
Pertemuan kembali, tersenyum bersama, melepas rindu serta khawatir yang tertahankan selama ini telah selesai dilakukan. Namun, satu hal yang belumlah selesai dan patut dikhawatirkan selalu. Apalagi jikalau bukan menyangkut Jin Kai selaku Putra Mahkota itu.
Pasalnya, Dayang Yun telah melaporkan apa yang telah dialami Zhen Xian. Entah apa pula alasan yang diberikan dayang tersebut hingga mampu terlepas dari amarah seorang Jin Kai, atau barangkali memang Putra Mahkota ini terlalu terkejut akan kabar yang didapat hingga tidak memiliki waktu untuk bersepakat dengan Dayang Yun. Padahal kepergian Zhen Xian dari istana belumlah sehari lamanya.
Tak mengherankan pula jikalau saat ini Jin Kai begitulah tergesa-gesa menunggangi kuda, yang mana mulut terus saja menyuarakan meminta orang-orang untuk minggir jikalau tidak ingin tertabrak lajuan kuda nan kencang ini. Ditemani Lin Feng pula yang tidak kalah tergesa-gesanya menyusul tepat di belakang.
Lantas, tidak apakah seorang Putra Mahkota bertindak serta membuat keributan seperti ini? Karena jika urusan resmi, tentu ia boleh bertindak sesuka hatinya. Akan tetapi, tindakannya saat ini tidak lain hanya karena urusan pribadi belaka. Andai saja sang Raja tahu, akan bagaimana sekiranya Jin Kai mendapat teguran? Di kala Jin Kai sendiri adalah gambaran tokoh sempurna di mata rakyat.
“AWAS! MINGGIR!”
Namun tetap saja, satu di antara banyaknya lalu-lalang orang-orang ini. Satu orang, tidak, barangkali seorang anak kecil? Mematung pun pandangan membulat akan hadirnya kuda yang siap menabrak. Pun Lin Feng yang mendapati sang Putra Mahkota masih tidak pula berhenti, akhirnya berseru menyadarkan.
Alhasil, barulah Jin Kai menarik kuat tali kekang kudanya yang sontak saja meringkik sembari kedua kaki depan terangkat, tepat di hadapan seorang anak yang nyatanya anak laki-laki ini. Menangis, tentu saja bocah ini menangis. Akan tetapi, alih-alih sibuk pada bocah itu, akan lebih tepat jikalau Lin Feng terlebih dulu sibuk pada Jin Kai yang terjatuh dari kuda, bukan?
“Taizi! Kau baik-baik saja?” Sembari membantu berdiri, memastikan kembali jikalau Jin Kai yang terdiam ini memanglah tidak terluka. Dan dirasa semua memanglah baik-baik saja, barulah Lin Feng menghampiri si bocah yang menangis tersebut, memastikan jikalau tidak ada luka untuk kemudian membawa si bocah ke sisi jalanan yang jauh lebih aman. Menenangkan, dan memastikan orang-orang sekitar yang menyaksikan ini tidak akan banyak bicara hal-hal aneh.
Tanpa Lin Feng sendiri sadari, jikalau Jin Kai masih saja terdiam ditempat. Akan tetapi, pandangan yang diarahkan ke suatu arah kini tampak begitulah tajam seakan mode elang-lah yang dipasangkan. Yang mana panggilan Lin Feng saja diabaikan, atau tepatnya tidak didengarkan.
“Taizi!” panggil Lin Feng lagi, menyentuh sebelah bahu Jin Kai yang sontak saja terkesiap. “Kita harus pergi, Taizi.”
Barulah Jin Kai kembali teringat, jika tujuannya adalah ke kuil. Tanpa lupa pula ia menanyakan kabar si bocah yang hampir ditabraknya tadi, dan Lin Feng hanya melaporkan apa yang memang menjadi kenyataan. Serta merta setelahnya Jin Kai kembali menunggangi kuda, kembali melanjutkan perjalanan tergesa-gesanya tadi. Namun, kali ini bukan hanya ketergesa-gesaan saja yang memenuhinya, melainkan pula pikiran tampak kosong seakan tertinggal di lokasi tadi.
Tidak mungkin ... aku pasti salah lihat. Benar, tidak mungkin Zhen Chen ... tidak mungkin. Berusaha pula ia membuang pikiran tidak-tidaknya itu, lagian apa yang disaksikan tadi tidaklah jelas. Bagaimana bisa Zhen Xian bersama seseorang yang telah tewas, bukan? Apalagi yang membunuh kala itu adalah Lin Feng, orang terpercayanya.
Dengan pemikiran itu pula, pikiran kalut berhasil disingkirkan. Pun perjalanan ke kuil dipercepat lebih lagi, tidak akan membiarkan Zhen Xian berlama-lama dalam kesakitan. Tidak akan. Tanpa diketahui pula, diam-diam Lin Feng yang mengekori tepat di belakangnya ini pun tampak dilanda pikiran kalut, yang mana pasang netra terus saja diarahkan pada Jin Kai alih-alih pada jalanan. Sampai pada akhirnya, di bawah terangnya rembulan yang menjadi penuntun perjalanan, mereka pun tiba.
Yang mana Jin Kai bertindak layaknya seseorang lupa akan tata krama, menerobos masuk begitu saja tanpa memedulikan beberapa biksu penyambut. Pun tidak perlu bagi biksu mengarahkan jalan, seakan telah tahu pasti arah dari kamar Zhen Xian tepatnya berada di mana.
Dayang Yun, jelas informan yang memberitahukan, bukan?
Namun, apa yang didapati Jin Kai kini bukanlah main. Kekhawatiran sekaligus ketakutan jikalau gadis pemilik hatinya akan dalam bahaya malah terjawab seperti ini.
Ke mana perginya Zhen Xian? Yang ada hanyalah berupa kekosongan dengan tertampilkan dua dayang bawahan tergeletak tidak sadarkan diri. Lantas, bagaimana bisa ia mampu mengendalikan kemarahan? Menitahkan Lin Feng untuk sesegera mungkin membangunkan dua dayang tersebut dengan cara apa pun dan secepat apa pun.
Pun Lin Feng berakhir memilih menyiram dua dayang tersebut dengan sebaskom air yang ada di kamar ini, barangkali sebelumnya untuk digunakan mencuci kaki Zhen Xian berhubung hari telah malam seperti ini.
BYURR!!!
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, dua dayang serta merta terbatuk-batuk. Kebingungan jelas melanda diri masing-masing mereka sembari mengedarkan pandangan pun berusaha menjernihkan pikiran barangkali. Yang mana sepasang netra mereka berakhir membulat, membangunkan tubuh hanya untuk mensujudkan diri kemudian dengan wajah tertunduk pada Putra Mahkota yang tidaklah tahu akan semarah apa jadinya.
“Di mana Selir Zhen?”
“T-Taizi ... i-itu ... ka-kami ....” Bertukar pandang, dua dayang ini pun berakhir memohon ampun sembari menempelkan kening pada lantai. Jangan tanyakan lagi bagaimana ketakutan dan gemetarnya tubuh mereka, yang mungkin tidak akan berani lagi meluruskan punggung membungkuk ini.
Akan tetapi, Jin Kai mana peduli dengan apa yang dirasakan dua dayang rendahan tidaklah berarti ini. Netra nyalang menajam malah diarahkan langsung pada Lin Feng, yang mana Lin Feng sendiri hanya mampu menurunkan pandangan sembari mulut mengucapkan maaf. “Tunggu hukuman dariku!” bentak Jin Kai akhirnya, dan bentakan itu pula menjadi penyambut kedatangan Dayang Yun yang tidaklah kalah terkejutnya. Seakan sepasang tungkai yang dilangkahkan selangkah demi selangkah mendekat ini akan segera kehilangan keseimbangan.
“Jelaskan padaku sejelas mungkin, adakah sesuatu yang aneh yang kalian lihat?!”
“Selir Zhen tadi ada di sini ... kami sungguh tidak tahu apa yang telah terjadi, Taizi.”
Jin Kai pun mengangguk-angguk paham, tapi tangan yang bergerak secepat angin itu malah meraih dan menarik gagang pedang yang dibawakan pengawal pribadinya, Lin Feng. Diarahkan pula tanpa ragu tepat pada dua dayang yang kian memohon ampun sembari isak tangis terdengar begitulah berisik.
“Itu t-tabib ... tadi kami membawa tabib untuk Selir Zhen dan setelahnya ... k-kami ... kami ....”
“Tabib?” tanya Jin Kai.
“Benar, tabib, Taizi. Setelah itu kami sungguh tidak tahu apa yang terjadi, terasa ... terasa seperti seseorang memukul dari belakang.”
Mendengar penjelasan itu bagaimana bisa kemarahan Jin Kai tidak kian meluap? Mengarahkan pula pandangan pada Dayang Yun semacam mencari pembenaran akan ucapan dari dua dayang bawahan ini.
Bagaimana bisa tugas semudah ini saja masih saja lolos dari penjagaan, bukan? Sudah cukup pula rasanya terus didampingi oleh bawahan tidaklah becus, dan buat apa pula terus dipertahankan, bukan? Lantas, hukuman apa yang paling pantas dijatuhkan pada mereka yang tidaklah becus bekerja? Hitung-hitung hukuman itu haruslah mampu meluapkan amarah seorang Jin Kai.
Alhasil, inilah yang menjadi pemandangan kini. Satu demi satu dayang, tak terkecuali pula Dayang Yun. Tergeletak dengan pasang netra terbuka, darah pun ikut memenuhi lantai untuk kemudian mengalir hingga mengenai area pijakan Jin Kai sendiri. Namun, kematian tiga dayang tersebut tampaknya tidaklah memuaskan Jin Kai sama sekali. Yang mana ia malah mengarahkan pedang bersimbah darah tersebut pada pemiliknya, Lin Feng yang sama sekali tidak bergerak ataupun menghindar dari posisinya.
“Beraninya kau ... BERANINYA TERHADAPKU!”
Pun Lin Feng bukannya gentar, malahan pengawal pribadi ini mengarahkan pandangan lurus pada Jin Kai. Biar kata memanggil Putra Mahkota, tapi siapa yang tahu jikalau maksud dari balik pandangan itu adalah apa. Yang dipahami Jin Kai sebagai bentuk pembenaran, dan tidak ada niatan bagi teman terdekatnya ini untuk menyangkal ataupun membela diri apalagi meminta pengampunan.
Oleh karenanya, Jin Kai kian mendekatkan lagi pedang nan tajam ini, menggores leher Lin Feng hingga darah tidak lagi terhindarkan. Mengalir begitu saja di kala Lin Feng sendiri telah memejamkan sepasang netra penuh kepasrahan. Pun sebulir cairan bening, meluruh dan menapaki jelas pada sebelah pipi pengawal pribadinya ini.
“Terima hukumanmu ... aku tidak akan mengampunimu.” Pedang dijatuhkan, dentingan ketika bertemu dengan lantai memenuhi pendengaran. Serta merta Lin Feng membukakan kembali sepasang netra sembapnya, mendapati Jin Kai telah berlalu pergi dari kamar ini dengan terburu-burunya.
Maaf ... maafkan aku, Jin Kai. Tanpa ragu Lin Feng mensujudkan diri, membungkuk sebanyak tiga kali hanya untuk kemudian merasakan embusan angin kian mengencang membunyikan lonceng angin. Dan dentingan loncengan angin itu pula menjadi pertanda, jikalau istana kini, atau tepatnya barak dari tempat pasukan Zhu berada. Jin Kai memimpin, memerintahkan mereka untuk sesegera mungkin membawa Zhen Xian kembali, menutup seluruh gerbang kota, menyebarkan potret Zhen Xian dan membunuh siapa pun yang berusaha membawanya pergi.
“Lakukan, dan jangan pernah melaporkan kegagalan padaku! Apa kalian mengerti?!”
__ADS_1
“Baik! Baik! Baik!”
Pun Jin Kai meminta seluruh pasukan bergerak, jangan menunda bahkan jika itu hanya sekejap mata saja. Memercayakan pula pada Komando Zhu, yang tentunya menjadi suatu kehormatan tersendiri bagi pria tersebut.
Jikalau sudah seperti ini, bahkan tikus saja takutnya tidak akan mampu lepas, bukan? Apalagi mereka yang merupakan manusia, bagaimana bisa lepas dari penjagaan dan pencarian? Di saat kota ini adalah area kekuasaan Jin Kai, Jin Kai yang bahkan tidaklah melaporkan kejadian pastinya pada Raja dan malah bertindak sendiri seperti ini. Apa sekiranya Raja sungguh mampu menolerir hal ini? Di kala Raja dahulu pernah mengatakan, jikalau ia tidak membunuh Zhen Xian bersamaan dengan keluarga Zhen lainnya hanya jika gadis itu tidaklah ataupun berniat membalas dendam.
Oleh sebab itu, kaburnya Zhen Xian saat ini, akankah dianggap dan disalahpahami Raja? Yang mana mungkin itulah kenapa, Jin Kai tidak turut serta ke lapangan untuk mencari Zhen Xian kini. Menemui Raja dan menyudahi kesalahpahaman mungkin akan menjadi langkah yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
Namun, bagaimana kabar dan di mana pula Zhen Xian kini berada? Di kala kota sungguhlah kacau, sana-sini hanya terlihat pasukan bertugas sembari membawa obor pun selembar potret lukisan Zhen Xian.
Harusnya, Zhen Chen tidak akan sebodoh itu untuk tetap bersembunyi di kota, bukan? Sudah seharusnya ahli sekaligus jenius muda bunga ini telah merencanakan sesuatu, bukan? Setidaknya tempat untuk bersembunyi, harusnya telah dipersiapkan jikalau ingin membawa kabur Zhen Xian pun Que Mo, bukan?
Maka, inilah tempat persembunyian yang ada. Di balik rerimbunan pepohonan dan semak-semak, dipenuhi pula akan desauan angin, suara-suara hewan seakan meramaikan kesunyian malam, pun suatu kehangatan dari api unggun kecil ikut bergabung. Meskipun api unggun ini tidak mampu menghangatkan seluruh hutan, tapi setidaknya mampu menghangatkan keberadaan mereka yang terduduk dalam suatu gua. Terlebih menghangatkan gadis itu, yang terlelap dalam tidur nan damainya.
Menyaksikan hal tersebut, sebagai pelayan pribadi yang selalu bersama di istana. Que Mo cukuplah tenang pula, sebelum akhirnya memalingkan wajah menghadap Zhen Chen yang sibuk menjaga api unggun untuk tetap menyala.
“Ceritakan, di mana kau selama 2 tahun ini dan bagaimana kondisimu?”
Tidak serta merta pria ini menjawab, tapi dari reaksi saja Que Mo cukup tahu jikalau hal yang telah dilalui tidaklah mudah untuk diceritakan. Namun, Que Mo mampu menanti selama apa pun itu sembari memecahkan suasana keterdiaman ini. “Aku mendapat luka ini, kala bersujud dan memohon pada Jin Kai untuk menghentikan pembantaian malam itu,” jelas Que Mo, melepaskan lilitan kain yang menutupi keningnya. “Bagaimana ... keren, bukan?” ucapnya lagi, terkekeh.
“Saat itu Lin Feng membawaku keluar dari kebakaran, membawaku ke tabib pula. Tentu saat itu kondisiku sangat parah dengan luka tusukan di area sekitar jantung, membuat diriku koma layaknya orang mati, tapi ... tusukan yang diberikan Lin Feng tidak mengenai area fatal dan berkat itu aku masih bisa diselamatkan,” ucapnya mulai memberi tahu, mendesah seraya tangan dibiarkan menyentuh dada yang merupakan bagian dari luka tusukan yang ada. "Selama masa penyembuhan, demi menghindari masalah. Lin Feng membayar mahal tabib tersebut hanya untuk membawaku keluar dari kota ini ke Dali.”
“Lalu kapan tepatnya kau kembali ke kota ini?”
“Kurasa sekitar tiga bulan lalu. Entahlah, aku sendiri tidak tahu karena banyak hal yang harus kulakukan sembari mencari-cari peluang untuk mampu berkomunikasi dengan kalian. Menimbang-nimbang pula, tidak apakah jika melibatkan Meng Jun dan juga Mo Zhu? Kurasa itu salah satu pikiran dari sekian banyak pertimbangan yang kubuat.”
Pun Que Mo sadar, menceritakan semua pengalaman tak menyenangkan itu di saat ini bukanlah hal yang tepat. Akan lebih baik jikalau menanti saja, bukan? Lagian akan ada banyak kesempatan ke depannya, dan saat itu harusnya Zhen Chen sendiri akan lebih leluasa menyampaikannya.
“Zhen Xian ... sangat merindukanmu. Dia bertahan selama 2 tahun dalam istana hanya untuk menunggumu, hingga akhirnya pagi tadi ....” Menggantungkan ucapan, Que Mo baru teringat jikalau hal-hal yang telah diperbuat Jin Kai tidak seharusnya diungkit sekarang juga, bukan? Akan seperti apa pula sakitnya hati Zhen Chen jika tahu, dan obrolan ini bukannya mengalihkan suasana malah akan memperburuk keadaan saja.
Namun, Zhen Chen si ahli dan jenius muda bunga ini bereaksi seakan ia telah tahu dan mendengar kabar tersebut. Apa barangkali Meng Jun dan Mo Zhu yang melaporkan? Karena jika bukan mereka, lantas siapa lagi? Hanya saja ... belum lama ini, Zhen Chen sendiri yang mengatakan jikalau ia takut melibatkan Meng Jun dan Mo Zhu, bukan? Apa sekiranya ada jenis bantuan lain yang membantu Zhen Chen? Bantuan yang barangkali memampukan ia masuk dengan aman ke kota Yunnan-Fu ini.
“Apa pun yang terjadi ... Xian’er tetaplah Xian’er, dan aku akan membawa dia pergi. Apa pun yang terjadi, apa pun,” tekannya, mengarahkan pandangan sembari membawa diri mendekat hanya untuk kemudian mengecup hangat kening gadis terlelap ini. Seakan kecupan itulah pengesah akan ucapan penuh keyakinannya barusan. Mendapati pula, gadis pemilik hatinya ini menggenggam barang yang tidaklah asing. Kantong wewangian bercorak chahua merah muda, satu-satunya yang ada di dunia karena dibuat langsung oleh Zhen Xian sendiri.
Yang mana pada akhirnya, kantong wewangian bersejarah itu kembali sudah ke pemilik aslinya. Tak heran apabila Zhen Xian yang terlelap kini tersenyum, menjadikan siapa pun yang melihat akan siap mengkhianati ataupun melawan dunia hanya untuk mendukung kebebasan dan kebahagiaan terkungkungnya selama ini.
“Waktunya kita mendiskusikan rencana pelarian, Zhen Chen.” Dan yang dipanggil pun menoleh, kembali ke posisi awal dengan memasang wajah teramat serius. Seakan Zhen Chen siap memberitahukan suatu hal penting sebelum mendiskusikan rencana pelarian.
__ADS_1
Namun, hal apa itu sekiranya? Que Mo sendiri hanya bisa terdiam, dan siap mendengarkan. Sementara untuk berhasil atau tidaknya pelarian mereka, biarkan langit yang memutuskan dan mereka cukup berusaha saja demi membebaskan diri dari tangan Jin Kai. Setidaknya, itulah kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup mereka ini, bukan?