
Menduduki peringat pertama atau menjadi yang terbaik, kadang memanglah tak selalu menyenangkan. Misalkan seperti saat ini yang dialami Zhen Chen, yang sebelumnya canggung berkat rasa asing seketika berubah menjadi suatu jenis kerisihan. Bagaimana tidak? Dan percayalah semua orang akan jika dalam posisinya, kecuali Zhen Chen tipikal orang yang menyukai jenis pujian berlebihan yang kian lama kian terdengar tak masuk akal. Semacam, mereka berlomba-lomba meluncurkan aksi tuk mengambil hati Zhen Chen yang berpeluang besar dalam memenangkan kompetisi.
Alhasil, Zhen Chen keluar dari kerumunan empat orang yang seluruhnya pria ini. tak mengatakan sepatah kata pun dan hanya membawa tungkai beberapa jarak jauhnya yang diakhiri akan suatu desahan.
“Empat orang?” lirihnya, menoleh kemudian ke belakang. Mendapati empat pria merisihkan tadi kini mendekati peringkat kedua dan ketiga. “Ke mana dua orang peserta lainnya?” Mengedarkan pandangan ke sekitaran, Zhen Chen akhirnya dibuat tersenyum. “Ketemu,” ucapnya yang mendekat kemudian.
Dua orang pria yang barangkali seumuran dengannya, mengobrol bersandarkan punggung pada pilar-pilar bangunan. Tak sama sekali ada niatan atau usaha untuk mencoba mendekati salah satu peringkat 3 besar. Entah karena memang begitulah sifat mereka yang tak terlalu ingin berusaha, atau memang karena mereka tak suka dan muak akan cara pengambilan hati yang dilakukan keempat peserta lainnya, entahlah apa pun itu alasannya. Namun, Zhen Chen menanggapi bahwa merekalah anggota tim yang pantas bergabung dengannya.
Tak heran, ketika Zhen Chen menawarkan tuk bergabung ke dalam timnya, kedua pria itu malah terdiam dalam keterpakuan pun netra tak bisa berkedip selama sesaat, dan ketika tersadarkan sekalipun keduanya hanya saling bertukar pandang tak percaya.
“Kau ... bukankah kau Zhen Chen si peringkat pertama?” tanya salah satunya, dan Zhen Chen membenarkan. “Kau yakin menginginkan kami berdua?”
“Itu karena aku tak tahan berada dalam tim yang sama dengan lainnya. Mereka hanya, mereka ....” Tak mengucapkan lebih, Zhen Chen justru berpikir mana kata yang lebih tepat untuk digunakan. “Kurasa kalian tahu maksudku apa, bukan?”
“Tentu saja, karena itu pula kami tak mau ke sana dan hanya menunggu siapa yang pada akhirnya akan memilih. Sungguh malas mendengar ucapan palsu bermulut manis orang-orang itu,” desah pria satunya lagi.
“Jadi ... apa kalian bersedia?” tanya Zhen Chen lagi.
Sementara mereka yang dimintai jawaban malah menjawab dengan kekehan. Mendiamkan Zhen Chen yang justru dibuat kebingungan akan maksud kekehan mereka ini apa sebenarnya. Apa tawaran yang diberikannya lucu? Pun saat itu pula, kedua pria yang belum diketahui siapa namanya ini mengulurkan tangan. Bukankah ini artinya setuju? Tidak salah, bukan? Dan Zhen Chen pun menerima uluran, berjabat tangan bergantian.
“Panggil aku Mo Zhu.”
“Dan aku Meng Jun.”
Dengan begitu, tim pertama akhirnya terbentuk, tim dua dan tiga yang masing-masing beranggotakan dua orang pun demikian, dan begitu nama tim telah dilaporkan pada panitia penyelenggara, seluruh peserta diarahkan ke sisi bangunan lain yang taklah begitu jauh. Harusnya masih menjadi satu kesatuan area penyimpanan bunga ini, bangunan yang tergantung papan nama bertuliskan keemasan ‘Departemen Dekorasi Kerajaan’.
“Baiklah, di sinilah kalian akan menghabiskan waktu memikirkan ide atau kompromi. Kalian juga bebas meminta bantuan dari bagian Departemen Dekorasi ini, jadikan mereka anggota tim kalian untuk sementara," beritahu si pria panitia penyelenggara, pada akhirnya pergi begitu saja yang barangkali memberikan ruang agar peserta lebih leluasa lagi dalam beradaptasi dalam lingkungan baru.
Alhasil, benar saja. Masing-masing dari ketiga tim berkumpul, saling mengobrol tuk lebih mengenal jauh. Tak terkecuali tim satu, Zhen Chen yang justru terlihat sangatlah dipenuhi semangat. Terlihat, layaknya telah dekat seolah telah berkenalan lama. Entah itu Zhen Chen yang memang pandai berinteraksi, atau memang karena Mo Zhu dan Meng Jun lah yang mencairkan suasana asing di antaranya.
“Kau sungguh luar biasa, pengetahuanmu akan bunga sungguh hebat. Apa kau telah lama bekerja di bidang ini?” tanya Mo Zhu, tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya yang menjalar jelas di keseluruhan wajah. Benar saja jika dirinya tak tahu, begitu pun Meng Jun. Karena mereka bukanlah asli dari Kota Yunnan-Fu, dan baru saja tinggal beberapa hari ini berkat kompetisi yang diadakan kerajaan.
“Benar ... keluargaku memiliki lahan bunga dan sudah bekerja di bidang ini selama turun-temurun, jadi aku sedikit banyak mengetahui hal-hal terkait bunga.”
“Turun-temurun? Zhen ... Tunggu?!” henti Meng Jun, otak jelas saja berputar keras. “Kau dari keluarga Zhen? Keluarga bunga yang sangat terkenal di Kota Yunnan-Fu?”
“Tidak, kurasa tidaklah sebegitu ....”
__ADS_1
“Whoaahh ... tidak heran kau begitulah hebat, Zhen Chen,” potong Mo Zhu, senyum-senyum menepuk-nepuk pundak Zhen Chen yang masih berusaha ingin menjelaskan bahwa keluarganya taklah sebegitu terkenal layaknya apa yang dipikirkan mereka.
Namun, baik Mo Zhu atau Meng Jun mengabaikan. Yang berakhir ikut tertawa dengan dua kenalan barunya ini, teman yang termasuk pula rekan tim. Tawa yang harus pula dihentikan segera, atau tim lainnya yang entah kenapa terlihat begitulah serius akan menelan mereka hidup-hidup lewat pandangan menajam yang diarahkan.
Berakhirlah, sebagai pemimpin Zhen Chen menghentikan tawa timnya. Kembali ke mode serius karena kompetisi memang belumlah usai, pun kemudian menetapkan anggota tim tambahan dengan bagian Departemen Dekorasi Kerajaan. Selain itu, meminta orang-orang dari istana ini memberi tahu atau barangkali menjelaskan sedikit saja orang seperti apa Putra Mahkota itu.
Seperti sikap atau karakter, warna kesukaan, kebiasaan serta hal yang tidak disukai dan hal lainnya. Dengan begitu akan memudahkan Zhen Chen, Mo Zhu dan Meng Jun memikirkan ide atau tema dekorasi seperti apa yang akan dibawakan pada babak akhir kompetisi ini. Setidaknya, hal itu sejalan dengan tema kompetisi ini, bukan?
“Taizi orang yang baik, setia juga ramah. Selain itu wajahnya sangat tampan dengan tubuh yang tinggi.”
“Juga, Taizi menyukai warna polos seperti putih, biru, hijau atau abu-abu dengan sedikit corak.”
“Benar, Taizi memang terbilang sering menggunakan warna pakaian itu di istana.”
“Mengenai hal yang disukai ... tidak ada yang tahu pasti. Taizi setiap hari hanya membaca dalam kamar atau tidak perpustakaan, menikmati teh dalam kamar, bermain catur, memanah, berlatih pedang dan sisanya hanya mengerjakan tugas resminya.”
Zhen Chen, Mo Zhu dan Meng Jun saling bertukar pandang setelah mendengar hal yang disampaikan anggota tim baru mereka. Tampak, belum menemukan titik poin yang membuat mereka puas.
Di sini pula akan terlihat, Mo Zhu dan Meng Jun rupanya orang yang mampu memilah kapan waktunya serius dan tidak. Siapa yang akan menyangka, bahkan Zhen Chen saja barangkali tak akan menyangka akan hal ini, dan itu kembali meyakinkan Zhen Chen bahwa dirinya memang taklah salah memilih rekan tim. Selain merasa bersahabat, tak perlu pula mengarahkan mereka hingga harus meninggikan suara layaknya tim dua dan tiga yang berakhir bubar menyisakan tim Zhen Chen saja kini.
Pun waktu terus bergerak maju, langit semakin jingga dan mereka masih saja sibuk akan rapat tim. Barangkali taklah sadar sudah berapa lama waktu berlalu, mulut terus saja berkoar mengeluarkan pendapat sebaik mungkin dengan Zhen Chen yang mendengar dengan saksama tanpa mengatakan apa-apa atau memotong hingga malam pun tak lagi mampu menahan tuk tak datang. Sang surya telah lelah menyaksikan, biarkan sang rembulan ditemani kerlipan bintang saja kini yang menguasai.
“Ayo, kita pulang bersama, aku sungguh sudah lupa jalan keluar istana ini,” ucap Mo Zhu dengan wajah lelahnya. “Ayo! Ayo!” Rangkulnya kemudian, dua teman barunya ini hanya bisa mengikuti tanpa protes.
Entah apa jadinya Mo Zhu jika benar tidak ada Zhen Chen, mungkin tidak bisa meninggalkan istana malam ini. Perihal Meng Jun, masih mendingan ingatannya, tak heran Zhen Chen dan dirinya harus menerangkan dengan baik-baik apa yang bisa dijadikan patokan untuk memudahkan ingatan.
Selain itu, istana ini kenapa begitulah sepi? Apa biasanya memang seperti ini atau memang hanya area dari Departemen Dekorasi saja yang seperti ini? Sangat sulit bertemu dengan seseorang yang bisa dimintai pertolongan, dan hanya sesekali saja akan berpapasan dengan beberapa prajurit jaga yang berpatroli barangkali. Namun, kian mendekati area gerbang utama, barulah terlihat banyak penjaga dan juga para dayang berlalu-lalang. Para dayang yang kembali mengingatkan Zhen Chen akan kejadian cambuk yang dialaminya dengan sang adik, entah apa pula yang sedang dilakukan adiknya kini. Seharian tak berjumpa, sungguh terasa aneh.
Akan tetapi, apa ini? Apa langit menjawab keinginan Zhen Chen? Mendapati sang adik menunggu di luar gerbang, membawa lentara yang digantung di ujung potongan kayu pun membawa tungkainya mendekat.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Tentu saja menjemputmu,” jawabnya, dan sang kakak serta merta mengambil alih lentera yang dibawakan tanpa lupa mengecek bahkan menghangatkan kedua tangan adiknya ini. “Aku baik-baik saja, belum lama aku menunggu.”
“Ehemm ... ehemm ...! Zhen Chen, apa dia kekasihmu?”
“Mo Zhu, tidak kusangka dengan wajah kalem itu dia punya kekasih.” Meng Jun menambahkan.
__ADS_1
“Apa yang kalian bicarakan. Dia adikku, Zhen Xian.”
“Adik?” tanya Meng Jun memastikan pendengarannya taklah salah dengar. “Kukira kalian pasangan.”
“Benar ... kalian bahkan tidak mirip sama sekali,” sela Mo Zhu, bergantian pun dengan cermatnya memerhatikan wajah dua saudara ini. “Sungguh tak mirip,” ulangnya.
“Kalian? Si ....”
“Dia Mo Zhu dan dia Meng Jun. Mereka teman baru juga anggota tim dalam kompetisi dekorasi,” beritahu Zhen Chen.
“Ahhh ....” Mengangguk-angguk paham. “Senang bertemu kalian. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Chen Ge, dia sungguh orang yang sangat baik dan dapat diandalkan.”
“Tentu saja, kami pun sudah tahu betul orang seperti apa dia,” balas Meng Jun, pun Mo Zhu menyetujui dengan sangat akan hal itu.
“Sudah malam. Kita berpisah di sini dan kembali bertarung dengan kesibukan besok,” sela Zhen Chen, jika tidak barangkali pembicaraan tak akan selesai yang mungkin pula akan berakhir ke kedai teh atau rumah makan. Sementara di rumah sana, ayah dan ibu pasti sedang menanti dengan khawatir.
Serta merta pula Zhen Chen menggandeng tangan adiknya bersama dengan lentera sebagai penerangan jalan. Meng Jun juga Mo Zhu pun mengambil arah berlawanan, saling berpamitan. Jujur saja, Zhen Xian senang mendapati sang kakak berteman dengan mereka yang terlihat memanglah dapat diandalkan dan juga, sangat cocok dijadikan teman berkat Mo Zhu yang terlihat humoris, dan Meng Jun yang terlihat lebih dewasa. Bukankah sangat cocok dengan Zhen Chen yang memiliki sikap agak pendiam dan terkadang agak serius?
Pun sepanjang perjalanan pulang ini, Zhen Xian tak hentinya menanyakan mengenai kompetisi hari ini. Tentu sang kakak menjelaskan sedetail mungkin tanpa melewatkan satu pun kejadian termasuk saat detik-detik Zhen Chen hampir kehabisan waktu di babak pertama.
“Apa sejauh itu lokasi sumurnya?”
“Hmm, aku juga tidak menyangka akan sejauh itu, tapi beruntunglah air di dalamnya sangatlah sejuk.”
“Apa pun itu, yang terpenting kau sudah berhasil, Ge.”
“Sedikit menegangkan diawal, tapi setelahnya menyenangkan,” ungkap Zhen Chen, mengembangkan senyuman. “Lain kali kau tidak perlu datang menjemputku. Kau seorang gadis dan bahaya saat sendiri di malam hari. Apa kau mengerti?”
“Tadi Que Mo yang mengantarku, setelah itu aku menyuruhnya kembali. Selain itu, aku tidak takut karena kau akan menemaniku seperti ini.”
“Jangan membuatku khawatir, itu membuat hatiku terluka ... sangat terluka.” Menghentikan langkah, pun menatap sang adik yang balik menatap. Seketika pula Zhen Xian memberikan pelukan hangat, tersenyum lebar. “Ge, aku mencintaimu. Selain Die dan Niang, kau adalah yang berikutnya.”
“Aku juga mencintaimu. Kau adalah adik yang sangat aku cintai.”
Siapa yang tak akan salah paham akan kedekatan mereka? Tentu menjadi suatu kewajaran barangkali, dan hal itu disaksikan pula oleh Que Mo yang berposisi tak jauh. Namun, Que Mo sudah tahu kedekatan dua saudara itu seperti apa, tak ingin pula menanamkan kecurigaan aneh-aneh. Lagian memang benar hanya mereka berdua saudara kandung yang dimiliki.
“Kalian di sini!” serunya, menghentikan aksi saling memeluk dua saudara itu. “Orang tua kalian sangat khawatir. Ayo segera kembali, mereka sudah menunggu kepulangan kalian untuk makan malam bersama.”
__ADS_1
Rumah memang akan selalu menjadi tempat terbaik, di mana pun dan kapan pun itu. Tidak peduli hari ini dilalui dengan sedih atau senang, tak akan ada yang mampu menggantikan kehangatan rumah apalagi keluarga yang menanti kepulangan di dalamnya. Layaknya keluarga penuh cinta dan sukacita keluarga Zhen ini, yang seketika ramai begitu anak-anak kembali. Pun aroma sedap dari makanan telah siap tuk disantap bersama dengan Que Mo yang tak kalah bahagianya.