
Tatkala sepasang netra bertemu pandang dengan purnama yang menggantung mewah, hujanan embun menurun sembari mengikuti hadirnya angin, semacam berusaha menyadarkan ia yang taklah berpenampilan biasa. Berjubah luar biru kehijauan, bagian dalam dari kain pakaian sutra berwarna dasar putih memanjang hingga mata kaki. Menampilkan pula surai kehitaman memanjang sepaha menutupi bagian punggung, terkuncir setengah bagian dengan tali pita putih panjang menjuntai di sepanjang surai tergerainya itu. Ia pun berakhir mengalihkan pandangan ke lain hal.
Kesenduan serta merta menguasainya. Pun pikiran seakan tidak sedang bersama jiwa dan raga, berkeliaran semacam sedang mengingat lebih jelas lagi apa yang telah dialaminya sebelum mampu berdiri seperti ini di sini. Melihat kembali betapa sulit kehidupan yang dilalui di periode singkat hidupnya sebagai seorang manusia.
Semua sudah berakhir, benar, bukan? Jika dibandingkan dengan kehidupan dari seorang abadi sepertiku, kehidupan manusia itu jelaslah hanya berupa mimpi di tidur siangku saja. Namun ... kenapa ... perasaan manusia ini masih melekat kuat untuk dirasakan? Mendesah, pun bersamaan dengan itu pula seberkas lesatan cahaya kehijauan dari langit turun, mewujudkan diri menjadi seseorang untuk kemudian menghampiri ia yang masihlah merenung dalam kesenduan.
“Sudah waktunya, Mo Bian. Alam Surgawi telah menanti kepulanganmu untuk mengisi kembali posisi resmimu sebagai Dewa Musim.”
“Tidakkah kau membuat jalan ceritaku sebagai Wei Lang ataupun Zhen Chen sungguh sangatlah tragis, Si Ming.”
“Kedatangan dan kelahiranmu ke dunia fana ini hanya berupa ujian kehidupan, jangan lupakan siapa dirimu yang sesungguhnya. Seorang dewa tidaklah boleh terlalu terikat dengan perasaan duniawi. Apalagi di kala kau sekarang bukan lagi dewa biasa, melainkan seorang Dewa Tinggi.”
Benar, ucapan Dewa Takdir ini memanglah betul. Sekarang aku adalah Mo Bian, bukan lagi Wei Lang ataupun Zhen Chen. Mengangguk, menolehkan pandangan pada Si Ming yang lagi dan lagi mengajak kembali ke Alam Surgawi. Namun, sesuatu di antara tumpukan abu dari puing-puing kebakaran sukses membuat Mo Bian mematung. Menangkap sesuatu itu berupa benda yang tak asing sekali baginya.
__ADS_1
Kantong wewangian, juga ... tusuk konde chahua.
Dan dalam sekali uluran sebelah tangan dari pakaian berjubah biru kehijauannya, serta merta dua benda tersebut terangkat pun sekejap mata telah berada dalam genggaman Mo Bian. Memerhatikan jikalau kedua benda ini memanglah baik-baik saja, semacam kobaran api tak mampu menyentuh atau barangkali tak berani merusaknya.
Satu benda, yaitu kantong wewangian berukiran chahua diambilnya. Namun, tidak dengan tusuk konde chahua. Yang mana ia layangkan sejajar dengan tingginya sendiri, menyalurkan sejumlah energi yang dimiliki pada tusuk konde tersebut. Alhasil, melebur sudah tusuk konde tersebut layaknya serbuk keemasan yang berkelap-kerlip, menyebar ke seluruh area kediaman keluarga Zhen ini untuk kemudian terbawa embusan angin dunia fana ke seluruh bagian dari Kota Yunnan-Fu yang tertidur.
“Gadis itu adalah manusia, sekarang ... harusnya dia sedang berada di wilayah dari Dewa Karma,” beritahu Si Ming, dan Mo Bian terdiam. “Kau ingin menemuinya? Aku lumayan dekat dengan Dewa Karma, jadi harusnya kalian bisa bertemu dan berbincang sesaat.”
“Berapa banyak karma yang harus ditebusnya?”
Maka aku cukup menanti akan datangnya hari itu. Menanti saat pertemuan pertama kita sebagai sesama abadi, Xian’er. Menengadahkan wajah ke langit purnama, sebulir air mata luruh untuk kemudian terjatuh menghantam permukaan dinginnya tanah. Yang mana detik berikutnya pula, tak lagi ada sosok Mo Bian ataupun Si Ming. Yang ada hanyalah berupa lesatan cahaya putih dan hijau bergerak naik, menembusi langit. Oleh karenanya, aku memutuskan untuk tidak menemuimu dahulu. Bukan karena tidak ingin, melainkan aku takut tidak bisa mengontrol diri untuk kembali berpisah yang ujungnya akan berdampak pada kesempatanmu untuk mampu terlahir sebagai abadi baru.
Dan di sinilah keajaiban terjadi. Kala di mana udara yang terpapar serbuk keemasan kerlap-kerlip mulai mengendap ke dalam dasar tanah, semacam terserap oleh suatu titah yang berasal dari jatuhan air mata Mo Bian. Berpendar bercahayakan putih untuk kemudian menciptakan suatu ledakan cahaya menghujani seluruh area dari kediaman keluarga Zhen ini. Pun lahan kosong yang bagaikan tidak mampu ditumbuhi apa-apa di atasnya, mulai menguarkan pernak-pernik keemasan. Memunculkan suatu kecambah yang perlahan-lahan terus saja membesar hingga mewujudkan ragam tanaman disertai pula mekaran bunga warna-warni. Tak terkecuali seluruh Kota Yunnan-Fu, turut serta merasakan keajaiban ini.
__ADS_1
Semenjak itulah, sepanjang tahun tanpa memedulikan musim apa yang datang, bunga-bunga semacam tiada habisnya bermekaran. Indah, cantik, segar seakan sulit sekali untuk layu. Mengundang sejumlah keceriaan, kebahagiaan dan penyemangat bagi kehidupan masing-masing orang yang melihat. Tidak perlu pula bagi penduduk kota untuk kesulitan menanam apalagi merawat, seakan ada suatu sihir atau mantra tak kasatmata yang siap mengurus hal-hal demikian.
Oleh karenanya, penduduk setempat percaya jikalau Dewa Musim-lah dalang di balik kejadian ini semua. Meskipun mereka tak tahu alasan dewa tersebut kenapa melakukan hal ini, tapi penduduk yakin jikalau ada suatu hal yang ingin dibuktikan oleh sang Dewa tersebut. Sehingga penduduk mulai menamakan kota ini sendiri sebagai Kota Musim Semi Abadi.
^^^Kehidupan manusia itu fana, tapi percayalah bahwa cintaku akan abadi seabadi diriku dan eternal spring adalah buktinya.^^^
^^^--- Mo Bian ---^^^
...Selesai...
...***...
Buat semua yang sudah mampir dan membaca kisah ini dari awal, aku pribadi sangatlah berterima kasih pada kalian semua🙏 belum lagi segala komen-komen kalian sungguhlah memberikan semangat bagiku, sekali lagi terima kasih banyak yaa teman-teman😊❤
__ADS_1
Sampai berjumpa lagi di lain ceritaku yaa🤗🤗