Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 31


__ADS_3

Seruan demi seruan tak asing terus tertangkap pendengaran, memancing area yang begitulah dipadati lalu-lalang orang-orang yang barangkali lebih cocok disebutkan kerumunan ini. Sebagian memang sukses terpancing, tapi sebagiannya lagi tidaklah demikian. Barangkali memang sibuk hingga tak mau waktunya terbagi ke lain hal biar kata sejenak saja.


Namun, berbeda dengan dua orang yang begitulah mudah dibedakan dalam kerumunan ini. Seorang pria yang menarik gerobak kosong dengan seorang gadis di sebelahnya. Gadis bertusuk konde chahua yang menghentikan langkah pun menarik pria yang tak lain adalah Que Mo untuk ikut dengannya, menepi.


“Lao Ban, dua mangkok mie dengan tambahan pangsit.”


Tentu dengan antusias si pemilik dari kedai makanan ini menanggapi, biarpun dirinya begitulah sibuk menangani pembuatan demi pembuatan mangkuk pesanan dari pelanggan lainnya yang terbilang cukuplah ramai. Pun Zhen Xian selaku yang memesan barusan, pantas saja begitulah terkesima akan kecepatan dari tiap gerakan yang si pemilik kedai ini lakukan.


“Lihatlah apa yang terjadi dengan wajah mereka.”


Serta merta Zhen Xian menghentikan sesi terkesimanya, menoleh ke arah mana orang-orang melihat. Mendapati sesuatu yang tak sepantasnya dialami sebagai manusia, bahkan hewan saja tak seharusnya diperlakukan sampai tak berbentuk seperti ini.


“Mereka pasti penjahat, lihatlah luka di wajahnya.”


“Sungguh mengerikan.”


Benar saja, wajah mereka tepatnya di sebelah pipi yang ditutupi sejadinya dengan geraian rambut itu. Terlihat cukuplah jelas mesti dari jarak Zhen Xian dan Que Mo kini berdiri, mematung.


“Apa yang terjadi dengan mereka?” gumam Zhen Xian, kian memfokuskan pandangan bagai merasakan sesuatu tak asing terhadap empat wanita menyedihkan ini.


Namun, apa itu? Kesalahan dan kejahatan apa hingga mereka pantas dihukum sedemikian rupanya?


“Sudahlah, itu bukan urusan kita,” ucap Que Mo seraya membawa Zhen Xian duduk. Zhen Xian yang masih saja tak bisa melepaskan pandangan curiganya pada empat wanita yang kian menjauh ini. “Berhentilah memikirkan urusan orang yang tak dikenal,” ucapnya lagi.


Pun Zhen Xian mengangguk-angguk, membenarkan. Lagian bagaimana bisa mengenal mereka, bukan? Jika sudah mengenal, pasti sedari tadi sudah mengingat wajah mereka.


Namun, sekeras apa pun dicoba, tetap saja tak terpikirkan siapa keempat wanita yang berpakaian penuh noda darah itu. Pakaian yang tampak seperti ... pelayan istana? Tebaknya seraya kembali mengarahkan pandangan. “Benar, aku ingat sekarang di mana pernah melihat mereka. Pelayan istana, mereka jelas pelayan istana,” beritahunya pada Que Mo. “Apa yang terjadi?”


“Pelayan istana?”


“Itu mereka yang membuatku terluka kemarin.” Menunjukkan telapak dari kedua tangannya, mendapati luka goresan telah mengering. “Lihatlah, kau pun tahu ceritanya seperti apa.”


“Baguslah! Mereka mendapat ganjarannya sekarang. Jika begini, kian pula kau tak seharusnya merasa prihatin pada mereka.”


Akan tetapi, Zhen Xian tampak tak sepemikiran dengan Que Mo. Bahkan niatannya tadi yang ingin memakan mie dengan tambahan pangsit, bagai telah hilang kini. Padahal aroma yang menguar dari semangkuk mie yang diantarkan si pemilik kedai ini begitulah menggiurkan. Yang mana pada akhirnya mendengar meja sebelah membicarakan masalah terkait hal yang menimpa keempat pelayan wanita istana tadi. Tentu, Zhen Xian dibuat bersemangat untuk mendengar lebih.

__ADS_1


“Pelayan istana?” selanya, berpura-pura tak tahu-menahu. “Jadi mereka sungguh pelayan istana?”


“Benar, kabarnya mereka dihukum atas perintah Taizi sendiri.”


“Taizi?” Kali ini Que Mo yang justru menyela. “Bukankah Taizi orang yang sangat baik? Tak mungkin sampai membuat mereka seperti itu.”


“Kita sebagai rakyat biasa mana tahu sikap aslinya Taizi seperti apa. Ingatlah kembali kejadian 15 tahun lalu.”


Bukankah ini sangat menarik? Jauh lebih menarik ketimbang membicarakan permasalahan empat pelayan istana terhukum tadi, setidaknya bagi Que Mo yang berbinar-binar ingin sekali tahu di balik kejadian yang dimaksudkan. “15 tahun lalu?”


Zhen Xian sendiri tak tahu kenapa pembicaraan malah melenceng ke topik lain, tapi tak menutup kemungkinan pula dirinya ingin tahu. Rasa penasaran itu, jelas ada. Hanya saja taklah sebesar Que Mo yang terus meminta tuk diceritakan.


Namun, sebesar dan separah apa ceritanya hingga para pria dari meja sebelah ini tampak enggan menceritakan. Bukankah hanya cerita saat ketika Raja memerintahkan tuk membunuh satu keluarga abdi setianya yang berkhianat? Lantas, adakah hal lain yang tak diketahui? Sampai titik di mana para pria ini berucap melirih, sangat berhati-hati.


“Masa itu, semua rakyat tahu jikalau Raja membunuh seluruh abdi setianya bukan karena pengkhianatan, melainkan hanya karena kecemburuan saja.”


“Itu benar, bahkan Raja tidak mengizinkan siapa pun menyebut nama keluarga itu lagi. Jikalau melanggar, habis sudah hidup orang tersebut. Masa yang sungguh sangat menakutkan, beruntunglah kalian anak muda tak mengalami langsung masa-masa kelam itu.”


“Oleh karenanya, secara perlahan abdi setia itu mulai terlupakan begitu saja. Karena itu pula, kita tidak tahu bagaimana sikap Taizi sesungguhnya, bukan? Mungkin saja dia orang yang kejam sama seperti ayahnya.”


“Tuan-tuan sekalian, bolehkah memberitahuku siapa sebenarnya abdi itu?”


Apa itu karena aku? Apa aku yang telah membuat empat pelayan wanita itu diperlakukan seperti tadi? Jika benar, orang seperti apa dirimu sesungguhnya, Jin Kai?


“Kau kenapa? Makanlah, setelah itu kita harus kembali.”


Zhen Xian hanya mengangguk, menuruti perkataan Que Mo yang entah sejak kapan telah kembali ke posisi semulanya. Menikmati semangkuk mie yang masihlah beruap, tanpa segan pula dirinya mengucapkan terima kasih pada para pria dari meja sebelah yang hendak pergi meninggalkan kedai.


“Ehh, apa kau ingin tahu siapa abdi itu?”


Menyeruput mie yang ada, Zhen Xian menggeleng kecil. “Siapa pun itu, aku juga tidak kenal,” jawabnya kemudian, acuh tak acuh.


“Dia adalah Jenderal Wei, jenderal yang sangat setia dengan negara dan dipuja-puja oleh rakyat semasa itu,” lirih Que Mo, bagai berbisik saja.


Jika sudah demikian, wajar saja bila Zhen Xian yang tadinya masa bodoh terkait abdi itu, malah kini dibuat sebaliknya. “Jadi ... hal itu menyebabkan Raja iri dan cemburu, lalu kemudian ...!” Tidak bisa menyelesaikan perkataannya, karena jelas cerita selanjutkan seperti apa, bukan? Pun Que Mo mengangguk membenarkan, kembali memakan mienya. Yang mana Zhen Xian kian tak bernafsu, yang berakhir pula memerhatikan bayangan dirinya dalam semangkuk mie berisikan pula pangsit ini. Mendesah.

__ADS_1


Istana, sungguh bukanlah tempat baik nan indah seperti penampakannya. Begitu banyak hal tak terduga terjadi, dan orang-orang berkuasa di dalamnya bagai begitulah mudah menekan dan menghancurkan orang-orang lainnya yang barangkali di mata mereka taklah begitu penting.


Seperti pria ini salah satunya, yang mana sibuk menuliskan beberapa huruf pun membubuhkan tanda berupa cap Putra Mahkota di atas gulungan dokumen demi gulungan. Di mana Kasim Ma terus saja setia menanti, jaga-jaga apabila sang Tuan yang dilayani ini membutuhkan bantuan. Bahkan jika itu hanya tuk mengisi kembali cangkir teh yang telah kosong.


Namun, keadaan tenang dan sunyi penuh pemikiran yang ada. Kini terganti sudah dengan seruan pun langkahan kasar seseorang yang menerobos masuk. Di mana Lin Feng sendiri berakhir membiarkan seseorang yang tak lain adalah Zhen Chen tuk menghadap, tepat ketika mendapat kode berupa anggukan dari sang Putra Mahkota.


Berakhir pula, Kasim Ma dan Lin Feng meninggalkan keduanya. Yang mana Zhen Chen berhadapan dengan pandangan menuntut pada teman tak biasanya ini. “Apa harus kau melakukan hal itu pada pelayan?”


Pun yang ditanya menempatkan kuas. Bersipandang dengan Zhen Chen. “Kupikir kau akan berbicara mengenai kejadian yang kulakukan pada Zhen Xian kemarin.”


“Jin Kai!” serunya, berusaha menenangkan diri karena biar bagaimanapun pria di hadapannya ini adalah Putra Mahkota. Meskipun sulit, tapi ketenangan itu harus. “Kenapa aku merasa kau tidak seperti biasanya? Haruskah kau bersikap seperti ini?”


“Zhen Chen, inilah diriku,” jawabnya dengan begitulah enteng. “Akankah kau meninggalkan diriku dengan sikapku yang seperti ini?”


“Aku hanya ingin kau berhenti menyakiti orang lain terlebih Xian’er.”


“Itulah yang kupikirkan hingga menghukum para pelayan.”


“Kau orang yang cerdas serta memikirkan semuanya dengan cermat. Jika demi kebaikan Xian’er, kau harusnya tidak akan melakukan itu.” Kian pula mendekatkan diri, yang mana Jin Kai sendiri taklah menolehkan wajah ke lain hal bahkan tak pula berkedip. “Kau hanya ingin membuat Xian’er terikat denganmu dan membenarkan rumor yang beredar. Kau bahkan berusaha menyingkirkanku menjauh dari Xian’er lewat pekerjaan yang kau atur,” lanjut Zhen Chen.


“Jadi kau sudah sadar. Benar ... aku sengaja melakukan hal itu.” Jin Kai menimpali, lagi dan lagi dengan entengnya dia berucap. “Lalu apa yang akan kau lakukan padaku? Memberitahukan Zhen Xian?”


“Kenapa melakukan itu padaku? Aku adalah saudaranya dan juga temanmu. Lantas kau merasa cemburu,’kah?!”


“Kau mungkin tidak sadar, dan barangkali menganggap diriku berlebihan. Karena kalian saudara, jadi menganggap semuanya normal. Namun, itu justru membuat diriku tak tenang.” Mendesah, bahkan menyesap habis teh yang ada. “Tatapan kalian tidak seperti saudara, melainkan pria terhadap wanita atau sebaliknya, Zhen Chen,” lanjutnya, yang mana Zhen Chen sendiri bergeming. “Setiap saat, dalam hati dan pikiran Zhen Xian selalu dirimu. Bahkan saat kau pergi sekalipun dia masih tetap merindukanmu. Apa ... apa itu yang namanya hubungan saudara?”


Pun Zhen Chen mengangguk, paham seraya mendesah akan alasan Jin Kai mampu berucap demikian. Merasa wajar pula jika Jin Kai merasa serta berpikir demikian. Karena memang tempat tinggal mereka jelas berbeda, lantas bagaimana bisa sepenuhnya paham apa itu cinta dalam kekeluargaan.


“Jika kau bersikap seperti ini, bagaimana bisa aku memberikan Xian’er padamu?” tanyanya, yang mana sukses menjadikan Jin Kai sendiri taklah senang akan reaksi balasan yang didapatkan ini, semacam sedang direndahkan. “Kusarankan lupakan saja perasaanmu dan jangan mengganggu hidup Xian’er lagi. Kau tidak cukup baik untuknya.”


“Haruskah kita bersikap seperti ini?”


“Itu kau yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Itu kau, Jin Kai ... bukan aku apalagi orang lain.” Berbalik membawa sepasang tungkai menjauh, meninggalkan Jin Kai yang berusaha menahan amarahnya.


Namun, sekiranya berapa lama kemarahannya ini mampu bertahan? Karena belum sempat Kasim Ma dan Lin Feng masuk ke dalam kediaman, suara pecahan yang diketahui pasti berupa cangkir telah terlebih dahulu terjadi. Yang pada akhirnya mendapati sang Putra Mahkota, meneteskan sebulir cairan bening yang disembunyikan sedemikian rupa tuk tidak terlihat.

__ADS_1


Akan tetapi, kenapa dengan Zhen Chen? Kenapa pula dirinya bagai kesulitan melangkah? Bagai segala keyakinan dan kemantapan yang dipertunjukkan di hadapan Jin Kai tadi hanya berupa kepalsuan. Tak mungkin karena efek takut atau khawatir telah berucap tak sopan pada Putra Mahkota tadi, bukan? Yang mana tubuh memanglah tampak demikian adanya. Bernapas berat, netra pun bergerak tak tenang.


“Tidak mungkin ... dia ... dia adalah adikku. Bagaimana bisa aku ...? Aku ....” Yang mana dirinya berakhir mendesah, menggeleng-geleng menyadarkan diri dari pikiran seraya membawa tungkainya kembali melangkah. Barangkali kembali ke Departemen Dekorasi, menyibukkan diri alih-alih memikirkan sesuatu dari ucapan aneh seorang Jin Kai.


__ADS_2