
Beberapa bulan berlalu sudah dari sejak Zhen Chen secara resmi menyatakan untuk menyerahkan posisi pemimpin pasukan Wei pada Azheng, menolak pula bergabung dalam operasi pemberontakan yang akan dilakukan tersebut. Namun, keseluruhan dari rencana pemberontakan itu sendiri telah ia ketahui. Yang mana kini menjadi giliran bagi pasukan Wei untuk mulai bergerak sedikit demi sedikit memasuki Kota Yunnan-Fu.
Oleh karenanya, tiba sudah giliran Zhen Chen dan juga Azheng untuk mengikuti jejak sebagian pasukan lainnya yang telah bersarang dalam kota tersebut. Di mana membutuhkan perjalanan berkuda sekitar dua hari lamanya untuk tiba jikalau tidak terlalu terburu-buru. Akan tetapi, Zhen Chen mana mau untuk bergerak santai, bukan? Dan cukup sehari saja, gerbang dari Kota Yunnan-Fu pun tertangkap sudah oleh pandangan kini.
Namun, tetap saja aturan setempat harus diikuti. Namanya juga kota besar, bagaimana mungkin mengizinkan begitu saja para pendatang luar kota masuk begitu saja, bukan? Pemeriksaan tentu harus dilakukan, dan itulah yang membuat Zhen Chen getar-getir kini.
“Jangan khawatir, penjaga tidak akan begitu memeriksa wajah kita kalau membawa barang-barang dagangan seperti ini.” Menoleh ke belakang, dua gerobak besar pun tertampil tertutup tikar jerami pula. “Kau cukup diam, dan turunkan sedikit wajahmu.” Dan Zhen Chen mengangguk paham, sedikit melirik pada gerobak bawaan mereka yang entah apa itu isinya.
Bukankah Azheng pria yang luar biasa? Meskipun telah lama bersembunyi di Desa Yong Gan, tapi keberanian yang dimiliki masihlah sama barangkali seperti dulu. Saat ketika ia masih menjadi tangan kanan seorang jenderal besar. Sungguh tidakkah ia sendiri memiliki sedikit saja rasa khawatir kalau-kalau penjaga gerbang ini akan mengenali pula wajahnya? Biar bagaimanapun, Azheng jelas saja bukanlah orang biasa dalam kota ini. Meskipun memang benar kota ini berakhir membuangnya kemudian.
Namun, jikalau melihat gerak-gerik penjaga gerbang yang saat ini meminta Azheng menunjukkan isi gerobak bawaan mereka, tampaknya aman. Barangkali tidak pernah menyangka jikalau orang-orang setia Jenderal Wei masihlah ada keberadaannya. Apalagi kala keluarga Zhen malam itu dibantai habis, mungkin itu pula yang menjadikan Raja menurunkan keseluruhan kewaspadaan yang ada.
“Apa isi dari karung-karung ini?”
“Ini adalah gandum, siap untuk dipasarkan pada pedagang dalam kota ini,” jawab Azheng. “Jika tidak percaya, silahkan Tuan-Tuan cek sendiri.” Membuka satu karung dari sekian banyaknya tumpukan karung, menunjukkan pula jikalau yang ia katakan tidaklah salah apalagi berbohong. Akan tetapi, penjaga tidaklah puas ataupun merasa teryakini, dan malah mengeluarkan belati hanya untuk kemudian menusuk beberapa karung, mengalir keluarkan sejumlah gandum-gandum dari lobang kecil yang dibuatkan tersebut. “Bagaimana, boleh kami masuk sekarang?” Dan penjaga bungkam, menajamkan pandangan menyelisik seraya membawa tungkai bergerak mendekati gerobak satunya lagi.
Serta merta, Azheng bergerak menghalangi. “Tuan-Tuan sekalian, gerobak yang satu ini pun berisi gandum. Jikalau kalian menusuk dan menumpahkan semua isinya, lantas bagaimana aku yang hanya buruh kerja ini akan menjelaskan seberapa banyak gandum telah hilang? Pikirkan, mohon dipikirkan kesulitanku ini, Tuan.”
Yang mana penjaga gerbang ini malah menyingkirkan Azheng dengan begitu mudahnya, kembali mendekati gerobak yang masihlah rapi tertutup tikar jerami untuk kemudian membuka dan melihat baik-baik benarkah tumpukan karung ini berupa gandum seperti yang dikatakan. Lantas, jika memang benar isian karung adalah gandum, kenapa Azheng bahkan Zhen Chen yang sedari dari tertunduk diam ini malah kelihatan begitulah memucat? Seakan kedok mereka sebentar lagi akan ketahuan.
“Kenapa lama sekali?! Tidak bisakah kalian bergerak lebih cepat?!”
“Cepatlah, kami tidak punya banyak waktu!”
Serta merta beragam seruan protes lainnya mulai terdengar bersahut-sahutan, tapi tak bisa dipungkiri jikalau seruan-seruan tersebut malah menjadi suatu keberuntungan barangkali bagi Azheng yang kini terlihat kembali tenang. Alhasil, penjaga pun mengizinkan mereka masuk tanpa mengecek lebih lagi isian karung-karung tersebut. Bahkan tanpa melirik sedikit pun pada Zhen Chen, apalagi curiga, bukan? Dengan begitu, kembalinya Zhen Chen ke kota kelahirannya ini berakhir sukses.
“Hampir saja tadi,” desah Zhen Chen, melirik ke gerobak yang telah kembali ditutupi rapi oleh Azheng. Meskipun memang benar karung-karung-lah yang ada, tapi siapa yang tahu apa isi di dalamnya, bukan? Karena penjaga tidaklah memeriksa ataupun menusuk isinya seperti karung-karung gandum dari gerobak yang satunya.
Bagaimana kalau ... kalau isinya berupa senjata? Yang mana kini beberapa pria hadir, menghampiri pun seketika mengambil alih dua gerobak bawaan ini tanpa Azheng protes ataupun mengatakan apa-apa. Malah, Azheng membawa pergi Zhen Chen untuk menelusuri jalanan ramai ini dengan sepasang tungkai mereka, berpisah jalan dengan pria-pria yang diketahui sebagai bagian dari pasukan Wei tersebut.
__ADS_1
Lantas, ke mana Azheng akan membawa Zhen Chen? Bukankah sudah sepatutnya sebagai pemimpin pasukan, Azheng, harusnya menemui para pasukan yang ada? Dan bukannya malah keluyuran begini seakan mengingat kembali momen masa lalu, di mana ia dan Jenderal Wei barangkali masihlah menjadi orang terhormat kala itu. Tidak seperti kini, yang mana tidak satu pun di antara keramaian lalu-lalang orang-orang yang mengenal wajahnya.
“Bundelan apa yang kau bawakan itu? Tampaknya begitulah penting.”
“Pakaian buatan Tabib He, ia memintaku membawanya dalam perjalanan kali ini, khawatir kalau-kalau aku akan terserang dingin begitu malam tiba.” Tersenyum, bahkan Zhen Chen memperlakukan bundelan tersebut dengan begitulah hati-hati seakan itu adalah harta kekayaan yang dimiliki. Pun dihadiri pula kesenduan di sepasang netranya. “Tabib He, akan baik-baik saja, bukan?”
Yang mana Azheng malah menghentikan sepasang tungkainya, mendekati salah satu pedagang pinggiran yang menjualkan aneka jenis topeng. Pun pria berwajah sangar ini tanpa ragu membeli satu jenis topeng berwarna abu-abu, menutupi setengah bagian wajah hanya untuk kemudian diserahkan pada Zhen Chen. “Pakailah, tutupi wajahmu dari orang-orang kota ini.”
Pun Zhen Chen seketika menuruti, lagian memang benar jikalau beberapa pedagang dari kota ini ada yang sudah begitulah dekat dengannya. Katakan saja pemilik toko bunga, bibi penjual pangsit atau bahkan pemilik kedai mie. Akan sangat berbahaya jikalau bertemu mereka, bukan? “Terima kasih, Paman. Aku hampir lupa kalau aku diingatan semua orang kini tak lebih dari seseorang yang telah terbakar habis dalam kobaran api.”
Sedih memang untuk mengakui, tapi inilah kenyataan. Yang mana Azheng kembali melanjutkan perjalanan, tanpa ada niatan pula untuk menjawab pertanyaan terkait Tabib He tadi. Tidak mungkin pria berwajah sangar ini lupa, bukan? Jelas sekali ia tidak ingin membawa-bawa topik tersebut, karena memang tidak tahu akan seperti apa nasib Tabib He beserta warga desa di sana selama masa pemberontakan pada Kerajaan Yunnan-Fu ini akan sesegera mungkin terjadi.
Meskipun benar, Zhen Chen sebelumnya telah memberikan pesan pada Tabib He untuk membawa pergi semua wanita dan anak-anak yang tersisa meninggalkan desa sejauh mungkin. Cari tempat pengungsian baru, gunakan semua harta kekayaan yang dimiliki saat ini untuk kembali membangun desa di area yang tidak akan diketahui banyak orang. Setidaknya, hanya itu cara terbaik bagi mereka semua dalam mempertahankan hidup. Berjaga-jaga jika andainya pemberontakan yang dipimpin Azheng ini gagal, atau jikalau pun menang, pejabat tinggi atau bahkan Raja Kerajaan Dali apakah mungkin akan membiarkan warga Desa Yong Gan hidup? Penghapusan bukti barangkali akan dilakukan, memastikan jikalau Raja Kerajaan Dali memanglah tidak terkait apa pun dalam pemberontakan yang ada.
“Kita sudah sampai.” Tersadarkan sudah Zhen Chen dari lamunan, melihat ke arah di mana Azheng menunjuk. “Ini dia, kediaman dari orang yang akan membantumu ke langkah berikutnya.”
“Ini ... bukankah ...?”
Hanya saja. Tuan Lin, pria tua tersebut malah mengirim pengurus rumahnya untuk menyambut mereka. Meminta Azheng seorang yang boleh menemui, sedangkan Zhen Chen sendiri diarahkan ke gazebo yang ada di halaman luas kediaman ini. Yang mana pengurus rumah seketika menyajikan teh serta beberapa piring berisi camilan seraya memberitahukan jikalau Zhen Chen tidak perlu merasa tersinggung atau apa pun atas perlakuan tuannya.
Lantas, apa alasan Tuan Lin tidak ingin bertemu? Mungkinkah karena ia adalah putra Jenderal Wei? Tapi kenapa, jikalau dulu Tuan Lin bersahabat dengan sang ayah, bukankah sudah seharusnya senang jikalau bertemu dengan seseorang yang memiliki hubungan darah bahkan wajah serupa dengan mendiang sahabatnya? Ataukah .... Karena rasa bersalah?
Benar, bukankah itu masuk akal? Di kala Tuan Lin dulu tidak sempat menyelamatkan nyawa sang ayah, dan hanya bisa menyelamatkan nyawa Azheng beserta sebagian kecil pasukan setia lainnya. Bukankah tidak mengherankan jikalau Tuan Lin merasa enggan bertemu kini?
Namun, jika dipikirkan kembali. Harusnya Tuan Lin tidak perlu merasakan hal-hal demikian. Bukankah hutang nyawa itu telah terbayarkan oleh putranya, Lin Feng? Di kala Lin Feng sendiri-lah sosok yang diam-diam tidak mematuhi titah Jin Kai dan malah menciptakan kematian palsu hingga memampukan ia kembali ke kota ini kini. Kecuali, Tuan Lin tidak tahu masalah ini dikarenakan Lin Feng tidak ingin melibatkan ayahnya ke dalam masalah.
Karena sangat tidak mungkin Tuan Lin tidak ingin melibatkan diri ke dalam urusan berbau Jenderal Wei lagi, bukan? Jika alasan itu benar adanya maka tidak pula beliau akan bersedia bertemu dengan Azheng saat ini. Jangankan bertemu muka, barangkali menginjakkan kaki di area sekitar kediamannya saja tidak diizinkan.
Yang mana setelah beberapa saat lamanya waktu berlalu, Azheng akhirnya keluar dengan membawa suatu benda tampak seperti keranjang anyaman tertutupi kain putih. Jangankan menanyakan barang apa itu, bahkan belum sempat sepatah kata saja Zhen Chen keluarkan, pria berwajah sangar ini telah lebih dahulu mengajak pergi meninggalkan kediaman Tuan Lin untuk kemudian bergabung kembali ke keramaian kota.
__ADS_1
Sekiranya, barang apa yang diam-diam Tuan Lin serahkan pada Azheng ini?
“Tuan Lin telah setuju untuk membantumu kembali bertemu dengan dua temanmu itu. Namun, kapan kalian bertemu tergantung dua temanmu itu pula. Akankah bersedia bertemu atau justru tidak.”
Tentu Zhen Chen paham, dan tidak bisa menyalahkan Meng Jun juga Mo Zhu jikalau mereka menolak bertemu. Sudah cukup mengejutkan setelah tahu ia masihlah hidup, dan siapa pula yang tidak akan ketakutan jika kembali melibatkan diri dengan seorang putra Jenderal Wei yang merupakan musuh seorang Raja, bukan? Tentu sikap menolak dari mereka wajar. Hanya saja, jikalau bukan dengan mereka dengan siapa lagi Zhen Chen mampu menyampaikan pesan pada Zhen Xian atau setidaknya pada Que Mo, agar setidaknya percaya jikalau pesan memanglah datang dan berasal darinya, Zhen Chen, dan bukannya berupa pesan iseng belaka.
Helaan napas pun Zhen Chen keluarkan. Berusaha menyingkirkan sejadi mungkin pikiran-pikiran tersebut. Setidaknya hal itu belumlah diketahui pasti, bukan? Dan berhubung telah kembali ke kota, dan hari pun akan segera gelap. Maka akan lebih baik jikalau melakukan sesuatu yang belum sempat dilakukan sebagai seorang putra dikarenakan keadaan tidaklah mendukung selama ini.
Oleh karenanya, Zhen Chen menghentikan langkahnya untuk mengikuti Azheng. “Paman, kurasa sudah waktunya kita berpisah.” Karena sebagai seorang pemimpin, Azheng jelas memiliki banyak hal untuk dipersiapkan selama di kota ini. Jika ia terus saja mengikuti, jelas Azheng sendiri tidak akan mampu bergerak leluasa.
Katakan saja, tiga bulan dari sekarang. Pemberontakan terhadap Raja akan segera dilakukan, dan pasukan yang ada belumlah seluruhnya tiba di kota. Mereka juga butuh yang namanya pengintaian atau jenis persiapan matang yang tak begitulah dipahami Zhen Chen apa namanya. Setidaknya hal menguntungkan harus mereka lakukan karena sadar jikalau jumlah mereka jauh lebih sedikit dari jumlah para pasukan musuh.
“Kutanya sekali lagi ... kau sungguh tidak ingin bantuanku dalam pelarianmu nanti?”
“Semua yang kau lakukan sampai detik ini padaku, sungguh sudah lebih dari cukup, Paman.”
“Baik, aku tidak akan menanyakannya lagi, tapi ingatlah jika kau butuh bantuan atau apa pun itu, datang dan temui aku. Kau tahu betul di mana tempat persembunyian kami. Ingat pula dan jangan sampai lupa. Rencana, hari dan waktu penting kapan kau harus mulai bergerak.” Dan Zhen Chen mengangguk paham, bertindak semacam hal-hal demikian telah diingatnya di luar dari kepala. “Jangan khawatir, dan jaga dirimu baik-baik, Paman.”
Pun Azheng menyerahkan keranjang pemberian Tuan Lin tersebut, memeluk erat untuk kemudian benar-benar berpisah jalan tanpa mengatakan sepatah kata apa pun. Yang mana Zhen Chen terus saja memerhatikan punggung perginya ditemani sebulir air mata meluruh begitu saja. Penuh pengharapan jikalau mereka semua haruslah mampu keluar hidup-hidup dari kota ini untuk kemudian bertemu dan bergabung kembali dengan Tabib He serta warga Desa Yong Gan lainnya, dan berharap pula langit kali ini tidak memainkan candaan besar dalam hidupnya yang menyedihkan.
Terus saja kehilangan demi kehilangan dirasakan, sampai titik di mana kini ia tidak lagi memiliki rumah untuk menjadi tempat berpulang. Tidak pula memiliki keluarga yang akan menyambut, apalagi memasakkan sejumlah masakan hangat dan enak atau bahkan untuk sekadar bercengkerama akan aktivitas melelahkan selama ini, dan tidak peduli berapa sering ia mengalami suatu jenis perpisahan ... hal itu tetaplah masih sangat menyakitkan.
Namun, apa ini? Zhen Chen malah kian tenggelam dalam kesedihan tepat setelah mendapati isian dari keranjang tak lain dan tak bukan adalah sesuatu yang memang ia sangat butuhkan. Apalagi di saat kini, di mana tempat tujuan yang didatangi Zhen Chen tidak lagi seperti dulu. Tidak lagi ada kehangatan ataupun keindahan, tidak lagi ada suatu jenis penyambutan serta senyuman yang menyerukan namanya. Tidak ada lagi hamparan bunga warna-warni. Yang ada hanyalah kehampaan, kekosongan, kegersangan, pun samar-samar teriakan dari rasa sakit atas malam pembantaian itu terjadi. Seakan kejadian tersebut barulah kemarin disaksikan, dialami. Yang mana bekas luka tusukan dadanya kembali terasa sakit, tepat saat di mana Zhen Chen kini bersujud di depan puing-puing dari bekas kebakaran yang melalap habis semua orang dari keluarga Zhen ini.
“Die ... Niang ... putra kalian telah kembali. Kalian jangan khawatir ... aku baik-baik saja, dan akan segera membawa Xian’er keluar dari kota ini. Kuharap ... kalian melapangkan jalan dari rencana ini, melapangkan pula jalan dari mereka yang akan melakukan pemberontakan terhadap kerajaan.”
Serta merta embusan angin datang, semacam itulah jawaban dari orang tuanya. Menyingkap pula kain putih yang menutupi keranjang pemberian Azheng tadi hanya untuk mendapati isinya tak lain berupa beberapa botol arak, beberapa jenis buah-buahan dan kue-kue. Pun Zhen Chen mengeluarkan, meletakkan ke tanah seraya mendirikan papan nama yang tak lain nama kedua keluarganya. Keluarga Zhen juga keluarga Wei. Yang mana kemudian sebagai seorang putra, Zhen Chen menuangkan arak ke cangkir pun setelahnya memberikan tiga penghormatan sujud. Perlahan, isak tangis kembali memenuhi tempat ini. Rembulan menjadi saksi, dan bahkan membiarkan Zhen Chen seorang diri yang tak tahu sampai berapa lama ia akan tenggelam dalam tangisannya itu.
Setidaknya, biarkan saja ia bersikap demikian. Jikalau menangis memang mampu melegakan hatinya, maka menangis jelas saja bukanlah hal buruk untuk dilakukan, bukan? Sampai pada akhirnya, Zhen Chen, pria yang dulu mendapati julukan ahli sekaligus jenius muda bunga ini memutuskan akan menempati kembali tempat perkara kejadian ini sebagai tempat berteduh selama ia bersembunyi di Kota Yunnan-Fu ini. Menanti kedatangan dua temannya, menanti sampai tiga bulan ke depan. Dan jikalau memang tidak ada kabar apa pun dari mereka yang bersedia atau tidak menemuinya, maka mau tidak mau ia harus menyusun rencana pergerakan untuk menyusup ke istana.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, tepat dua bulan lamanya waktu telah berlalu. Zhen Chen, penantian penuh harap serta ketakutan dan kekhawatiran yang cukuplah menguras energi pria muda ini berakhir sudah. Tepat di mana malam kembali mendatangkan rembulan terang menggantung di singgasana tertinggi, saat itulah bayang-bayang dua orang tak asing memanggilnya yang sedang duduk termenung di teras rumah dekat tanaman bunga satu-satunya yang masih bertahan, chahua.
Dan senyuman sukses menghiasi wajah di antara ketiganya, yang mana terlihat mereka saling tertawa pun air mata tidak bisa tidak ikut serta. Pelukan, pada akhirnya mereka pun lakukan. Sungguh konyol, ’kah? Melakukan hal-hal demikian di antara pria-pria lajang. Karena mereka jelas akan mengatakan tidak, karena sekali berteman maka akan selamanya berteman pun membantu jelas suatu keharusan.