
Banyak hal pantas untuk dikhawatirkan, sebagiannya lagi berupa ketakutan. Yang mana hal itu telah tertanamkan dengan baik pada hampir semua orang. Terlebih bagi mereka yang berharap akan ada suatu jenis bantuan tak terduga menghampiri, menghilangkan setidaknya sedikit saja rasa tak mengenakkan yang memenuhi diri.
Akan tetapi, jenis bantuan seperti apa yang akan datang jika segala akses bahkan akses terkecil sekalipun telah dihentikan, tertutup? Yang mana hal itu sendiri telah menjadi semacam ketenangan bagi segelintir orang. Setidaknya, segelintir orang tersebut tidak perlu lagi memikirkan akan hadirnya pengacau atau apa pun yang akan menjadi pengganggu rencana.
Benar, dialah Jin Kai, salah satu dari segelintir orang dalam istana ini yang merasakan ketenangan lebih di atas mereka yang sedang khawatir atau takut. Pun Lin Feng yang sedang bersama, bermain catur kini malah tak mampu lagi melihat jelas, orang seperti apa Putra Mahkota di hadapannya ini dan apa yang sebenarnya dirasakan jauh di dalam hatinya itu. Padahal baru semalam, dan dengan jelas pula melihat jikalau Jin Kai masihlah memiliki sedikit kerapuhan jauh dalam hatinya. Namun, kini segalanya malah hampir taklah terlihat. Kecuali, ketika topik gadis pujaan hatinya dibawa-bawa.
Pasalnya, Zhen Xian masihlah mogok makan ataupun minum dari sejak dikurungkan. Ditambah lagi pergantian musim telah tiba, udara cukup dingin dan dedaunan menguning terus saja lepas dari tangkai bahkan jika hanya berupa sedikit semilir angin saja yang berembus.
Tak mengherankan apabila permainan catur yang berjalan baik, malah kini terhenti. Tepatnya dihentikan oleh Jin Kai yang seharusnya menang, malah berganti menjadi Lin Feng yang justru memiliki peluang besar akan kemenangan tersebut.
“Haruskah kita ke sana?” Dan Jin Kai bergeming, netra masih lurus memandangi papan permainan seakan tak begitu mendengarkan. “Biarkan Kasim Ma di sini, dia akan melaporkan segera jika memang Huangdi mencarimu atau apa,” lanjut Lin Feng.
Meskipun nyatanya, alasan terbesar Jin Kai tak ingin mengunjungi Kediaman Chahua bukanlah karena menanti panggilan Raja. Melainkan karena ia tak ingin kian merasa rapuh, tepat ketika bertemu dengan Zhen Xian.
Malam ini, bukankah perburuan akan segera dilaksanakan? Biar kata inilah yang harus dilakukan, tapi keluarga Zhen tetaplah keluarga dari gadis pujaan hatinya. Dan harusnya ia telah menguatkan diri sendiri apabila nanti akan melihat Zhen Xian terluka, karena luka Zhen Xian telah dianggap luka miliknya sendiri yang jauh atau berkali-kali lebih sakit rasanya.
Seperti saat ini misalkan, ketika ia dan Lin Feng baru saja tiba di Kediaman Chahua, keanehan mulai dirasakan.
Apa begini suasana dari kediaman yang dijaga ketat? Bukannya sepi dan sunyi, tapi malahan kepanikan yang tergambarkan jelas. Belum lagi terlihat beberapa tabib keluar dan masuk, di mana pengawal yang berjaga seketika bersujud begitu mendapati Jin Kai hadir dengan wajah yang taklah santai pastinya.
Bagaimana mungkin Jin Kai mampu menahan amarah, bukan? Hal sebesar ini telah dialami oleh Zhen Xian, tapi tak kunjung juga ada satu pun di antara sekian pengawal yang berjaga melaporkan langsung. Lantas, akankah Jin Kai melepaskan mereka dengan mudahnya?
“Taizi, sekarang bukan waktunya menghukum mereka semua,” ucap Lin Feng, menghentikan. Yang mana kemudian meminta tabib untuk menjelaskan apa yang telah dialami Zhen Xian. Tepatnya Zhen Xian yang terbaring dengan dibanjiri keringat, seraya tubuh sedikit menggigil, rona di keseluruhan wajah menghilang pun kesadaran tampaknya tak sepenuhnya pula dimiliki.
Namun, kenapa pula beberapa tabib kerajaan ini terdiam? Mematung dengan reaksi takut-takut bahkan taklah berani biar kata hanya sedikit mengangkat wajah saja pada Putra Mahkota mereka yang siap mendengarkan penjelasan. Yang mana Jin Kai akhirnya membentak, mensujudkan para tabib dalam ketertundukan yang lebih dalam lagi.
“Taizi, ka-kami sendiri ... ti-tidak tahu sakit apa yang diderita Selir Zhen.”
“Bagaimana mungkin salah satu dari kalian tidak tahu? Buat apa kerajaan ini menampung tabib tidak berguna seperti kalian?!” murkanya. “Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat panggil tabib lainnya, panggil yang lain!”
Bergegas para tabib yang dianggap tak berguna ini bangun, biar kata sepasang tungkai begitulah sulit dibangunkan layaknya biasa. Setidaknya, mereka masih beruntung tidaklah bertemu ajal saat ini juga. Dan semua itu dapat pula dikatakan berkat Zhen Xian yang bergumam, mengatakan sesuatu dengan tak jelasnya mengharuskan Jin Kai secara pribadi mendekat lebih lagi pun duduk pada pinggiran ranjang.
”Que Mo ... panggil Que Mo ....”
__ADS_1
“Yang kau butuhkan saat ini bukanlah pelayan itu, melainkan tabib.”
Bukankah itu penolakan? Tak heran apabila Zhen Xian yang bahkan tak lagi mampu mengeluarkan suara dari bibir memucat ini akhirnya berupaya membuka sepasang netra biar kata hanya sedikit saja. Setidaknya biarkan pria menyebalkan dan kejam ini mampu melihat sendiri apa yang benar-benar diinginkan dan dibutuhkannya saat ini bukanlah tabib, melainkan hanya satu orang saja.
“Taizi ... haruskah aku ...?”
Pun Jin Kai mendesah, jika harus memilih tentu ia tak ingin keberadaan pria jalanan itu didekat Zhen Xian. Akan tetapi, melihat Zhen Xian menderita berpeluh dari tubuh menggigilnya seperti ini bagaimana bisa ia tega, bukan? Merasakan pula panasnya tubuh gadis ini taklah seperti sedang demam biasa, pun diberi selimut setebal apa pun masih saja tubuhnya menggigil kedinginan.
“Panggilkan. Bawa Que Mo kemari.”
Meskipun benar, izin yang diberikan dan segera dilaksanakan Lin Feng ini taklah ikhlas diinginkan olehnya. Namun tetap saja, keselamatan Zhen Xian harus diutamakan. Siapa yang tahu jikalau saja pelayan pribadi itu tahu terkait sakit aneh Zhen Xian ini, bukan? Dan itu yang setidaknya diharapkan Jin Kai selagi menanti hadirnya kembali Lin Feng membawa pria itu.
Alhasil, di sinilah kini Que Mo berada. Mematung, begitulah terkejut menyaksikan ketidakberdayaan Zhen Xian. Bahkan tak pula dirinya menanyakan apa yang telah terjadi, yang ditanggapi Jin Kai sendiri bahwa ia telah mendengarkan penjelasannya langsung dari Lin Feng di sepanjang perjalanan kemari.
“Kau puas sekarang ...? Menjadikan gadis baik-baik sepertinya dalam kondisi seperti ini.”
Dimana Jin Kai yang belum sempat membalas ucapan lancang dari pria bawahan nan rendahan ini, akhirnya mau tak mau harus melupakan ucapan tersebut tepat ketika Zhen Xian yang mendengar suara Que Mo meminta pria tersebut mendekat, mengambil alih posisi Jin Kai pada pinggiran ranjang.
Biasa saja hal itu terkait perburuan yang akan dilakukan segera dalam beberapa jam lagi, bukan? Karena Jin Kai sempat melirik sesaat pada Zhen Xian, dan Lin Feng bahkan samar-samar terdengar mengatakan jikalau waktu tak lagi banyak untuk mempersiapkan segalanya.
Namun, masa bodoh dengan apa yang didiskusikan dua orang tersebut. Yang terpenting, Que Mo harus tahu apa dan bagaimana tepatnya Zhen Xian bisa dalam kondisi seperti ini. Akan tetapi, apa ini? Kenapa pula gadis ini malah mengedipkan sebelah matanya? Semacam suatu kode saja jikalau semua ini hanya berupa .... Sandiwara?!
“Kau ....” Bertepatan dengan itu pula, Jin Kai mengakhiri diskusi yang ada. Pun Que Mo yang yakin jikalau segala sakit Zhen Xian adalah permainan saja, seketika mengontrol diri agar setidaknya tidak ketahuan. Berharap saja begitu, berharap saja mampu mengelabui Putra Mahkota super sensitif ini. Bahkan Zhen Xian saja telah berbuat sejauh ini mengorbankan tubuh sehatnya, maka ia tak boleh mengecewakan usaha yang telah dibuatnya, bukan? “Huff ....” Membangunkan diri dari duduk, seketika berhadap-hadapan langsung dengan Jin Kai. “Kalian keluarlah. Semakin banyak orang di sini maka kondisinya akan semakin memburuk.”
“Kau tahu sakit apa yang dideritanya?”
“Ini hanya sakit bawaan. Jika terlalu tertekan maka tubuhnya akan seperti ini, karena itu mohon kalian keluar maka semua akan membaik,” bohong Que Mo, sejadinya mempertahankan keberanian. Setidaknya berharap saja pandangan yang masih diarahkan lurus pada Jin Kai saat ini taklah goyah atau gemetaran layaknya kedua tangan yang disembunyikan di belakang pinggang.
“Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya denganmu?”
Kian pula kedua tangan Que Mo gemetar dibuatnya, sampai titik di mana Que Mo sendiri harus mengepal erat sembari otak berputar untuk mencari-cari alasan yang paling masuk akal, meyakinkan dalam sekali sapuan saja atau jika tidak kebohongannya akan diketahui. Namun, ucapan seperti apa yang harus diucapkan?
Tidak, bukankah akan lebih efektif jika menghilangkan dahulu kegugupan yang ada? Yakin dan yakin, karena Jin Kai adalah seseorang yang suka menanamkan ketakutan. Di mana baginya, ketakutan adalah suatu jenis senjata yang mampu mengalahkan siapa pun, dan saat itulah akan sangat mudah membaca isi pikiran lawan.
__ADS_1
Pun Que Mo akhirnya paham, jikalau tak ada gunanya takut. Karena seseorang yang harusnya lebih takut jelas adalah Jin Kai, takut akan kehilangan Zhen Xian yang tak diketahui sedang mengalami jenis penyakit yang seperti apa. Setidaknya, Que Mo telah tahu jikalau gadis itu berbohong, maka harusnya ini menjadi peluang terbaik, bukan? Mengelabui Jin Kai.
“Taizi ... bukankah keselamatan Selir Zhen lebih penting? Lihatlah dirinya, bagaimana mungkin dia masih bisa bergerak atau membuat ulah?”
Ingin Jin Kai membalas, tapi ucapan Lin Feng yang cukup menyela ini menghentikan niatannya. Menyadari jika hari telah gelap, tak seharusnya ia di sini. Lagian apa yang bisa dilakukan seorang Que Mo, bukan? Segala hal telah berada di bawah pengawasan. Layaknya langit yang mampu melihat segalanya di bawah sana, bahkan bersembunyi pun tidak ada gunanya. “Baik, kau jaga Zhen Xian, tapi ... jika kutemui kau berbuat dan merencanakan sesuatu, maka jangan salahkan aku akan berbuat kejam bahkan jika itu Zhen Xian sendiri yang memohon pengampunan. Sudah pasti kau tidak akan lepas,” kecamnya, dan Que Mo cukuplah patuh mendengarkan untuk seukuran orang yang biasanya tak patuh. “Lin Feng, mari kita pergi dan urus urusan kita,”
ucapnya sembari berlalu pergi.
Urusan? Sepenting apa urusan itu hingga dia begitulah terburu-buru?
“Apa yang sedang kau pikirkan? Bantulah aku bangun, Que Mo.”
Mendapati Zhen Xian, gadis ini berusaha menyingkirkan selimut yang menyelubungi tubuhnya. Begitulah lemah, pun Que Mo bergegas membantu seraya kemudian memberikan air hangat untuk diminumnya. “Kau sungguh sudah gila ... sudah gila, Zhen Xian. Bagaimana bisa kau berbuat sejauh ini dengan menyakiti tubuhmu sendiri?”
“Aku tidak ada cara lain. Apa pun yang terjadi malam ini kita harus keluar dari istana.”
“Jika Zhen Chen tahu sikapmu ini, maka hari ulang tahunnya akan menjadi hari terakhirku,” ocehnya, sibuk pula membereskan susunan batu-batu penghangat tubuh yang biasanya digunakan pada musim dingin dari ranjangnya ini, menyembunyikan di bawah ranjang. “Hampir setiap pintu dijaga dan kita hanya berdua, menurutmu bagaimana caranya kita keluar? Belum lagi sekarang kondisimu taklah baik, yang ada sebelum sampai rumah kau sudah terlebih dahulu tak sadarkan diri.”
Yang mana ocehan tanpa henti Que Mo ini tak kunjung membuat Zhen Xian berhenti memakan makanan yang tersedia. Energi, jelas dirinya butuh energi jikalau harus kabur, bukan? Dan Que Mo akan menambah energi tersebut dengan menyeduhkan ramuan obat yang tertinggal dalam kamar ini. Setidaknya, gadis ini harus mengembalikan rona wajahnya sebelum berjumpa kembali dengan keluarganya.
“Kau tidak perlu khawatir begitu, ikuti saja permainanku, Que Mo.” Dan Que Mo sendiri tak tahu harus menanggapi seperti apa, karena kondisi telah sejauh ini maka turuti saja. Lagian, Que Mo pun sangat ingin kembali ke rumah keluarga Zhen. Kembali melihat keindahan, ketenangan, kedamaian dan kehangatan dari rumah dan orang-orang di sana.
Alhasil, Que Mo mengangguk menyetujui. Mensenyumkan Zhen Xian.
Namun, langit benarkah akan membiarkan hal itu terjadi semudah bayangan mereka? Pasalnya, di lain sisi dari istana, keadaan dan suasana begitulah sunyi. Lapangan luas terpampang, remang-remang pencahayaan pun berasal dari obor yang dibawakan barisan orang-orang dalam balutan zirah keperakan. Yang mana tepat di depan mereka, telah dihadiri Jin Kai bersama Lin Feng dan juga pastinya Zhu Qiang, komando dari pasukan Zhu. Dan para barisan prajurit yang berjumlah kurang lebih lima puluh orang ini siap menanti hal yang akan disampaikan oleh atasan.
“Jangan kecewakan kepercayaan Taizi pada kita, inilah kesempatan bagi pasukan Zhu untuk mampu mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi lagi dalam istana! Jadi ... buang jauh-jauh rasa peduli dan kasihan, sama seperti bagaimana kita berlatih di bawah naungan Taizi selama ini.”
Sontak saja semua prajurit menimpali dengan penuh semangat, berjanji tidak akan menggagalkan misi. Sementara Jin Kai sendiri, entah apa yang dialaminya, terus saja bergeming seakan ada hal yang mengganjal. Mengharuskan Lin Feng menyadarkan, setidaknya sebagai Putra Mahkota dirinya pun harus mengatakan beberapa kata untuk membangkitkan lebih lagi semangat para prajurit yang ada.
Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Putra Mahkota ini malah melemparkan pandangan lurus pada Lin Feng.
“Kita harus kembali ke Kediaman Chahua.”
__ADS_1