Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 12


__ADS_3

Mendengar diri terpanggil, Zhen Xian sontak saja menghentikan sesi lamunan. Namun, tak serta merta menoleh, melainkan menerka-nerka siapa dari suara yang diketahui pria ini. Pun suara langkah demi langkah yang kian mendekat terdengar kian jelas, padahal rumah makan ini terbilang ramai akan obrolan.


Tidak mungkin pria penjual waktu lalu, bukan?


Jika bersikap seperti ini terus, dan jika pria yang memanggil ini memanglah salah satu dari pria penjual waktu itu, maka bukankah akan lebih bahaya jika tidak menoleh? Lagian ini hanya prasangka, semua belumlah pasti. Siapa yang tahu, barangkali dugaan ini memanglah salah.


Meskipun keberanian telah terkumpul, tapi tidaklah menghilangkan kegugupan serta ketakutan. Pun Zhen Xian mengepal kedua tangan, napas tertahan dan perlahan ... menoleh ke si pemanggil yang masih memanggil dirinya.


DEG!


Kedua tungkai berdirinya melemah, membawa diri duduk kembali pada meja makan alih-alih sibuk mempertontonkan gerbang istana sana. Napas kembali normal sebagaimana mestinya, tangan yang terkepal pun tak lagi mengepal melainkan meraih cangkir teh tuk meminumnya dalam sekali tegukan.


“Kau mengangetkanku saja, Tuan. Kukira tadi kau salah satu pria penjual yang mengejarku waktu lalu.”


“Aku?” tanyanya tak menyangka bersamaan dengan jari yang menunjuk dirinya sendiri. “Bagaimana bisa kau menganggapku demikian? Aku adalah penyelamatmu, teman Zhen Chen. Lagian ketiga pria pengejar waktu itu telah mendekam dalam penjara, kau aman sekarang jadi tidak perlu khawatir.”


“Maaf, aku sungguh tidak bermaksud,” ucap Zhen Xian tak enak hati, bagaimana biasanya orang akan membalas kesalahan seperti ini? Dan jika melihat dari jadwal sibuk sang kakak, harusnya hutang penyelamatan waktu lalu belumlah terbayar. Jadi .... “Sebagai ucapan terima kasih telah menyelamatkanku dan Que Mo waktu itu, dan sebagai permohonan maafku akan sikapku tadi ... duduklah, aku yang traktir.”


Bertepatan dengan itu pula, makanan pesanan Zhen Xian tiba. Tak tanggung-tanggung, gadis ini memerhatikan kilauan demi kilauan kulit kecokelatan yang menggiurkan dari dua ekor utuh bebek panggang. Pun tak ketinggalan, menegak salivanya yang membuat Jin Kai terkekeh akan kepolosan gadis ini.


“Kemarilah, jangan sampai membuat daging enak ini dingin,” ucapnya lagi, sibuk menuangkan arak dari botol ke cangkir yang telah disiapkan. Sedangkan Jin Kai, bagaimana bisa menolak? Belum lagi rumah makan ini telah dipenuhi pelanggan, satu pun tak lagi ada meja kosong. “Tuan, aku bersulang untukmu. Maaf, dan terima kasih.” Menegak, sedikit mengernyit Zhen Xian dibuat akan kuatnya rasa pahit dan panas yang masuk melewati kerongkongannya.


“Apa biasanya kau makan sebanyak ini?” tanya Jin Kai, menyeka pun menuangkan kembali arak ke cangkir kosong mereka.


“Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya tidak berselera makan dari pagi tadi, selain itu aku juga akan di sini hingga malam. Makanya memesan banyak.” Memajukan wajah lebih lagi, Zhen Xian melirik sekitaran. Merasa aman, barulah dia kembali memandang Jin Kai yang bertanya-tanya akan sikapnya ini. “Jika tidak, pemilik rumah makan ini pasti akan mengusirku,” lirihnya.


Tertawa lepas, Jin Kai bagai tak punya kuasa menahan tawanya lagi. Memperlihatkan gigi putih rapinya tanpa lupa menjadikan sebelah tangan menutupi mulutnya yang diakhiri dengan dehaman demi dehaman tuk berhenti. “Aku memanggilmu Zhen Xian, karena kau adik dari temanku. Jadi, cukup panggil Jin Kai saja.”


“Baik! Jika itu maumu, apa yang bisa kulakukan?” Mengajak bersulang, Jin Kai pun ikut menegak kembali arak dari cangkir ke dua mereka bersamaan.

__ADS_1


“Kau tidak pergi dengan Zhen Chen?”


Zhen Xian membalas dengan gelengan, bukan karena mulut tidak ingin menjawab, melainkan terlalu sibuk memakan dan mengunyah daging bebek panggang yang menggugah selera sedari awal dengan begitu lahapnya. “Dia di istana, mengikuti kompetisi dekorasi untuk ulang tahun Taizi. Lusa akan menjadi babak terakhir penentuan siapa pemenangnya. Karena itu, aku akan di sini sampai malam dan menjemputnya.”


“Aahhhh ... ternyata begitu. Bukankah itu tidak adil bagi peserta lainnya? Zhen Chen pasti akan menang.”


“Tentu saja. Ayo kita bersulang!”


TING!


“Jika waktu itu Zhen Chen tidak memberitahuku bahwa kau adiknya, mungkin aku akan berpikir kau tunangannya.”


“Aku tumbuh dengannya dan selalu bersama. Tanpa dia, aku hanya merasa kosong dan hidupku pasti akan sangat membosankan.”


“Bagaimana jika suatu saat dia memiliki kekasih bahkan menikah?”


“Aku belum berpikir sampai sejauh itu, aku hanya selalu berpikir kami akan bersama dan tak terpisahkan, tapi! Jika hal itu terjadi, maka aku hanya berharap yang terbaik untuknya.” Tersenyum, kembali Zhen Xian menuangkan arak ke cangkirnya dan meminum lagi dan lagi.


Terbatuk-batuk, dengan cepat Jin Kai menuangkan teh pun Zhen Xian yang tersedak segera menegak. Pada akhirnya, gadis ini malah tertawa. Membingungkan Jin Kai, bagian mana dari pertanyaannya yang dirasa lucu?


“Kenapa kau terus membicarakan pernikahan? Apa karena kau sudah menikah jadinya tahu semembahagiakan apa pernikahan itu?”


“Entahlah ... mungkin.”


“Kenapa jawabanmu terdengar ragu? Bukankah kau sudah menikah? Chen Ge bilang, kau sempat rebutan akan tusuk konde chahua ini.” Tunjuk Zhen Xian pada tusuk konde yang melekat di kepalanya. “Kau pasti bahagia dengan istrimu. Sementara aku ... tidak akan menikah jika Chen Ge tidak menikah. Aku akan selalu bersamanya, seperti sekarang,” lanjutnya, menoleh pada gerbang istana nan jauh di sana.


Namun, Jin Kai taklah terlihat begitu bahagia. Melainkan termenung dalam suatu pikiran yang barangkali rumit tuk dipahami siapa pun.


Sedangkan langit, kian menguning kemerahan. Silih berganti orang-orang pergi dan datang, bagai tak akan membiarkan rumah makan ini kosong. Tersenyum, tertawa dan mengobrol seolah dunia ini begitulah indah tanpa beban. Dengan secangkir, sebotol dan beberapa botol arak melengkapi. Indah, sungguh indah tuk menyambut malam yang kian hadir, menenggelamkan sang surya mendatangkan sang rembulan.

__ADS_1


Apa sudah waktunya Zhen Chen pulang? Karena rembulan tampak bersinar jauh lebih terang di istana ini, cahaya mendamaikan itu menyusup masuk melalui ventilasi ruangan yang berserakan bunga-bunga. Pun terlihat Zhen Chen mengucapkan terima kasih atas kerja keras hari ini, memberikan hormatnya pada seluruh anggota tim yang membalas dengan penghormatan pula. Meskipun tubuh terlihat lelah, tapi wajah dan hati mereka bagai tersenyum berbunga-bunga.


“Kita semua satu tim, jadi tidak perlu sungkan begitu.”


“Meng Jun, ucapanmu sangatlah benar. Selain itu, tugas ini terasa mudah dan cepat terselesaikan dengan hasil yang memuaskan, semua berkat Zhen Chen pula,” tambah Mo Zhu, bertepuk tangan yang diikuti lainnya pula. Tidak seperti kemarin yang diabaikan, setidaknya.


Namun, semua berubah seketika, tepat ketika Zhen Chen menginjakkan kaki keluar dari gerbang utama istana. Pandangan diarahkan ke suatu arah, posisi di mana sang adik kemarin datang menanti dirinya dengan sebuah lentera, tapi sekarang, dia tidak melihat keberadaan siapa pun dan itu membuat hatinya sedikit ... entahlah, mungkin aneh? Perasaan yang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti.


“Adikmu tidak datang?” tanya Meng Jun.


“Aku sudah melarangnya untuk menjemputku.”


“Benar ... terlalu bahaya untuk seorang gadis malam-malam sendiri.” Mo Zhu menambahkan.


Namun, sepulangnya Zhen Chen yang biasanya disambut hangat, kembali bergabung dengan keluarga. Kali ini, terhenti oleh Que Mo yang mondar-mandir dalam bakaran ketidaktenangan. Begitu pandangan menangkap sosok Zhen Chen, segera kedua tungkai berlarian mendekati.


“Zhen Xian ... kau tidak kembali bersamanya?”


“Xian’er? Bukankah dia ada di rumah?”


DEG!


“Bagaimana ini? Apa terjadi sesuatu?”


“Apa maksudmu, Que Mo?”


“Siang tadi dia pergi sendiri ke kota, tapi hingga sekarang belum kembali. Kupikir dia akan kembali denganmu, tapi ....”


Tapi, apanya tapi, Zhen Chen mana bisa mendengarkan kelanjutan tapi yang Que Mo maksud.

__ADS_1


Hari sudah sangatlah malam, jika Zhen Xian memang di kota dan baik-baik saja, harusnya mereka sudah bertemu di gerbang istana. Namun, apa ini? Gadis itu taklah menunjukkan batang hidungnya, apa benar telah terjadi sesuatu? Dan ketergesa-gesaan larian Zhen Chen kini, tak akan lengkap jika tidak dibarengi dengan deruan napas kepanikan, bukan?


Kau di mana? Sudah kukatakan jangan keluar sendiri!


__ADS_2