Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 34


__ADS_3

Kabut menghilang seraya meningginya sang mentari, belum lagi embun yang menyelimuti tiap dari hamparan bunga-bunga nan luas dari kediaman keluarga Zhen ini kian menambah keindahan nan menyejukkan pasang mata yang melihat, layaknya udara sejuk nan bersih yang menghujani keseluruhan area.


Pun udara ini menyerobot masuk tanpa dimintai ketika pintu dari rumah terbuka, menampilkan sosok Tn. Yan melangkah keluar hanya untuk mengurus tanaman bunga di teras. Entah itu menggunting ranting, daun atau bekas dari bunga yang telah mengering. Sedangkan dari balik pintu yang menganga tersebut, tertampilkan pula Ny. Zhen menyibukkan diri dengan kegiatan masak memasaknya.


Tak tahu pula apa yang menjadikan Zhen Xian, gadis muda yang biasanya tidak akan bangun jikalau belum dibangunkan ini, sekarang malah terlihat sedang membasahi kerongkongannya dengan segelas air yang menguarkan uap putih.


“Xian’er, pergilah membangunkan saudaramu.”


“Baik,” balasnya, seraya mengerakkan sepasang tungkai yang memang masihlah lesu itu pada kamar sang kakak. Namun, belum sempat mengetuk, sang kakak telah lebih dahulu keluar dalam penampilan rapinya. “Pagi, Ge. Kukira kau masih terlelap karena efek mabuk semalam.”


Yang mana sang kakak hanya tersenyum menanggapi, membawa diri yang memang masih terlihat pengar itu duduk pada meja makan. “Die, pagi,” sapanya, mendapati ayah yang baru saja masuk menyodorkan cangkir berisi air hangat. “Terima kasih, Die.” Meminumnya, dan ibu pun akhirnya mulai memenuhi meja dengan beragam jenis masakan beraroma sedap pastinya.


“Ge.” Seraya Zhen Xian mendudukkan diri di sebelah sang kakak. “Apa mungkin kau dan Jin Kai sudah baikan?” tanyanya kemudian. Yang mana hal itu sukses menjadi daya tarik kedua orang tua mereka. Meskipun memang benar, tak begitu kentara efek si ibu yang sibuk menuangkan sup ke dalam masing-masing mangkuk mereka.


“Huangdi memintanya menangani kasus rumor di masyarakat, hal itu tampaknya membuat dia banyak pikiran. Jadi ... kami minum sepuasnya untuk mengurangi beban pikirannya,” jelas Zhen Chen. “Die, Niang, maafkan aku. Kalian ... pasti khawatir padaku semalam.”


“Anak muda memang suka begitu, tidak apa-apa. Hanya saja lain kali, jangan lagi begitu mabuknya sampai tak sadarkan diri sama sekali. Itu tidak baik bagi kesehatanmu, kau mengerti?”


“Hmm, aku tahu, Die.”


Namun, tetap saja. Ucapan dari sang putra tunggalnya ini tak mampu menghilangkan kekhawatiran sebagai orang tua. Saling bertukar pandang dengan sang istri yang akhirnya mengajak untuk memulai sarapan mereka.


“Chen’er, apa kau berencana untuk terus bekerja di istana?”


“Tidak, Die. Sekarang aku berencana untuk segera berhenti setelah tugasku selesai.”


“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tanya ayah lagi, tepatnya memancing untuk tahu lebih. Namun, tidak ingin begitu kentara. Yang mana Tn. Zhen sendiri menanyakan seraya memberikan lauk ke mangkuk nasi putranya ini.


“Bukan begitu,” jawab Zhen Chen, tepatnya memikirkan jawaban seperti apa yang harus dikeluarkan untuk tidak memancing kekhawatiran kedua orang tuanya ini. “Hanya saja, aku merasa kurang cocok dengan lingkungan istana.”


“Baguslah jika kau berpikir begitu,” ucap ibu, tak tahu sadar atau tidak akan ucapannya itu. Yang pasti ibu tampak begitulah tenang setelah mendengar jawaban Zhen Chen.


Sementara Zhen Xian hanya bergeming seraya menikmati sarapan yang ada, atau barangkali saja diam-diam sedang merutuki istana yang berisi orang-orang menyebalkan nan bodoh tiap kali ada rumor. “Sama bodohnya dengan masyarakat di luar sana,” gumamnya, tapi tidak ada siapa pun yang mendengarkan karena begitulah fokus pada sang kakak. Namun, dirinya sukses mendapat senggolan kaki dari sang kakak. Sontak saja, gadis ini kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Kupikir kalian akan menghentikanku dan meminta untuk tetap bertahan di sana. Tidak di sangka, hasilnya malah seperti ini.” Kelegaan menghantam, Zhen Chen memakan lauk pemberian sang ayah dengan begitu nikmatnya.

__ADS_1


“Lakukan apa pun yang memang disukai. Jika memang merasa tak nyaman, maka keluar jelas adalah cara terbaik. Selama kau dan Xian’er hidup dalam kedamaian, kebebasan dan kebahagiaan ... maka itu sudah cukup,” ucap ibu yang seketika dibenarkan sang ayah, yang mana suasana pagi hangat dan dipenuhi keceriaan kembali dirasakan dalam keluarga hangat ini. Layaknya biasa.


Pun sang mentari yang tersenyum dengan begitulah lebar adalah saksi, kian meninggi dan kian pula mempertunjukkan beragam warna dari luasnya dunia yang mulai ramai akan aktivitas orang-orang. Namun, kenapa aktivitas orang-orang ini tidaklah seperti keluarga Zhen? Begitulah berisik, begitulah dipenuhi sesak akan keingintahuan yang bahkan mulut bicara mereka tak lagi terdengar jelas oleh indra pendengaran.


Bukankah ini lokasi dari kediaman Jenderal Wei dahulunya? Yang mana dikelilingi pula oleh beberapa pengawal kerajaan, berdiri dengan membawa pisau tombak yang barangkali siap dihunuskan pada siapa pun yang akan melewati batas.


“Lihatlah! Mereka pasti ada hubungan dengan Jenderal Wei.”


“Mereka mungkin saja pelayan yang selamat, bukankah begitu?”


Yang mana pengawal akhirnya menegaskan untuk mundur, tak lagi mampu hanya berdiri saja menghadapi para kerumunan orang-orang yang kian banyak berdatangan. Pasalnya, sang Putra Mahkota pun ada di dalam area terlarang ini. Menelusuri tiap dari area, yang akhirnya mendekati beberapa pria dalam balutan pakaian layaknya tabib. Di mana kotak pengobatan, atau bisa dikatakan kotak kayu yang berisi jarum-jarum akupuntur dijinjingnya pula.


“Apa kalian sudah tahu penyebab kematian mereka?”


Menunjukkan jarum yang ujungnya menghitam. “Taizi, kami meyakini mereka meninggal karena racun.”


“Apa mungkin mereka bunuh diri setelah menyebarkan rumor ke masyarakat?” tanya Jin Kai lagi, dan beberapa tabib hanya mengangguk. Karena memang hanya itu jawaban masuk akal yang bisa terlihat dari tubuh kedua mayat pria ini. Pun tak ada tanda kekerasan fisik, atau perlawanan apa pun yang mampang di sekujur tubuh kaku memucat kebiruan mereka. “Lin Feng, bawa mayat ini ke istana!” titahnya.


“Bagaimana jika anak Jenderal Wei masih hidup?”


“Tidak mungkin!”


“Ingatlah! Tubuh anak Jenderal Wei sampai sekarang belum diketahui.”


“Benar! Benar! Apa mungkin anak Jenderal Wei dalang dibalik ini semua?”


“Jika memang benar, ini sungguh mengerikan. Akankah kekacauan kembali dalam kota ini?”


Yang mana lamunan Jin Kai akhirnya disadarkan oleh Lin Feng, memberitahukan segala hal telah siap dan waktunya kembali ke istana. Pun seperginya Jin Kai dengan kuda hitamnya, tetap saja penemuan mayat di kediaman mendiang Jenderal Wei ini begitulah menggemparkan. Sana-sini tiada satu orang pun melewatkan, semua membicarakan topik serupa.


Anak Jenderal Wei, berkemungkinan besar memang masihlah hidup.


Jika demikian besarnya rumor ini, lantas apa yang harus dilakukan Zhen Chen? Zhen Chen yang tak tahu-menahu akan jati dirinya, dan dengan begitu santai pula bersama sang adik dan juga Que Mo menelusuri jalanan kota.


Alhasil, ketiganya pun kebingungan. Samar-samar menangkap pembicaraan orang-orang, yang dari sebelumnya tak tahu pada akhirnya tahu. Yang mana ditegaskan pula akan kehadiran Jin Kai yang dengan terburu-burunya menunggangi kuda pada jalanan utama, jelas saja menuju istana bersama dengan rombongan pengawal dan juga gerobak tertutupi tikar jerami di belakangnya. Berseru kencang, dan orang-orang pun menyingkir membuka jalan.

__ADS_1


“Lihatlah!” tunjuk Zhen Xian. “Apa itu mayat mereka yang menyebarkan rumor?”


“Mungkin saja,” jawab Que Mo, siap menanyakan orang di sekitaran untuk memastikan. Namun, secepatnya dihentikan Zhen Chen oleh dehamannya, yang mana pula mengartikan hal tersebut bukan urusan untuk diketahui apalagi ditangani mereka saat ini.


Akan tetapi, Zhen Xian tampak penasaran. Ingin pula tahu meskipun memang betul itu bukan urusan mereka, dan Que Mo pun tampak demikian adanya. Bukankah itu manusiawi? Setidaknya, Zhen Xian tidak mampu bersikap seperti kakaknya biar kata mereka memanglah bersaudara. “Tapi ... bagaimana jika anak Jenderal Wei benar masih hidup? Akankah dia balas dendam?” tanya Zhen Xian akhirnya.


“Akan lebih baik jika dia menjalani hidup baru dan melupakan masa lalu,” jawab Zhen Chen, entah dipikirkan atau tidak sebelumnya. Karena jawabannya itu bagaikan keluar begitu saja dari bagian terdalam diri sejatinya, yang mana sukses membuat sang adik dan juga Que Mo bergeming seraya menyaksikan dirinya yang kembali melanjutkan perjalanan. “Ada apa denganku?” gumamnya, mendesah.


Lantas, bagaimanakah suasana dalam istana sendiri? Jikalau kota saja sudah begitulah gempar. Maka ... akankah istana juga demikian? Atau, justru malah sebaliknya?


Yang mana memperlihatkan Jin Kai baru saja memasuki Aula Utama Istana, menghadap pun memberikan hormat pada sang Raja. Di mana para menteri yang hadir hanya bergeming, menunduk bagai baru saja mendapat makian maut dari sang pemilik singgasana naga yang kini bangun, tak lagi mampu duduk dengan wajah garang seraya berkecak pinggang pula. “Apa kau membawa mayat mereka?” tanyanya, dan belum sempat mendapat jawaban dari sang putra. Raja telah lebih dahulu melesat keluar, diikuti para menteri.


Di bawah sinar mentari pagi inilah, kilauan dari sebilah pedang yang tertarik keluar dari sarung seorang Lin Feng pada akhirnya mengambil ahli situasi. Mendapati Raja bagai kehilangan akal, begitulah bengis terus saja menusuk-nusuk tubuh kedua mayat yang memuncratkan darah ke mana-mana. “Beraninya kalian! Beraninya melawanku!” teriaknya, bahkan urat-urat dari wajah sudah begitulah terpampang jelas, menyembul.


“Huangdi, tenanglah!” pinta Jin Kai, menahan tangan sang Raja. Namun, dengan mudahnya disingkirkan, pun Raja berakhir memenggal kepala dari kedua mayat.


“Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Semua orang membicarakan masalah ini!” Mengarahkan pedang ke semua menteri yang hadir, bagai siap memenggal satu atau dua dari mereka yang menunduk gemetaran. “Siapa?! Katakan ... siapa dari kalian yang berani mengatakan anak dari Jenderal Pengkhianat itu masihlah hidup?! SIAPA?!”


“Huangdi, tenanglah!” sujud semua menteri, merendahkan wajah serendah mungkin pada tanah. Napas begitulah gemetaran, yang bahkan sang mentari saja tak lagi ingin melihat dan memilih bersembunyi di balik awan yang terbilang begitulah tebal.


Yang mana serta merta pula Jin Kai mensujudkan diri seraya memanggil Raja tuk menolehkan pandangan padanya. Sontak, Raja melakukannya. “Huangdi, aku tahu cara untuk meredam rumor gila ini. Mohon Huangdi tenangkan diri dahulu dan jangan khawatir, semua juga demi kesehatanmu.”


“Kau yakin?”


“Tentu aku yakin, tidak akan diriku dengan beraninya mengatakan hal ini jika tidak yakin, Huangdi.”


Raja seketika menurunkan kadar kemarahannya, wajah tak lagi begitu bengis. Yang mana senantiasa membantu sang putranya ini bangun. “Baiklah, kupercayakan semuanya padamu. Juga usut terus masalah ini, barangkali masih ada yang lainnya atau bahkan seperti yang dikatakan ... anak dari Jenderal Pengkhianat itu masih hidup.”


Mengangguk patuh, Jin Kai dengan sopannya pula mengantar kepergian sang Raja dengan penghormatan setengah bagian tubuhnya direndahkan. Yang mana Raja sendiri menghempaskan pedang berlumuran darah kehitaman, barulah kemudian menarik diri dari tempat bernodakan darah di mana-mana ini bersama kasim pribadinya.


“Taizi, kau sudah bekerja keras.”


Mendapati para menteri lainnya telah membangunkan diri, bernapas lega bahkan tak sedikit pula dari mereka tersenyum pada Jin Kai yang tak begitu menanggapi. “Terima kasih atas pujianmu, Perdana Menteri. Lagian, ini memang sudah menjadi tugasku,” balasnya, mengajak Lin Feng kemudian pergi dari tempat ini.


Sementara para menteri lainnya, dengan begitulah hormat tak seperti biasanya mengantar kepergian Putra Mahkota yang jika dilihat dari punggung menjauhnya itu, bagai seorang pemenang kini.

__ADS_1


Namun, pemenang untuk apa? Yang mana Perdana Menteri terus melekatkan pandangan, sebelum akhirnya menangkap sosok Putri Mahkota di sisi lain dari sudut bangunan Aula Utama Istana. Yang rupanya juga memerhatikan sang Putra Mahkota, tepatnya Putra Mahkota yang menepuk-nepuk pundak Lin Feng dengan senyuman yang sukses mendesahkan Putri Mahkota ini hingga titik di mana tak lagi tahan berada di sini.


__ADS_2