
Pernah ada yang mengatakan, terkait ikatan dekat seseorang akan menuntun pada yang namanya suatu firasat tajam. Tentu akan menjadi suatu hal terindah jikalau itu firasat baik nan membahagiakan, tapi bagaimana jika bukan? Yang mana memang firasat akan lebih tajam terasa jikalau itu hal buruk, dan caranya bisa dalam bentuk apa saja. Entah itu mimpi, atau kegelisahan hati.
Zhen Chen, pria yang menduduki jabatan resmi istana sebagai Ketua Departemen Dekorasi ini, kembali tertangkap. Namun, kali ini harus melibatkan pula kedua temannya, Meng Jun juga Mo Zhu. Tak mengherankan apabila situasi dan suasana ini menjadi bahan tontonan bebas seluruh bagian istana yang tertarik.
“Jika terus begini, Departemen Dekorasi kita sungguh akan dipandang rendah terus oleh departemen lainnya, bukan?”
“Kau benar, kukira departemen kita akan jauh berbeda di bawah kepemimpin Zhen Chen. Tahunya, malah seperti ini.”
Tidak hanya itu saja kekecewaan yang tertangkap pendengaran, tapi masih banyak lagi lainnya. Setidaknya beruntung, Zhen Chen yang dipaksa melangkah diri menjauhi area tempat kerjanya ini telah menjauh. Tak perlu repot-repot mendengarkan ocehan dari mereka yang tak paham akan situasi sesungguhnya.
Namun, akan ke mana dirinya dibawa kali ini? Benarkah kembali mendekam dalam penjara? Dan kesalahan apa pula yang telah dilakukan hingga harus mengalami hal ini setelah baru saja dibebaskan sebagai pelaku keracunannya Jin Kai?
Kali ini sungguh dirimu lagi? Menampilkan senyuman pahit seraya netra memerah pun tangan yang diikat kencang oleh semacam tali tambang dikepalnya mengerat. Haruskah seorang yang tak memiliki kekuasaan setinggi dirimu ini terus mengalami hal semacam ini? Terlebih, kenapa harus melibatkan orang lain yang tak ada hubungannya dengan permasalahan kita?
Yang mana kekacauan dari bagian Departemen Dekorasi juga dialami Kediaman Chahua, mendapati Zhen Xian berlarian keluar diekori pula Que Mo. Mendengar nama sang kakak disebut-sebut, wajar saja jika gadis ini panik bukan main, bukan? Yang barangkali pula telah lupa caranya mengatur napas berkat tercekatnya kekhawatiran yang bisa dibilang berlebihan pastinya oleh mereka orang luar, katakan saja para pelayan kediamannya sendiri yang menghalangi jalan.
“Minggir, apa yang kalian pikir sedang lakukan?” Namun, tak pula para pelayan ini menuruti. Padahal mereka hanyalah bawahan, pelayan yang ditugaskan untuk menuruti setiap perkataan atasan. Akan tetapi, alih-alih mendengarkan ucapan Zhen Xian, malahan mereka lebih mendengarkan perkataan Dayang Yun, kian menghalangi lagi. “Kalian tidak dengar ... kubilang minggir!” teriak murka Zhen Xian, nyalang memandang Dayang Yun.
“Selir Zhen, kepergianmu ke sana hanya akan mempersulit saudaramu. Tentu kau tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi, bukan?”
Pun Zhen Xian yang menahan diri kian mengikis jarak, mendekati Dayang Yun yang tak juga memalingkan pandangan seakan kemarahan Zhen Xian saat ini tak perlu ditakutkan. Hanya berupa kemarahan dari seorang anak kecil saja. “Dayang Yun, jika bukan karena kebaikanmu dulu padaku terkait kasus Dayang Chu, sudah dapat dipastikan aku kini akan menamparmu. Jadi ... suruh para pelayan ini minggir,” kecam Zhen Xian, netra berairnya tak lagi berkedip.
Tidakkah hal ini menunjukkan dengan jelas, Zhen Xian taklah memiliki kuasa penuh akan Kediaman Chahua yang ditempati? Apanya yang dikatakan pemilik kediaman, selir tercinta Putra Mahkota dan lain sebagainya akan perkataan manis semacam dirinya memiliki kekuasaan saja. Padahal nyatanya, pelayan yang jauh lebih rendah ketimbang status miliknya saja tidak bisa ia taklukan.
Kediaman ini, jelas saja sebuah sangkar mewah berlapiskan emas, bukan? Di mana orang-orang luar yang menyaksikan tidak tertarik dengan apa yang dikurung dalam sangkar itu, apa yang dialami dan apa yang dirasakan. Melainkan lebih tertarik akan sangkar emas itu sendiri. Atau parahnya lagi, jauh lebih tertarik dengan si pembuat sangkar yang hanya dengan sebaris kalimat saja, ‘Jangan biarkan dia pergi’, mampu membuat semua orang tunduk sembari membuka jalan langsung.
“Kali ini permainan apa lagi yang kau mainkan? Apa belum cukup kau melakukannya?!”
“Bawa Selir Zhen ke dalam,” titah Jin Kai, yang tentu saja segera dilakukan Dayang Yun bersama beberapa pelayan lainnya. Membawa paksa Zhen Xian yang berteriak seraya meronta untuk dilepaskan.
Namun, siapa yang berani melawan pria berkekuasaan setinggi Jin Kai ini? Yang mana bahkan Putri Mahkota hanya mampu bergeming menyaksikan Zhen Xian diperlakukan demikian tak adilnya.
__ADS_1
“Tanpa perintahku tidak ada yang boleh mengizinkan Selir Zhen keluar! Berani membantah, terima konsekuensinya,” kecam Jin Kai, penuh penekanan. Atau barangkali tepatnya mengecam Que Mo selaku satu-satunya orang dalam Kediaman Chahua ini yang memihak penuh Zhen Xian. “Apa kau dengar?” tanyanya, memandang meremehkan dari balik netra menajamnya itu.
“Jika terjadi sesuatu dengan Zhen Chen ataupun Zhen Xian ... lihatlah apa yang akan kulakukan,” tegas Que Mo.
“Memangnya apa yang bisa dilakukan dari seorang pelayan?”
“Aku pernah hidup susah sebelum bertemu dengan dua saudara Zhen, dan aku rela kehilangan nyawaku demi menyelamatkan mereka. Bahkan jika harus membawa mereka keluar dari istana, aku bisa melakukannya.”
Sembari menyeringai, tak pula mulut menanggapi omongan yang mungkin saja dianggap Jin Kai bukanlah apa-apa ini. Kian membawa diri mendekati Que Mo yang menahan kekesalan pastinya. “Sebelum itu terjadi ... aku pasti sudah menyingkirkanmu dulu,” bisiknya, menepuk-nepuk pundak Que Mo seakan pukulan ringan itu semacam pengesahan bahwa apa yang dikatakan pelayan pribadi Zhen Xian ini tidak akan pernah terjadi.
Yang mana Putri Mahkota berakhir mendesahkan napas memberatnya, sembari mulut berseru memanggil dayang pribadinya, Dayang Feng, untuk pergi memenuhi tugas setiap paginya di Aula Merak dari Kediaman Ibu Suri. Namun, langkah pergi itu dihentikannya, semacam ada hal yang harus dilakukan segera atau ia tidak akan tenang. Pun pandangan diarahkan lurus pada sang suami. “Kau sungguh sudah kelewatan, Taizi,” ucapnya penuh kekecewaan, barulah kemudian berlalu pergi bersama rombongannya.
Sejak kejadian itu pula, tiga hari Zhen Xian dikurung dalam kediaman. Menolak makan dan juga minum, karena asupan yang masuk ke dalam tubuhnya tak lain adalah kekhawatiran pada sang kakak. Bahkan Que Mo saja tidak diizinkan bertemu barang sejenak saja, mendekati pintu dari kediaman saja taklah diizinkan.
Sementara Zhen Chen, Meng Jun dan Mo Zhu sendiri dikabarkan sedang dirawat di rumah medis istana sejak hukuman cambuk yang mereka terima. Yang mana pula tidak diizinkan pergi kemana pun atau menemui siapa pun, dan tak mengherankan apabila Zhen Chen yang juga mengkhawatirkan sang adik malah jatuh sakit kini.
Kabar itu pun, pastinya tak luput dari pengawasan seorang Putra Mahkota, bukan? Mudah baginya bahkan ketika tidak ingin saja, tetap saja kabar itu akan sampai pada telinganya. Dan sukses pula menghentikan kegiatan sibuknya akan dokumen, menutup rapat seraya pandangan diarahkan pada Kasim Ma selaku si pelapor.
“Masih demam dan sering kali memanggil nama Selir Zhen,” jawab Lin Feng.
Yang mana jawaban Lin Feng itu, membangunkan Jin Kai dari duduknya sembari mendekati pengawal pribadi nan handalnya ini dengan melemparkan pandangan penuh kecurigaan. “Tidakkah kau merasa aneh dengan keduanya?”
“Mereka hanya saudara,” jawab cepat Lin Feng, yang dirinya sendiri pun tak tahu kenapa bisa menjawab secepat itu seakan ingin sesegera mungkin mematahkan kecurigaan tak berdasar Jin Kai. “Jangan berpikir terlalu jauh mengenai hal itu. Selain itu, Taizi ... kenapa tidak kau memberi tahu Selir Zhen bahwa semua ini bukan kau yang melakukannya, melainkan Huangdi.”
“Tidakkah kau lihat tatapan Zhen Xian padaku sejak tahu aku dalang di balik kasus penjebakan Zhen Chen? Bahkan jika memberitahunya, tidak akan ada hasil. Mungkin, pada akhirnya hanya akan memicu pertengkaran lebih jauh.”
Ibaratkan segunung dokumen pekerjaan, mampu diselesaikan dengan baik tanpa masalah. Akan tetapi, satu permasalahan dengan Zhen Xian, tidak mampu diselesaikan bahkan jika harus menunggu bertahun-tahun lamanya.
Benar, jarak di antara kami aku yang menciptakan, maka aku pun bisa mempersempit kembali jarak itu dengan caraku.
Pada akhirnya, memilih mengunjungi kediaman Zhen Xian menjadi pilihan terbaik. Biar kata gadis itu akan menolak menemuinya, atau kata-kata kejam-lah yang siap diterima. Jin Kai akan menanggung, dan bersabar penuh. Setidaknya, hal ini menjadi satu-satunya cara yang mampu dipikirkan saat ini.
__ADS_1
Namun, setibanya di Kediaman Chahua dengan membawakan semangkuk bubur, tak pula dirinya mendapati keberadaan gadis itu. Tak mungkin pula kabur, bukan? Yang mana beberapa langkah masuknya ke dalam kamar, berakhir dikejutkan akan suatu hal sembari menjatuhkan mangkuk bubur.
Zhen Xian, gadis itu tergeletak tak berdaya pada lantai.
Pun seruan demi seruan Jin Kai lakukan, meminta dipanggilkan tabib sesegera mungkin seraya diri menggendong Zhen Xian menempatkan kembali gadis yang barangkali demam ini ke atas ranjang. Dan memang tak butuh waktu lama, seorang tabib pun tiba bersamaan dengan Que Mo yang menerobos masuk, mendapati Zhen Xian dalam penanganan tabib.
“Apa kau puas sekarang?”
“Jaga bicaramu, dia adalah Taizi dan juga suami Zhen Xian,” tegas Lin Feng.
Namun, Jin Kai bagai tak sama sekali peduli akan ucapan dua pria yang bersitegang membela masing-masing tuan mereka. Hanya satu yang dipedulikan, Zhen Xian gadis ini baik-baik saja. “Bagaimana kondisinya?”
“Selir Zhen kehilangan energi dan juga banyak pikiran. Hal itu membuat dirinya pingsan dan demam sekarang,” jawab tabib.
Lega, benar kelegaan seketika memenuhi. Setidaknya bukanlah penyakit serius, tanpa lupa pula Jin Kai meminta untuk segera diresepkan ramuan penurun demam atau semacam ramuan lainnya yang mampu mengembalikan kesehatan gadis ini ke semula. Yang mana dirinya sendiri tak bisa menjauh barangkali selangkah saja sembari menyeka keringat Zhen Xian dengan lembutnya.
“Kenapa harus menyiksa dirimu? Kenapa kau selalu membuat diriku tampak bersalah seperti ini?” Dan balasan yang didapatnya, tak lain adalah gumaman memanggil Zhen Chen. Menyakitkan? Tentu sangat menyakitkan bagi Jin Kai. Bahkan dalam tidurnya, yang dipikirkan gadis ini juga tak lain adalah Zhen Chen. “Kau mengkhawatirkannya atau merindukannya, Zhen Xian? Apa kau percaya jika bukan aku yang memerintahkan hukuman cambuk pada Zhen Chen? Apa mau kau mendengarkan penjelasanku?”
Namun, tetap saja Zhen Xian terus memanggil sang kakak.
Jikalau sudah seperti ini, bagaimana bisa Jin Kai masih bersikap dingin dan tak menuruti?
“Lin Feng, besok bawalah Zhen Chen kemari. Bebaskan pula mereka yang bernama Meng Jun juga Mo Zhu,” lirihnya. Yang mana Lin Feng sendiri enggan akan titah tersebut, karena itu artinya Jin Kai harus berdebat dengan Raja. “Lakukan, akan kucari cara untuk menenangkan Huangdi,” ucapnya, kali ini penuh penekanan juga ketegasan. Pun Lin Feng, tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain menuruti. “Kalian semua pergilah,” pintanya kemudian.
Serta merta Kasim Ma dan Lin Feng memberikan hormat, terkecuali Que Mo yang tak sudi. Alhasil, berakhir ditarik Lin Feng meninggalkan Zhen Xian dalam perawatan Jin Kai. Termasuk ketika hari jatuh dalam larutnya malam, Putra Mahkota ini tak pernah sekalipun meninggalkan kamar. Bahkan sibuk menyeduhkan ramuan tanpa ingin meminta bantuan siapa pun, menyuapkan perlahan-lahan pada Zhen Xian seraya menyeka mulutnya.
Sekiranya, tindakan tulus Jin Kai saat ini akankah melemahkan Zhen Xian ketika sadar nanti?
Karena jikalau harus jujur, perasaan Jin Kai malam ini sangatlah bercampur aduk. Satu sisi, dirinya senang bisa bersama sang istri tercinta. Namun, di sisi lainnya, bagaimana bisa senang di saat Zhen Xian seperti ini? Dan parahnya lagi, tak pernah sekali saja nama Jin Kai keluar dari balik mulut tak sadarkan diri Zhen Xian ini.
Alhasil, sebulir air mata bergulir pelan pada sebelah pipi pria yang asyik menonton damainya rembulan. Atau barangkali sedang memikirkan hal apa yang akan terjadi besok, dan bagaimana pula caranya menenangkan sang ayah yang barangkali akan sangat marah akan perintah Jin Kai untuk membebaskan Zhen Chen tanpa sepengetahuan atau izinnya dahulu.
__ADS_1
Desahan, hanya satu desahan saja. Cukup menjadi penutup dari malam berkabut dari seorang Putra Mahkota ini.