Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 6


__ADS_3

Tok tok tok!


Ketukan demi ketukan terus dilakukan, tapi apa yang berada di balik pintu tertutup nan rapat ini masihlah begitu sepi. Pun suara keramaian menyambut pagi di luaran sana sudahlah begitu ramai. Tak hanya samar-samar suara para pekerja yang siap kembali beraktivitas, tapi diramaikan pula akan decitan demi decitan burung-burung dan juga ayam yang kian berkokok riang.


“Xian’er ....” Tak juga ada respons, ingin menerobos masuk pun rasanya enggan. Biar bagaimanapun Zhen Xian tetaplah seorang gadis, tapi jika tak masuk kapan gadis ini akan bangun? Yang ada hari sudah teramat siang, ibu juga tidak lagi di rumah untuk dimintai bantuan. “Xian’er aku akan masuk jika belum bangun juga.” Menanti lagi, pun hasilnya tetaplah sama.


Berakhirlah, Zhen Chen berada di dalam, mendapati sang adik memang masih tertidur pulas berselimutkan rapi. Mau dibangunkan rasanya tak tega, apalagi jika mengingat pengalaman hampir dijual kemarin pun dikejar-kejar. Namun, apabila tak dibangunkan saat ini, gadis ini pasti akan mendatangi kota seorang diri. Alih-alih kembali mendapatkan bahaya, ketidaktegaan akan jauh lebih baik, bukan? Oleh karenanya, tanpa ragu Zhen Chen membuka lebar jendela membiarkan semilir angin dingin menyebar ke seluruh kamar, tanpa lupa pula menyingkirkan selimut.


“Kita harus mengantar bunga ke toko, bangunlah atau aku akan benar-benar menarik paksamu.”


Tak juga ada reaksi, maka jangan salahkan Zhen Chen yang sudah dianggap cukup bersabar ini sungguh melakukan apa yang diucapkannya. Menarik paksa sang adik yang jelas saja enggan membangunkan diri, kembali ingin berbaring pun Zhen Chen dibuat kehilangan keseimbangan oleh energi gadis mengantuk tiada tara ini. Menindih, lekat memandang wajah sang adik dan apabila kedua tangan tertahan yang dilakukan Zhen Chen terlepas, maka hal yang tak seharusnya terjadi di antara dua saudara pun akan terjadi.


“AAAHHHH!!!” Membuka sepasang netra, mendapati sang kakak menjauh darinya. “Ge ... aaahhhh, sakit,” rintih Zhen Xian, memegang pun mengelus-ngelus dahinya yang sedikit memerah.


“Kurasa cara kasar memang berguna,” gumam Zhen Chen yang juga mengelus-ngelus dahinya. “Cepat bangun dan bersiap, kita akan terlambat,” lanjutnya, membawa kedua tungkai keluar kamar pun menggeleng-geleng juga tersenyum yang barangkali saja merasa konyol akan cara membangunkan sang adik.


Sementara di luaran sana, di bawah langit biru berawan tipis dengan sinar sang surya yang semakin meninggi, Zhen Chen bergabung dengan ayah dan ibunya yang sibuk memilah bunga mana yang layak dan tidak layak tuk dibawa ke toko bunga. Kepuasan pelanggan, tentu harus diutamakan, bukan? Mudah merusak citra baik, tapi sulit membangunkannya. Hal itulah yang terus ditekankan sang ayah.


Pun pada akhirnya, Zhen Xian yang telah selesai mempersiapkan diri ikut bergabung ke lahan bunga. Mendapati Que Mo sibuk membawa pupuk buatan kepada pekerja, menemani tentu saja menjadi pilihannya. Lagian, sang kakak tampaknya belum juga usai belajar, jadi harusnya tidak apa-apa jika dirinyalah yang menjadi pengajar Que Mo, bukan? Menjelaskan sedikit dasar mengenai cara merawat dan memetik bunga tanpa harus mengurangi harga jualnya. Tentu didengarkan Que Mo, meskipun tak tahu apakah ajaran yang disampaikan Zhen Xian ini benar adanya.


“Apa kau menyukai chahua?”


Sempat terdiam sesaat, karena Zhen Xian tak tahu jika teman barunya ini akan bersuara selama terdiam sedari tadi. “Hmm ... selain cantik, bunga ini memiliki arti yang indah. Bunga yang melambangkan penyatuan sepasang kekasih atau cinta abadi,” beritahu Zhen Xian. “Tidakkah hidup akan sangat indah jika bisa bersama dengan orang terkasih yang tak terpisahkan kecuali kematian? Hal ini yang kuharapkan akan terjadi dalam hidupku,” lanjutnya penuh harap, bahkan terbilang pikirannya telah melayang ke mana-mana.


“Xian’er! Waktunya kita pergi,” seru Zhen Chen, menyadarkan seketika Zhen Xian tuk menghampirinya. “Bawalah ini.” Menyerahkan dua keranjang yang dipenuhi bunga pilihan, pun Zhen Xian mengambilnya.

__ADS_1


Seperginya dua saudara Zhen, Que Mo yang mematung tiada hentinya memerhatikan. Ikut tersenyum menyaksikan kedua saudara itu bersenda gurau pun tertawa bersama bagai hidup mereka belum pernah dinodai dengan yang namanya masalah. Namun, benarkah ada hal demikian di dunia ini? Jika memang benar, maka tempat yang dipenuhi warna-warni bunga yang semerbak harumnya ini sungguhlah surga dunia.


Akan tetapi, balik lagi ke kenyataan. Jika pun dua saudara itu tak pernah mengenal masalah, lantas bagaimana masalah itu sendiri tak akan datang menghampiri mereka? Bukankah masalah itu memang suka berdatangan tanpa dimintai? Menuntut tuk diselesaikan, atau jika tidak masalah itu tidak akan pergi apalagi menghilang.


Singkatnya, Que Mo tak mau hal itu dialami dua saudara Zhen, karena dirinya tahu dan paham betul betapa tak mengenakkan ketika masalah melanda. Berharap penuh bagaikan dirinya penjaga tak kasatmata dua saudara itu, Zhen Chen dan Zhen Xian yang kini barulah usai mengantarkan bunga ke toko yang didatangi Zhen Chen kemarin.


Namun, mereka tak segera pulang, melainkan mampir ke kedai pangsit yang barangkali biasa mereka kunjungi. Memesan dua mangkok pangsit serta sepiring penuh bakpau untuk dinikmati bersama. Tepatnya Zhen Xian yang lebih banyak melahap ketimbang Zhen Chen yang lebih banyak mengusap pergi noda menempel dari mulut sang adiknya ini.


“Ge, kau tidak perlu repot mengurusku. Ini makanlah.” Menyodorkan pangsit, pun meminta Zhen Chen membuka mulut. Jelas saja Zhen Chen menerima tanpa segan, sebagai seorang kakak bagaimana bisa menolak pemberian adik, bukan? Akan tetapi, di mata orang lain mungkin hal ini akan ditanggapi berbeda.


Sebutkan saja bibi penjual pangsit yang sempat bertemu Zhen Xian kemarin, salah satu orang yang menasihati tuk kedua saudara ini tak perlu terlalu berlebihan jika bersama. Namun, tak dipedulikan Zhen Xian, sedangkan Zhen Chen hanya terdiam dan mengangguk-angguk bagai menerima setiap celotehan yang ada.


“Kau gadis muda dan sudah waktunya menikah. Tentu harus menjaga diri agar tidak disalahpahami orang lain.”


“Bibi, jika mereka tidak menginginkanku maka aku akan hidup selamanya dengan Chen Ge. Bagiku itu jauh lebih baik.”


“Baiklah, Bibi, kami akan mengingatnya,” jawab Zhen Chen, tak lagi heran apabila orang-orang tua menasihati, pasti tak jauh-jauh dari kata ‘mencari pasangan’ atau ‘menikah’. Dilawan justru tidak akan ada hentinya topik pembahasan itu, jadi lebih baik diam atau berpura-pura akan mendengarkan nasihat.


Namun, bibi penjual pangsit ini tetap saja tak berkesudahan, bahkan orang tua kandung sendiri pun tak pernah sampai bertindak seperti ini. Oleh sebab itu, begitu Zhen Xian menyelesaikan makannya, Zhen Chen dengan cepat pula membayar tagihan dan pergi begitu saja bergandeng tangan. Pun keduanya melihat-lihat sekitar seolah telah lupa apa yang disampaikan bibi penjual pangsit, apalagi ketika membeli jajanan.


“Apa yang terjadi di sana? Kenapa begitu ramai?” Penasaran, tak ingin pula melewatkan sesuatu yang barangkali saja menarik. Karena memang kenyataannya kota ini jarang melakukan hal-hal menarik. “Mari kita lihat,” tarik Zhen Xian, mendekati area kerumunan.


“Pengumuman dari kerajaan ... kompetisi ... kerajaan mengadakan kompetisi mendekorasi ulang tahun Taizi*,” baca Zhen Xian. “Ge, bagaimana? Apa kau tertarik ikut?”


“Entahlah ... menurutmu?”

__ADS_1


“Tentu saja ikut. Mungkin saja setelah itu nama Zhen Chen akan dikenal di seluruh penjuru kota,” jawab Zhen Xian dengan penuh senyuman sambil merentang lebar kedua tangannya, bagai dirinyalah sosok yang terkenal itu.


Namun, singkirkan dulu khayalan dan boleh dilanjutkan nanti. Pasalnya terdapat sebuah tandu yang tertarik kuda lengkap dengan beberapa pengawal dan juga pelayan berseragam tak biasa yang menggiring. Bahkan, seluruh warga kota yang berada di lokasi bersujud menghadapkan wajah ke tanah, tak terkecuali Zhen Chen dan Zhen Xian hingga tandu seutuhnya lewat, barulah orang-orang bangun dari sujud.


“Bukankah tadi ... Taizifei**? Aku penasaran secantik apa dirinya.” Bangun dengan bantuan sang kakak. “Jadi, apa kau akan ikut?” tanya Zhen Xian yang menunjuk pengumuman.


“Akan kucoba, karena itu maumu juga, bukan?”


Mengangguk-angguk Zhen Xian dibuat menahan kesenangan, tapi akhirnya tak lagi mampu menahan dan malah memecahkan teriakan kegirangan tanpa peduli apa yang akan orang-orang katakan tentang dirinya. “Ge, biarkan aku menemanimu melakukan pendaftaran besok.”


“Sekalipun aku melarang, kau juga pasti tidak akan mendengar.” Mengulurkan tangan, diterima antusias pula oleh Zhen Xian. Pun keduanya kembali pulang dengan kabar membahagiakan ini, tak terkecuali menceritakan semuanya pada kedua orang tua mereka saat makan bersama. Tak lupa pula Zhen Xian menyiapkan pakaian yang akan dikenakan besok, tanpa terasa hari kian larut di mana sang ratu malam yang menggantung pun kian menurun.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Mendudukkan diri bersebelahan dengan sang adik. ”Kenapa belum tidur?”


“Hanya tidak bisa tidur, jadi menghirup udara segar,” jawabnya, bersandar bahu pada sang kakak pun menggandeng lengan. Terlihat begitulah nyaman, betah bahkan sampai fajar nanti menyingsing.


“Besok kita harus berangkat pagi, tidurlah lebih awal.”


“Tubuhmu sangat hangat dan terasa nyaman, kurasa aku akan lebih cepat tertidur jika tetap seperti ini,” ucap Zhen Xian yang memejamkan sepasang netranya. “Mungkin aku terlalu antusias menanti hari esok.”


Alhasil, Zhen Chen ikut menyandarkan kepalanya pada kepala Zhen Xian yang pula memejamkan sepasang netranya. Bahkan semilir angin malam yang begitu menusuk tulang berusaha mengganggu, tetap saja tak dipedulikan keduanya yang justru merasa sangat nyaman hingga titik di mana tak ingin terpisah pun menyunggingkan senyuman. Tanpa mereka sadari, tanaman chahua yang tertanam dekat teras tiba-tiba mengeluarkan kuncup layaknya sihir.


Notes:


*Taizi berarti Putra Mahkota.

__ADS_1


**Taizifei berarti Putri Mahkota.


__ADS_2