
Gulitanya langit kini memudar, perlahan dengan pasti cahaya dari ufuk timur lantang mengambil alih. Kedamaian sirna, pun diisi kembali dengan beragam jenis suara yang terbangun. Warna dunia kembali datang, layaknya lukisan yang baru saja dipolesi warna-warni cat.
Meskipun udara terbilang cukuplah menusuk tulang, tapi tak menutup kemungkinan udara yang begitulah bersih dan jernih ini sangatlah baik untuk dihirup ataupun sekadar dinikmati dalam mengawali aktivitas. Terutama bagi seseorang yang saat ini siap menjalani rutinitas, mendatangi tempat kerja.
Namun, hari secerah dan seindah ini malah tak mampu menembus mendungnya awan yang menyelimuti dirinya. Belum lagi sepasang netra, kehitaman pun membentuk kantung mata yang sedikit membengkak, ditambah pula keseluruhan wajah telah kehilangan ronanya.
“Tuan, tunjukkan tanda pengenal Anda.”
Sesaat ia bergeming, tanda pengenal? Benarkah barusan penjaga gerbang istana ini memintakan tanda pengenal? Sungguh tak seperti biasanya. Tetap saja, ia akhirnya memberikan apa yang dimintai tanpa mengatakan apa-apa.
“Maaf, Tuan. Anda tidak diizinkan memasuki istana mulai sekarang, mohon segera pergi.”
“Apa ini perintah Taizi?” Dan kedua dari penjaga gerbang istana ini taklah mengatakan apa-apa seakan tak mendengar pertanyaan yang dilontarkan. Yang mana juga membenarkan jikalau memang Jin Kai-lah yang berulah. “Sungguh kekanakan caramu ini,” gumamnya, memandangi gerbang yang tak bisa dimasuki ini seraya garis wajah dikeraskan.
Yang menjadi masalah, akankah permainan Jin Kai hanya sebatas ini? Rasanya tak mungkin, dan terlalu menggelisahkan jikalau hanya sebatas ini saja. Sungguh tak seperti Jin Kai, apalagi di saat pangeran itu cukuplah marah semalam. Jadi ... tak mungkin permainan yang dimainkan hanya berupa tak mengizinkan memasuki istana saja, bukan?
Pun seruan yang memanggil ‘Zhen Chen’ terdengar, mengharuskan ahli muda bunga ini memalingkan wajah ke arah si pemanggil yang tak lain kedua temannya, Meng Jun juga Mo Zhu. Setidaknya masih ada harapan baginya untuk meminta pertolongan, memastikan lebih lagi apa yang telah terjadi di dalam istana saat ini. Akan tetapi, bagaimana jikalau Meng Jun dan Mo Zhu sekalipun tak bisa pula memasuki istana?
Alhasil, Zhen Chen meminta Mo Zhu untuk menguji, dan meskipun yang dimintai kebingungan, tetap saja akhirnya ia melakukan.
Berbeda dengan Meng Jun sendiri, yang mana justru diam-diam memerhatikan seraya menerka-nerka maksud tindakan aneh dari Zhen Chen ini.
Bagaimana tidak, Zhen Chen terlihat cukup gelisah untuk seukuran orang yang biasanya tenang, dan ketenangan itu sendiri mulai dirasakan olehnya tepat ketika mendapati jikalau Mo Zhu mampu memasuki istana layaknya biasa. Selain itu, kenapa pula penampilan saat ini menunjukkan jikalau ia sedang memiliki banyak pikiran? Pasti telah terjadi sesuatu, dan Meng Jun akhirnya angkat bicara di mana Mo Zhu sendiri tentu ingin tahu pula alasan dari keanehan Zhen Chen ini.
“Aku tidak lagi diizinkan memasuki istana.”
Sontak dua temannya ini bertukar pandang, tak perlu ditanyakan pula siapa dalang dibaliknya, bukan? Terlalu jelas, dan terlalu mudah ditebak. Tidak, tepatnya sudah pasti suami Zhen Xian-lah sosok tersebut.
“Sungguh konyol. Aku tidak habis pikir alasan Taizi tidak menyukaimu dekat dengan Zhen Xian karena apa, jelas-jelas dirinya tahu kalian hanya bersaudara. Tidakkah menurut kalian sikap Taizi ini kekanak-kanakan?” Dan jawaban yang didapat Mo Zhu tak lain berupa pukulan ringan dari Meng Jun, menyadarkan jikalau mereka saat ini ada di area lingkup istana. Apa jadinya jika sampai ketahuan sedang membicarakan seorang Putra Mahkota dengan begitu lancangnya, bisa-bisa bukan hanya dikeluarkan dari istana, melainkan dikeluarkan dari kota dan tak diizinkan kembali masuklah yang akan menjadi hukumannya.
Tentu, Zhen Chen tak mempermasalahkan akan jenis hukuman tersebut. Namun, harus dengan membawa Zhen Xian juga Que Mo pastinya. Hanya saja, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Jin Kai pria itu jelas saja tak akan membiarkan, bahkan akan menebas habis pikiran tersebut hanya lewat kata-kata mengintimidasi nan berkekuasaan yang dimiliki.
Sekarang Zhen Chen pun sadar, betapa penting dan sangat diperlukan kekuasaan seperti itu bagi seorang pria, dan betapa berbahayanya jika jatuh di tangan orang yang salah. Oleh karenanya, Zhen Chen pun memiliki pemikiran lain.
Apa benar hanya dengan kekuasaan pula aku baru mampu melawan Jin Kai? Jika demikian adanya, bagaimana caranya aku mendapatkan kekuasaan itu? Dan dari mana pula harus bermula? Mendesah, tersenyum pahit akan pikiran gilanya ini. Meskipun benar Jenderal Wei adalah ayah kandungnya, tapi sejak ditetapkan Raja sebagai pengkhianat tahun itu, hal tersebut malah menjadi senjata mematikan yang siap menikam pusat kehidupannya kapan pun itu jikalau diketahui.
__ADS_1
Lantas, kekuasaan macam apa yang bisa dimilikinya? Seakan sayap telah dipatahkan habis, tapi masih berharap mampu terbang. Bukankah pemikiran yang terlintas barusan sangatlah konyol melebihi kekonyolan Jin Kai yang saat ini melarangnya memasuki istana?
“Kami akan mencari tahu apa yang terjadi. Zhen Chen, kau ... jaga diri dan jangan berkeliaran dulu, kurasa itu yang harus kau lakukan saat ini,” ucap Meng Jun, dan Zhen Chen menerimanya.
Lagian memang benar, untuk saat ini tampaknya jangan menambah kemarahan Jin Kai adalah cara teraman. Meskipun tak tahu apakah cara ini mampu menghentikan permainan yang dimaksudkan Jin Kai semalam. Namun, setidaknya berharap mampu meredam.
Akan tetapi, bagaimana dengan besok? Di kala Zhen Xian berencana untuk keluar lagi dari istana untuk merayakan ulang tahunnya. Apa harus dibatalkan saja? Atau biarkan saja sebagaimana mestinya rencana awal? Sekaligus saja jadikan hari itu sebagai hari pelarian. Dan Zhen Chen yang kini menyaksikan dua temannya telah memasuki gerbang istana, serta merta menarik diri menjauh dari tempat terkutuk itu. Pikiran terus saja berkecamuk, yang mana situasi dan kondisi saat ini sangat memaksanya untuk membuat keputusan.
Sementara suasana dalam istana pun tak jauh berbeda dengan pikiran kalut seorang Zhen Chen. Begitulah ramai akan orang-orang berkumpul, tepatnya mengerumuni papan pemberitahuan yang padahal hanya tertempel selembar kertas biasa dengan kata demi kata tertera di atasnya. Pun tak lupa, stempel tak asing terbubuhkan pula tepat di kanan bawah kertas itu sendiri.
Stempel resmi Putra Mahkota Kerajaan Yunnan-Fu, Jin Kai.
Lantas, mendengar keributan telah terjadi di Departemen Dekorasi ini bagaimana bisa seorang Zhen Xian tenang? Apalagi kabar yang didapatnya tepat ketika terbangun dari tidur tak lain adalah pemberhentian sang kakak. Selain memastikan kembali jikalau kabar tersebut hanyalah sebuah kabar angin atau rumor saja, memangnya apa yang bisa dilakukan gadis ini, bukan?
Namun tetap saja, kabar tersebut memanglah benar adanya dan bukan rumor seperti yang diharapkan.
“Kenapa ...? Kenapa ...?”
Samar-samar ucapan orang-orang sekitar tertangkap pendengaran, sangat tak percaya jikalau Ketua Departemen Dekorasi mereka yang telah bekerja dengan baik dan memuaskan selama ini malah diberhentikan hanya dalam keputusan semalam saja. Entah kesalahan apa dan kejadian apa sampai mampu membuat Putra Mahkota sebegitu marah, dan topik pembicaraan tersebut sontak saja menyadarkan Zhen Xian yang dalam papahan Que Mo kini melepaskan diri.
“Jangan mengatakan apa-apa, lebih baik kita kembali ke Kediaman Chahua dulu,” pinta Que Mo, waswas kalau saja ada mata-mata yang mengintai mereka. Akan tetapi, Zhen Xian menggeleng sembari mendekatkan diri dengan papan pengumuman, bertemu dengan Meng Jun juga Mo Zhu yang entah sejak kapan telah di sana. “Apa diberitahukan, alasan pastinya Chen Ge diberhentikan?”
“Tidak mematuhi peraturan istana, dan memperlakukan Selir Zhen sebagai adiknya tanpa tahu posisinya sebagai pekerja di salah satu departemen dalam kerajaan ini, juga ....” Meng Jun berucap, tapi ketidakterimaan Zhen Xian akan kabar ini sukses mendiamkan Meng Jun sembari menerka-nerka haruskah melanjutkan atau justru tidak. Namun, Zhen Xian jelas meminta dengan sangat untuk memberitahunya. “It-itu ....”
“Juga, siapa pun yang tidak menghormatimu sebagai selir akan menerima hukuman yang sama atau mungkin lebih parah,” terang Mo Zhu akhirnya, tak lagi mampu melihat Meng Jun begitulah gelagapan. “Dia harus tahu, dia adiknya, bukan?”
Pun Meng Jun tak mempermasalahkan, karena memang Zhen Xian pantas tahu. Dan langkah awal yang gadis ini lakukan untuk mengurangi kemarahan, tak lain dengan melucuti pun merobek kertas yang tertempel pada papan pengumuman sembari meminta semua orang kembali bekerja dan bukannya berkumpul membicarakan hal ini.
“Aku sudah tidak tahan lagi, semua ini sudah cukup ... cukup!”
“Mau ke mana kau?” Henti Que Mo yang menghadang jalan perginya. “Pergi menemui Taizi?”
“Tidak ... untuk apa aku bertemu dengannya? Aku akan keluar istana, sekarang ... sekarang juga!” Berlinangkan air mata, Zhen Xian terus saja memohon pada Que Mo untuk menurutinya. Namun, bagaimana bisa Que Mo menuruti di saat seruan menitahkan begitulah mengintimidasi sembari pula mendekat bersama dengan Kasim Ma dan juga Lin Feng di belakangnya. “Kembali ke kediamanmu sekarang!” serunya lagi.
Serta merta, Zhen Xian mengusap habis air mata berlinangnya, tanpa gentar pula menghadapkan wajahnya langsung layaknya siap menantang tanpa peduli akan konsekuensi apa yang akan didapatkannya nanti. “Apa lagi yang kau mainkan sekarang?”
__ADS_1
“Haruskah aku menjelaskannya? Bukankah dirimu lebih paham!”
“Aku tidak paham! Dan aku tidak mengerti!” Meninggikan suaranya melebihi Jin Kai sendiri. Masa bodoh dengan apa dan bagaimana orang-orang akan mendengar pun menilai pertengkaran ini. Yang pasti jikalau sampai diketahui Permaisuri ataupun Raja mengenai Putra Mahkota yang mendapat perlakuan tak sopan dari seorang selir, tentu Zhen Xian tak akan mampu lepas dari hukuman yang ada.
Oleh karenanya, dan meskipun kesal juga marah. Jin Kai tak ingin hal itu dialami gadis tercintanya ini. Akan lebih baik jikalau dirinya saja yang menghukum, karena setidaknya hukuman yang mampu diberikan tak lain hanya berupa kurungan di Kediaman Chahua saja.
Tak mengherankan apabila kini ia mencengkeram sebelah pergelangan tangan Zhen Xian pun membawanya pergi. Biar kata gadis ini dengan sekuatnya meronta-ronta, ataupun memukul-mukul, Jin Kai tak mempermasalahkan atau berucap sepatah kata saja. Dan hal itu, kian menjadikan Que Mo yang mengekori khawatir.
Bukankah Putra Mahkota ini, terbilang cukuplah sabar untuk seukuran seseorang yang terlihat siap akan meledak? Rahang mengeras, netra nyalang bahkan terlihat jarang dikedipkan. Yang mana cengkeraman pada pergelangan tangan Zhen Xian sendiri terlihatlah membiru. Pertama kali, jelas ini pertama kalinya Jin Kai memperlakukan Zhen Xian sekasar ini secara fisik. Entah pertengkaran seperti apa pula yang akan terjadi setiba di kediaman nanti, akankah Jin Kai yang lepas kendali memukul Zhen Xian?
Tidak, hal itu jelas tidak boleh terjadi.
Namun, tepat ketika tiba di Kediaman Chahua, Que Mo telah lebih dahulu dihadang oleh Kasim Ma dan juga Lin Feng. Pintu kediaman pun tertutup serapat mungkin tepat setelah semua pelayan dan dayang yang ada keluar. Yang mana titah Jin Kai tadi terdengar cukuplah garang hingga para pelayan bahkan Dayang Yun sendiri masihlah memasang wajah terkejut.
Lantas, bagaimana dengan Zhen Xian di dalam sana?
Pun Que Mo kembali memondar-mandirkan diri sembari netra tak bisa lepas dari pintu kediaman, berharap sosok Jin Kai segera keluar dari sana. Akan tetapi, setelah beberapa menit berlalu hingga angin kembali berderu, tak kunjung pula pintu itu terbuka dan tak kunjung pula terdengar adanya suatu perdebatan di dalam sana.
Zhen Xian, kumohon padamu untuk tenangkan diri dan jangan bertindak gegabah. Jangan membuat Jin Kai kian marah atau kau benar-benar akan dalam masalah. Menengadahkan wajah, mulut tak hentinya menghela. Berharap saja jikalau angin yang masuk ke kediaman melalui celah-celah ini mampu menyampaikan pesan hatinya. Meskipun benar terdengar konyol, tapi situasi dan kondisi saat ini tak lagi mampu membedakan mana kekonyolan dan mana bukan. Selagi Zhen Xian aman, maka semua hal pun bisa dilakukan.
Namun, akankah pesan hatinya sungguh tersampaikan? Di kala penerima pesan itu sendiri bertindak layaknya tak akan mendengar ataupun menerima jenis suara atau ucapan apa pun, terutama dari sosok yang berhadapan dengannya kini.
“Mulai sekarang tinggallah di sini dan renungkan kesalahanmu.” Melepaskan cengkeraman, amarah yang menyala-nyala entah kenapa kian meredam. Apa mungkin karena netra meliriknya itu menangkap pergelangan kebiruan Zhen Xian? Oleh karenanya ia pun melemah? Bahkan tampak mampu memaafkan sikap ketidakhormatan seorang istri terhadapnya.
Akan tetapi, apa gunanya di saat sang istri malah tak sama sekali melunak? Melainkan, kian meninggikan wajahnya menantang. “Mengurungku dalam istana ini, menjebak orang terdekatku dan mengatur hidupku. Aku, bisa menerima itu semua, tapi ...! Jika kau menyakiti ataupun melukai orang terdekatku. Jangan harap aku bisa memaafkanmu, dan itu adalah hal yang kau lakukan padaku saat meminta diriku menjadi selirmu.” Memundurkan langkah, pun Zhen Xian memunggungi sang suami. “Sejak kau memilih cara itu ... aku tidak akan pernah memaafkanmu, menerima atau bahkan mencoba memahami dirimu. Semua yang kau lakukan sekarang, hanya akan menambah kebencianku.”
“Maka bencilah aku, menjadi selirku selamanya,” timpal Jin Kai, mengikis jarak lebih lagi. “Tidak akan pernah kubiarkan kau lepas ... tidak akan,” tekannya, membawa diri keluar sembari mengatur napasnya yang sukses mendatangkan embun di sepasang netra. Percayalah, embun itu akan luruh menjadi buliran air mata hanya dalam sekali kejapan saja.
Pun Jin Kai, mencoba semampu mungkin untuk tak membiarkan hal itu terjadi, menyingkirkan embun yang menghadang pandangan tersebut seraya mulut menitahkan untuk tidak membiarkan siapa pun bertemu, tidak pula mengizinkan Zhen Xian melangkah setengah langkah pun keluar dari pintu kediaman. Yang mana pula berarti, pintu kediaman tersebut akan terjaga selalu oleh prajurit yang ditugaskan olehnya.
Siapa pun yang berani mematahkan titahnya, bersiap akan akibatnya pula. Termasuk Dayang Yun yang tak lagi mampu sepenuhnya dipercayai kini. Bayangkan saja, bagaimana bisa seorang dayang sepertinya bahkan mampu dibodohi oleh seorang pelayan pribadi yang dulu hanyalah seorang pria jalanan tanpa nama? Que Mo, bukankah nama yang diberikan Zhen Xian? Jika tidak bertemu Zhen Xian maka tidak akan ada pula Que Mo.
Oleh sebab itu, baik itu Que Mo ataupun Dayang Yun. Dua orang tersebut termasuk dari daftar orang-orang yang tak diizinkan bertemu dengan Zhen Xian.
Kurungan, lebih baik untuk mereka semua.
__ADS_1
“Lin Feng ... mari kita mulai permainan yang sesungguhnya.”