
Ingatan akan malam itu berserobok di setiap edaran pandangan yang dilakukan. Tempat, kondisi, suasana malam bahkan posisi di mana dirinya kini diantar bahkan dipersilahkan duduk. Berhadapan dengan seseorang yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga, Jin Kai yang berpangkat sebagai adik ipar harusnya. Namun, segala hal licik dan tipu daya yang dimainkan telah sukses memberatkan akan terakuinya ia sebagai bagian dari keluarga Zhen sendiri.
Hal ini, mau tak mau Jin Kai sendiri harus menanggung, bukan? Dan kenapa pula pria ini mengadakan pertemuan seperti ini? Yang mana rasanya begitulah berat berlama-lama di tempat ini, sungguh menyesakkan tiap kali mengingat kejadian malam itu.
Tepatnya malam Jin Kai keracunan, pun Zhen Chen berakhir kehilangan adik tercintanya berkat kejadian itu. Tak heran apabila ahli bunga ini sedikit waswas akan tiap gerakan yang Jin Kai lakukan, seperti menolak sajian teh yang disajikan Putra Mahkota ini misalnya.
“Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu.”
“Taizi, kau orang yang selalu mengambil keputusan serta tindakan secara sendiri. Sejak kapan kau butuh membicarakannya dulu? Jika pada akhirnya kau pun tak akan mendengarkan ucapanku.”
“Apa yang ingin kusampaikan ... kali ini mengenaimu.”
Mengenaiku? Terkekeh pahit seraya menggeleng-geleng tak percaya, bagaimana bisa pria ini mengatakan hal demikian adanya? Zhen Chen pun tak ingin mendengarkan, membangunkan diri dari duduk untuk sesegera mungkin meninggalkan kediaman ini.
Memang apa lagi yang bisa didengarkan, bukan? Akan lebih baik tidak mendengarkan apa pun, setidaknya itu keputusan Zhen Chen yang kian menjauhi punggungnya.
Pernah sekali, Zhen Chen memaafkan Putra Mahkota ini setelah apa yang hampir dilakukan pada sang adik dulu, mulai dari rumor hingga tindakan tak senonohnya terhadap Zhen Xian. Namun, bagaimana bisa memaafkan setelah apa yang terjadi kini? Biar bagaimanapun dan sebaik apa pun Zhen Chen, ia tetaplah seorang manusia yang memiliki kesabaran juga kemurahan hati terbatas. Sedangkan Jin Kai, tak lagi bisa diberi kesempatan bahkan jika Zhen Chen masih memiliki sedikit kemurahan hati untuk memaafkan.
Kenapa?
Karena aku sadar, pria bernama Yi Jin Kai ini tidak akan berhenti melakukan hal-hal yang akan melukai orang-orang tercintanya.
Akan tetapi, kemantapan akan arah pergi yang diambil ahli bunga ini terhenti. Keengganan untuk tidak memandangi Jin Kai pun diakhiri, seraya tangan dikepalnya erat ketika Jin Kai sendiri bangun dari duduknya, mengikis jarak lebih lagi.
“Menjauhlah dari Zhen Xian. Hanya itu yang bisa kau lakukan untuk membuatnya tidak terlibat masalah dalam istana. Kau sendiri tahu, apa yang telah terjadi belakangan ini padanya, dirimu bahkan temanmu.”
Yang mana ucapan Jin Kai ini terlihat tulus, setidaknya saat ini, dan itu membuktikan bahwa Jin Kai memang sangat peduli dan memerhatikan sekali keselamatan sang adik dalam istana ini. Mungkin saja, masih banyak hal yang telah dilakukan pria ini secara diam-diam demi melindungi sang adik. Hanya saja Zhen Chen tak tahu pasti apa itu.
“Aku tahu kau membenciku atas segala hal yang terjadi, tapi dengarkan aku setidaknya kali ini,” pintanya dengan sangat. “Jika tidak ingin hal yang lebih besar sungguh terjadi, kumohon jagalah jarak darinya, Zhen Chen.”
Mudah bagi Jin Kai mengatakan hal demikian, tapi bagaimana bisa sebagai kakak yang telah lama bersama sang adik mampu melakukan hal demikian? Di mana kasih sayang yang ada jauh melebihi Jin Kai. Bukankah ini sangat lucu? Meminta seseorang yang mengasihi Zhen Xian untuk jaga jarak, sementara dirinya yang tertolak dengan sangat malah memaksakan keadaan dan situasi untuk mendapatkan sang adik.
Maka, haruskah Zhen Chen menuruti? Di saat Jin Kai sendiri mengajarkan secara langsung untuk tidak menyerah dan memaksakan keadaan, dan keyakinan yang terpancar di sepasang netra ahli bunga ini kian menguat. Yang mana pula jawaban atau keputusan telah dibuatnya.
__ADS_1
“Dia adalah adikku. Sampai kapan pun akan tetap dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu.”
“Jika bukan karena aku, apa kau pikir Huangdi akan melepaskanmu juga dua temanmu itu? Apa kau pikir, kau masih bisa berjalan seperti sekarang? Ingatlah! Ini istana dan dia adalah istriku, bukan lagi adikmu semata, bukan tempat bagi kalian untuk menunjukkan kasih sayang seperti dulu!”
“Apa yang kau khawatirkan? Apa yang kau takutkan dariku sebenarnya Jin Kai?” Karena sebanyak apa pun memikirkan, Zhen Chen benar-benar tidak tahu kenapa Jin Kai, pria yang seharusnya bisa menjadi teman dekat ini meminta ia jauh dari sang adik. Bahkan rela menjadi musuh seperti ini. Benarkah alasannya hanya satu, demi keselamatan sang adik? Jika demikian, lantas kenapa pandangan Putra Mahkota ini begitulah aneh? Layaknya seseorang yang merasa terancam, atau bahkan cemburu. “Tepatnya apa?!” serunya.
“Tatapanmu ... tatapannya ....” Jin Kai memalingkan wajah, tak menyangka akhirnya akan mengatakan hal ini. “Apa kalian pernah bertanya pada diri kalian sendiri, posisi seperti apa diri kalian di hati masing-masing?”
Diam. Jelas saja jika Zhen Chen memerlukan waktu mencerna ucapan yang terdengar omong kosong ini, bukan? Ternyata, dugaannya benar. Namun, bagaimana bisa Jin Kai memiliki pemikiran seperti ini? Apa mungkin Jin Kai lupa bahwa dirinya dengan Zhen Xian adalah saudara? Apa yang mendasari atau yang menjadi asal muasal pemikirannya ini?
“Jika kau punya banyak masalah dalam kerajaan, apakah harus berpikir sampai sejauh itu? Sungguh omong kosong yang tak mampu diterima akal sama sekali, Jin Kai.”
“Maka aku harap itu tidak akan pernah terjadi, dan semua memang omong kosong,” ucapnya penuh harap, karena hanya dengan begitu kemungkinan hubungan lama di antara mereka sebagai teman mampu kembali lebih dekat. Meskipun tak lagi akan sedekat lalu. “Tapi jangan pernah abaikan perkataanku terkait tempat ini, juga orang-orang di dalamnya jika tidak ingin benar-benar kehilangan hidupmu, Zhen Chen.” lanjutnya. “Saat seseorang memutuskan masuk dalam istana, itu sama artinya menyerahkan hidup mereka. Bahagia atau tidak, hanya tergantung pada jalan apa yang akan diambil. Akankah mengikuti peraturan ... atau malah sebaliknya,” ucapnya lagi.
“Maka aku dan Xian’er akan memutuskan jalannya sendiri. Sementara kau, jika sungguh masih ada kebaikan dan rasa ingin menebus kesalahan pada kami dua saudara ...,” tekan Zhen Chen, menggantungkan seraya merasa yakin ini harus dikatakan karena ini adalah apa yang didapatnya. “lindungi kami dari belakang, anggap sebagai penebusanmu.”
Bukankah ucapan si ahli bunga ini mengartikan ia akan tetap bertemu dengan sang adik apa pun dan bagaimanapun situasinya, bukan? Tidakkah pula terdengar layaknya suatu tantangan yang diberikan pada Jin Kai? Karena Putra Mahkota kini barangkali menanggapi demikian, di mana kemarahan mulai menguar dari pandangan nyalang lekatnya pada Zhen Chen. “Jangan paksa aku menjadi lebih kejam.”
“Tidak ada yang memaksamu. Itu hanya jalan yang kau pilih.”
Itulah sebabnya, Zhen Chen terus berpikir meskipun berusaha tak ingin memikirkan. Kehidupan istana memang begitulah rumit, yang mana hal kecil yang dianggap biasa olehnya akan menjadi suatu ketidakbiasaan dalam istana ini. Oleh karenanya, tak mengherankan apabila Zhen Chen diterpa kebingungan teramat. Menjauhi sang adik tentu akan membantu kehidupan barunya sebagai selir lebih baik, tapi hati Zhen Chen sendiri terlalu berat untuk melakukan hal itu.
Tidak, melainkan tak mampu melakukannya. Jangankan melakukan, membayangkan saja sudah cukup menyakiti. Dan inilah pengaruh sesungguhnya yang ditanamkan Jin Kai, di mana Zhen Chen dari sejak pertemuan ini terus saja pulang ke rumah dalam keadaan kehilangan kesadaran, mabuk. Selain itu, ia jarang pula menemui sang adik. Tiap kali Zhen Xian datang ke Departemen Dekorasi, berita yang didapatkan tak lain adalah sang kakak sibuk dan tidak ada di tempat.
Butuh waktu, benar. Zhen Chen pria ini membutuhkan waktu lebih lagi untuk memikirkan jalan apa yang harus diambil. Setidaknya dengan tidak menemui sang adik, akan menjernihkan lebih pikiran ketimbang menemui sang adik yang barangkali akan sangat memengaruhi keputusannya.
Sampai kapan, tidak ada yang tahu. Bisa saja beberapa hari, beberapa minggu atau bahkan sebulan? Setidaknya sampai pikiran Zhen Chen kembali jernih, atau mungkin sampai ketika pengaruh yang ditanamkan Jin Kai memudar oleh waktu. Entahlah, karena Zhen Chen sendiri tak mengizinkan siapa pun tahu isi pikirannya bahkan kepada orang tuanya sendiri.
Pun pertemuan yang dihindari Zhen Chen ini kembali menjadikan sang adik diliputi kekhawatiran. Zhen Xian, yang mendesah entah ke berapa kalinya. Di mana Que Mo yang menemani serta merta memberitahukan untuk gadis ini berhenti, jikalau tidak ingin memperpendek masa hidup. Namun, Zhen Xian tak menggubris.
“Que Mo, menurutmu apa yang terjadi? Kenapa belakangan ini Chen Ge menghindariku?”
“Mungkin memang benar dia lagi sibuk. Berhentilah berpikir terlalu jauh.”
__ADS_1
Mengangguk-angguk, lagian tidak ada alasan bagi sang kakak menghindarinya, bukan? Pertemuan terakhir jelas saja sang kakak begitu semangat mengajak ia keluar istana, dan semua memang baik-baik saja saat itu. “Kuharap begitu,” gumamnya.
Apa mungkin telah terjadi sesuatu tanpa sepengetahuanku? Yang mana gadis berpangkat Selir Zhen ini meminta Que Mo meninggalkannya seorang diri, merebahkan tubuh kemudian lekat memandangi langit-langit kamarnya sembari mengenyahkan pikiran.
Namun, cara rebahan ini tampaknya taklah bekerja, pun ia membangunkan tubuh keluar dari kamar untuk sekadar menikmati teh. Bukankah teh memang baik untuk menenangkan pikiran? Tapi tetap saja, hal ini juga tidak bekerja. Jikalau membaca buku, akankah sekiranya mampu mengusir pikiran dan kebosanan?
“Tidak, kurasa hal itu akan kian membuatku merasa bosan.”
Alhasil, ia pun menenggelamkan diri dalam lamunan sembari pandangan diarahkan ke luar dari kediaman. Bukankah nama kediaman ini sendiri adalah Kediaman Chahua? Tak mengherankan apabila gadis yang memang menyukai chahua ini akhirnya menerima hipnotis dari keindahan mekaran chahua di taman depan, menari-nari oleh tiupan angin yang barangkali bagi Zhen Xian berupa panggilan. Lantas, tidak mungkin gadis ini tak menghampiri dan menyentuh bunga tersebut, bukan?
Namun, pikiran kosong yang baru saja dirasakan, malah kini tersadarkan oleh semacam bayangan seseorang tepat di belakangnya. Dengan wajah dipenuhi senyuman, Zhen Xian mendirikan kedua tungkai tertekuknya sembari membalikkan diri. Mendapati seseorang tersebut tak lain dan tak bukan, rupanya bukanlah pria yang diharapkan. Sukses pula menghilangkan senyuman yang tertampil, yang mana wajah masam diberikannya.
“Apa hanya dirinya yang selalu kau pikir?”
“Aku malas bicara denganmu.” Membawa diri kembali masuk ke kediaman, yang mana Jin Kai terus saja mengekori bahkan meminta para pelayan yang sedang bertugas membersihkan ruangan keluar. “Pergilah, aku tidak ingin melihatmu,” ucap Zhen Xian lebih lagi.
Serta merta Jin Kai menarik, menghadapkan gadis ini padanya. “Bisakah kita bicara baik-baik? Sampai kapan kau harus bersikap seperti ini?”
“Sampai kapan?” tanya balik Zhen Xian tak percaya. “Apa menurutmu sikapku padamu akan berubah? Apa kau pikir marah dan kesalku padamu hanya berupa marah sesaat?!”
“Zhen Xian! Xian’er!”
“Sudah kubilang jangan pernah memanggil namaku lagi!” teriaknya seraya melepaskan diri dari pegangan Jin Kai, mundur beberapa langkah pun memalingkan wajah. “Pergilah ... jika diteruskan begini kita hanya akan saling bertengkar lebih besar lagi.”
“Baiklah, jika itu bisa membuat dirimu merasa lebih baik aku akan melakukannya. Bahkan, jika kau butuh waktu lama untuk menerimaku ... tidak apa-apa, aku akan tetap menunggu.”
Namun, ucapan pasrah dari seorang Jin Kai yang menarik diri dari kediaman, malah tercekat bagai terdapat tali yang menarik dari belakangnya. Di mana kekecewaan, kesedihan, dan netra berkaca-kaca menghalau pandangan yang ada.
“Dari sejak kau menjebak Chen Ge, dan dari sejak aku menerima menjadi selirmu. Saat itu, tidak ada lagi harapan untukmu. Baik dalam kehidupan ini, maupun kehidupan berikutnya. Jika saat itu kita memang harus dipertemukan kembali ....” Menggantungkan ucapan, Zhen Xian mengalihkan wajah berpalingnya lurus pada Jin Kai yang memunggungi. “Hubungan kita pastinya hanya musuh.”
“Saat ini kau adalah istriku, dan itu adalah kenyataan. Yang berarti dalam kehidupan berikutnya pun, kau juga akan.”
“Maka aku lebih memilih tidak dilahirkan dalam kehidupan yang sama denganmu!”
__ADS_1
Yang mana Jin Kai berakhir meninggalkan Zhen Xian. Tanpa Zhen Xian tahu, betapa sakitnya perkataan yang keluar dari mulutnya terhadap Jin Kai hingga membuat Putra Mahkota ini menangis dalam kepiluan. Yang mana pula, pembicaraan singkat itu menjadikan Jin Kai mengurung diri dalam kediaman pribadinya. Tidak membiarkan siapa pun masuk, bahkan Lin Feng atau Kasim Ma orang terdekatnya.