
Hutan bagai terbangun yang seolah mengusir siapa pun tuk menginjak areanya barang sejenak saja, tapi bagi si pelayan deruan angin justru membantunya dalam meredam napas memburu dan erangan yang tentunya tak ingin terus-terusan dia keluarkan.
Namun, langkah yang mengejar semakin mendekati dirinya masih begitulah jelas. Sejelas ratu malam yang menggantung, menjadi saksi perjuangan di mana Wei Lang kecil terus memerhatikan seolah memanjatkan doa.
“Menyerahlah! Kau hanya seorang pelayan, kenapa harus menyulitkan dirimu?!” Terus melangkah, pandangan mengedar tanpa ketakutan atau keprihatinan. Benar memang, sebagai seorang Ketua Prajurit bagaimana bisa takut hanya pada seorang pelayan, bukan? Namun, keprihatinan ... ke mana jenis perasaan itu bersembunyi?
Pun Wei Lang kecil mulai menangis, barangkali merasakan aura manusia-manusia tak berperasaan ini menodai perasaan murni miliknya. Kepanikan tentu saja melanda si pelayan, tak ada cara ataupun pilihan lain selain kembali melanjutkan pelarian yang entah kapan akan berakhir ini.
Panah kembali melesat-lesat, beradu dengan kecepatan si pelayan yang bahkan desingannya begitu mendominasi deruan angin. Oleh sebabnya, si pelayan tak berani sama sekali menoleh ke belakang, berfokus pada pijakan tuk tak kembali tersandung. Namun, seberapa lama memang si pelayan rumah biasa sepertinya mampu menghindar? Pun tajamnya mata panah sukses membelah panah lain yang menghalangi jalan, menancap yakin di punggung si pelayan yang tak lagi mampu menyeimbangkan pijakan, disambut pula oleh curamnya tanah yang membawa si pelayan dan Wei Lang kecil ke dalam sana. Wei Lang yang menangis dan si pelayan yang mendekap kian erat.
Pun para prajurit pengejar berdiri pada pinggiran curamnya tanah, merunduk memastikan. Namun, gelap, bayang-bayang sedikit saja tak mampu tertangkap termasuk pula tak ada suara apa pun, bahkan tangisan Wei Lang kecil tak lagi ada.
“Periksa mereka!”
Ratu malam yang menggantung saja tak lagi sanggup menyaksikan, tak heran awan hujan berkumpul menutupi menambah kegelapan. Sedangkan para prajurit melemparkan satu demi satu obor. Selain memastikan apakah kedua manusia buruan itu hidup atau mati, memastikan pula kedalaman curamnya tanah yang berakhir membawa para prajurit pergi dengan keyakinan penuh bahwa buruan mereka tak mungkin atau mampu selamat.
Sama halnya dengan suasana kediaman Jenderal Wei, tanda-tanda kehidupan barangkali sudah beberapa jam lalu berakhir. Mayat bergelimpangan, bercak dan anyir darah yang masih menguar adalah bukti kekejaman dan kebrutalan yang terjadi, bahwa pernah ada sekumpulan besar keluarga hangat hidup sebelumnya.
“Yang Mulia,” sapa semua prajurit, hormat tanpa berani mengangkat wajah barang sedikit saja.
Raja sama sekali tak mengindahkan penghormatan yang didapat, justru pandangan angkuh memandang mayat sang jenderal dengan penuh kepuasan. Namun, tak bisa dipungkiri pula jika ada suatu kesedihan jauh dalam sepasang netranya itu, dan raja tak ingin berlama-lama terlarut dalam perasaan yang barangkali membawanya kembali mengingat masa-masa lalu. Bagaimana seorang Jenderal Wei berjuang dan memberikan peluang baginya untuk naik takhta, bahkan menjadikan rakyat hidup dalam kedamaian kini.
“Urus mayat si pengkhianat ini dengan baik,” titahnya. “Tapi ... kenapa aku tidak melihat mayat istri juga anaknya?”
“Lapor Yang Mulia, mereka kabur ke dalam hutan. Ketua kami dengan sendirinya memimpin beberapa prajurit mengejar.”
Tak percaya atau tak puas mendengar penuturan tersebut, raja lekat memandang prajurit yang menjawab. Jelas bukan ini hal yang ingin didengar, melainkan melihat sendiri mayat kedua orang yang sangat disayangi si jenderal semasa hidup itu ada dan tergeletak di hadapannya.
Oleh karena itu, jangan heran jika raja bertindak seakan siap menebas si prajurit mengesalkan ini. Pedang yang terangkat itu pun serta merta memunculkan kembali ratu malam dari persembunyian awan mendung yang bergemuruh. Saat itu pula, Ketua Prajurit dengan beberapa pengikutnya hadir, meletakkan mayat Ny. Wei berdampingan dengan sang suami, Jenderal Wei.
“Bagaimana dengan anaknya?”
“Lapor Yang Mulia. Anaknya telah jatuh dalam curamnya tanah bersama dengan seorang pelayan. Kami sudah memastikan bahwa mereka tidak mungkin hidup setelah jatuh dalam ketinggian itu dan yakin mayat mereka akan dimakan oleh hewan buas.”
__ADS_1
“Kau yakin?!”
“Yakin, Yang Mulia.”
“Jika anak itu masih hidup, maka kau sebagai Ketua Prajurit yang kupercayai yang akan menggantikan nyawanya,” kecam raja, erat mencengkeram pundak Ketua Prajurit yang menurunkan pandangan. Pun pedang yang hampir saja siap menebas kepala salah satu prajurit, diserahkan seketika pada Ketua Prajurit ini pula. “Urus semua mayat tanpa menarik perhatian siapa pun, tunggu titahku berikutnya.”
Sepeninggalan raja, tentu sebagai bawahan akan mengikuti titah. Namun, Ketua Prajurit terlihat terganggu akan kecaman yang diterimanya. Pun mengutus beberapa bawahan tuk memeriksa kembali si pelayan merepotkan itu. Sedangkan raja sendiri, sibuk berdiskusi dengan menteri lainnya di Aula Istana. Mencari cara agar rakyat tidak berani membicarakan apa-apa mengenai masalah pembantaian keluarga Jenderal Wei hingga pagi kembali mendapatkan penerangan alaminya.
Namun, keramaian yang memenuhi kota tidaklah seperti biasa. Umumnya, orang-orang akan sibuk menggelar dagangan ataupun membuka toko. Hanya, hari ini akan menjadi pengecualian.
Samar-samar tertangkap orang-orang berbisik, menangis pun ada. Bahkan beberapa begitu terpaku akan apa yang disaksikan, kepala dari seorang pahlawan negara, Jenderal Wei beserta keluarga lainnya yang tergantung di gerbang masuk istana.
Terdapat pula pengumuman yang tertempel, memberi tahu pembasmian seluruh keluarga Jenderal Wei semalam karena pengkhianatan terhadap raja. Meminta rakyat semua untuk tidak membicarakan Jenderal Wei lagi atau mereka akan dianggap sebagai pengkhianat pula, dijadikan budak seumur hidup alih-alih mendapat hukuman mati.
Lantas, siapa yang berani melawan? Bahkan para pasukan Jenderal Wei sendiri kini telah resmi berpindah pada sang raja, kesetiaan di atas kesetiaan dengan membunuh habis mereka yang tak patuh atau mungkin menolak. Tak terkecuali pula seluruh keluarga yang dimiliki, dengan begitu tidak akan ada akar pembalasan dendam ke depannya.
Namun, takdir juga memiliki jalannya sendiri yang tak bisa diganggu oleh manusia. Meskipun bibit balas dendam memang telah dihapuskan, tapi benarkah apa yang dihapuskan dengan cara berdarah akan terus merasa bebas? Jika pun iya, maka sampai berapa lama kebebasan yang dirasa itu akan terasa? Layaknya hutan yang saat ini kembali kehilangan kesunyian, berkat satu saja tangisan yang mengudara pun bagaikan suatu pertanda tuk membangunkan apa yang harusnya bangun begitu mendengarnya, si pelayan.
Tak mudah memang untuk kembali bangun, tapi tanggung jawab masihlah belum usai meskipun bernapas saja begitu sangatlah susah. Perlahan, si pelayan menggendong Wei Lang kecil yang seketika pula terdiam seolah mengerti suasana akan lebih aman demikian.
BRUKKK!
Wei Lang kecil mulai menangis, lebih keras bagai memanggil atau meminta pertolongan. Tak tahu pula telah berapa lama waktu dihabiskan, dan si pelayan benar-benar tak lagi mampu bergerak apalagi membangunkan kembali tubuh lemah bagai tak bernyawa itu barang sedikit saja. Pun cairan bening satu-satunya yang bisa dikeluarkan, menangisi Wei Lang kecil yang begitu teramat malang.
Pasrah, apa boleh sekarang si pelayan melakukannya? Dan dengan mata setengah dipaksakan terbuka, secercah harapan baru menghampiri. Mendapati seorang pria dan wanita dengan begitu panik dan terkejut membantunya bangun, merebahkan sebagian tubuh pada si wanita asing.
“Nona? Nona sadarlah. Apa kau baik-baik saja?” tanya si pria asing, tapi si pelayan tak sama sekali menjawab. Masih berusaha mengumpulkan energi, pun si pria asing memandang si wanita yang datang bersamanya. “Apa perlu memanggilkannya tabib?”
“Kurasa harus, biar aku saja yang memanggil,” jawab si wanita yang seketika beranjak bangun, tapi tertahankan segera oleh si pelayan, menggeleng-geleng tanda penolakan. “Tapi kau ....”
“Kumohon jagalah anak ini. Namanya Wei Lang ... anak dari Jenderal Wei yang dituduh berkhianat,” lirihnya, terus mengalirkan cairan bening dalam kesesakan napas yang tercekat. “Ja ... ga ... lah ....”
“Nona! Nona!” Memeriksa nadi, si wanita asing berakhir menggeleng pada si pria yang serta merta pula mengambil alih Wei Lang, memastikan tak ada luka serius termasuk pula berusaha menghentikan tangisan anak ini.
__ADS_1
“Kita harus pergi dari sini, jika tidak anak ini akan dalam bahaya,” ajak si pria yang waswas akan sekitaran. Pun ketiganya pergi, melanjutkan kembali penelusuran jalan setapak ini.
Tak memakan banyak waktu, terpampang suatu rumah nan asri yang tak begitu kecil ataupun besar. Namun, beberapa prajurit mulai terlihat berkeliling sambil membawa mayat si pelayan. Sontak, kedua orang asing ini membawa masuk Wei Lang pun si pria menyerahkan Wei Lang kecil pada si wanita.
“Bersihkan anak itu. Cepatlah!”
“Apa yang akan kau lakukan?”
Alih-alih menjawab, si pria malah keluar dan menutup serapat mungkin pintu. Berusaha pula bertindak sealami mungkin layaknya tidak terjadi apa-apa, sibuk memerhatikan dan menyiram tanaman bunga yang memang memenuhi sebagian besar teras. Sedangkan beberapa prajurit, menghampiri.
“Tuan, apa Anda melihat wanita ini dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar satu tahun tadi?”
Melihat dengan saksama, termasuk pula berpura-pura berpikir selama beberapa saat. Akhirnya hanya kata ‘tidak’ yang keluar dari mulutnya, tapi prajurit tidak pergi begitu saja melainkan merasa adanya keanehan dan kecurigaan pun mulai dirasakan berkat dekatnya lokasi pelayan dengan rumah pria ini.
“Boleh kami memeriksa rumah Anda?”
“Tuan, tidakkah itu tidak sopan?”
“Ini adalah perintah kerajaan!”
Tanpa menanti perkataan sang pemilik rumah, salah satu prajurit mendobrak pintu dengan mudahnya, masuk tanpa ragu sementara si pria berusaha menemukan cara sebelum prajurit berhasil menemukan apa yang ingin ditemukan.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” pekik si wanita yang mana si pria segera memasangkan badan berhadapan langsung dengan prajurit yang serta merta memalingkan wajah begitu mendapati si wanita sedang menyusui.
“Apa kalian bisa pergi sekarang?! Dia adalah istri dan anakku. Apa yang kalian cari tidak ada di sini!”
Dengan kecanggungan yang teramat sangat, segera prajurit keluar dari rumah tanpa ada lagi kecurigaan barang sekecil apa pun itu. Terbukti dari permintaan maaf yang diberikan sebelum semuanya berlalu pergi dengan hanya membawa mayat si pelayan yang berkorban dan berjuang dengan nyawanya.
“Apa mereka sudah pergi?”
“Hmmm, sudah pergi,” jawab si pria, memandang lekat Wei Lang kecil pun menyunggingkan senyuman hangat di mana dibalas pula oleh senyuman dari bibir mungil anak malang ini.
Berawal dari sini pula, Wei Lang diadopsi oleh si pria dan wanita asing yang nyatanya adalah sepasang suami istri yang sudah menikah selama 3 tahun, dikenal sebagai Tn. Zhen dan Ny. Zhen. Namun, belum dikarunia seorang anak.
__ADS_1
Tak heran, keduanya sangat senang dan merasa begitu terberkahi memiliki Wei Lang kini, dan demi melindungi Wei Lang yang sudah dianggap seperti putra mereka sendiri. Tak segan-segan nama Wei Lang ditiadakan dengan hanya ada Zhen Chen seorang, dan tepat 3 tahun setelahnya,
Ny. Zhen melahirkan seorang anak perempuan cantik. Sementara pihak kerajaan tidak lagi mencari keberadaan Wei Lang yang dipercayai telah tiada.