
Halaman tak hanya dihiasi oleh bunga-bunga kini, kupu-kupu pun tak lagi terlalu meramaikan suasana. Meja-meja kayu kecil dipenuhi hidangan, yang mana kursi tanpa kaki telah diduduki masing-masing orang dalam seragam serupa. Hanya segelintir saja yang berbeda warna, tepatnya oleh mereka yang menduduki barisan terdepan. Di mana berhadapan langsung dengan anggota inti dari keluarga kerajaan yang menempati area dari Aula Utama Istana, terhindar dari sinar mentari langsung.
Katakan saja, Ibu Suri, Raja, Permaisuri, Putra Mahkota dan Putri Mahkota. Yang mana Putra Mahkota selaku yang berulang tahun, tak lupa mengucapkan terima kasih pada semua yang hadir atas kerja keras dalam menjaga kerajaan serta kedamaian rakyat bersama dengan Raja dan dirinya selama bertahun-tahun lamanya.
“Semuanya, aku bersulang untuk kalian!” serunya kemudian yang menegak habis isian dalam cangkir, bening pun beraroma kuat yang menghangatkan apalagi dalam pesta perayaan seperti ini.
Mereka yang mendapat kehormatan ini, tak lain rupanya para menteri kerajaan tentu saja seketika membalas kembali sulangan yang diterima.
Dengan begitu, perayaan pesta sesungguhnya barulah dimulai. Di mana Raja sendiri ikut mengangkat cangkirnya, mengajak sang putra bersulang. Tak terkecuali pula Putri Mahkota Bai Hua yang tak mau ketinggalan.
Yang mana pesta kemudian dipenuhi senandung musik, dan tak akan lengkap apabila tak dihadiri para penari, bukan? Begitulah luwes, indah pun tiap gerakan terasa ringan yang begitu menyatu dengan musik, menunjukkan bahwa mereka bukanlah amatiran dan tak juga terlihat seperti wanita penghibur murahan.
Berkelas, katakan saja demikian adanya berkat aura yang terpancar dari setiap diri para penari, sama sekali tidak ada niatan tuk menggoda atau apa pun. Yang ada hanyalah keinginan menunjukkan bahwa tarian yang bagai telah lama dipersiapkan ini haruslah terlihat sempurna.
Tak heran apabila semua yang hadir tak mampu mengalihkan pandangan, bukan? Bahkan Raja sendiri begitulah menikmati, memberitahukan kasim pribadinya secara diam-diam tuk memberikan hadiah pada para penari ini. Yang mana Permaisuri ikut menyetujui keputusan itu, yang kemudian pandangan tak sengaja menangkap pun memerhatikan Putra Mahkota.
Apa ini? Apa benar Putra Mahkota yang suka menentang akan pengambilan selir ini, kini sedang terpikat akan para penari? Sekiranya wanita mana yang begitulah beruntung akan hal ini?
Serta merta, Permaisuri mengalihkan pandangan pada para penari, mencari-cari penuh harap. Apakah yang kiri? Kanan? Depan atau belakang? Atau jangan-jangan ... wanita yang berada di tengah?
Namun, harapan itu pupus sekejap. Permaisuri pun mendesah kecil dalam gelengan, meraih cangkir yang menguarkan sedikit uap putih tuk menenangkan kekecewaannya. Tanpa tahu, Putri Mahkota menyaksikan segalanya.
Oleh sebab itu pula, Putri Mahkota melirik sang suami yang di sebelahnya ini. Mendapati bukanlah para penari yang dikaguminya, melainkan kumpulan bunga dekorasi yang letaknya memang akan terlihat layaknya sedang memerhatikan para penari. Wajar saja jika Permaisuri sempat berpikir demikian tadi.
Lantas, apa mungkin karena chahua? Yang memang menjadi bunga kesukaan mendiang Selir Agung. Akan tetapi, senyuman yang menghiasi pun memenuhi pandangan Putra Mahkota ini tak tampak seperti seorang anak. Justru tampak seperti seorang pria yang sedang memandang wanita yang disukai.
Siapa ...? Siapa yang sedang kau pikirkan, Taizi?
“Tim dekorasi kali ini benar-benar mempersiapkan semua dengan baik,” ucap Ibu Suri yang sontak saja membuyarkan lamunan Putri Mahkota. “Lihatlah, betapa segarnya bunga-bunga ini, bukankah begitu, Taizi?” lanjut Ibu Suri.
“Itu benar, Huangtaihou,” balasnya yang mana kian pula melebarkan senyuman. Senyuman tulus yang bahkan tak pernah diberikan pada sang istri, wajar saja jika Putri Mahkota melanjutkan kembali sesi lamunannya yang memutar otak.
__ADS_1
Dalam waktu yang terasa singkat, tapi telah beberapa lama berlalu ini, para penari sukses menyelesaikan tarian yang serta merta meninggalkan area pesta. Di mana musik pun berhenti, yang mana pula membangunkan salah satu menteri dari duduk santainya. Pandangan diarahkan lurus pada sang pangeran yang berulang tahun.
“Taizi, kami para menteri istana juga rakyat banyak yang khawatir dengan berita yang belum juga kunjung datang,” ucapnya, sementara Putra Mahkota sendiri bagai tak memedulikan dengan terus menikmati sajian yang ada di meja. “Taizi,” panggilnya lagi.
“Perdana Menteri, mari kita tidak membicarakan hal itu,” sela Raja akhirnya.
“Huangdi, maaf jika hamba lancang, tapi ini menyangkut kestabilan kerajaan. Jadi hamba memberanikan diri mengatakan ... biarkan Taizi mengambil selir!” serunya bersujud, yang mana diikuti pula oleh menteri lainnya yang berseru hal serupa.
BRAKKK!
“Ini perayaan ulang tahun Taizi, haruskah kalian membawa-bawa topik ini?!”
“Huangdi, mohon dengarkan permohonan kami! Mohon pula Huangdi mendesak masalah ini setegas mungkin!” seru lainnya, Raja pun tak lagi mampu duduk saja saking kesal dan marahnya.
“Beraninya kalian ... tidak bisakah kalian menunggu besok untuk membicarakannya?!”
“Huangdi tenangkan dirimu. Ini masalahku, biar aku saja yang menangani.”
Raja tampak enggan, tapi putranya ini tampak begitulah santai bagai telah mendapat suatu rencana matang yang entah apa itu. Tak heran apabila Raja mengizinkan, membiarkan penerus takhtanya ini mengambil alih situasi yang berubah tak mengenakkan kini.
Para menteri dalam posisi bersujud saling melirik kiri dan kanan. Tidak ada yang berani bicara ataupun mengangkat wajah.
“Bangunlah, aku ingin lihat wajah kalian semua. Mungkin ... aku bisa memilih salah satu putri dari kalian.”
Orang pertama yang mengangkat wajah pada akhirnya tak lain adalah Perdana Menteri sendiri. Tentu, menteri lainnya berakhir mengikuti jejaknya. Entah karena gugup akan kemarahan Raja tadi, atau karena memang mentari begitulah panas. Yang pasti buliran keringat menghiasi wajah mereka semua.
“Katakan, putri siapa yang akan menjadi kandidat kali ini?” Kian mendekatkan diri pada para menteri, mondar-mandir seraya berpikir. “Perdana Menteri? Sekretaris Kerajaan? Menteri Keuangan? Menteri Pajak? Menteri Pertahanan?”
“Taizi, tentu kita harus memilih kandidat terbaik. Kandidat yang memberikan keuntungan bagi kerajaan serta rakyat juga terpenting melahirkan penerus,” jawab Perdana Menteri.
“Mana yang lebih penting ... keuntungan atau penerus?”
__ADS_1
“Saat ini yang terpenting adalah penerus.”
“Lancang! Apa kau bermaksud merendahkan Taizifei?!”
Menteri lainnya sontak menurunkan wajah, tak berani memandang Putra Mahkota yang begitulah terbakar amarah. Garis wajahnya itu jelas begitulah tajam lengkap dengan sorot nyalang yang diarahkan bagai menusuk atau barangkali menikam mati Perdana Menteri.
“Hamba tidak bermaksud merendahkan Taizifei, tapi hingga sekarang belum ada kabar tentang kehamilan. Bukankah lebih baik jika Taizi memilih selir? Memiliki penerus?”
“Kau mengatakan yang terpenting penerus. Baiklah ... tidak peduli siapa pun wanitanya, bahkan pelayan sekalipun. Jika aku memilih maka kalian tidak akan keberatan?”
Diam, begitulah hening yang angin sekalipun bagai tak berani mengganggu. Termasuk pula Raja, tampak mengerti rencana sang putranya ini.
“Tidak peduli siapa pun ... jika Taizi sudah memilih wanita itu maka dia ... akan menjadi bagian dari kerajaan dan kami tidak akan menentang,” ucap Perdana Menteri dengan mengepalkan kedua tangannya, mulutnya pun terkatup mengeras. Namun, tidak dengan Putra Mahkota yang justru tersenyum. Mengejek,’kah? Atau merasa diri telah menang?
Entahlah, karena Perdana Menteri setelahnya menurunkan pandangan darinya. Jelas merasa telah masuk dalam permainan Putra Mahkota.
“Perdana Menteri sendiri yang mengatakannya. Maka ingat dan camkan perkataanmu,” tekannya, mengalihkan pandangan ke menteri lainnya. “Juga! Kalian semua.”
“Tentu, Taizi.”
“Karena aku akan memilih berdasarkan keinginanku dan bukan keinginan kalian. Jadi berhentilah mengatakan hal memilih selir di hadapanku ataupun Huangdi saat rapat istana. Apa kalian mengerti?”
“Kami semua pasti akan mengingatnya, Taizi!” balas semua menteri berbarengan, barulah angin kembali bekerja sebagaimana seharusnya. Mendinginkan suasana dan situasi memanas nan menegangkan.
Putra Mahkota Jin Kai ini, memanglah serupa perangainya dengan sang ayah. Wajah memang tak mampu mempertunjukkan aslinya seseorang itu seperti apa. Tak tahu pula apa yang membuat Putra Mahkota ini begitulah berani bersikap tak biasanya, dari mana dorongan atas sikap penuh intimidasinya ini datang sebenarnya?
“Karena kalian begitulah sering mengangkat topik ini, itulah kenapa rumor jelek terkait Taizifei beredar. Tidakkah kalian peduli akan perasaan Taizifei? Dan bagaimana pula jika hal ini sampai terdengar oleh Kerajaan Dali? Sudahkah kalian memikirkan hal sejauh itu?”
Sementara Putri Mahkota sendiri hanya tersenyum kecut, sepasang netra berembun di mana dirinya terus saja menegak dan menegak cangkir berisi teh. Sampai titik embun dari netranya itu luruh, diam-diam pula wanita malang ini menyekanya. Tepat ketika sang suami bermulut manis palsu ini kembali duduk di sebelahnya. Pun berbisik kemudian.
“Kau pikir aku tidak melihatnya? Tersenyumlah, Taizifei.”
__ADS_1
Senyum kau bilang? Bisakah menurutmu aku tersenyum terus-terusan dalam permainanmu ini?
Yang mana pula diakhiri Putri Mahkota dengan ajakan bersulang, barulah kemudian tersenyum seperti yang dimintai. Benar, apa sulitnya tersenyum palsu jikalau dirinya telah cukup berpengalaman selama ini? Pun akhirnya kekehan-lah yang kemudian keluar, kekehan yang tak mungkin pula dipahami lainnya sebagai bentuk kekehan kepahitan. Terkecuali sang suami, Putra Mahkota yang tersenyum menahan kekesalan.