
Musim Dingin – Satu Tahun Lalu.
Sepasang netra terpejam, mulai terbuka. Dengan sangat perlahan pula, ia membangunkan diri seraya memegang bagian dada kirinya yang masihlah terbalut kain putih. Yang mana noda berupa bercak darah tertampil di atasnya. Namun, ia tidaklah merasa begitu memedulikan hal tersebut, melainkan kebingungan di mana dan tempat apa dirinya berada kini.
Jikalau dikatakan tempat ini berupa gubuk tua, mungkin akan terdengar kurang pantas. Karena dari segi bangunan, tidaklah seburuk itu semacam pemiliknya sungguh merawat dengan baik. Pun kesederhanaan begitulah melekat, yang barangkali jika seluruh jendela ataupun pintu dibukakan secara lebar sekalipun, atau tempat ini ditinggalkan beberapa hari bahkan beberapa minggu dan bulan saja. Tampaknya, tidak akan ada siapa pun yang akan berniat buruk, kecuali meminjam tempat ini untuk ditempat tinggali.
“Berapa lama sudah aku tertidur?” gumamnya.
Pasalnya, sepasang tungkai yang berusaha didirikan begitulah sulit diseimbangkan, begitu lemah seakan kehilangan sejumlah energi pun jikalau dipaksakan untuk bergerak akan terlihat cukuplah kaku. Lantas, tidak mungkin ia tertidur atau mungkin lebih tepatnya tidak sadarkan diri cuma dalam beberapa hari saja, bukan?
Siapa sebenarnya yang merawatku? Apa orang itu tidaklah tahu identitas asliku?
Jika dilihat dari cara merawat, bukankah seseorang ini merawat dengan cukuplah baik? Namun, bagaimana bisa orang itu tidak takut akan risiko yang ada jikalau sampai Raja tahu? Anak dari seorang pengkhianat, dibayar berapa mahal pun harusnya tidak akan ada siapa pun yang bersedia menyelamatkan, bukan? Lantas, siapa seseorang yang bisa saja seorang tabib ini sampai begitulah berani? Apa dirinya seseorang yang sebaik dan seberani Tuan Zhen ataupun Nyonya Zhen?
Yang mana segala pemikiran tersebut berakhir membawa ia mendudukkan diri kembali pada pinggiran ranjang, pun pikiran barangkali kembali teringat ke masa di mana malam pembantaian keluarga Zhen terjadi. Jikalau bukan karena itu, tidak ada alasan baginya untuk bersikap begitu terpuruknya, bukan? Belum lagi sejumlah buliran air mata menghiasi sepasang pipi wajahnya yang memucat.
“Kau sudah sadar? Syukurlah.”
Sontak Zhen Chen menyeka pergi air mata, memandangi pria tua yang barangkali telah menginjak usia 60 tahun ini. Bukan hanya terlihat ramah, tapi pria tua ini pun menyerahkan semangkuk ramuan kecokelatan nan berbau cukuplah menyengat. “Ini ...?”
“Jangan khawatir, itu ramuan untuk memulihkan kembali tubuh terlukamu. Minumlah selagi hangat agar lebih berkhasiat.”
Tanpa mengatakan apa pun, Zhen Chen menerima dengan baik ramuan tersebut dan meminumnya tanpa segan pula. Lagian, pria tua ini tidak mungkin akan membunuhnya, bukan? Karena jika benar, maka tidak ada alasan bagi Zhen Chen untuk mampu terbangun kembali seperti ini. Bisa saja pria tua ini membunuhnya dari sejak awal, dan bukannya malah menampung di rumah ini apalagi sampai mengobati luka tusukan yang diberikan Lin Feng di hari pembantaian keluarga Zhen malam itu.
“Biarkan aku mengganti perban lukamu.” Dan Zhen Chen terdiam, bukan karena ia ingin melainkan belum sempat meneguk habis ramuan yang diberikan barusan, pria tua ini telah lebih dahulu membuka perban. “Lukamu akan segera sembuh, jadi istirahatlah yang banyak.”
Benar saja, luka tusukan yang didapat dari Lin Feng ini setidaknya telah mengecil dan tidak lagi terlihat dalam. Biar kata memanglah masih mengeluarkan darah dan sedikit basah, tapi itu hanya sedikit saja dan yang terpenting tidaklah infeksi.
“Panggil saja aku Tabib He, dan tanyakan saja jika kau memang punya pertanyaan.” Menyelesaikan pergantian perbannya, memandangi Zhen Chen seakan menanti jenis pertanyaan seperti apa yang akan dilontarkan pria muda ini. Namun, lagi dan lagi pria tua yang meminta dipanggilkan Tabib He ini berucap, semacam telah tahu pertanyaan apa yang ingin diketahui Zhen Chen.
Katakan saja Tabib He ini memang cepat tanggap, atau malah seperti Jin Kai yang pandai membaca situasi pun pikiran orang-orang. Atau malah itu Zhen Chen sendiri yang justru mudah ditebak pikirannya? Dan entahlah, apa pun itu yang pasti Zhen Chen kini hanya menggangguk, membenarkan jikalau ia ingin tahu terkait apa yang Tabib He ucapkan barusan.
“Kau sudah tidak sadarkan diri selama setahun, dan juga ... tempat ini adalah salah satu dari sekian banyak desa yang ada di Dali.”
__ADS_1
“Dali ...? Kampung halaman Taizifei?”
“Jangan khawatir, meskipun benar ini kampung halaman Taizifei, tapi keberadaanmu dijamin tidak akan diketahui pihak Kerajaan Yunnan-Fu sana.”
Yang mana setelahnya, Zhen Chen sedikit-sedikit mulai tahu lebih banyak. Mengenai bagaimana ia bertemu dan akhirnya mampu dibawa kemari, dan itu semua berkat Lin Feng. Sosok yang dikira akan membunuh, tapi ternyata pengawal pribadi Jin Kai itu sengaja menusuk untuk membuat kematian palsu. Karena hanya dengan begitulah, hidupnya akan terbebas dari kematian sesungguhnya.
Hanya saja, berapa besar upah yang dibayarkan Lin Feng sampai Tabib He ini begitulah berani? Mempertaruhkan nyawanya sendiri seperti ini. Jangan bilang hanya karena dirinya seorang tabib, maka bersedia melakukannya. Karena Zhen Chen tidak akan percaya dengan alasan payah seperti itu, dan mungkin akan lebih percaya jikalau seandainya Tabib He mengatakan itu semua atas dasar kasihan belaka.
Namun, tidak mungkin sesederhana itu, bukan? Yang mana Tabib He sendiri tampak seperti seseorang yang tidaklah berkeluarga, berkat rumah yang terlihat kosong tanpa kehadiran satu pun orang di sini.
Akan tetapi, suara keramaian nan membahagiakan di luar sana cukuplah mengundang keingintahuan lebih seorang Zhen Chen. Yang tanpa disadari, lupa sudah keinginan Zhen Chen untuk mengetahui alasan dibalik Tabib He bersedia menyelamatkannya, dan memilih menghampiri jendela kayu yang tertutup dalam papahan Tabib He.
Begitu jendela terbuka, inilah yang tertampilkan.
Kepingan es berjatuhan dari langit mendung, memutihkan tanah, rerumputan serta bangunan rumah-rumah sederhana yang ada. Yang mana anak-anak kecil berlarian di bawahnya, begitulah bahagia dikarenakan anak-anak ini belumlah mengenal pahitnya dunia luar sana. Sama seperti tempat tinggal keluarga Zhen kala itu, sebelum akhirnya bertemu kehancuran.
“Desa ini dipanggil Desa Yong Gan.”
Yong Gan? Keberanian?
Namun, apa itu Desa Yong Gan sebenarnya? Kenapa yang Zhen Chen rasakan dari desa ini malah suatu hal yang tidak mengenakkan, semacam ada suatu hal terkait pengorbanan telah terjadi sebelumnya. Yang mana warga desa sekalipun telah didominasi oleh para wanita, ketimbang laki-laki. Bahkan jika terlihat pria dewasa saja, mereka hanya berada di usia yang sama dengan atau bahkan beberapa tahun lebih tua dari Zhen Chen.
Jika menanyakan alasannya sekarang, akankah Tabib He menjawab? Di kala Tabib He sendiri kini terlihat begitulah tidak baik, semacam ada suatu kesedihan terpancarkan dari sepasang netra tuanya itu. Memilukan, benar. Cukuplah memilukan untuk terus disaksikan Zhen Chen yang barulah kehilangan seluruh keluarga hanya dalam semalam saja.
Oleh karenanya, haruskah sekarang mengalihkan topik? Haruskah ... kembali menanyakan alasan kenapa Tabib He bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan nyawa dari seseorang yang merupakan musuh Raja?
Yang mana Tabib He tidak serta merta menjawab, melainkan menutup jendela dan membawa Zhen Chen duduk kembali pada pinggiran ranjang. Entah hal apa yang mengganggu Tabib He ini, tapi Zhen Chen tahu jikalau alasannya barangkali cukup sulit untuk dijelaskan. Barangkali sama dengan kasus di mana desa ini berdiri dan ada.
“Kurasa sudah waktunya ... benda tersebut jatuh pada tanganmu.”
Benda? Apa lagi maksud dari Tabib He? Dan Zhen Chen terus saja memerhatikan pria tua ini, mengambil sesuatu yang ditempatkan di atas lemari pakaian kayu miliknya. Suatu kotak panjang dengan ukiran unik, yang mungkin saja satu-satunya benda berharga dalam rumah ini. Akan tetapi, kenapa menyerahkan benda tersebut pada Zhen Chen yang kian kebingungan? Dan Tabib He seakan memaksa, agar mengambil pun menerima kotak berukiran unik ini.
Lantas, bagaimana bisa Zhen Chen menolak? Selain menerima untuk kemudian dibukakan. Mendapati, benda yang ada di dalam sana tak lain dan tak bukan hanyalah suatu pedang. Di mana tepat dari badan pedang itu sendiri, terukir suatu kata ... ‘Yong Gan’.
__ADS_1
Bukankah sama dengan nama desa ini sendiri? Dan apa mungkin keberadaan desa ini sendiri ada karena pedang ini yang melatarbelakanginya? Jikalau benar demikian, maka siapa pemilik pedang ini dan ke mana seseorang tersebut? Kenapa Tabib He malah berucap seolah pedang ini adalah milik Zhen Chen? Seakan ... seakan Zhen Chen-lah penerusnya.
“Mungkinkah ... pedang ini ....”
Pun Tabib He mengangguk, membenarkan keraguan Zhen Chen yang seketika meneteskan air mata tepat pada ukiran tulisan ‘Yong Gan’. “Itu pedang milik Jenderal Wei, ayahmu, dan juga ... pemimpin yang pernah menjadi panutanku.”
Yang mana Zhen Chen sendiri tak kuasa menahan tangisnya, tenggelam begitu saja dalam luapan emosi. Tak pernah pula ia menyangka masih ada benda di mana jejak dari sang ayah masih melekat di dunia ini, pun masih ada pengikut setia seperti Tabib He ini. Setidaknya, memampukan ia untuk mendengarkan kisah sang ayah yang sesungguhnya, bukan? Sejatinya sang ayah adalah jenderal yang seperti apa, seadil dan sesetia apa pula pada negaranya. Bukannya kabar palsu yang diciptakan, dibuat dan disebarkah oleh sang Raja.
Akan tetapi, kemunculan pria yang entah siapa ini sukses membuat tangisan Zhen Chen terhenti. Seorang pria yang tampak berada di usia pertengahan 50 tahun, belum lagi perawakan yang ada cukuplah tegas dan sangar. Namun, di balik sepasang netra lurus yang diarahkan pada Zhen Chen malah terlihat begitulah lembut, pun hangat. Semacam pria sangar ini sebenarnya mudah untuk didekati, dan diajak mengobrol.
“Perkenalkan, dia adalah Azheng. Dulunya dikenal sebagai Si Lin, orang yang paling dekat dan mengenal baik ... tangan kanan Jenderal Wei.”
DEG!
Bukankah semua pengikut setia Jenderal Wei telah dimusnahkan? Lantas apakah kabar itu palsu? Atau adakah sosok tersembunyi yang diam-diam menyelamatkan mereka seperti yang dilakukan Lin Feng dalam memalsukan kematian? Selain itu ... selain dari itu, apakah warga desa ini seluruhnya ada hubungannya pula dengan Jenderal Wei? Pasukan Wei?
Lantas jika memang benar adanya, siapakah sosok yang menyelamatkan itu? Apakah seseorang yang dikenal Zhen Chen ataukah tidak dikenal?
“Sudah sangat lama bagi kami semua mencarimu, Wei Lang. Sampai akhirnya kami mendengar kabar jikalau kau adalah Zhen Chen, dan betapa kerasnya kami malam itu ingin menyelamatkan nyawamu,” ucap Azheng.
“Siapa ... siapa sosok yang diam-diam menyelamatkan kalian dari kekejaman Huangdi?”
Pun Azheng, bertukar pandang terlebih dahulu dengan Tabib He, yang mana Tabib He sendiri berakhir mengangguk. Dan Azheng sendiri tampak telah memutuskan, jikalau sekarang memanglah waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya pada putra Jenderal Wei ini. Karena itu adalah hak Wei Lang, hak di mana ia pun harus tahu. “Penyelamat itu adalah Tuan Lin ... pejabat tinggi kerajaan yang telah pensiun, atau mungkin kau akan lebih mengenalnya jikalau kusebutkan nama putranya.”
“Siapa?”
“Lin Feng ... pengawal pribadi Taizi, orang yang memalsukan kematianmu. Dialah putra dari Tuan Lin, penyelamat kami semua.”
DEG!
Yang mana ucapan Azheng barusan, cukuplah membuat Zhen Chen bergeming dalam keterkejutan. Berusaha mencerna kembali apa yang barulah didengar, sementara Azheng terus saja berucap yang memampukan Zhen Chen samar-samar mengetahui jikalau Desa Yong Gan ini sendiri Tuan Lin-lah selaku yang menyediakan.
Lantas, apakah Tuan Lin bersahabat dengan Jenderal Wei? Karena jikalau bukan hubungan sahabat, tidak mungkin Tuan Lin akan sangat berjasa dalam menyelamatkan nyawa-nyawa pasukan setia ini, bukan? Dan barangkali, alasan pensiun Tuan Lin sebagai Perdana Menteri kala itu dikarenakan alasan ini pula. Merasa tidak pantas, karena ia sendiri diam-diam mengkhianati Raja kala itu.
__ADS_1
Namun, alih-alih semua itu, Zhen Chen tidaklah mengenal ataupun pernah bertemu langsung dengan Tuan Lin. Yang ia kenal hanyalah Lin Feng, putranya. Oleh sebab itu, alih-alih mendengarkan kisah seseorang yang tidaklah dikenal tersebut, Zhen Chen memilih untuk mengenal dan mengetahui lebih banyak terkait warga desa ini. Setidaknya, desa ini berkemungkinan besar akan menjadi tempat Zhen Chen memulai kehidupan baru.
Tepat ketika ia sukses menyelamatkan Zhen Xian dan juga Que Mo dari jeratan Jin Kai pastinya.