
Bergeser sudah pintu tandu ini, mengeluarkan Zhen Xian yang dibantu Que Mo sembari pandangan mereka edarkan ke sekitaran. Mendapati betapa tenang dan damainya suasana dari tempat pengasingan ini, yang mana dentingan lonceng angin terus saja memenuhi pendengaran. Seakan menuntun arah ke mana harusnya rombongan Zhen Xian ini melangkah, ataupun masuk melewati gerbang yang ada.
Pun kehadiran mereka disambut sudah oleh seorang biksu, mengantarkan ke suatu ruangan yang menampilkan tiga patung besar Buddha berwarna keemasan nan berkilau. Memberitahukan pula jikalau di sinilah, Zhen Xian akan menghabiskan hari-hari selama pengasingan. Berdoa dan meditasi, atau bahkan diminta untuk membaca ayat-ayat suci yang ada.
Namun, apa yang sedang dilakukan gadis ini? Alih-alih mendengarkan penerangan biksu, ia malah sibuk mensujudkan diri di hadapan ketiga Buddha, memejamkan netra sembari tangan disatukan. Padahal biksu sendiri tidaklah meminta untuk segera melaksanakan aktivitas saat ini juga, dan berakhir pula biksu meminta rombongan Zhen Xian lainnya untuk meninggalkan gadis itu seorang diri dengan hanya ditemani Que Mo saja yang memanglah sedari tadi selalu berada didekat Zhen Xian.
Meskipun benar Que Mo sendiri tidaklah tahu pasti apa yang sedang menjadi doa gadis ini, tapi setidaknya sudah mampu menebak, bukan? Jikalau keselamatan dan kelancaran-lah yang dimintai. Apalagi di saat luruhan sebulir air mata kini menapaki sudah wajah Zhen Xian, menunjukkan pula betapa tulus dan penuh harapnya ia akan Buddha mengabulkan. Yang mana berakhir sudah Zhen Xian membuka kembali pasang netranya sembari membungkukkan tubuh sebanyak tiga kali, barulah kemudian ia bangun untuk keluar dari ruangan sembahyang ini.
Alhasil, dibawa sudah oleh biksu ke sisi lain dari area kuil nan bersih seakan menolak kotor ini. Tepatnya mengantarkan ke ruang yang akan menjadi tempat tidur Zhen Xian selama di sini, sampai waktu yang belumlah diketahui.
“Kalian semua pergilah,” titahnya, dan dipatuhi pula oleh Dayang Yun dan dayang pengikut lainnya. “Que Mo, bantu aku merapikan pakaian.” Yang pastinya tanpa dimintai pula, Que Mo pasti akan melakukannya. Apalagi di kala Zhen Xian sedang dalam perasaan kacau tak karuan begini, setidaknya beruntung saja masih ada keberadaan kantong wewangian bercorak chahua merah muda ini yang menemani. Yang mana barangkali kantong wewangian itu sendiri tidaklah pernah lepas dari Zhen Xian yang kini mulai memandang dengan penuh kerinduan, semacam benda tersebut adalah harta paling berharga dan tak ternilai satu-satunya yang dimiliki.
Tok ...! Tok!
Bertukar pandang sudah Zhen Xian dan Que Mo, menghentikan kesibukan sembari membawa diri ke asal ketukan mencurigakan barusan. Tampak bukan ketukan tangan, melainkan seperti suatu ketukan hasil dari lemparan benda keras nan kecil. Namun, begitu jendela dari samping kamar ini dibukakan. Tidak terlihat apa pun atau siapa pun yang dapat dicurigai, yang ada hanyalah berupa beberapa batuan kerikil yang tergeletak disertai terpaan dari embusan angin.
“Anginnya cukup kencang, tidak baik untuk tubuhmu.” Sembari Que Mo menutup kembali jendela, tapi sejadinya dihentikan Zhen Xian. Sementara gadis ini sama sekali tidak ingin memberi tahu alasan pastinya kenapa menghentikan, di mana pandangan justru terus saja diarahkan ke satu titik.
Tanaman bonsai dalam pot.
Jika dikatakan aneh, memanglah aneh. Bagaimana bisa chahua merah muda ini tergeletak di atas pot tanaman bonsai? Belum lagi mekaran chahua menunjukkan kesegaran layaknya baru saja dipetik, dan tampak pula sengaja diletakkan di sana seakan sebagai tanda untuk suatu hal. Akan tetapi, hal apa?
Di mana Zhen Xian sendiri kini mengulurkan sebelah tangannya, mengambil bunga yang ada seraya menyerahkannya pada Que Mo. Pun gadis ini kemudian mencungkil tanah tepat di mana bunga tadi tergeletak hanya untuk kemudian menemukan sebuah lipatan kertas yang terkubur. Sontak saja, melihat hal itu Que Mo ikut tertarik. Namun, sejadinya meminta Zhen Xian untuk menyembunyikan dengan menutup kembali jendela tanpa lupa mengedarkan sepasang netra elangnya.
Siapa yang tahu jikalau ini pesan rahasia, bukan? Seperti yang diberikan pelayan wanita di Aula Merak semalam. Akan sangat berbahaya pula jikalau sampai diketahui Dayang Yun, bukan? Termasuk pula dayang lainnya yang bekerja untuk Jin Kai.
Lantas sekiranya pesan apa yang didapatkan mereka kali ini? Benarkah ada hubungannya dengan Zhen Chen? Karena dari sejak pesan tersebut ditemukan, baik Zhen Xian ataupun Que Mo sendiri tidak ada yang keluar barang sejenak saja untuk sekadar menghirup udara. Sampai pada akhirnya, tiba sudah malam beratapkan langit berbintang pun rembulan yang akan membuat iri siapa pun berkat keindahan cahayanya.
Bahkan awan sama sekali tidaklah berani menghadang, biar kata angin sekencang apa pun berusaha menggerakkan. Namun bukan berarti, bergantungannya lonceng angin di sekitar kamar Zhen Xian yang kini terlihat sedang dihadiri Dayang Yun juga dayang lainnya akan bersedia diam, bukan? Yang ada suara lonceng-lonceng ini justru cukuplah mengganggu.
Lantas, siapakah orang yang akan merasa atau paling terganggu itu? Seakan lonceng-lonceng tersebut berbunyi hanya untuk memberikan suatu kode, jikalau waktunya telah tiba.
__ADS_1
Berawal dari teriakan, di mana mempertunjukkan Zhen Xian yang kesakitan sembari menyentuh bagian perut. Pun Que Mo yang begitulah panik memapahnya hanya untuk membaringkan gadis ini ke ranjang, menyelimuti agar tetap hangat seraya mulut meminta Dayang Yun yang kebingungan akan situasi kacau nan mendadak ini untuk memanggilkan tabib sesegera mungkin. Akan tetapi, Dayang Yun malah bertingkah layaknya seseorang yang tidaklah mendengar.
“Apa yang kau lakukan!? Kau tidak mendengarkan ucapanku? Kubilang panggilkan tabib sekarang!” teriak Que Mo lagi.
Barulah kemudian Dayang Yun tersadarkan, yang mana pandangan yang tadinya memandangi akan berserakannya piring-piring makanan di lantai pada akhirnya dialihkan pada dua dayang pengikut yang ada. “Cepat kalian carikan tabib!” titahnya, kepanikan barulah dirasakan kuat.
“Apa yang kau masukkan dalam makanan?”
“Apa maksud pertanyaanmu itu, Que Mo? Kau menuduhku?”
“Tadi dia baik-baik saja, dan menjadi seperti ini setelah makan makanan yang kau bawakan. Jika bukan karena makanan beracun lalu apa alasannya?!”
Pun Dayang Yun tidak bisa berkilah lagi, tapi tetap saja tidak bisa terima jikalau dituduh sedemikian adanya. Namun, apa buktinya? Bukti yang dapat dijadikan pembenaran jikalau ia tidak mungkin dan tidak akan melakukan hal-hal yang mampu menyakiti Selir Zhen, wanita yang dimintai dengan sangat oleh Putra Mahkota sendiri untuk dilindungi, dijaga dan diperhatikan ini.
Tentu harusnya Que Mo tahu betul hal itu, bukan? Lantas kenapa terus saja menuduh seperti ini? Membuat jengkel saja, padahal jabatan pria ini hanyalah seorang pelayan pribadi belaka.
“Selir Zhen, tunggulah. Sebentar lagi tabib akan segera datang, segera akan menyembuhkan sakitmu.”
“Apa yang kau tunggu? Kenapa tidak melapor pada Taizi?”
“Kau takut?”
“Aku tidak bisa meninggalkan Selir Zhen, itu perintah Taizi padaku.”
“Kalau begitu aku yang pergi, biar kusampaikan perbuatan apa yang sudah kau lakukan!” Berlalu pergi dengan begitulah mantap, pun Dayang Yun seketika menghadang sembari menimbang-nimbang keputusan apa yang harus diambil.
Tidak! Jika Que Mo yang melapor, yang ada aku memang akan dicap sebagai pelakunya. Tidak! Tidak! Menggeleng-geleng Dayang Yun, membayangkannya saja sudahlah begitu menakutkan. Bagaimana bisa membiarkan hal itu sungguhan terjadi, bukan? Selagi masih bisa diperbaiki, maka mari perbaiki. “Aku saja, biarkan aku saja yang kembali ke istana. Melaporkan pada Taizi dan membawa tabib istana setelahnya, kau cukup jaga baik-baik Selir Zhen selama aku pergi.”
Mengangguk patuh Que Mo, memerhatikan Dayang Yun yang kian menjauh sebelum akhirnya mendesah sembari menghampiri Zhen Xian yang masihlah mengerang kesakitan. Tanpa keduanya ketahui, jikalau Dayang Yun di luar sana malah menghentikan langkahan perginya.
Apa mungkin wanita paruh baya ini menyadari sesuatu? Mengharuskan dirinya tidak perlu lagi kembali ke istana? Yang mana netra kini menangkap dua dayang suruhannya kembali bersama dengan seseorang yang tampak seperti seorang pria. Sontak saja, Dayang Yun menghadang. “Apa dia seorang tabib?” Pun kedua dayang bawahannya membenarkan, yang mana Dayang Yun sendiri tidaklah begitu memerhatikan berkat pikirannya yang dipenuhi akan cara terbaik menghadapkan diri ke Putra Mahkota nanti harus bagaimana, agar setidaknya Pangeran Agung tidaklah akan semarah itu terhadapnya. “Selama aku kembali ke istana, kalian jagalah baik-baik Selir Zhen. Apa kalian mengerti?”
__ADS_1
“Kami mengerti, Dayang Yun.”
Alhasil, kali ini Dayang Yun sungguhlah pergi, tanpa merasa curiga dan tanpa tahu bahwa kekacauan yang sesungguhnya barulah akan segera dimulai.
BRUK!
BRUK!
Terkapar sudah dua orang dayang bawahan ini, tergeletak tanpa adanya tanda-tanda kesadaran atau apa pun. Menyisakan seorang tabib pria yang sedari tadi menunduk sembari melajukan sepasang tungkainya tepat ke arah di mana Que Mo dan Zhen Xian sendiri tidak lagi berulah dalam keributan. Melainkan hanya ketenangan, di kala lonceng angin pun mulai tenang, menandakan tiupan angin telah pergi entah ke mana.
“Kau datang ... akhirnya setelah dua tahun, sahabat sekaligus saudaraku ... Zhen Chen.”
Serta merta Zhen Xian membangunkan diri, netra begitulah berembun. Mendengar ucapan Que Mo barusan, bagaimana bisa ia bersikap santai, bukan? Meminta dengan sangat, dengan suara gemetar yang sejadinya dipertahankan untuk taklah begitu goyah. Berharap penuh mampu melihat kembali wajah sang kakak, wajah pria yang sangat dicintai dan dirindukan selama ini.
“Ge ... Chen Ge ....”
Yang dipanggil lantas mengangkat wajah, tersenyum biar kata netra sama saja seperti Zhen Xian, dipenuhi air mata yang bercucuran. Namun, alih-alih kesedihan, jelas kebahagiaan dan juga ketenangan memenuhi mereka. Tak terkecuali Que Mo, yang sesegera mungkin membawa Zhen Xian mendekat lebih lagi pada Zhen Chen. Di mana Zhen Xian sendiri bertingkah seakan semua ini hanyalah mimpi belaka, pun lidah yang bagai ingin mengatakan banyak hal itu tampak keluh.
Lantas, bagaimana bisa Zhen Chen membiarkan gadis tercintanya ini terus-terusan bersikap demikian, bukan? Memeluk, apakah sekiranya cukup? Karena itulah yang dilakukan Zhen Chen kini, mendekap erat seakan tidak akan pernah membiarkan siapa pun memisahkan, dekapan yang barangkali juga sangatlah dirindukan. Entah itu kehangatannya, ataukah aroma tubuh. Entahlah, karena yang pasti detakan demi detakan jantung cukuplah kencang seakan merayakan pertemuan kembali dari dua insan yang saling mencintai ini.
“Ge, terima kasih ... terima kasih karena masih hidup ... terima kasih sudah kembali ....”
“Tentu, bukankah aku harus menepati janjiku padamu? Juga ... memenuhi keinginan Niang, dan juga Die.”
“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan lukamu?”
“Aku baik-baik saja, jangan khawatir.”
Pun Zhen Xian melepaskan pelukan, bagaimana mungkin tidak khawatir, bukan? Selama dua tahun ini, tanpa kabar atau berita apa pun, dan hidup seperti apa pula yang telah dilalui. Karena memang tidak ada yang tahu pasti dan benarnya seperti apa, lantas berlebihankah jikalau Zhen Xian memutar-mutar tubuh Zhen Chen seperti ini? Memastikan sebaik-baiknya di kala Que Mo sendiri tampak sangat ingin mendekap Zhen Chen, yang mana berakhir sudah Que Mo menjauhkan gadis ini sembari ia sesegera mungkin memeluk hangat sahabatnya.
“Kau kembali, itu sudah cukup. Sungguh, Zhen Chen.”
__ADS_1
“Terima kasih sudah menjaga Xian’er, Que Mo.”
Menggeleng-geleng, seolah tidak setuju akan ucapan Zhen Chen. Menjaga Zhen Xian, jelas suatu keharusan yang tidak perlu mendapat ucapan terima kasih. Dan Que Mo meyakini hal itu sampai air mata yang luruh pun sejadinya ia seka. Tidak ingin diketahui sisi rapuhnya ini, apalagi di hadapan mereka yang kini tersenyum lebar. Menyaksikan senyuman itu ... sungguhlah .... Menyenangkan.