
Hampir setiap dari mereka yang bercengkerama tak mampu menyembunyikan senyuman yang merekah, semacam tak mengenal lelah atau barangkali lelah itu sendiri suatu hal yang tak akan pernah ada dalam catatan hidup mereka. Ditemani pula dengan ragam jenis masakan tersaji, memenuhi meja kayu untuk siap disantap bersama.
Akan tetapi, ke mana sosok yang berulang tahun pergi? Tak terlihat dan tak tampak pula bayangannya. Pantasan saja, Nyonya Zhen akhirnya melemparkan pandangan pada sang suami, dan hal itu sukses menjadikan suaminya menarik diri keluar dari rumah pekerja.
Barulah Tuan Zhen rasakan, betapa sunyi dan dinginnya malam ini dengan hadirnya kabut tipis penghalang pandangan. Belum lagi, langit berbintang terang akan rembulan seakan ikut merasa terganggu pula akan hadirnya awan yang menyelimuti. Namun, hal-hal demikian tidaklah menyulitkan Tuan Zhen dalam pencariannya, atau barangkali ia tahu akan di mana keberadaan dari sosok yang dicari kini akan berada.
Tepatnya sosok yang kini berdiri memunggungi, ditemani kesendirian yang bahkan Tuan Zhen sendiri tidaklah tahu. Apakah putranya ini merasa terganggu atau tidak akan terpaan dingin yang diberikan alam, atau mungkinkah sudah mati rasa? Berkat lamanya ia berdiri di sana menantikan kedatangan orang terpenting. Dan Tuan Zhen yang kini mengambil posisi bersebelahan, taklah banyak mengatakan apa-apa. Selain meminta putranya ini masuk dan bergabung dengan pekerja lainnya yang menanti.
Namun, putranya ini menolak dengan cara halus seraya menyunggingkan senyuman simpul.
“Xian’er dan Que Mo pasti akan segera datang, jadi mari menunggu di dalam alih-alih di sini. Bagaimana jika kau jatuh sakit? Bukankah itu akan membuat Xian’er akhirnya khawatir?”
Tak bisa pula Zhen Chen menyangkal, karena ucapan ayah ada benarnya. Namun, bagaimana menjelaskan kegelisahan hati ini agar ayah mengerti seutuhnya? Dan Zhen Chen akhirnya hanya menghela napas, berharap saja kegelisahan yang mengundang pikiran buruk benar tak akan terjadi atau sedang dialami Zhen Xian juga Que Mo. Yang mana ketika ayah merangkul pundaknya, ahli muda bunga ini pun setuju masuk pun bergabung dengan keramaian dan kehangatan sambutan semua orang.
Kurasa aku harus menyusul ke istana. Hanya itu caranya aku bisa tenang, dan tahu pula apa yang telah terjadi dengan tempat itu.
Lantas, apa sekiranya yang sedang dilakukan Zhen Xian dan Que Mo kini? Akankah mereka benar mampu meninggalkan istana malam ini? Mengingat Jin Kai yang seharusnya pergi bersama pasukan Zhu, malah bersama Lin Feng bergegas kembali menuju Kediaman Chahua. Akan tetapi, bukan itu bagian terpentingnya, melainkan apa yang sedang terjadi pada pemilik Kediaman Chahua saat ini? Di mana dua pengawal yang menjaga pintu, masuk ke dalam kediaman dengan terburu-buru.
Apa mungkin telah terjadi hal buruk pada Zhen Xian? Yang sebelumnya hanya berupa sakit sandiwara malah menjadi sakit sungguhan? Dan jikalau memang demikian adanya, tak mungkin dua pengawal tak kunjung keluar untuk memanggil tabib, bukan? Yang mana mereka barulah keluar setelah beberapa saat waktu berlalu, tak pula ada kepanikan atau apa pun. Menandakan Zhen Xian harusnya baik-baik saja.
Pun dua pengawal kembali menjalankan tugasnya dengan sedikit merundukkan wajah tepat ketika mendapati beberapa pengawal datang. Namun, kenapa merundukkan wajah seakan sedang menyembunyikan sesuatu? Pasalnya mereka pengawal dengan tingkatan yang sama. Lantas, tak ada alasan harus bersikap sehormat itu, bukan?
“Pergantian jaga tiba ... kalian boleh pergi sekarang.”
Lalu apalagi ini? Memberikan hormat sebelum pergi? Tak heran apabila penjaga yang baru saja mengambil tugas kini memanggil kedua pengawal mencurigakan ini untuk berhenti, serta merta pula mematungkan dua orang mencurigakan ini sembari tampaknya saling melirik sedikit mengangkat wajah hanya untuk bertukar pandang, atau barangkali melakukan komunikasi terkait tindakan apa yang harus diambil.
__ADS_1
“Kalian ….” ucapnya terhenti, kian mendekat kian pula mengeratkan kepalan dua orang mencurigakan ini. Yang nyatanya bukanlah pengawal, melainkan Zhen Xian dan Que Mo. “Apa yang kalian lakukan dengan pakaian tak rapi begitu? Dan apa begini caranya pasukan Zhu berkomunikasi ...? Berbalik dan angkat wajah kalian.”
DEG!
Memang benar, pasukan didikan Jin Kai tak seharusnya dianggap remeh. Tak pula semuanya seceroboh dua pengawal yang sebelumnya berhasil ditumbangkan, pingsan dalam kediaman sana. Lantas, sudahkah Zhen Xian memikirkan rencana cadangan? Di mana Que Mo terus saja melirik gadis ini, mendapati pula gadis ini menggigit-gigit bibir bawahnya tampak taklah memiliki rencana apa-apa.
Menyerah, bukankah ini waktunya menyerah saja? Jika melawan, bukankah akan tertangkap? Apalagi pengawal yang ada adalah orang terlatih, bukan hanya tak bisa dianggap remeh melainkan harusnya tak pula disinggung atau luka-lah yang akan didapat.
Bijaklah di saat seperti ini, dan mari pikirkan hal lain agar setidaknya Jin Kai tak mendengar kabar usaha kaburnya mereka. Benar, itulah yang Que Mo pikirkan hingga ia mengangguk sekali pada Zhen Xian yang tampak enggan dan bersikeras ingin kabur saja alih-alih terkurung di sini.
“Kalian tidak mendengar ucapanku? Berbalik dan tunjukkan wajah kalian!”
Pun bentakan itu sukses menyadarkan Zhen Xian seketika, jikalau memang tak lagi bisa bergerak maju melainkan diri harus bergerak mundur. Dan bertepatan dengan itu pula, seorang pengawal lainnya menghampiri pun tampak melaporkan sesuatu yang tak mampu didengarkan Zhen Xian ataupun Que Mo, tapi jelas ada kata Putra Mahkota dalam pelaporan tersebut. Yang mana pengawal yang menahan tadi akhirnya kembali ke posisi jaga tanpa lagi memedulikan Zhen Xian dan Que Mo yang sontak saja pergi.
Mungkin Zhen Xian akan menganggap ini adalah bantuan langit, tapi tidak dengan Que Mo yang justru merasa janggal. Namun, tetap saja langkah terburu-burunya menyamai langkah Zhen Xian, yang mana akhirnya Que Mo mengesampingkan pikiran janggalnya itu dan fokus pada kabur mereka saja.
Akan tetapi apa gunanya terus menghukum pengawal-pengawal ini? Yang ada hal itu malah memberikan waktu bagi gadis tercintanya untuk kabur keluar istana. Alhasil, Jin Kai sendiri yang memimpin penangkapan kembali Zhen Xian, yang pastinya mudah ditebak sedang dimana saat ini.
Sementara Zhen Xian dan Que Mo sendiri, masih disibukkan dengan menyingkirkan tumpukan barang yang menghalangi jalan keluar. Tak lupa pula sesekali mereka akan menoleh ke belakang, ketidaktenangan dalam keterburu-buruan, tahukah bagaimana rasa menegangkan yang ada? Sungguh tak enak dan tak bisa fokus rasanya hingga Zhen Xian melukai jarinya sendiri, tergores.
“Tidak apa, hanya luka kecil. Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu.”
“Kau yakin?” tanya Que Mo, bohong jika tak khawatir, tapi memang benar ini bukan saatnya membahas apalagi mengobati luka goresan tersebut. “Kuharap kita tidak tertangkap oleh Jin Kai,” lanjutnya.
“Sepertinya dia sibuk malam ini dengan tugas perburuannya.”
__ADS_1
“Perburuan? Malam begini?” Dan Zhen Xian memaklumi jikalau Que Mo bertanya, tak tahu akan hal ini. Karena ia sendiri tahu lewat kemampuan mengupingnya pagi tadi. “Anak Jenderal Wei ... kurasa Huangdi sudah menemukannya dan malam ini mereka akan membunuh semua yang terlibat dengan anak itu,” beritahu Zhen Xian.
DEG!
Serta merta Que Mo bergeming, wajah memucat cukup jelas biar kata area terpencil ini kurang pencahayaan. “Barusan ... apa yang kau katakan ...? Anak Jenderal Wei?”
“Benar. Kenapa ...? Apa ada sesuatu sampai membuatmu begitulah pucat dan juga terkejut begini?”
Namun, bukannya menjawab Que Mo malah mempercepat pergerakan sembari napas memburu. Pun pandangan taklah tenang, semacam banyak pikiran melintas dan pikiran itu jelas saja bukanlah hal baik.
“Kita harus pergi jika tidak semua akan terlambat.”
“Apa maksudmu? Kenapa pula kau begitu serius terkait anak Jenderal Wei ini? Membuatku takut saja, Que Mo.” Dan Que Mo masih tak menjawab, mengharuskan Zhen Xian sendiri menghentikan dan meminta pria ini menjawab lebih dulu. Akan tetapi, Que Mo malah tergagap seraya sepasang netranya berkaca-kaca. “Kau menyembunyikan sesuatu? Kau tahu siapa anak Jenderal Wei?” tanya Zhen Xian lagi, dan Que Mo pun akhirnya mengangguk. “Siapa ... si-siapa orangnya hingga membuatmu seperti ini.”
“Orang yang sangat kau sayangi,” sela seseorang dengan begitulah tegas pun mengintimidasi. Mengharuskan Zhen Xian dan Que Mo mau tak mau, suka tak suka mengarahkan pandangan padanya tanpa dimintai. “Itu dia orangnya ... saudaramu sendiri, Zhen Chen!”
DEG!
Langit seakan runtuh, pantas saja rembulan terus saja bersembunyi di balik awan. Bukan hanya tak berani melihat kejadian yang sedang dialami, melainkan juga sebagai pertanda jikalau hal buruk sedang terjadi. Namun, bagaimana bisa semua menjadi seperti ini? Tak pula harus percaya dan menerima begitu saja perkataan pria paling dibencinya ini, bukan? Akan lebih baik jika menanyakan kembali pada Que Mo, yang mana Que Mo sendiri juga tak lagi mampu menatap langsung dengan memilih memalingkan wajah.
“Itu tidak benar, bukan? Itu semua bohong, bukan? Katakan sesuatu! Katakan Que Mo!” Menggeleng-geleng, tak percaya dan tak mau pula percaya biar kata reaksi Que Mo sendiri pun telah menjawab jikalau apa yang dikatakan Jin Kai memanglah benar adanya. “Kenapa ... kenapa malah menjadi seperti ini?” lirihnya, pun tungkai tak lagi mampu berdiri, memerosotkan tubuhnya yang kehilangan sejumlah besar energi dalam keterpurukan. Menangis dan terus meluruhkan air mata.
Tetesan demi tetesan yang jatuh ke permukaan tanah itu pun, pada akhirnya sukses mendatangkan kembali ucapan sang kakak di hari itu. Hari di mana Que Mo mabuk, hari di mana sang kakak mengajaknya keluar dari istana untuk pulang ke rumah mengunjungi ayah dan ibu. Hari di mana pula ia yakin jikalau perasaannya terhadap sang kakak benar adalah perasaan suka wanita terhadap pria.
Ucapan kala itu, terus saja terngiang-ngiang seolah sang kakak saat ini didekatnya dan mengatakan hal itu langsung. “Jadi ini hal yang ingin kau beritahukan padaku. Kenyataan dan kebenaran inikah, Ge?” Menutup sepasang telinga, berusaha mengenyahkan suara yang hanya didengarkan olehnya seorang. “Tidak ... tidak ... hiks ....”
__ADS_1
“Nanti, jika sudah waktunya ... aku akan memberitahumu semuanya. Saat ini, yang kuinginkan kau tetap menjaga perasaan yang kau rasakan padaku dan menunggu. Hanya itu, apa kau bisa?”