Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 75


__ADS_3

Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hampir dikuasai mendung dan hujanan kepingan es. Kini, Desa Yong Gan kembali mendapat cahaya hangat dari sang surya yang begitulah tersenyum lebar, di mana es-es yang menyelimuti sebagian besar desa pun hampir hilang sepenuhnya.


Tidak terkecuali pula keramaian dunia begitulah nyaring terdengar, burung-burung kecil berkicau layaknya bernyanyi, ayam jantan yang menjadi peliharaan warga berkokok padu. Yang mana bahkan bebek-bebek saja tak ingin ketinggalan dan ikut meramaikan dengan suara khasnya.


Lantas, tidak mungkin warga desa yang bertempat tinggal di area dikelilingi hutan berpohon nan menjulang tinggi seakan sedang bersembunyi ini tidak terbangunkan, bukan? Hanya saja, fokus mereka kini jatuh pada ia yang baru saja keluar dari rumah Tabib He. Ditemani pula Azheng yang senantiasa setia di sisinya.


Benar, ini kali pertama di mana Zhen Chen sejak sadarkan diri dari koma keluar, menginjakkan sepasang kakinya ke desa yang menyambut hangatnya ini. Bukan karena selama ini ia tak ingin, melainkan karena Tabib He sendiri yang tidak mengizinkan dengan alasan luka tusukan dada belumlah boleh terpapar udara dingin dari luar. Oleh karenanya, warga desa kini ada yang memberikan hormat, ada pula yang bergumam mengatakan betapa miripnya Zhen Chen dengan mendiang Jenderal Wei, dan sebagiannya lagi penasaran akan seperti apa sosok dari pria muda yang akan menyalakan api harapan lebih terang lagi atas rasa ketidakadilan yang mereka alami selama ini.


Namun, Zhen Chen jelas tidak nyaman akan perlakuan yang didapatkan ini. Di kala ia sendiri belumlah melakukan apa-apa yang mampu memberikan suatu kepuasan bagi warga desa. Bukankah Azheng lebih pantas mendapatkan kehormatan mereka? Bahkan pedang sang ayah yang sempat dirasa berat untuk dibawakan, terasa kian berat kini seraya sepasang tungkai digerakkan terus untuk mengikuti Azheng yang beberapa langkah di hadapannya.


Akan tetapi, ke mana Azheng akan membawa Zhen Chen yang baru pulih ini pergi? Menjauh dari desa yang berjumlah kurang lebih 200 jiwa ini hanya untuk kemudian bergabung dalam hutan berjalan setapak yang tampak pula sering dilalui orang-orang.


“Kita akan segera sampai.”


Entahlah apa maksud sampai yang dikatakan Azheng ini, karena sejauh mata memandang tidak sama sekali Zhen Chen menangkap akan adanya tanda-tanda tiba. Namun, justru pendengaran yang mulai menangkap akan jenis-jenis suara dentingan demi dentingan layaknya pertemuan dua pedang sedang beradu. Pun suara-suara seruan pembakar semangat kian terdengar jelas pula di setiap langkahan Zhen Chen dan Azheng yang melaju ini, tepatnya menghampiri sebuah area aneh dengan ditutupi semak-semak buatan.


“Inilah kamp dari pasukan yang kukatakan.” Membuka semak-semak, pun barulah terlihat jikalau inilah gerbang masuk dari kamp pasukan didikan Azheng. “Selamat datang dan bergabung, Zhen Chen.”


Terperangah, jelas menjadi hal pertama yang Zhen Chen alami. Yang mana tanpa sadar sepasang tungkai terus membawa dirinya masuk semacam ingin melihat lebih jelas lagi kamp yang dimaksudkan. Tidak pernah pula akan membayangkan suatu jenis kamp yang terbilang cukup menguras dana dalam pembangunannya, sungguh layaknya kamp-kamp pasukan besar di ibu kota.


Belum lagi berbagai jenis pedang, tombak bahkan busur serta pisau panah tersedia dalam jumlah yang terbilang taklah sedikit. Ada pula bendera yang didominasi warna hitam kemerahan dengan ukiran keemasan membentuk semacam gambaran layaknya suatu pedang, digantungkan tepat di tengah-tengah dari area luas yang bahkan sedikit rumput saja tidak akan bersedia tumbuh di atasnya, tahu jikalau akan tewas oleh pijakan demi pijakan yang dilakukan oleh mereka semua yang sedang berlatih pedang saat ini.


Jumlah mereka ... tidak terpikirkan sama sekali akan sebanyak ini.


Katakan saja jumlah pasukan yang kini dimintai Azheng untuk berhenti dan berkumpul dalam barisan nan rapi ada sekitar 300 orang lebih. Yang mana sama sekali tidak dipahami Zhen Chen, dari mana asal mereka yang bahkan warga desa saja tidaklah sebanyak ini jumlahnya. Belum lagi jumlah pasokan senjata yang ada, siapa yang mendanai hingga mereka memiliki senjata sebanyak dan selengkap ini? Apa mungkin Tuan Lin?


Tidak mungkin, Azheng jelas pernah mengatakan jikalau Tuan Lin telah lama memutuskan hubungan dengan Desa Yong Gan.


“Kuperkenalkan kepada kalian semua! Dia ... pria muda yang baru saja lolos dari maut ini adalah putra dari mendiang Jenderal Wei. Kalian bisa memanggilnya Zhen Chen,” umum Azheng, dan serta merta seluruh pasukan yang baru diketahui Zhen Chen bernama sama seperti pasukan sang ayahnya dulu, pasukan Wei, telah memberikan hormat membungkuk setengah bagian tubuh.

__ADS_1


Namun, bagaimana bisa Zhen Chen menerima hormat tersebut, bukan? Merasa tidak pantas. Oleh karenanya, ia dengan cepat meminta semua pasukan dalam ragam usia ini untuk bangun dan tidak perlu bersikap begitulah formal. Yang mana Azheng kemudian meminta mereka untuk kembali berlatih, baru setelahnya membawa Zhen Chen berkeliling kamp.


“Kulihat kau tampaknya punya banyak pertanyaan, katakan saja dan aku pasti akan menjawab semampuku.” Dan bendera menjadi pertanyaan pertama yang harus dijelaskan Azheng, karena setahu Zhen Chen sendiri, bendera terkait mendiang Jenderal Wei telah dimusnahkan sejak belasan tahun bersama dengan bubarnya pasukan Wei kala itu. “Benar, bendera itu bukanlah yang asli, melainkan aku yang membuatnya kembali saat membangun pasukan dan kamp ini. Hanya dengan begitu, diriku dan sejumlah pasukan Wei terdahulu yang bergabung di sini akan merasa jikalau jenderal masihlah hidup dan ada.”


“Lalu bagaimana dengan pasukan ...?” Menghentikan langkah, Zhen Chen mengarahkan pandangan ke area pelatihan. “Jumlah sebanyak ini, tidak mungkin seluruhnya dari Desa Yong Gan, bukan?”


“Tentu saja tidak, sebagian dari mereka adalah yatim piatu sebagai akibat dari peperangan beberapa tahun lalu. Daripada membiarkan mereka menghabiskan usia muda menjadi gelandangan, bukankah lebih baik meminta mereka bergabung di sini? Setidaknya ... mereka tidak perlu merasa kelaparan dan juga memiliki tempat untuk berteduh, terlebih lagi memiliki saudara seperjuangan.”


Dunia semasa gejolak memanglah begitu banyak meninggalkan korban, jika mereka tidak bergabung di sini pun mereka akan tewas oleh yang namanya kelaparan. Namun, setelah bergabung pun mereka akan ditugaskan untuk melakukan pemberontakan yang mana menang saja masihlah kecil kemungkinannya.


Belum lagi kamp ini sendiri, jikalau sampai diketahui oleh pihak kerajaan Dali, akan seperti apa bahaya yang mengintai tidaklah terbayangkan. Yang mana warga Desa Yong Gan sekalipun akan terkena imbas tanpa ampun dan tanpa pandang bulu. Lagian bayangkan sendiri, bagaimana bisa seorang warga membangunkan kamp kemiliteran seperti ini, bukan? Dijelaskan pun percuma, karena salah tetaplah salah dan telah melanggar aturan setempat.


“Bagaimana dengan peralatan seperti pedang, tombak dan panah ini? Bahkan kulihat pakaian zirah lengkap pun ada. Dari mana kalian mendapatkan sejumlah besar alat-alat ini dan siapa yang mendanai? Apa mungkin ... petinggi kerajaan Dali?”


Diam. Azheng terus saja membungkam mulutnya. Mengharuskan Zhen Chen mengutarakan lagi pertanyaan, kalau-kalau saja pria berwajah sangar ini barangkali tidak mendengar dikarenakan berisiknya teriakan dari mereka pasukan Wei yang sedang berlatih. Akan tetapi, tetap saja pria ini tidak akan mengatakan, semacam hal tersebut tabu untuk dibicarakan.


Maka kesimpulan yang terpikirkan Zhen Chen hanya satu ... memang benar jikalau petinggi kerajaan Dali-lah penyokong dana kamp ini, atau barangkali Raja pribadi yang malah memberikan izin secara diam-diam hanya demi keuntungan pribadi kerajaan Dali. Entahlah, karena itu terkait politik.


Maafkan aku, Paman ... tapi aku harus karena bagiku yang terpenting bukanlah pembalasan dendam ataupun pemberontakan, melainkan hanya Xian’er dan Que Mo.


“Baiklah, bagaimana jika aku membawamu ke kamp pribadi milikku?” tawar Azheng, dan Zhen Chen dengan segera menolak untuk kemudian membawa diri kembali ke posisi di mana Azheng tadi memperkenalkan ia pada seluruh pasukan yang ada. “Apa yang hendak kau lakukan?” tanya Azheng lebih lanjut, apalagi di kala Zhen Chen meminta pasukan untuk berkumpul seakan siap mengumumkan sesuatu yang taklah dipahami Azheng, kecuali tebakan belaka. “Mungkinkah kau ....”


Yang mana Zhen Chen tersenyum, sebelum akhirnya pandangan keseriusan dilemparkan pada pasukan yang ada. Menanti titah pertama apa yang akan disampaikan putra mendiang Jenderal Wei ini pada mereka.


Akan tetapi, bukannya memberikan titah, malahan Zhen Chen dengan tegas menyerukan nama Azheng untuk berdiri berhadap-hadapan dengannya, pun meminta pria yang pernah menjadi tangan kanan sang jenderal ini bersujud. “Mulai hari ini dan seterusnya, aku dengan mengatasnamakan Jenderal Wei ... akan memberikan posisi pemimpin pasukan pada Azheng yang telah berjasa banyak. Jika kalian keberatan, maka tunjukkan diri kalian dan ucapkan keberatan itu langsung padaku.”


Meskipun benar keributan sempat terjadi, tapi hal itu bisa teredam dalam waktu yang singkat. Katakan saja, sudah berapa lama mereka mengenal Azheng? Orang seperti apa pula Azheng tidak mungkin mereka tidak tahu, bukan? Sesetia apa, sebertanggung jawab apa, dan seberapa peduli dengan bawahan. Lantas jika dibandingkan dengan Zhen Chen, apa yang bisa diharapkan, bukan?


Para pasukan saja baru bertemu dan kenal hari ini, belum lagi Zhen Chen yang masih muda dan tidaklah berpengalaman di bidang kemiliteran. Jadi bagaimana bisa menjadi pembangkit semangat mereka semua? Bagaimana bisa pula menjadi pemimpin? Bukankah itu hanya akan memalukan nama mendiang sang ayah saja? Mendapatkan posisi tinggi dengan hanya mengandalkan identitas belaka.

__ADS_1


“Aku, dibesarkan dalam keluarga tanpa ambisi dan mendapatkan banyak cinta kasih. Jadi telah hampir lupa apa itu namanya ambisi, balas dendam serta kebencian. Selain merelakan nyawa kedua keluargaku yang tewas dalam pembantaian, tidak ada hal lain yang bisa kupikirkan selain ingin menyelamatkan putri keluarga Zhen beserta sahabatku satunya, Que Mo. Jadi ... Paman, inilah keputusanku. Inilah kenapa aku ingin mengunjungi kamp dan kenapa menerima pedang Yong Gan ini beberapa waktu lalu.” Menyodorkan pedang tersebut dengan kedua tangannya. “Terimalah ... karena hanya kau seorang yang pantas untuk posisi serta tuan dari pedang ini, Paman.”


Pun Azheng masih saja menolak, barangkali berpikir bagaimana bisa seorang pengikut setia Jenderal Wei, alias bawahan malah mendapatkan posisi ini? Jelas tidak mungkin dan tidak masuk akal.


Alhasil, satu-satunya cara yang bisa terpikirkan oleh Zhen Chen hanyalah ini. Pemungutan suara. “Tunjuk tangan kalian jikalau merasa setuju akan keputusanku ini.” Membangunkan Azheng dari sujudnya, meminta pula pria berwajah sangar ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang menjadi pilihan para pasukan didikannya selama ini.


Dan inilah hasilnya, sukses mendatangkan senyuman bagi Zhen Chen sendiri. “Paman tidak bisa lagi menolak, pasukanmu sendirilah yang telah memutuskan. Ingatlah, Paman, seorang pemimpin hanya bisa benar-benar menjadi pemimpin jikalau pasukan sendiri yang memilih, bukan atas dasar latar belakang siapa dan dari keluarga apa seseorang itu berasal.”


DEG!


Tersadarkan sudah, Azheng yang berdiri dalam keterpakuan terus saja memandangi Zhen Chen. Yang mana kaca-kaca di sepasang netra siap meluruh, dan lagi-lagi Zhen Chen menyodorkan kembali pedang sang ayah pada Azheng.


“Bukan hanya wajah, tapi sifat bijaksanamu sangatlah serupa dengan Jenderai Wei.”


Lantas, masihkah ada alasan bagi Azheng untuk menolak? Menolak, bukankah hanya akan menunjukkan ketidakhormatan saja pada mendiang Jenderal Wei? Terlebih pada sisi serupa yang dimiliki Zhen Chen, semacam tubuh pria muda ini baru saja didiami oleh Jenderal Wei sendiri. Karena memang semirip itulah Zhen Chen, sampai pada akhirnya Azheng yang telah menerima pedang Yong Gan mengacung tinggi pun sorakan demi sorakan dari seluruh pasukan terdengar begitulah lantang. Tak terkecuali pula senyuman tersungging lebar di wajah masing-masing mereka semua.


“Katakan, apa yang bisa kubantu untuk membantumu menyelamatkan sahabat juga gadis pujaan hatimu itu.”


“Paman ... b-bagaimana bisa kau tahu? Apa begitu kentara?”


“Meskipun aku tidak menikah dan tidak tahu bagaimana perasaan menyukai seseorang, tapi aku tidaklah cukup bodoh untuk tidak tahu, Zhen Chen. Bukankah seorang pria akan melewati bahaya apa pun demi gadis pujaannya?”


Meskipun sedikit malu mengakui, apalagi disaksikan banyak orang begini. Namun, perasaannya terhadap Zhen Xian adalah tulus. Dan melalui ketulusan itu pula, tidak ada alasan bagi Zhen Chen untuk terus-terusan malu, bukan?


“Bantu aku masuk kembali ke ibu kota, Paman. Bantu aku agar mampu berkomunikasi dengan dua temanku lainnya. Hanya itu ... hanya itu saja, Paman.”


“Yakin hanya itu? Tidak ingin aku membantumu keluar dari ibu kota atau hal-hal semacam itu?” Dan dengan yakin Zhen Chen mengangguk, tidak ingin merepotkan Azheng lebih banyak lagi karena tahu dan sadar betul jikalau Azheng sendiri sangatlah memerlukan sejumlah pasukan sewaktu itu. Lantas, bagaimana bisa Zhen Chen malah menarik sejumlah pasukan demi keuntungan pribadinya, bukan? “Baik, kalau begitu mari kita diskusikan dahulu rencana yang ada. Berharap saja dari pemberontakan ini, kau mampu menemukan celah untuk keluar dari ibu kota, Zhen Chen.”


Lagi-lagi Azheng mendapat respons berupa anggukan, yang mana seluruh pasukan bersorak kembali. Semacam sorakan ini adalah suatu doa bagi keselamatan dan kesuksesan Zhen Chen sendiri. Dan hal itu, sukses membuat sepasang netra Zhen Chen berkaca-kaca, berharap penuh mampu bertemu kembali dengan semua orang dalam kamp ini, dalam posisi hidup dan sehat pastinya.

__ADS_1


Hanya ... akankan hal itu terjadi? Di kala musuh mereka sendiri adalah beribu-ribu banyaknya, bukan ratusan.


__ADS_2