kota Yunnan-Fu, Putra Mahkota dan Putri Mahkota adalah pasangan yang tercipta dari langit. Dikatakan pula bahwa mereka saling mencintai, dan barangkali itulah alasan kuat yang membuat Putra Mahkota tidak menginginkan selir. Meskipun tujuan dari adanya selir ini hanya untuk memperkuat posisi Putra Mahkota atau sebagai solusi penyelesaian masalah di antara dua kerajaan. Penolakan mentah-mentah, adalah jawaban satu-satunya yang diberikan.
Putri Mahkota sendiri adalah seorang putri dari Kerajaan Dali, bernama Yu Bai Hua. Seorang putri yang dikenal cantik, baik dan lembut. Pada usia 10 tahun, dia menikah dengan Putra Mahkota yang saat itu berusia 12 tahun. Suatu pernikahan yang membawanya seketika menjadi Putri Mahkota.
Sekarang, sudah 7 tahun pernikahan mereka. Hanya saja, Putri Mahkota belum juga dikaruniai seorang anak sejak tabib dua tahun lalu menyatakan atau memperbolehkan kehamilan terjadi. Hal inilah yang menjadikan Raja dan Permaisuri pun sangat menginginkan Putra Mahkota memiliki selir, setidaknya satu saja untuk meneruskan garis keturunan.
__ADS_1
Sejak itu pula, ada rumor yang beredar bahwa Putri Mahkota tidak bisa melahirkan anak meskipun sudah berbagai jenis obat dikonsumsinya.