
Keramaian dipenuhi pula temaram lampion yang bergantungan di sepanjang jalanan, memperjelas aktivitas apa yang menjadi keseruan sana-sini. Yang mana orang-orang bersorak mempertontonkan suatu pertunjukan bermain-main dengan semburan api, ada pula yang menyaksikan keseruan dari atraksi wayang ataupun tarian topeng. Namun, ada lagi yang lebih banyak menjadi sorotan orang-orang.
Rumah Minum Ming Yue.
Deretan orang berbaris dalam beragam jenis balutan pakaian yang berbeda kota, menunjukkan bahwa rumah minum ini taklah biasa, bukan?
Lantas, kiranya apa yang menjadi Rumah Minum Ming Yue ini spesial dibandingkan rumah minum lainnya? Yang mana di antara dari antrian yang ada, terlihat pula rombongan Zhen Chen telah lebih dahulu masuk ke sana.
Hal utama yang disambut begitu memasuki tempat ini, adalah rak lemari kayu yang berpetak-petak diisi pula dengan beragam jenis, warna dan ukuran botol ataupun kendi yang ditutupi kain merah atau pula kecokelatan. Di mana seorang pria yang tak tampak seperti pelayan akan menerangkan, menjelaskan beragam dari isian lemari yang ada ini.
“Mari duduk di sana,” tunjuk Zhen Xian seraya menarik sang kakak, mendekati meja yang memang kosong dengan lokasi cukuplah strategis untuk menyaksikan langsung pertunjukan yang disajikan oleh rumah minum ini. “Musik yang sungguhlah indah,” puji Zhen Xian, bersorak pun bertepuk tangan antusiasnya.
Benar, inilah salah satu kelebihan dari rumah minum ini ketimbang rumah minum lainnya. Yang dipertunjukan jelas bukanlah tarian wanita, ataupun hiburan yang akan menyenangkan para pria. Melainkan, hanya musik dari berbagai kota dan budaya yang ditampilkan di sini.
Tak heran apabila pengunjung lebih banyak berasal dari luar kota ketimbang dalam kota, yang mana barangkali kedatangan mereka hanya untuk melepas rindu seraya mencoba sajian minuman dari kota lainnya tanpa harus mengambil perjalanan jauh yang ada. Entahlah, karena setidaknya rombongan Zhen Chen saat ini telah begitulah menikmati suasana yang ada. Saling bersulang ria.
“Arak yang bagus, tempat ini memanglah tidak pernah mengecewakan seperti rumornya,” ungkap Que Mo. “Mo Zhu, apa mungkin kau sering kemari dengan Meng Jun? Bagaimana kalian bisa tahu kita pasti kedapatan tempat duduk diwaktu ini?”
“Itu karena kami sering mengambil jalan sekitar sini sepulang dari istana. Sekadar ingin tahu saja, dan siapa yang menyangka jikalau memang bisa masuk kemari, bukan? Jadi ... aku mengingat kapan waktu yang tepat mengunjungi tempat ini tanpa harus mengalami tak kebagian meja,” jawab Mo Zhu. “Bukankah begitu, Meng Jun?” Dan yang ditanya pun mengangguk membenarkan, mulut jelas saja ingin mengatakan sesuatu, tapi terhenti karena keseruan dari dua saudara Zhen.
Pasalnya, Zhen Chen melarang sang adik melanjutkan minum, menukar isian cangkir dengan teh saja. “Sudah cukup untukmu minum hari ini,” tegasnya.
Zhen Xian pun mengedar pandangan ke sekitaran, tidak mendapati satu pun meja atau orang yang meminum teh. Bukankah ini lucu? Datang kemari dengan begitulah tak mudah, tapi malah berakhir meminum teh. “Kau sungguh keterlaluan, Ge.”
Berakhirlah, Zhen Chen menghabiskan waktu menasihati sang adik. Yang mana Zhen Xian sendiri tak begitu terima dinasihati dari orang yang juga pernah mabuk berat. Maka, pertengkaran kecil di antara keduanya pun terjadi. Bagai tempat ini hanya mereka saja yang menempati.
“Biarkan saja mereka,” ucap Que Mo, bagai hal ini sudah biasa dilihatnya. “Mari kita lanjut minum saja.” Seraya menuangkan arak pada cangkir Meng Jun dan juga Mo Zhu. “Mari, mari, angkat cangkir kalian,” ajaknya, dan suara dentingan pun menguar bergabung dengan dentingan dari meja lainnya.
Ada kata-kata yang berbunyi, ‘waktu akan cepat berlalu jikalau dihabiskan dengan penuh sukacita, apalagi saat sedang bersama dengan teman-teman terdekat’.
Tampaknya, hal itu memanglah benar adanya. Namun, larutnya malam kini tak sama sekali membuat Rumah Minum Ming Yue ini sepi. Pantas saja, orang-orang tak sama sekali menyadari berapa lama waktu yang telah dihabiskan di dalam sini. Terkecuali Zhen Chen, yang serta merta meminta teman-teman lainnya untuk bersiap kembali pulang.
“Lao Ban!” serunya, dan pria pemilik bisnis yang dipanggilnya pun segera menghampiri. “Aku ingin membeli arak yang bagus untuk dinikmati bersama teman. Bukan teman dari kelas yang biasa, tapi teman yang ....”
“Ikutlah denganku, Tuan,” potong si pria pemilik bisnis, mengarahkan jalannya dengan begitulah sopan. “Silahkan,” ucapnya lagi.
“Kalian tunggulah di luar sebentar,” pinta Zhen Chen, yang pastinya sang adik tidak akan menuruti. Memilih ikut bersama alih-alih bergabung dengan Que Mo dan lainnya. “Ge, kau membeli untuk Jin Kai?”
__ADS_1
“Hmmm.”
“Jangan mabuk lagi seperti waktu itu. Kau membuat semua orang khawatir.”
“Tidak akan, jangan khawatir.” Tersenyum seraya mengusap lembut kepala sang adik, biar kata tadi sempat beradu mulut. Namun, hal itu tak lagi ada dan malah tergantikan dengan penuh kasih sayang kini.
Bukankah dua saudara Zhen ini memanglah demikian? Mana mampu berlama-lama bertengkar, bukan? Tak heran jikalau Que Mo tadi sempat acuh tak acuh akan pertengkaran mereka, karena memang sudah tahu betul akan seperti apa akhirnya.
Benar, seperti inilah hasilnya. Yang mana Mo Zhu menggeleng-geleng, heran akan kedekatan mereka yang entah kenapa tak sama sekali seperti kakak dan adik. “Lihatlah mereka, sungguh saudara yang luar biasa,” ucapnya.
“Mereka benar-benar cocok menjadi pasangan, tapi sayang langit menjadikan mereka sebagai saudara,” tambah Meng Jun, mendesah. “Akan sangat luar biasa jadinya jika mereka bukanlah saudara, bukankah begitu?”
Pun Que Mo mengangguk-angguk. “Mungkin langit iri jika mereka adalah pasangan.”
“Mungkin saja, atau mungkin ada hasil yang tidak baik jika mereka bersama,” lanjut Meng Jun, dan itu sukses menolehkan Que Mo ke arahnya. “Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Meng Jun, yang mana akhirnya Que Mo hanya menggeleng. Entah gelengan yang bermaksud bukan apa-apa ataupun menggeleng hanya untuk membuyarkan pikiran yang tak tahu pula apa itu selain dirinya sendiri.
Maka tak heran apabila Meng Jun berniat ingin menanyakan lebih, bukan?
Namun, belum sempat sepatah kata pun yang keluar, Mo Zhu telah lebih dahulu menyuarakan sesuatu yang sukses mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk. Tepatnya di luaran sana, mendapati sosok dari abdi setia Putra Mahkota yang menuju ke Rumah Minum Ming Yue ini.
“Kalian teman-teman Zhen Chen, bukan?” tanyanya, dan Que Mo-lah yang menjawab, membenarkan. “Di mana dia?”
“Ada apa? Apa tim Departemen Dekorasi harus kembali ke istana sekarang?” tanya balik Meng Jun.
“Tidak, hanya ....” Pandangan mengedar pun akhirnya menangkap sosok yang dicari, berlalu pergi begitu saja tanpa menyelesaikan ucapannya. Yang mana Zhen Xian memanglah memanggil seraya melambaikan tangan. “Lin Feng,” sapa gadis ini. Memberi tahu pula sang kakak yang baru saja selesai membeli arak.
Pun Zhen Chen, tampak tahu akan kedatangan pengawal pribadi ini kemari untuk apa. Oleh karenanya, mulut tak perlu menanyakan lagi.
“Taizi ingin bertemu denganmu.”
Dan memang benar dugaan jenius bunga ini
“Sekarang? Semalam ini?” sela Zhen Xian, tampak kurang setuju. Pun Zhen Chen menepuk sebelah pundak sang adik, yang seketika pula terdiam. Tepatnya, sang kakak memberikan kode untuk tidak mengatakan lebih.
“Kebetulan sekali, aku juga baru saja membeli arak untuknya.” Menunjukkan botol berbentuk labu, terbuat dari keramik putih seraya Zhen Chen mengembangkan senyumannya. “Mari kita pergi, Lin Feng.”
Jujur saja, Zhen Xian tidaklah begitu suka akan keputusan sang kakak ini. Sepanjang langkah mereka untuk bergabung dengan Que Mo dan lainnya, pun keluar dari rumah minum untuk kembali bergabung ke ramainya lalu-lalang orang-orang. Gadis ini, terus saja memasang wajah masam.
__ADS_1
Padahal, hari ini sudah sangat membahagiakan. Kenapa hanya karena satu keinginan dari Jin Kai, malah merusak segalanya kini.
“Kita berpisah di sini,” pamit Zhen Chen, bergantian memandangi Meng Jun dan Mo Zhu. “Que Mo, pulanglah dengan Xian’er dan beritahu orang tuaku untuk tidak khawatir. Jangan menunggu pula dan minta mereka istirahat saja.”
Akan tetapi, Zhen Xian terus saja memegang tangan sang kakak tanpa ada niatan untuk melepaskan. Yang mana Zhen Chen akhirnya membawa sang adik sedikit menjauh dari yang lain, lekat memandang. “Kenapa? Apa yang kau khawatirkan?”
“Aku tidak tahu ... hanya merasa aneh kenapa dia ingin bertemu di istana? Kenapa tidak di luar saja?”
“Aku bisa menjaga diri. Selain itu, dia adalah teman kita.”
“Tetap saja aku khawatir. Dia adalah Taizi, dan saat ini begitu banyak hal yang harus diselesaikannya. Lalu kenapa dia menyediakan waktu untuk bicara denganmu? Semalam ini pula. Ak-aku ... ak-aku ....”
Mendekap, Zhen Chen erat memeluk seraya menepuk-nepuk bahu adiknya ini. Menenangkan dan sesekali akan memberitahukan bahwa semua akan baik-baik saja, tidak perlu pula terlalu berpikir jauh. “Ingatlah, belakangan ini banyak masalah yang harus ditangani Jin Kai. Kita saja bersenang-senang seharian ini, Jin Kai pun harus memiliki waktu santainya pula. Lagian aku membeli arak ini untuknya, kurasa ini waktu yang tepat.”
Apa aku memang terlalu khawatir? Memang betul, Jin Kai tidaklah memiliki banyak teman di luaran sana. Masalah terkait rumor ini, Raja pasti sangatlah menekan dirinya untuk segera menyelesaikan. Tentu di saat seperti ini, satu-satunya teman yang bisa menemani adalah sang kakak. Yang mana memang hanya sang kakak-lah yang mampu memperlakukan Jin Kai layaknya orang biasa. “Baiklah, tapi ingat kalau aku menunggumu di rumah.”
“Hmm.” Seraya melepaskan pelukan, tapi tak kunjung pula melepaskan pandangan lekat pun menyentuh wajah sang adik yang sedikit memerah oleh dinginnya malam. “Suhu kian turun, cepatlah kembali dengan Que Mo,” ucapnya seiring menghangatkan kedua tangan dan pipi sang adik yang hanya mengangguk paham.
Alhasil, Zhen Chen benar-benar pergi kini.
Namun tetap saja, langkah yang dibawanya tak mampu menyamai langkah cepat Lin Feng. Barulah mampu saat ketika mendapati sang adik di belakang sana akhirnya tak lagi memandang, kembali menuju arah pulang.
“Taizi merasa tertekan dengan semua hal yang terjadi. Dia banyak memikirkan apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan,” ucap Lin Feng, memulai pembicaraan. “Taizi ... sesungguhnya orang yang menyedihkan, Zhen Chen.”
“Apa dia orang yang seperti itu sejak dulu?”
“Istana dan situasi membuatnya perlahan belajar. Belajar untuk menjadi kejam dan licik di waktu bersamaan, tapi dia masih orang yang baik jika kau bisa memahami dirinya.”
“Aku tahu, hanya ... hanya berharap saja dia tidak akan kehilangan jati dirinya, dan tidak lupa akan kebaikan diri yang dimiliki hanya karena situasi sulit yang suka dihadapi dalam istana.”
“Jika dia melakukan kesalahan padamu ... akankah kau mengerti dan memaafkannya?”
Diam. Yang mana Lin Feng menoleh ke samping. Mendapati Zhen Chen hanya menggeleng. “Entahlah, mungkin aku bisa mengerti atau mungkin juga tidak,” lirihnya, mendesah seraya melihat rembulan yang menggantung di kegelapan malam ini. “Sebagai teman, kau juga harus selalu mengingatkan dia agar tidak kehilangan dirinya yang sesungguhnya, Lin Feng.”
Pun Lin Feng akhirnya ikutan menyaksikan rembulan, di mana jauh dari netra tegasnya itu terpampang pula suatu hal yang sulit dijelaskan. Tak pula ada ucapan ataupun gerakan yang menunjukkan jawaban, yang mana Zhen Chen akhirnya menolehkan pandangan ke arahnya. Barangkali bermaksud membaca apa yang sedang dipikirkan pria tegas berwajah kaku ini.
Namun, hasilnya nihil.
__ADS_1