
Netra terus diedarkan ke sekitar seraya membawa sepasang tungkai melangkah bergantian, bergabung dalam lalu-lalang orang-orang yang tak tahu pula apa kesibukan mereka. Namun, langkah pun terhenti, di mana mulut menyunggingkan senyuman mendapati kumpulan anak-anak berlarian antusias hanya untuk menyaksikan seorang pria paruh baya membuat tanghua* yang beraneka ragam bentuk hewan.
Hal itu memang menarik tuk disaksikan langsung, tapi langit yang kian merah kejinggaan tak memungkinkan untuk dirinya ikut menonton kesenian lelehan gula ini. Lagian, apa serunya menyaksikan hal tersebut tanpa ditemani seorang pun, bukan?
“Zhen Chen!”
Yang terpanggil seketika menoleh, mendapati bibi penjual pangsitlah yang memanggil yang mana mendekatinya pula. “Tampaknya penjualan kian membaik, Bibi.”
“Sudah cukup lama kau tidak mampir. Eh! Ke mana adikmu?”
“Aku ada rencana bertemu seseorang, karenanya aku meminta Xian’er pulang duluan.”
“Seseorang? Apakah seorang wanita? Sangat disayangkan, padahal aku hendak saja akan memperkenalkan putri dari saudara jauhku padamu.”
Memperkenalkan? Zhen Chen jelas tampak kikuk. Tak pula ingin meluruskan kesalahpahaman yang ditanggap Bibi Pangsit ini, bukankah yang ada nanti dirinya sungguh akan diperkenalkan? Alhasil, anggukan menjadi jurus maut menghentikan lebih lanjut rencana sang bibi. Yang sekaligus menjadi cara tercepat tuk meloloskan diri, yang mana Zhen Chen memang tak bisa lebih lama lagi di sini.
Apa jadinya jika membiarkan orang penting yang berbeda kelas itu menunggu, bukan? Dan dengan segala pemikiran itu pula, di sinilah kini Zhen Chen berada. Di sambut oleh seorang pelayan yang serta merta menanyakan namanya alih-alih mengarahkan ke meja kosong seperti biasanya.
Meskipun ragu, Zhen Chen pun memberitahukan. Barulah si pelayan ini membawanya ke lantai dua. Mendapati, orang penting itu memanglah telah datang lebih dahulu.
“Apa aku terlambat? Kau sudah lama menunggu?”
“Aku yang datang lebih awal agar tidak kehabisan tempat kosong,” balasnya tersenyum. “Duduklah,” ajaknya kemudian yang mana pelayan menuangkan teh terlebih dahulu sebelum pergi, tak lupa pula meminta tuk sabar menanti pesanan yang akan disiapkan secepat mungkin.
Sungguh jenis pelayanan yang berbeda dari dahulu Zhen Chen datangi, tapi tak perlu pusing memikirkannya. Karena Putra Mahkota yang duduk berhadapan dengannya kini, tampak telah membayar sejumlah lebih uang pada si pelayan rumah makan ini.
“Dan masih di meja yang sama,” ucap Zhen Chen, ingatan di hari pertama kali mereka bertemu dan saling berkenalan kembali terngiang. Tak tahunya, latar belakang pria yang rebutan tusuk konde dengannya ini sangatlah jauh dari sekadar keluarga bangsawan saja. Raja berikutnya Kerajaan Yunnan-Fu, bukankah itu hal luar biasa?
“Hmm ... banyak kenangan dari meja ini. Selain itu, bisa menghirup udara serta melihat langsung keramaian jalanan,” timpal Jin Kai, menuangkan arak ke cangkir Zhen Chen. “Bersulang,” ajaknya, yang tentunya diterima baik oleh Zhen Chen tanpa lupa mengucapkan selamat ulang tahun.
“Ucapanmu sungguh sangat berarti bagiku. Selain itu, dekorasimu sungguh sangat indah. Bahkan Huangtaihou begitulah menyukainya.”
__ADS_1
“Ucapkan terima kasih kembaliku pada Huangta ....” Menelan sisa ucapan, berkat hadirnya pelayan yang menyajikan makanan. Tentu, harusnya Jin Kai paham sisa ucapan yang tak lagi berniat dilanjutkan ini, bukan? Karena pemandangan meja yang begitulah dipenuhi makanan ini sukses membuatnya tercengang. “Kau bisa menghabiskan semua ini?” tanya Zhen Chen akhirnya.
“Terakhir aku melihat Zhen Xian makan cukuplah banyak, dan kupikir kau juga. Tidakkah?”
“Kau meledekku?” tanya balik Zhen Chen yang serta merta mengundang tawa di keduanya. Tak tahu pula dari mana logika Putra Mahkota ini samapi mampu berkata demikian. Meskipun memang bersaudara, apa benar nafsu makan juga bersifat menurun? “Bercandamu ... sungguh tidak cocok denganmu.”
“Memang benar, bertemu denganmu dan Zhen Xian adalah hal terbaik dalam hidupku.” Menghela napas, tawa pun berhenti. Namun, netra mengedar ke meja pelanggan lainnya. Berfokus pada pasangan paruh baya dengan dua orang bocah laki-laki, yang mana pria paruh baya menempatkan lauk ke piring dua bocah itu. “Sungguh ... membahagiakan.”
Apa itu keirian? Ataupun kecemburuan? Entahlah, karena Zhen Chen sendiri taklah begitu paham akan pikiran dari seorang Putra Mahkota ini. Alhasil, mengambil lauk pun menempatkan ke piring orang yang sedang berulang tahun ini menjadi pilihan. Karena tampaknya, di balik perasaan campur aduk yang dirasakan, Jin Kai memiliki banyak pemikiran lainnya.
Namun, Zhen Chen sendiri enggan menanyakan masalahnya. Biar bagaimanapun, kenyataan Jin Kai adalah Putra Mahkota memang benar adanya. Sedekat apa pun pertemanan mereka, jarak jauh itu tidak akan pernah bisa tertutup apalagi menyatu.
“Kenapa kau ingin bertemu denganku saja?”
“Ada hal yang ingin kusampaikan, dan ... kau harus mengetahuinya baik sebagai teman ataupun orang yang terlibat,” jawabnya. Sungguh jawaban yang menarik minat si pendengar, tak heran pula Zhen Chen dibuat mengerutkan dahi, berpikir apa maksud dari ucapan temannya ini. “Ini mengenai Zhen Xian,” lanjutnya lebih lagi.
Pun Zhen Chen akhirnya mengerti, dahi yang dikerutkannya itu sontak saja hilang. Tak pula repot-repot harus memikirkan ataupun menebak.
Bukankah jelas apa maksud Jin Kai ini? Jika itu mengenai sang adik, maka sudah pasti hal itu terkait perawatan dan penjagaan chahua di taman belakang kediaman ibunya. Bukankah itu persyaratan yang telah disetujui sebelumnya? Namun, kenapa Jin Kai menanyakan hal ini? Dia tidak percayakah janji itu akan dipenuhi?
“Aku menyukainya,” potong cepat Jin Kai.
DEG!
Ini sungguh di luar dugaan, bagaimana bisa? Seorang Putra Mahkota berucap begitulah langsung terkait perasaan, terlebih ... raut wajahnya saat mengatakan hal itu begitulah serius. Lantas, harus bagaimana Zhen Chen menanggapi keterkejutan ini? Untung pula sumpit yang dipegang taklah sampai lepas, di mana tak lupa pula caranya bernapas.
Perlahan, barangkali tuk menyadarkan diri lebih banyak lagi. Zhen Chen meraih pun meminum arak yang bagaikan teh biasa baginya. Berakhir lekat, melemparkan pandangan pada Jin Kai. “Lalu ... kau ingin dia menjadi selirmu?”
“Keluargaku dan para menteri memang memintaku untuk memilih selir, tapi aku tidak ingin menikah dengan wanita yang bukan pilihanku ... karena itu ....”
“Karena itu ...!” seru Zhen Chen yang barangkali membentak. “Kau ingin Xian’er menjadi selirmu? Menjadikan dia sebagai umpan untuk menutup mulut keluargamu dan para menteri?”
__ADS_1
“Aku menyukainya, Zhen Chen. Kenapa kau berpikir demikian? Tadi saat perayaan ulang tahunku, aku sudah berkompromi dengan para menteri bahwa mereka tidak akan menentang siapa pun wanita yang kupilih.”
“Itu adalah istana, kau paling tahu kehidupan apa yang ada di sana dan Xian’er ... hanya seorang gadis ceria yang bebas. Membawanya ke sana sama saja dengan mengurungnya! Dan aku, sebagai saudaranya tidak akan menerima usulanmu,” tegas Zhen Chen.
“Kau memang saudaranya, tapi bukan berarti kau bisa memutuskan hidupnya. Aku hanya memberitahumu bukan untuk mendengar jawaban, karena kau temanku juga kakak dari wanita yang kucintai. Tentu kau pula yang harus menjadi pertama yang tahu, tapi ... hasilnya hanya adikmu, Zhen Xian yang bisa memutuskan.”
Tanpa tahu harus mengatakan apa lagi, Zhen Chen hanya terdiam dalam pikiran. Karena apa yang diucapkan Jin Kai barusan memanglah benar. Hanya sang adik yang mampu memutuskan akan seperti apa ke depannya.
Namun tetap saja, ketika mendengar pengakuan Jin Kai barusan. Rasanya ada sesuatu yang ingin sesegera mungkin menolak, bahkan Zhen Chen sendiri tidak mengerti alasan penolakan segera yang ingin dilakukannya ini. Apa benar demi keselamatan dan kebebasan Zhen Xian? Atau karena tidak ingin berpisah saja?
“Sejak kapan kau menyukainya?”
“Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa nyaman, tenang dan menjadi diriku sendiri saat bersama dengannya. Mungkin saat aku makan berdua dengannya di sini, atau mungkin saat aku berdua dengannya di kediaman Mufei. Aku tidak tahu pasti kapan, tapi aku jelas tahu dan meyakini kalau aku memang menyukainya.”
“Jika Xian’er memiliki perasaan yang sama dan menerimamu, maka aku pun tidak bisa mengatakan apa-apa,” lirih Zhen Chen.
“Aku janji akan melindunginya, tidak akan membiarkan siapa pun merendahkannya. Zhen Chen, percayalah padaku. Semua akan membaik dan tidak akan separah yang kau bayangkan.”
Diam. Hening. Yang mana waktu kenapa pula terasa begitulah cepat bergerak. Apa barangkali tadi sempat berhenti? Karenanya ketika kembali bergerak, tiba-tiba saja malam telah larut. Malam dingin, menusuk tulang pun hati.
Tentu berbeda sekali dengan apa yang Jin Kai rasakan. Hari ini dapat dikatakan segala hal berjalan mulus seperti keinginannya. Baik saat tadi siang maupun sekarang. Hanya Zhen Chen seorang yang merasa dunia menghantam dirinya, meremukkan semangat dan juga memadamkan keceriaan yang dirasa sepanjang hari ini.
Oleh karenanya, sepanjang perjalanan pulang, pria yang belum lama menyandang gelar Ketua Departemen Dekorasi Istana ini melangkah gontai. Wajah bagai tak mampu diangkat sepenuhnya. Mulut berkali-kali akan menguarkan embusan demi embusan, dengan netra mulai berembun ketika indra pendengarannya menangkap suara tak asing.
“Ge! Kau akhirnya pulang.” Zhen Xian menghampiri. Mendapati sang kakak begitulah kacau, yang tanpa sebab malah seketika mendekap nan erat. Yang berakhir pula meluruhkan sebulir cairan bening dari embun yang tak lagi tertampung di pelupuk mata. “Ge, ada apa denganmu? Apa telah terjadi sesuatu?”
Menggeleng, berusaha tak membiarkan isak tangis keluar apalagi sampai terdengar sang adik yang pastinya akan sangat khawatir. “Aku hanya ingin memelukmu,” ucapnya, serta merta pula menutup rapat dengan memilinkan erat bibirnya.
Sedangkan Zhen Xian, malah tersenyum dengan membalas kembali pelukan hangat sang kakak. Di mana angin berembus, menarikan setiap dedaunan dari segala jenis tanaman ataupun tumbuhan yang ada tepat di bawah sinar rembulan purnama nan indah tiada tara ini.
Namun, chahua di teras rumah yang bermekaran tiba-tiba layu. Mungkinkah mengikuti suasana hati Zhen Chen?
__ADS_1
Note:
*Tanghua itu Sugar Painting.