
Sang surya berada pada puncak tertingginya, di bawah sinar tersebut pula para pekerja satu persatu membubarkan diri seraya peluh bercucuran menghiasi wajah mereka yang menyeka pun menjauhi hamparan bunga. Sedikit saja angin berembus barangkali akan membawa sedikit kesejukan. Akan tetapi, ke mana angin yang biasanya berembus telah pergi? Semacam curamnya tanah menjulang yang mengelilingi area inilah yang menghadang.
Namun, siapa wanita tua yang menjejakkan langkah demi langkah mengikis jarak dari kediaman keluarga Zhen ini? Sebelah bahu membawa suatu bundelan kain, yang mana punggung wanita yang barangkali berada di usia akhir 50an ini telah membungkuk sembari pandangan bertemu dengan pekerja lainnya tampak begitulah menghormatinya.
Bibi Liang, begitulah orang-orang memanggil. Di mana Bibi Liang sendiri terus saja menyunggingkan senyuman, memperjelas garis-garis keriput yang memenuhi wajahnya. “Aku baik-baik saja, sungguh senang mampu kemari lagi setelah pergi hampir dua tahun lamanya,” ucapnya, netra berbinar-binar menandakan ucapannya memanglah serius.
Lagian memang betul, siapa yang tidak akan berbinar-binar ketika datang kemari, bukan? Keindahan dan kedamaian yang ada di sini, tiada duanya. Padahal ini bukanlah kampung halamannya, melainkan tempat yang sudah lama menjadi tempat di mana ia melayani keluarga Zhen dihampir sepanjang usianya.
Yang mana Tuan dan Nyonya Zhen tepat di teras rumah lurus mengarahkan pandangan pada sosok pria muda yang terduduk pada pinggiran lahan bunga, tertunduk dalam lamunan seakan teriknya sang surya tak lagi dirasakan.
“Kenapa Zhen Chen terlihat begitulah murung?”
Barulah dua orang tua Zhen Chen ini tersadarkan jikalau ada seseorang yang mendekati mereka, dan seseorang tersebut bukanlah orang lain melainkan seseorang yang sudah dianggap layaknya keluarga sendiri. “Bibi Liang,” ucap keduanya bersamaan. “Bibi, apa masalah di desamu telah usai?” tanya Nyonya Zhen kemudian.
“Jangan khawatir, semua sudah beres. Jika belum aku tidak mungkin kemari, bukan?” timpal Bibi Liang. “Tapi, ada apa dengan Zhen Chen?”
Pertanyaan itu pun sukses membingungkan sepasang suami-istri ini, bertukar pandang. Bagaimana harus menjawab? Tidak apa-apakah memberitahukan kenyataan pada Bibi Liang?
Namun, balik lagi pada kenyataan, kalau keluarga Zhen ini telah berada di bawah pelayanan wanita 50an tahun ini selama dua generasi sudah. Di mana kenyataan bahwa Zhen Chen bukanlah putra kandung Tuan dan Nyonya Zhen saat ini bukan lagi rahasia bagi Bibi Liang.
Sedangkan Bibi Liang sendiri sudah dianggap seperti satu-satunya tetua yang masih ada, jadi tak perlu merahasiakan apa-apa lagi terkait kecurigaan mereka akan keanehan sikap Zhen Chen yang murung ini. Pun pernikahan Zhen Xian yang kini telah menjadi seorang selir, tak pula dilewatkan.
Namun, hanya satu hal yang tak akan pernah diberitahukan pada Bibi Liang, terkait kenyataan siapa orang tua kandung Zhen Chen, dan jikalau Zhen Chen memiliki nama asli yang tak lain adalah Wei Lang. Biarkan hal itu, selalu menjadi satu-satunya rahasia yang tak perlu diketahui orang lain.
Pun Bibi Liang berakhir mengarahkan pandangan pada Zhen Chen, di mana sepasang indra pendengaran dibiarkan terus mencerna kisah dari Tuan dan Nyonya Zhen secara bergantian. Apa mungkin, wanita tua ini menangkap sesuatu? Yang mana ketika cerita telah usai didengarkan, tanpa segan ia membawa diri mendekati Zhen Chen. Akan tetapi, langkah mendekat itu terhenti, dan malah menoleh ke belakang serius memandang secara bergantian Tuan dan Nyonya Zhen sembari langkah diarahkan kembali mendekati mereka.
“Kenapa kalian tidak memberitahukan kenyataannya pada Zhen Chen?” Dan jawaban yang didapat adalah keterdiaman, baik dari Tuan Zhen ataupun Nyonya Zhen sendiri. “Dia sudah dewasa, sudah waktunya tahu kenyataan kelahiran sesungguhnya yang dia miliki.”
Berakhir, ketiganya memandangi Zhen Chen. Zhen Chen yang tak akan sadar berapa lama pun mereka memandangi, karena dunia pikiran ahli bunga dan sekaligus Ketua Departemen Dekorasi Kerajaan ini telah terlalu jauh berkelana, mengobrak-abrik apa yang sebenarnya ada di dalam hati miliknya sendiri, keputusan seperti apa dan apa pula yang harus dilakukan untuk kebaikan sang adik. Apa benar, dengan menjauhi sang adik akan membuat segalanya jauh lebih baik? Dan bagaimana menjelaskan perasaan yang tak mampu berpisah dengan sang adik? Apa ini normal atau justru tidak? Jika menanyakan pada ayah dan ibu, akankah mereka menganggap perasaan yang dirasakannya ini aneh?
Di mana ketika kegelapan malam mengambil alih sekalipun, Zhen Chen masih saja dirundung dilema. Sebagai orang tua, bagaimana bisa bersikap seperti tak terjadi apa-apa, bukan? Apalagi ini Zhen Chen yang mengalami, pria muda yang biasanya dipenuhi pikiran positif dan sangat mudah menyelesaikan permasalahan yang ada. Namun, belakangan ini tampak tak mampu menyelesaikan sedikit pun masalah yang ada.
“Niang ... Die, kalian belum tidur?”
“Bagaimana bisa tidur jika kau terus-terusan seperti ini, Chen’er,” jawab ibu. “Apa sesuatu terjadi di istana? Atau justru itu Xian’er permasalahannya?”
“Semua baik-baik saja, Niang.”
__ADS_1
“Kau tahu kami akan selalu mendengarkan apa pun masalahmu. Jika kau tidak ingin mengatakan sekarang tidak apa-apa. Hanya saja kau harus ingat, kau tidak sendiri, Chen’er, masih ada yang menemanimu,” tambah ayah, menepuk-nepuk pundak putranya ini dengan penuh kemantapan yang berefek menyalurkan semacam energi keyakinan pada Zhen Chen yang memanglah bertingkah demikian adanya.
Desahan, itulah yang Zhen Chen keluarkan, mengosongkan lebih kerongkongan agar tak tercekat dengan apa yang ingin sekali disampaikan oleh lidahnya. Yang mana netra berembun, bergantian diarahkan pada kedua orang tuanya yang siap menanti akan ucapan Zhen Chen itu sendiri.
“Aku hanya sedang bertarung dengan pikiran serta hatiku,” ucapnya, bermula. “Tidak tahu harus berbuat atau bertindak seperti apa, semakin kupikirkan semakin membuatku kacau, semakin membawa ke suatu jawaban yang tidak masuk akal, tapi ....” Menggantungkan ucapan, dirinya tampak meragu akan terus mengucapkan atau tidak. “Justru jawaban itu membuat semua tampak jelas, tapi bagaimana bisa ... bagaimana bisa aku ...?” lanjutnya, kegelisahan menguasai.
Apa ini sungguh Zhen Chen? Karena ayah dan ibu tidak pernah melihat putra angkat mereka yang sudah seperti putra kandung ini bersikap demikian.
“Itu Xian’er, bukan ...? Apa yang ada dalam pikiranmu itu.”
Yang mana ucapan ayah tersebut sukses menjadikan lidah Zhen Chen keluh, kedua tangan terkepal erat seraya degupan jantung seakan berhenti seketika. Dunia tak mungkin berhenti, bukan? Atau berusaha membisikkan sesuatu pada dua orang tuanya, bukan?
Bagaimana bisa ayah tahu? Apa sebegitu kentaranya ia memikirkan sang adik? Pun ibu sontak memejamkan sepasang netranya, paham jawaban atas pertanyaan sang suami adalah benar adanya.
“Apa yang dikatakan Bibi Liang tampaknya memang benar, kau sudah dewasa ... sudah waktunya kau tahu,” ucap ayah, menolehkan pandangan tertunduk Zhen Chen lurus kepadanya. “Ada sesuatu yang perlu kami sampaikan padamu, dan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk itu. Biar bagaimanapun kau pantas mengetahuinya, Chen’er.” Dan mungkin ini akan membantu sang putra, keluar dari dilema pikiran hati dan pikiran yang taklah sejalan itu.
Bukankah hal ini akan cukup membantu? Lagian mengetahui latar belakang sesungguhnya, adalah suatu hak tersendiri bagi Zhen Chen. Yang mana rahasia boleh saja dilakukan pada orang lain, tapi tidak pada Zhen Chen pastinya.
“Die, apa maksudmu?”
“Cepat atau lambat kita harus memberitahunya. Kita tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini seumur hidup, paling tidak untuk Chen’er.”
Alhasil, ayah membawa Zhen Chen masuk ke dalam rumah. Selain udara malam yang suhunya kian rendah, ucapan yang akan disampaikan bukankah sangatlah sensitif? Jika sampai ada yang mendengar, akan seperti apa bahaya yang datang mungkin tak akan terbayangkan. Bahkan Bibi Liang saja, orang terlama yang mereka kenal taklah mereka beritahukan terkait kenyataan Zhen Chen, bukan?
Maka, di sinilah mereka bertiga. Duduk pada meja makan, di mana Zhen Chen berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Jujur saja, Zhen Chen merasa tak enak akan situasi dan aura keseriusan yang teramat dirasakan ini. Terpancar cukuplah kuat, terutama dari sang ayah yang lekat memandang.
Oleh karenanya, Zhen Chen berakhir menanyakan alasan kenapa mereka begitulah bersikap aneh, tapi jawaban yang didapat tak cukup memuaskan Zhen Chen sendiri. Jikalau demikian, lebih baik menunggu saja kapan ayah siap memberitahukan sesuatu penting itu, bukan?
“Tidak peduli apa pun yang kau dengar. Die dan Niang akan selalu menjadi bagian serta keluargamu, apa kau mengerti?” tanya ibu seraya mengulurkan sebelah tangannya meraih tangan Zhen Chen di atas meja ini. “Kau sungguh suatu berkah teramat besar dalam keluarga ini, Chen’er.”
Pun Zhen Chen mengangguk biar kata tak begitu paham. Mengarahkan pandangan pada sang ayah, siap mendengarkan.
“15 tahun lalu. Tak jauh dari rumah ini kami bertemu dengan seorang wanita yang terluka parah di sekujur tubuhnya. Seorang wanita yang membawa anak laki-laki yang berusia sekitar 1 tahun waktu itu,” ucap ayah, memulai kembali kisah masa kelam tersebut. “Wanita itu meminta kami untuk menjaga anak laki-laki yang dibawanya. Memberi tahu namanya adalah Wei Lang, putra dari Jenderal Wei,” lanjut ayah, yang mana Zhen Chen seketika meminta berhenti, tak perlu melanjutkan lagi.
“Itu tidak benar, bukan? Apa yang ada dalam pikiranku, itu tidak benar, bukan?”
__ADS_1
“Itu benar, anak itu adalah kau ... Chen’er,” ucap ayah, yang mana menyepikan suasana dan situasi. Membiarkan suara-suara serangga malam memenuhi indra pendengaran sembari keriuhan angin di luar sana begitulah jelas terdengar.
Apa mungkin alam senang? Senang akan kenyataan yang terkubur selama 15 tahun akhirnya tersampaikan pada Zhen Chen? Atau ... justru sebenarnya alam merasa sangat prihatin? Karena mendapati Zhen Chen, si ahli dan jenius muda bunga ini meluruhkan air mata di sepasang netra mendungnya, bergantian memandangi ayah dan ibunya berharap ini taklah nyata.
Bagaimana pula jikalau kerajaan tahu, atau parahnya Raja tahu akan kenyataan ini? Bukankah keluarga Zhen ini akan berada dalam bahaya? Bukankah pada akhirnya, ia adalah sumber masalah dalam keluarga? Yang mana mulut tak lagi mampu mengucapkan sepatah kata pun, kenyataan akan situasi berbahaya yang menyelimuti keluarga Zhen jauh lebih menakutkan ketimbang kenyataan siapa dirinya.
Pun panggilan berkali-kali yang dilakukan ibu, tak digubris sama sekali oleh Zhen Chen seakan indra pendengaran menolak untuk mendengarkan. Yang mana gumaman demi gumaman, itulah yang pria muda ini lakukan. “Keberadaanku ... pada akhirnya hanya membawa malapetaka dalam keluarga ini.”
“Chen’er, tidak pernah sekalipun kami berpikir seperti itu. Berkatmu keluarga ini bahagia dan berkatmu Xian’er hadir dalam keluarga ini, meramaikan keluarga ini seperti yang kau dan kita rasakan selama ini.” Meyakinkan, ibu pun tak lagi sanggup menghentikan air mata untuk tak mengalir.
“Tapi tetap saja ... a-aku ... a-aku ....”
“Itu semua hanya masa lalu. Sekarang kau adalah Zhen Chen, putra kami,” tegas ayah. “Tidak ada hubungan dengan Jenderal Wei sama sekali. Itu kami yang membesarkan dan merawatmu, maka kau adalah putra kami.”
“Bagaimana jika ... j-jika suatu saat kalian terluka karenaku? A-ku ... a-apa yang harus aku lakukan?”
“Die dan Niang tidak akan pernah menyalahkanmu,” jawab ayah, yakin. Karena memang itulah kenyataannya. Zhen Chen adalah Zhen Chen, dan Wei Lang adalah Wei Lang. Mereka jelas dua orang yang berbeda, karena di mata kedua orang tuanya itulah yang ada.
Bukankah beginilah harusnya keluarga? Saling menenangkan dan saling menghibur. Di mana selama proses tersebut, tak ada siapa pun di antara ketiganya mampu membendung lagi tangisan, terlebih Zhen Chen yang mencurahkan semua kesedihan dalam pelukan ibu dan ayahnya. Mengubah rumah yang biasanya dipenuhi tawa, menjadi tangisan.
Sejak itu, Zhen Chen bukan hanya menghindari pertemuan dengan sang adik, melainkan berhenti mendatangi istana selama beberapa minggu, menghabiskan waktu sendiri dalam kamar pun berkutat dengan pikiran serta hal yang terjadi tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Di kala itu pula, sosok Bibi Liang selalu menemani. Ayah dan ibu tepatnya yang meminta bantuan wanita tua tersebut, siapa tahu Zhen Chen akan lebih mendengarkan ucapannya, yang mana Zhen Chen memang begitu menghormati Bibi Liang yang telah dianggap seperti seorang nenek barangkali.
Namun, sekiranya seberapa lama Zhen Chen akan membatasi pun menenggelamkan diri dalam kegelapan ciptaannya ini? Yang mana dilema kian besar, karena memang betul risiko akan kenyataan kelahiran yang baru diketahui ini sangat besar dan tak bisa dianggap remeh. Lantas, keputusan apa yang harus dilakukan? Keputusan apa pula yang harus dibuat? Dan siapa pula yang akan sukses atau membantu dirinya bangun dari pikiran gelap? Menarik dirinya kembali menjadi Zhen Chen yang dulu ke dunia yang lebih terang dan penuh warna layaknya bisnis keluarga mereka di bidang pemasok bunga.
‘Terkadang, kita harus mendengarkan dan menuruti perkataan hati, menyisihkan perkataan pikiran. Oleh karena itu, Zhen Chen ... turuti kata hatimu jikalau sudah memberitahukan apa yang harus dilakukan’.
Itulah apa yang diberitahukan Bibi Liang, dan selalu Zhen Chen ingat. Belum lagi ayah dan ibu juga membenarkan akan ucapan itu, selalu mengulurkan tangan jikalau Zhen Chen butuh mengakhiri dilema, keluar dari diri yang dibatasi tembok. Kapan pun itu, dan berapa lama pun itu tidak akan menjadi masalah.
“Kami akan selalu di sisimu, Chen’er.”
Serta merta Zhen Chen membukakan sepasang netra, mendapati sosok ayah dan ibu bekerja di lahan bunga bersama para pekerja. Tersenyum, di mana netra pada akhirnya diarahkan pada chahua yang baru saja mekar tepat ketika mendapat pandangan lekatnya.
Lindungi yang masih hidup, lindungi keluarga ini. Kubur dan hilangkan kenyataan di balik kelahiranku. Menengadah, menatap langit biru berawan tipis dari teras rumah yang kembali memekarkan satu lagi chahua tanpa sepengetahuan Zhen Chen sendiri. “Kalian ... mendukung keputusanku, bukan?” tanyanya, melirih.
Yang mana awan mewujudkan satu kata ... 'tentu'.
__ADS_1