
“Kau harus mulai bergerak, Zhen Chen. Bangunlah!”
DEG!
Sepasang netra sontak terbuka, mendapati Zhen Xian berhadap-hadapan sembari sibuk menyeka keringatnya. Namun, Zhen Chen malah membangunkan diri dari duduk bersenderkan punggungnya ini untuk kemudian memerhatikan langit gulita di luaran sana. Mendapati pula rembulan telah merendah, menandakan kalau hari barangkali telah berada pada waktu dini hari.
Mungkinkah waktunya belum terlambat? Di kala kelegaan memenuhi sembari ia kembali masuk ke dalam gua untuk duduk ke posisi awal, di mana Zhen Xian sendiri memandanginya dengan penuh tanda tanya. Hanya saja Zhen Chen bersikap seakan tidak menyadari dan malah menjatuhkan pandangan pada Que Mo yang masihlah tertidur tak jauh dari mereka.
“Apa perlu aku bangunkan dia?”
“Biarkan saja dia tidur sedikit lebih lama lagi.”
Yang mana Zhen Xian mengangguk menuruti, duduk berdampingan dengan sang kakak yang sibuk memastikan api unggun agar tetap menyala menghangatkan mereka. Setidaknya berkat api unggun itu pula, sedikit keheningan mampu teredam.
Jujur saja Zhen Xian tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, karena begitu banyak hal yang ingin ditanyakan. Hanya saja, kenapa pula sang kakak ikutan diam? Kenapa seakan ia tidak ingin menjelaskan apa pun terkait bagaimana bisa kembali masuk ke dalam kota, dan bagaimana pula mampu meminta bantuan Meng Jun dan juga Mo Zhu. Apa mungkin merasa tidak penting? Ataukah ada sesuatu yang memang tidak ingin diberitahukan?
Lantas bagaimana dengan Que Mo? Apa mungkin Que Mo sudah mendengar hal-hal tersebut? Mengingat semalam ia memanglah tidur lebih awal di kala dua pria dewasa ini bercengkerama. Bahkan sekarang dapat dilihat dengan jelas pula, sang kakak telah memakai kembali kantong wewangian buatannya tanpa diketahui pasti kapan sang kakak mengambilnya.
“Bukannya aku tidak ingin memberi tahu, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan selengkapnya padamu, Xian’er.” Mengarahkan pandangan langsung ke dalam sepasang netra Zhen Xian, pun senyuman juga diberikan Zhen Chen. “Berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.”
Apa benar sekentara itu sampai sang kakak mampu melihat isi pikirannya? Tapi mendengar ucapan barusan, cukuplah untuk menghilangkan segala tanda tanya serta membakar habis kecanggungan ini. Lagian kenapa harus terus-terusan merasa canggung, bukan? Meskipun benar dua tahun telah berlalu, tapi Zhen Chen tetaplah Zhen Chen yang tak lain adalah pria pilihan hatinya pun ditunggu selama ini.
“Meng Jun dan Mo Zhu, apa mungkin kalian sering bertemu?”
“Tidak ... tapi beberapa kali kami sempat bertemu, dan pertemuan terakhir itu kemarin pagi. Setidaknya aku harus mengucapkan perpisahan, bukan? Karena setelah ini tidak tahu kapan lagi bisa bertemu.”
Namun, mendengar hal itu. Zhen Xian justru terlihatlah murung. Mungkinkah merasa sedih atas kata perpisahan yang didengar barusan? Ataukah justru karena merasa sang kakak pastilah telah mendengar kabar di mana ia telah menyempurnakan hubungan suami-istrinya dengan Jin Kai? Dan jikalau bukan itu, maka mungkinkah gadis ini sedih karena harus meninggalkan kota ini, di kala kota ini memanglah memiliki banyak kenangan biar kata banyak pula kenangan menyedihkan di dalamnya.
Yang mana kampung halaman tetaplah kampung halaman, bukan? Sebenci apa pun tidak akan mampu tergantikan oleh tempat baru yang bahkan belumlah dikenal. Jangankan berpikir jauh ke sana, akankah sukses kabur dari kota ini saja masihlah belum diketahui pasti. Dan semua itu haruslah bergantung dengan pemberontakan Azheng sendiri, yang harusnya di waktu sekarang ini mereka telah mulai bergerak menempati posisi jaga dari rencana yang ada.
Hari ini, pastilah akan menjadi hari terpanjang, bukan? Yang mana Zhen Chen terlihat mulai membangunkan Que Mo, kemudian tanpa lagi menunda-nunda ketiganya bergerak meninggalkan gua dan hutan persembunyian ini dengan begitulah hati-hati hanya untuk setelahnya memasuki kembali area kota, mendapati pun menyaksikan akan bagaimana sibuknya para pengawal kerajaan berpatroli.
Lebih tepatnya pengawal yang diketahui pasukan Zhu, pasukan pribadi Jin Kai. Tidak mungkin hal itu bisa dilupakan Zhen Chen, bukan? Mengingat pasukan inilah yang menyergap dan menyerang keluarga Zhen di malam dua tahun lalu. Namun, mari singkirkan terlebih dahulu ingatan tersebut dan fokus akan apa dan seperti apa pergerakan patroli para pasukan ini. Yang mana sebagian pasukan lainnya terlihat berjaga di gerbang utama masuk dan keluar kota, semacam seekor lalat saja tidak akan mampu terlewatkan dari pengawasan.
__ADS_1
Tidak apa jikalau hanya tanda pengenal saja yang diperiksa, tapi apa-apaan ini? Untuk satu orang saja akan cukuplah banyak menghabiskan waktu serta berbagai pemeriksaan wajah pun dilakukan, tidak mengherankan apabila orang-orang yang menunggu giliran kini mulai memprotes dan bahkan tak sedikit dari mereka mulai bergosip.
“Kudengar semalam Selir Zhen menghilang di kuil. Makanya sekarang situasi ini terjadi, Taizi pasti merasa begitulah kalut sekarang. Lihat saja berapa banyak potret Selir Zhen yang disebarkan.”
Benar saja, dan hal itu tidak bisa dipungkiri. Seakan kota ini baru saja diterjang hujanan kertas berwajahkan Zhen Xian. Namun, ke mana perginya Jin Kai? Tidak sama sekali terlihat bahkan bayangan saja tidak. Lantas, apa sekiranya yang sedang direncanakan Putra Mahkota itu? Apa mungkin ... kabar terkait pemberontakan Azheng telah terdengar di telinganya?
Tidak, tidak mungkin. Jika hal itu benar adanya, Raja pasti sudah melakukan pergerakan. Akan tetapi, istana tampaknya masih tenang-tenang saja. Yang mana Zhen Chen menghelakan napas kekalutannya, sungguh perasaan yang cukup menyiksa. Padahal ia sendiri hanya harus memikirkan cara untuk kabur dari kota, tapi kenapa pemberontakan Azheng terus saja melintasi kepalanya.
“Terlalu berbahaya di sini. Ikutlah aku.”
Meskipun Zhen Xian tidak paham, tepatnya akan seperti apa rencana dari kaburnya mereka ini? Jikalau memang ingin kabur, kenapa pula harus kembali ke kota berbahaya ini? Bukankah ada gerbang belakang? Gerbang kota yang harusnya tidaklah terlalu banyak diawasi seperti gerbang utama ini.
Namun tetap saja, Zhen Xian mengekori karena sang kakak juga tampak setuju untuk mengikuti arahan Que Mo. Mungkinkah dua pria ini memiliki suatu rencana? Sampai harus pula bersusah payah seperti ini melewati gang sempit yang hanya bisa dilalui satu orang saja. Pun uniknya, gang ini semacam saling terhubung. Apa mungkin suatu jalan rahasia dalam kota ini? Dan herannya, Que Mo tampak begitulah tahu dan familiar akan jalan yang ada. Yang entah kenapa pula, kian masuk dan kian menelusuri setiap belokan demi belokan yang ada. Zhen Xian mulai merasa tidak lagi asing akan gang ini, tepatnya gang yang sukses mengeluarkan mereka ke suatu tempat yang lebih luas lagi.
Serta merta pula Zhen Xian tersenyum, melemparkan pandangan pada Que Mo yang juga ikutan tersenyum dibuatnya. “Bukankah ini tempat aku pertama kali bertemu denganmu?”
“Benar, saat itu kau melempar batuan kerikil padaku.”
Mengangguk-angguk membenarkan, Zhen Xian seakan merasa kejadian itu barulah terjadi kemarin. Kala itu adalah masa yang masihlah membahagiakan, di mana kebebasan dan pahitnya hidup belumlah terlalu terasa. Dan pandangan terhadap dunia pun masihlah dipenuhi keindahan, bukannya seperti saat ini yang terasa hanyalah kehampaan, kebencian, kemarahan dan juga kesedihan hanya dikarenakan perbuatan kejam dari seorang berpangkat tinggi nan berkuasa juga berambisi besar.
Belum lagi aroma udara di sini cukuplah terbilang tidak enak untuk dihirup pastinya, semacam udara segar tidak sama sekali tersedia di sini atau barangkali menolak masuk. Padahal masih di bawah langit dan kota yang sama, tapi perbedaan sangatlah kentara sekali.
“Aku tahu ini tidak nyaman, tapi cobalah bertahan karena hanya tempat ini yang aman bagi kita.” Mengedarkan pandangan ke sekitar, Que Mo mencoba membersihkan area kosong pun menggelar beberapa tumpukan jerami bekas yang bisa dikumpulkannya. “Lihatlah, hari mulai terang dan tidak aman bagi kita berkeliaran di luar.” Mendudukkan diri, meminta pula sepasang kekasih keluarga Zhen ini duduk bersama. Terlebih pada Zhen Chen, jelas pria ini memiliki begitulah banyak pikiran. “Apa pun yang terjadi ... aku pasti akan melindungi kalian, sebisaku.”
“Tapi, bagaimana kita keluar? Kalian lihat sendiri seluruh kota sudah dikepung,” ucap Zhen Xian, barangkali memancing. Berharap saja dua pria ini akan memberitahukan apa rencana mereka sebenarnya, setidaknya sedikit saja tidak jadi masalah, bukan?
“Kita akan menuju kediaman Jenderal Wei.”
Apa? Apa benar tidak salah dengar? Kenapa harus ke kediaman sang jenderal? Tidak mungkin sang kakak ingin mengunjungi kediaman orang tua kandungnya hanya untuk sekadar mengucapkan perpisahan terakhir, bukan? Karena jelas hal itu terlalu berisiko, apalagi di kala pelarian mereka saat ini.
Oleh karenanya, Zhen Xian ingin memastikan kembali kalau-kalau ada kemungkinan pendengarannya barusan salah menangkap. Dan itu Que Mo-lah seseorang yang dimintai kepastian. Namun, sama saja hasilnya. Que Mo malah ikut membenarkan, jikalau apa yang didengarkan itu tidaklah salah. Selain itu, tidak pula terlihat Que Mo terkejut. Bukankah ini menandakan jikalau Que Mo tahu betul apa yang sang kakak ingin lakukan di kediaman sang jenderal, bukan? Yang mana ingin menanyakan langsung pada sang kakak, Zhen Xian pun merasa enggan, semacam ada penghalang yang telah diciptakan sang kakak agar tidak menanyakan apa-apa saat ini.
Dua tahun tidak berjumpa, sebenarnya apa yang telah kau alami sampai memendam semuanya seorang diri seperti ini, Ge? Pun helaan Zhen Xian embuskan, asap putih yang ada bagaikan menguar menjadi uap pada ketinggian langit sana. Seakan memberitahukan atau membangunkan sang mentari untuk bangun menyinari dunia kembali ke sebagaimana harusnya.
__ADS_1
Alhasil, kota kini kembali sibuk akan aktivitas sehari-hari yang biasa warganya lakukan. Namun, bukan berarti pencarian Zhen Xian telah dikendurkan. Yang mana sosok yang memerintahkan pasukan penjaga dan patroli kota ini pada akhirnya barulah memunculkan batang hidungnya, tapi bukan di area kota melainkan dalam lingkup istana.
Padahal baru saja semalam Zhen Xian menghilang, tapi Putra Mahkota ini sudah terlihat kacau. Rasa kesal, amarah tertahankan dan segala macam perasaan tidak mengenakkan masihlah menguasai. Belum lagi, pagi tadi saat di mana mentari belumlah setinggi saat ini. Laporan demi laporan terus saja didapatkan, tapi tidak satu pun dari laporan tersebut yang memberitahukan kabar baik terkait kaburnya Zhen Xian.
Bahkan Raja sekalipun seakan ikutan membuat kesal, terus meminta untuk dihentikan segera pencarian agar rakyat tidak perlu begitulah heboh. Dengan alasan lebih baik menjaga atau memperketat keamanan istana ini sendiri hanya dikarenakan suatu kabar angin yang tersebar di antara para pelayan, terkait malam ini akan ada suatu pergerakan dari para pemberontak untuk menjatuhkan Raja dari singgasana naganya.
Katakan saja kabar itu benar, maka para pemberontak itu jelas saja sekumpulan orang-orang bodoh yang telah bosan hidup. Herannya, kenapa pula Raja harus terusik akan omong kosong seperti itu? Sampai membuat istana ini seakan percaya jikalau kabar itu benar adanya.
Namun, pemandangan macam apa ini yang tertangkap pandangan sampai menghentikan langkah Jin Kai. Tidak mungkin ia salah melangkah ke tempat tujuan, bukan? Pun jikalau benar ia salah melangkah dikarenakan banyak pikiran sekalipun, tidak mungkin pula akan sampai ke tempat Putri Mahkota, bukan? Yang mana istri sahnya ini memberikan hormat pada Jin Kai yang tidak sama sekali merespons. Yang ada, Putra Mahkota ini dengan dingin meminta pengawal yang diketahui penjaga penjara untuk tidak membiarkan siapa pun masuk, kecuali ia seorang.
“Taizi! Bisakah kau berhenti dan melepaskan Selir Zhen? Biarkan dia pergi dengan pilihannya dan cobalah mengerti keputusannya! Memaksa tidak akan ada hasil baik, pada akhirnya kau sendiri yang akan terluka, Taizi!”
Akan tetapi, Jin Kai bertingkah seakan tidak mendengarkan sama sekali dengan terus membawa diri masuk kian dalam lagi ke lorong penjara bawah tanah yang dipenuhi erangan demi erangan. Semacam inilah suatu jenis penghormatan bagi Jin Kai yang kini memasuki suatu ruangan, meminta pula semua orang pergi dengan hanya meninggalkan ia dengan seseorang lainnya yang terduduk pada kursi kayu, berbolgol tangan juga kaki, bahkan tubuh diikat pula dengan tali tambang yang kian menambah kacaunya penampilan.
Luka sana-sini menganga, darah memenuhi sekujur tubuh berbalutkan pakaian yang barang kali sebelumnya berwarna putih. Rambut tergerai menutupi sebagian besar wajah yang hampir sepenuhnya kehilangan kesadaran, seakan wajah itu sendiri malu untuk dilihat seseorang. Karena seumur hidup yang pernah dijalaninya, tidak pernah sekalipun akan mendapat perlakuan yang sedemikian parahnya. Tidak dari ayahnya, dan tidak pula dari istana.
Namun tetap saja, tidak ada rasa penyesalan dari pria ini. Padahal dulu dirinya pernah menjadi bawahan paling setia, jujur dan tidak akan pernah mengecewakan atasan. Lantas kenapa sekarang malah menjadi seperti ini? Sekiranya metode apa yang digunakan Zhen Chen sampai mampu merubah pria ini sampai berubah seperti ini?
“Aku sudah mengenalmu dari sejak berusia 7 tahun. Selalu bersama, berlatih pedang dan memanah, mengobrol dan saling percaya. Tidak pernah sekalipun aku membayangkan kau akan mengkhianatiku,” ucap Jin Kai, memulai. Semacam mengingat kembali kenangan indah itu. “Tidak pernah pula aku membayangkan diriku akan memperlakukanmu seperti ini ... dalam pikiranku, kau hanya akan selalu bersamaku hingga akhir ... hingga tua. Namun, apa ini? Yang kau berikan padaku hanyalah berupa kekecewaan belaka, Lin Feng.”
“A-aku ... a-akui diriku bersalah,” ucapnya goyah, pun melirih. Perlahan pula mengangkat wajah tertunduknya itu untuk kemudian mengarahkan pandangan lurus pada Jin Kai. “Aku berharap yang terbaik untukmu. Mohon jangan lupakan siapa dirimu, dan cobalah merelakan dia yang tidak menyukaimu,” lanjutnya, sebulir air mata meluruh, membasahi wajah memucat dipenuh percikan darah itu. Pun melunturkan air muka yang dulunya selalu dipenuhi ketegasan dan juga kaku.
Lantas, harus bagaimana Jin Kai bereaksi? Di kala ia sendiri yang paling tahu kalau Lin Feng bukanlah pria yang akan dengan mudahnya mengalirkan sejumlah air mata seperti ini. Oleh karenanya, kaca-kaca bening pun mulai menggenangi sepasang netra Putra Mahkota. “Aku tidak akan. Tidak akan pernah melepaskannya,” balasnya, memalingkan wajah, tubuh pun dibawanya berbalik hanya untuk kemudian memperlihatkan luruhan air mata mulai membasahi wajah seraya ia membawa pergi sepasang tungkai.
Namun, lirihan kembali terdengar memanggil namanya, dan hal itu sukses pula menghentikan langkah perginya hanya untuk kemudian menanti hal apa lagi yang hendak disampaikan tersebut. Meskipun benar, Jin Kai tidak akan bersedia menghadapkan wajahnya langsung. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri kalau Putra Mahkota ini berharap Lin Feng ... setidaknya akan memohon diberikan kembali kesempatan untuk melayani atau memperbaiki kesalahan yang telah diberikan. Hanya dengan begitulah, mereka masih bisa tetap bersama baik sebagai tuan dan bawahan ataupun sahabat.
Hanya saja, pengharapan memanglah sebuah pengharapan belaka. Bukannya mendengarkan sesuatu yang mampu meredamkan amarah, malah Lin Feng kian menambah minyak dalam kobaran api. Tak mengherankan jikalau Jin Kai kini tersenyum pahit sembari menyeka pergi luruhan air mata yang sempat membasahi wajahnya, pun membawa diri kembali berhadap-hadapan dengan Lin Feng. Siap mendengarkan saran seperti apa yang hendak disampaikan pria menyedihkan ini.
“Lepaskan seseorang yang harus dilepaskan, jangan lagi sudutkan mereka untuk semakin membencimu. Terlebih jangan paksakan seseorang yang tidak menyukaimu untuk tetap bersamamu, Jin Kai. Hentikan ... hentikan semuanya atau kau sendiri yang akan terluka pada akhirnya.”
“Menghentikan? Apanya yang perlu dihentikan di saat Zhen Xian adalah istriku. Jika ingin menghentikan, bukankah kau seharusnya membunuh putra jenderal pengkhianat itu?! Dan bukannya membuat kematian palsu untuk menyelamatkannya!” bentak Jin Kai, netra nyalang yang dilemparkan pada Lin Feng seakan siap membunuh. “Mulai saat ini ... kau bukan lagi pengawal pribadi atau bahkan sahabatku.”
Bukankah ini lucu? Bertemu dan menjalin hubungan dekat dari sejak kecil, bersama dan membangun kepercayaan selama bertahun-tahun untuk mampu menjadi sahabat. Tidak pernah pula dari sejak pertemuan pertama mereka, sekali saja pertengkaran mereka alami. Namun, apa ini sekarang? Untuk pertama kali dalam hidup mereka pertengkaran terjadi, tapi melalui pertengkaran itu pula segala hubungan baik yang terbangun kokoh runtuh dalam sekali tindakan ataupun gerakan saja.
__ADS_1
Menyakitkan, jelas hal ini menyakitkan bagi keduanya. Yang mana Lin Feng hanya bisa memandangi kepergian Jin Kai dengan tangisan, sedangkan Jin Kai sendiri siapa yang tahu kegilaan seperti apa lagi yang akan dilakukannya setelah ini. Di kala ia tidak lagi akan mendengarkan siapa-siapa, tidak pula akan ada sosok yang menghentikan tindakannya. Pada akhirnya, yang tersisa dalam diri Putra Mahkota itu hanyalah berupa kekosongan yang terisi obsesi.