
Berembus sembari masuk tanpa izin tepat ketika jendela dibukakan, menyebar ke seluruh bagian ruangan kamar tanpa mampu tertangkap pandangan melainkan hanya mampu dirasakan, pun meninggalkan berupa jejak embun tepat pada kaca perunggu yang ada. Di mana dalam kaca tersebut, menampilkan bayangan dari seorang pemuda yang baru saja selesai mempersiapkan diri.
Sapaan pagi pada kedua orang tuanya menjadi kata pertama yang diserukan saat ketika ia meninggalkan kamar, merekahkan senyuman layaknya mentari di luaran sana yang kian meninggi memperjelas pandangan atau warna-warni dunia.
“Kau akan berangkat ke istana?”
Yang mana Zhen Chen bergumam membenarkan, mulut sibuk mengunyah makanan, dan ayah selaku si penanya sadar betul jikalau putranya ini telah dalam kondisi hati yang baik. Dengan kata lain, Zhen Chen yang lalu telah kembali. Bahkan jika ia berpura-pura saja, tidak mungkin ayah yang sedang menikmati sarapan pagi ini tak menyadari, bukan? Termasuk pula ibu yang senang mendapati aura kepositifan dari putranya ini tak lagi mendung.
“Duduk dan sarapanlah dengan benar, kenapa begitu terburu-buru?”
“Pekerjaan sudah banyak menantiku, Niang.”
Memang benar, sebagai seorang ketua di salah satu departemen istana yang ada, Zhen Chen terbilang sudah cukup lama tak ke sana. Namun, berapa lama memang cuti diizinkan dalam istana tersebut? Kenapa pihak istana tak sama sekali memecat seseorang yang telah lama tak bekerja? Bahkan tak ada keluhan apa-apa dari pihak istana sendiri.
Jin Kai, Putra Mahkota itu, apa mungkin ia dalang di balik semua hal ini? Apa sengaja dirinya ingin melihat keputusan yang diambil Zhen Chen akhirnya akankah sesuai dengan ucapan keyakinan waktu lalu? Terkait keyakinan Zhen Chen yang tak akan menjauh dari sang adik.
Jikalau memang demikian, Zhen Chen yang saat ini telah menghabiskan semangkuk sup buatan sang ibu akan mencari tahu sendiri.
“Hiduplah dengan baik dan lakukan hal yang hatimu inginkan. Kami akan selalu mendukung apa pun itu, Chen’er,” ucap ibu, mengambil mangkuk kosong dari tangan putranya sembari memandang lekat. “Termasuk hatimu pada Xian’er.”
“Aku sungguh sangat berterima kasih atas itu, Niang ... dan juga pastinya padamu, Die. Akan kucari cara untuk menjaga Xian’er dengan baik dan membawanya keluar dari tempat terkutuk itu. Paling tidak itu hal yang bisa kulakukan padanya agar mampu hidup bebas dan bahagia kembali.”
Serta merta ayah membangunkan diri dari duduknya, merangkul pundak Zhen Chen sembari membawa diri keluar rumah. “Maka lakukan, karena dari rumah ini sendiri tidak ada yang akan menghentikanmu. Hanya ingatlah, untuk selalu berhati-hati dengan semua tindakanmu.”
“Aku tahu, jangan khawatir.”
Meskipun nyatanya, Zhen Chen sendiri cukup khawatir. Namun, sejadinya tak ingin diperlihatkan apalagi diketahui oleh kedua orang tuanya. Pun Zhen Chen menyempatkan diri memeluk sang ayah, di mana ibu sendiri tersenyum menyaksikan dua pria tercintanya begitulah dekat.
“Baiklah, aku berangkat sekarang,” pamit Zhen Chen yang bahkan memeluk ibunya juga. “Jangan memikirkan apa pun, semua akan baik-baik saja.”
Seperginya Zhen Chen, barulah ibu menunjukkan kekhawatiran yang dirasakan pada sang suami. Pandangan tak bisa dilepaskan dari sang putra yang kian menjauh tanpa menoleh. Yang mana sang suami merangkul pinggang sang istri yang mendesah kecil. “Apa menurutmu semua sungguh akan baik-baik saja?” Dan yang ditanya malah terdiam, mengharuskan Nyonya Zhen menoleh, tahu jikalau pertanyaan itu sulit dijawab bahkan oleh suaminya sendiri. “Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya lagi.
“Apa pun yang terjadi ... maka akan terjadi.”
Tanpa mereka ketahui, jikalau Zhen Chen sendiri saat ini berpapasan dengan seseorang, sukses pula menghentikan langkahnya sembari wajah sedikit diturunkan seakan memberikan hormat. “Bibi Liang,” ucapnya.
“Syukurlah kau sudah membaik sekarang, sungguh keputusan yang bagus, Zhen Chen.”
“Kudengar, itu Bibi-lah yang menyarankan pada kedua orang tuaku untuk memberitahukan kenyataannya padaku. Bibi, aku sungguh berterima kasih atas hal itu.”
__ADS_1
“Aku hanya menyarankan, tapi yang memutuskan adalah orang tuamu. Jadi itu bukanlah apa-apa dan kau tidak perlu sungkan begitu.”
Meskipun hidup yang dijalani sejak kecil taklah mudah, tapi kini Zhen Chen sadar betul jikalau dunia masih sangatlah menyayangi dan mencintai dirinya secara tulus. Bukan hanya diberikan kesempatan hidup, melainkan dipertemukan dengan keluarga Zhen yang hangat, lalu kemudian dihadirkan sang adik pun mampu merasakan apa itu cinta di antara pria dan wanita.
Benar, Zhen Chen tak perlu lagi menghindari perasaannya kini. Entah sejak kapan perasaan itu hadir, Zhen Chen pun tak tahu pasti. Karena waktu yang dihabiskan bersama Zhen Xian terbilanglah banyak, sampai ia saja tak tahu-menahu bahwa perasaan yang dikiranya perasaan sayang dari seorang kakak pada adik nyatanya taklah sesederhana itu.
Apa pun itu, yang pasti sekarang dirinya tahu dan tak perlu lagi bertanya-tanya akan perasaan yang dirasakan ini jenis perasaan yang seperti apa.
Yang menjadi pertanyaan adalah ... akankah perasaan yang dirasakan Zhen Xian sama? Akankah perasaan sayang gadis itu benar adalah perasaan cinta antara pria dan wanita? Atau malah hanya perasaan sayang di antara saudara saja? Dan Zhen Chen harus memastikan terlebih dahulu hal ini sesegera mungkin.
Hanya saja, akan seperti apa reaksi Zhen Chen jika melihat Zhen Xian sendiri seperti saat ini? Termenung biar kata meja di hadapannya dipenuhi makanan, tetap tidak mampu mengubah selera makannya seperti dahulu. Apalagi di saat sekarang, ketika sang kakak tidak ada. Lagian memang betul, harta dan kekuasaan yang disediakan kerajaan ini tak akan pernah mampu mengisi kekosongan hatinya.
“Apa telah terjadi sesuatu?” gumamnya, lurus menatap makanan dengan pandangan lesu seakan tak makan selama berhari-hari. “Sudah hampir 3 minggu lamanya, apa yang terjadi sebenarnya?”
“Kenapa tidak makan?” Serta merta gadis ini menoleh ke asal suara, mendapati sang suami-lah sosok yang menghampiri. “Kalian semua pergilah,” titahnya pada semua pelayan yang pastinya segera menuruti.
“Ada apa kemari? Kau tidak pergi ke Aula Utama?”
“Setelah sarapan bersamamu aku akan pergi.”
“Aku sedang tidak ingin makan apa pun,” ketus Zhen Xian, membuang wajahnya dari Jin Kai seakan suatu jenis pengusiran. “Juga ... bisakah kau lebih sering menemui Taizifei? Dia wanita luar biasa, sampai kapan kau akan bersikap dingin dan tak peduli?”
“Ge ....” Sembari membangunkan diri, menghampiri sang kakak yang telah lama dirindukan pun merangkul sebelah tangan yang memang telah menjadi kebiasaan Zhen Xian. Netra berbinar-binar terselimuti kebahagiaan juga pastinya ketenangan, tenang karena sang kakak tampak baik-baik saja. “Ge, apa telah terjadi ....” Terhenti, sadar jikalau dalam kediaman ini tak hanya ada mereka saja.
“Kau akhirnya datang ke istana, kukira kau menyerah akan keputusanmu di pertemuan terakhir kita, tapi tampaknya aku salah dengan kedatanganmu kembali sekarang.”
“Keputusan? Apa maksudnya, Ge?”
“Bukan apa-apa, itu tidak ada hubungan dengan dirimu.”
Pun Jin Kai membangunkan diri dari duduknya, membawa sepasang tungkai mendekati dua saudara ini. Lebih tepatnya mendekati Zhen Chen, berdampingan dengan ahli bunga ini seraya netra lekat diarahkan. “Jagalah sikapmu jika tidak ingin masalah lebih lanjut terjadi,” kecamnya, yang mana memang kecamannya ini demi kebaikan mereka sendiri. Hanya saja, bagi mereka yang merupakan korban permainan tipu muslihat Jin Kai tak lagi mampu melihat sejernih apa niatan baiknya ini. Apalagi Zhen Xian, pastinya.
Di mana kehadiran Lin Feng yang masuk menghampiri Jin Kai pada akhirnya sukses memutuskan pandangan lekat Putra Mahkotanya ini pada si ahli bunga. “Taizi, waktunya menghadiri rapat,” lapornya.
“Ketahui tempatmu, Zhen Chen.” Barulah Jin Kai meninggalkan Kediaman Chahua, menahan amarah pun diekori Lin Feng yang sempat melirik sesaat dua saudara Zhen. Yang pastinya Zhen Xian sendiri masa bodoh dengan kepergian mereka, malahan kini mulai meluapkan kesenangan akan hadirnya sang kakak tanpa menanyakan hal apa pun terkait pembicaraan dengan Jin Kai barusan.
Lagian, hal itu taklah begitu penting, bukan? Jauh lebih penting menanyakan perihal sang kakak yang kenapa tak kunjung mendatangi istana.
“Apa yang terjadi? Aku sangat khawatir hampir tiga minggu ini, Ge. Apa kau sakit? Atau ada masalah di rumah?”
__ADS_1
“Tidak terjadi apa pun, dan mulai sekarang aku akan selalu bersamamu. Tidak lagi pergi atau menahan apa pun dan hanya akan melakukan apa saja yang kuinginkan.”
“Ge, kenapa aku merasa kau sedikit berbeda sekarang?”
“Benarkah? Hmm ... apa yang membuat kau berpikir demikian?” tanya balik Zhen Chen.
Zhen Xian melepaskan rangkulan tangannya dari sang kakak, memundurkan beberapa langkah sembari mengedarkan pandangan mengitari sang kakak. “Kau terlihat lebih bahagia, juga ... lebih semangat ...?” tebaknya.
“Lagi?”
“Cara pandangmu terhadapku. Benar! Kau memandangku dengan cara berbeda, tidak seperti biasanya.”
Yang mana Zhen Chen malah tersenyum dan bukannya merespons dengan kata-kata, memandangi Zhen Xian kebingungan mengartikan maksud dari senyumnya ini. Saat itu pula, Zhen Xian bahkan tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat sang kakak melakukan hal yang membuat ia mematung seraya membulatkan sepasang netra. Jantung, mungkinkah telah berhenti? Tepat ketika dirinya merasakan kehangatan serta kelembutan bibir sang kakak menempel di keningnya.
Pertama kalinya, bukankah ini pertama kalinya sang kakak bersikap demikian? Tapi kenapa? Dan apa pula alasannya sampai bertindak sejauh ini? Bukankah ini sudah melewati batas jarak di antara pria dan wanita bahkan jika di antara saudara? Lantas, kenapa sang kakak yang memandangnya kini malah bagai seseorang yang melupakan segala peraturan itu?
“Aku akan menemuimu lagi nanti.”
Bagaimana bisa, kau begitu santai setelah melakukan hal ini padaku, Ge? Apa aku yang berlebihan? Terus saja, memerhatikan kepergian sang kakak. Lidah keluh bahkan tak sempat mengatakan apa-apa, karena memang otak berhenti bekerja memikirkan kata-kata apa yang harus diucapkan. Yang mana adegan kecupan kening tadi terus saja terngiang-ngiang, begitu jelas dan begitu terasa ... aneh di hati? Entahlah, karena Zhen Xian sendiri tak begitulah paham jenis detakan aneh macam apa yang dirasakan ini.
Begitulah gugup, menjadikan detaknya kini tak karuan. “Apa yang terjadi denganku?” Memegang dadanya, mendapati sang kakak yang sudah menjauh dari kediamannya melambaikan tangan dengan wajah penuh senyuman, menampilkan secara jelas deretan gigi putihnya yang rapi, menambah ketampanan seorang Zhen Chen.
Que Mo yang baru saja menghampiri, sontak saja dibuat bertanya-tanya ada apa lagi dengan gadis ini. Pun mendapati meja masihlah dipenuhi makanan, padahal Zhen Chen telah datang. “Kenapa wajahmu memerah begitu? Apa kau sedang merasa tak enak badan?”
Memerah? Kenapa wajahku memerah? Menyentuh kedua pipinya, dan benar saja rasanya panas. Namun, ini jelas bukanlah demam atau tanda-tanda akan sakit. Yang mana Zhen Xian segera menepis pergi tangan Que Mo yang hendak menyentuh keningnya. “Aku baik-baik saja,” ucapnya cepat.
“Benarkah? Lalu kenapa wajahmu merah begitu? Kau tidak sedang mabuk, bukan?”
“Siapa memang yang akan minum-minum di pagi hari begini? Kenapa kau membuat diriku seperti seorang pecandu saja?” Membawa diri menjauhi Que Mo, atau barangkali kabur tak ingin mendapat rentetan pertanyaan dari Que Mo yang cukup penasaran ini.
“Lalu kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu, bukan?”
“Hentikan! Aku ingin sendiri sekarang. Kau pergilah,” usir Zhen Xian, bahkan menutup pintu kamar untuk sesegera mungkin menghampiri cermin. Dan benar saja seperti yang Que Mo katakan, wajahnya memang sebegitu merahnya yang mana tak perlu lagi menggunakan perona pipi. “Ada apa denganku? Sungguh ... kenapa aku begini?”
Namun, tak bisa dipungkiri jikalau perlakuan sang kakak tadi mengundang senyuman akhirnya, menjadikan dirinya begitulah senang tanpa tahu alasannya kenapa. Tak mengherankan apabila pagi ini terasa begitulah berwarna, tapi di saat bersamaan juga cukuplah mengganggu karena ingatan itu terus saja berdatangan tanpa dimintai.
Apa boleh bagi diriku merasakan kesenangan jenis ini? Apa ini wajar di antara saudara?
Pun Zhen Xian mendesah sembari membaringkan dirinya di ranjang, membenamkan wajah dengan bantal yang kemudian berteriak sejadinya meluapkan segala jenis perasaan dalam hatinya. Senang, tapi membingungkan. Membingungkan, tapi senang. Yang mana pemilik dari Kediaman Chahua ini sendiri tak mampu mengatakan atau menggambarkan secara lebih jelas lagi bagaimana perasaannya kini berkat kecupan tiba-tiba sang kakak.
__ADS_1
Apakah ini hal baik? Ataukah hal buruk?