
Derapan serentak dari langkahan terdengar begitulah mantap, bayang-bayang dari barisan orang-orang membawa obor serta pedang tersampir di bagian pinggang terlihat. Yang mana para penduduk setempat dalam kota ini tak satu pun yang berani menghalangi jalan mereka.
Prajurit istana, itulah yang para penduduk ini gumamkan seraya wajah penasaran akan hal apa yang telah terjadi. Apa mungkin keamanan kota sedang terancam? Atau adakah musuh yang bersembunyi di dalam kota? Atau mata-mata dari kerajaan tetangga yang kabur?
Yang mana sosok tak biasa, mengenakan pakaian yang berbeda pula dari prajurit lainnya sedang mengacungkan sebelah tangannya kini, menghentikan langkahan prajurit yang mengekori sembari berbalik menghadap mereka semua. Pun gulungan yang dibawanya, dibukakan. Menampilkan lukisan wajah dari seorang pria yang tak lagi muda.
“Tidak peduli apa pun yang terjadi, kalian harus menangkap orang ini. Perintah Huangdi, bagaimanapun harus terpenuhi,” titahnya seakan sedang mengancam. “Pergilah!”
Serta pula para prajurit membubarkan diri dari barisan, menyebar ke berbagai area. Jin Kai, selaku pria yang memimpin sejumlah kecil prajurit ini akhirnya menolehkan pandangan pada pengawal pribadinya, Lin Feng. Yang mana pandangan itu sukses membawa kembali dalam suatu kilas balik.
Tepatnya dalam Aula Utama Istana, di mana para menteri baru saja bubar, sedangkan pemilik dari singgasana naga meminta sang putranya untuk tidak pergi seraya dirinya ia bawa lebih dekat lagi pun berhadap-hadapan dalam jarak tertentu.
“Apa yang ingin disampikan padaku, Huangdi?”
Akan tetapi, Raja tak serta merta menjawab. Yang dilakukan justru menoleh ke belakang, melihat singgasana naga tempat yang biasanya ditempati sejak menjadi Raja dari Kerajaan Yunnan-Fu ini.
Entah apa yang dipikirkan, karena Jin Kai sendiri tak begitu paham. Namun, satu hal yang akhirnya dikeluarkan dari mulut sang ayah sekaligus Raja ini. “Kuperintahkan kau secara pribadi untuk menangkap seseorang.”
“Apa seseorang itu ... terkait Jenderal Wei?” tanya Jin Kai, yang mana mungkin lebih tepat dikatakan suatu tebakan.
Raja mengangguk, mengeluarkan lipatan kertas dari balik jubah naga yang dikenakannya. “Pria dalam potret ini, hanya dia yang kuinginkan untuk melukiskan potret Jenderal Wei.”
Meskipun Jin Kai tak paham sepenuhnya, kenapa Raja hanya menginginkan orang dalam potret ini, tapi keinginan untuk bertanya diurungkan sejadinya. Karena Jin Kai sendiri tahu dari sekadar tahu, jikalau Raja tak ingin mengatakan maka ditanya pun tetap saja ia tak akan mengatakan.
Jika Raja telah memberikan perintah, bagaimana bisa bagi seorang bawahan langsung Raja tak menerima, bukan? Dan dari banyak pertanyaan tak terjawab yang memenuhi benak Putra Mahkota ini, akhirnya ia pun meraih potret pria yang dititahkan Raja untuk ditangkap, memerhatikan dengan saksama sebelum akhirnya kilas balik ini pun berakhir. Tanda tanya, atau keingintahuan yang tak berani Jin Kai tanyakan pada sang ayah, pada akhirnya dilontarkan pada Lin Feng.
“Yang pasti Huangdi mengenal dekat orang ini, dan mungkin dapat dipercaya agar tidak menimbulkan rumor.”
Jawaban Lin Feng itu pun sukses membawa Jin Kai bergerak dari posisinya, menelusuri jalanan. “Apa menurutmu ... anak Jenderal Wei itu benar masih hidup?”
“Entahlah ... jika hidup, kurasa dia akan mengubur identitasnya atau mungkin saja dirinya sendiri tidak tahu akan jati dirinya sendiri,” jawab Lin Feng.
Lagian memang betul, sejak Jenderal Wei dan seluruh keluarganya dibantai tahun itu, seluruh pengikut setia telah dibasmi pula oleh Raja. Jika memang anak Jenderal Wei masih hidup, lantas siapa yang akan berpihak padanya untuk melakukan pembalasan dendam ke istana? Jelas tak akan ada, dan jika ada sekalipun ... bukankah sama saja cari mati? Dan dari mana pula mereka akan mendapatkan sejumlah kekuasaan untuk membangkitkan kembali sisa pasukan Jenderal Wei yang setia pada Raja kini untuk kembali memihak pada mereka? Jelas, hal itu tidak akan mampu mereka dapatkan.
Kaki telah dipotong, tangan pun telah hilang. Yang mana jika hanya mengandalkan mulut untuk dijadikan senjata, dan keberanian serta tekad saja. Bukankah itu hal yang lemah?
“Kau benar, Lin Feng. Hanya saja jika benar anak itu masih hidup, aku sungguh merasa kasihan.”
“Lalu bagaimana kau akan mengatasi masalah ini? Meredam kekhawatiran Huangdi untuk tidak kembali membahas masalah anak Jenderal Wei ini.”
“Kita yang memulai rumor, maka kita pula yang harus mengakhiri. Huangdi khawatir, maka sudah seharusnya aku sebagai bawahannya mengakhiri. Juga ... ada banyak cara untuk meredam hal ini. Kita bisa memalsukan identitas orang yang telah meninggal sebagai anak Jenderal Wei. Paling tidak Huangdi akan sedikit tenang.”
Lagian memang betul adanya, Jin Kai saat ini menjadi orang paling dipercayai Raja terkait kasus Jenderal Wei. Bahkan jika berbohong, Raja pun akan percaya itulah kebenarannya, bukan?
“Kejar! Jangan biarkan dia lolos!”
__ADS_1
Seruan itu sukses mengedarkan pandangan Jin Kai dan Lin Feng ke sekitar, mendapati seluruh prajurit bergerak cepat masuk ke dalam tiap gang yang ada seraya seruan keyakinan akan sosok yang dicari benar adanya di depan mata mereka. Namun, kenapa Jin Kai dan Lin Feng masih juga tak bergerak dari posisinya? Masih berdiam diri, dan hanya netra saja yang dibiarkan mengedar.
Tidak mungkin mereka hanya menunggu hasil, bukan? Karena jika memang begitu adanya, buat apa mereka begitulah menajamkan pandangan seakan tahu jikalau akan ada sosok yang keluar dari persembunyian. Yang akhirnya, Lin Feng menunjuk ke satu arah, sukses pula membuat Jin Kai tersenyum penuh kemenangan seraya membawa diri mendekati arah tunjukan Lin Feng yang mengekor.
Pergerakan mereka, begitulah santai untuk seseorang yang sedang melakukan pengejaran. Di mana jauh dari pandangan Jin Kai berada, memanglah menangkap sosok serupa dengan yang dicarikan sang Raja. Namun, sosok incaran ini mulai curiga. Yang mana gerakan tergesa-gesanya diubah menjadi larian tanpa memalingkan wajah sedikit pun ke belakang, terus melewati gang kecil nan gelap juga dipenuhi hewan-hewan pengerat berseliweran.
Pun pria tua ini akhirnya menghentikan langkah, merasa jikalau tak lagi ada sosok yang mengekori. Yang mana napas kelegaan diembuskannya, memunculkan uap putih menandakan malam yang kian larut ini telah merendahkan suhu lebih lagi. Hanya saja, benarkah Jin Kai dan Lin Feng, seseorang yang cerdas dan perpengalaman mampu dibodohi oleh seorang pria tua rapuh ini? Atau, memang ada suatu rahasia terkait pria tua ini sebenarnya taklah boleh diremehkan?
Bukankah ada kata-kata yang cukup terkenal, ‘jangan suka meremehkan musuh, jika tidak ingin menelan kekalahan’.
Namun, jikalau memang benar pria tua ini lolos, lantas kenapa langkah majunya malah digerakkan mundur selangkah demi selangkah pun wajah keriputnya memasangkan keterkejutan sembari ketakutan. Yang mana jalan berbaliknya pun telah terhadang, tepatnya oleh Lin Feng yang kian mendekat, mengikis jarak pria tua yang mau tak mau ini untuk terus bergerak maju mendekati Jin Kai di depan sana.
“Kenapa Huangdi ingin menangkapku? Bukankah aku tidak melakukan kesalahan apa pun selama 15 tahun ini,” ungkapnya.
“Huangdi hanya ingin bertemu denganmu, Tuan. Tidak ada maksud menyakiti,” ucap Lin Feng, dan tanpa disuruh Jin Kai sekalipun, ia telah membawa pria tua ini keluar dari gang.
Entah kehidupan seberat apa yang telah dialaminya, perawakan serta penampilan jelas sekali menunjukkan bahwa kehidupan yang dijalaninya tidak baik. Apa mungkin, karena Raja? Apa benar ia menjalani hari-hari dalam kesusahan dan tampak hidup dalam persembunyian inilah yang membuat hidupnya sekacau ini?
Pun Jin Kai, sukses dibuat kian penasaran akan latar belakang pria ini dan kenapa pula Raja justru sangat menginginkan pria ini yang menjadi satu-satunya pembuat potret Jenderal Wei. Apa tepatnya yang menjadi alasan Raja? Dan akankah Raja memberitahukannya tepat ketika pria ini dibawakan ke istana nanti?
Di mana lamunan Jin Kai ini akhirnya tersadarkan, sadar jikalau dirinya berada beberapa jarak jauhnya dari prajurit dan Lin Feng sekalipun di depan sana. Namun, keberadaan dirinya dalam keramaian kota saat ini malah sukses membuat ia bergumam seraya netra membulat tak percaya akan apa yang tertangkap penglihatannya.
“Zhen Xian?” Bahkan dirinya tak berani mengerjap pandangan, takut jikalau sosok yang sedang dilihatnya ini akan menghilang. Dengan cepat pula, sepasang tungkai yang mematung ini digerakkan, masuk lebih dalam lagi di antara kerumunan mencari sosok gadis yang serupa dengan selirnya ini.
Namun, hasilnya nihil. Dan hal itu, kembali membawanya bergerak mundur. Lagian bagaimana bisa Zhen Xian meninggalkan istana, bukan? Jelas itu tidak mungkin. Kecuali ... ada sosok yang memprovokasi, seperti misalnya .... Zhen Chen?!
“Taizi!” seru Lin Feng, tak juga digubris oleh Jin Kai yang bagai tak mendengar seruan berkali-kalinya. Pun Lin Feng tak ada cara, selain mendekat pun menahan pundak Jin Kai. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Tidak apa-apa, aku hanya ....”
Hilang, apa yang dilihat sebelumnya telah hilang. Ke mana pria dan wanita tak asing tadi pergi? Atau ... atau memang benar itu hanya halusinasi? Atau memang orang lain yang serupa dengan Zhen Chen juga Zhen Xian?
“Mustahil ada kebetulan yang semacam itu, bukan?”
“Taizi, apa yang kau gumamkan?”
Sejadinya, Jin Kai tak menanggapi pertanyaan Lin Feng. Bergegas pula ia membawa diri, bergabung kembali dengan prajurit lainnya yang telah siap kembali ke istana. Dan dalam perjalanan kembali ini pula, Jin Kai terus saja berdiam diri. Ketidaktenangan menguasai, pun setiba dalam istana sejadinya ia bergegas ke Kediaman Chahua. Ditemani Lin Feng biar kata Jin Kai tak meminta hal itu.
Alhasil, ketika tiba di kediaman gadis tercintanya ini. Dayang Yun-lah orang pertama yang menghadapnya, mendapat pertanyaan langsung akan keberadaan Selir Zhen saat ini di mana, dan dengan yakin Dayang Yun menjawab jikalau Selir Zhen ada di kamarnya.
Namun, belum selesai menjawab, Jin Kai sudah lebih dulu berlalu masuk. Yang mana pula Que Mo mencegat, tegas tak mengizinkan masuk apa pun yang terjadi dengan alasan Selir Zhen sendiri telah istirahat dan tak mengizinkan siapa pun menemuinya lagi.
“Beraninya seorang pelayan pribadi rendahan sepertimu mencegat jalannya seorang Taizi? Minggir!”
“Maaf, Taizi. Ini perintah langsung Selir Zhen, sebagai pelayan pribadinya sudah menjadi tugasku untuk hanya mematuhi perintahnya.”
__ADS_1
“Sungguh besar nyalimu, kau sudah tidak ingin nyawamu lagi?! Minggir!”
Pun Lin Feng akhirnya turun tangan, menyingkirkan Que Mo dari menghalangi jalannya Jin Kai. Yang mana Jin Kai sendiri, memang telah mencapai batas kesabaran, bahkan pandangan menajamnya saja ketika melewati Que Mo sudah cukup menjadi senjata tajam pembunuh.
Bayangkan saja sendiri apa yang akan Que Mo alami jikalau tadi Lin Feng tak turun tangan. Di mana Dayang Yun sendiri yang tegang akan situasi dan suasana kelam ini, hanya mampu mendesah kini seraya diri tak mampu masuk ke dalam sana mengikuti lainnya.
Namun, apa sekiranya yang akan terjadi pada Que Mo? Bukankah Zhen Chen dan Zhen Xian memanglah telah meninggalkan istana? Apa ini akhir dari kehidupan Que Mo dalam istana ini? Jikalau demikian, bagaimana dengan Zhen Chen sendiri selaku yang membawa Zhen Xian pergi?
Tidak, tentu itu tidak boleh terjadi!
Hanya saja, kenapa Jin Kai begitulah tenang? Padahal dalam bayangan Que Mo pasti akan ada kekacauan dan amukan. Akan tetapi, apa ini? Bukankah ini terlalu tenang dari saat tadi Jin Kai hendak masuk kemari?
Zhen Xian? Sejak kapan dia kembali? Mengerjap-ngerjap Que Mo dibuatnya, khawatir barangkali ini hanyalah halusinasinya saja. Tapi ... di mana Zhen Chen? Pandangan masih tak percaya, tapi tampaknya langit kali ini membantu. “Taizi, sudah kukatakan Selir Zhen sudah tidur. Mohon Taizi segera kembali sekarang,” pintanya.
“Taizi, mungkin kau memang salah lihat,” ucap Lin Feng akhirnya.
“Kuharap begitu,” lirihnya, menghampiri lebih dekat lagi Zhen Xian yang memanglah tertidur lelap. Karena hanya ketika ia sedang tertidur seperti inilah, Jin Kai mampu melihat jelas wajahnya, tanpa perlu mendapatkan wajah datar, dingin dan tak peduliannya seorang Zhen Xian semenjak menjadi istrinya.
Pun Jin Kai tak kuasa pula jikalau tak menyentuh wajah cantik sang istrinya ini, bukan? Sedikit lagi, hanya sedikit saja, maka pria ini mampu menyentuh wajah mulus Zhen Xian. Namun, kenapa Jin Kai malah berhenti kini? Apa mungkin ia merasa tindakannya ini taklah sopan? Yang mana akhirnya, ia pun membawa diri pergi begitu saja meninggalkan Kediaman Chahua.
Kepergian Putra Mahkota dengan pengawal pribadi berwajah kaku nan tegas itu pun sukses membuat Que Mo menghelakan napas kelegaan. “Dia sudah pergi.”
Serta merta Zhen Xian membuka sepasang netranya, ikutan menghela napas. “Sungguh menegangkan.” Sembari dirinya membangunkan tubuh dari tidur sandiwaranya, di mana dalam ranjang tertutup selimut itu sendiri tak hanya menampung Zhen Xian seorang melainkan juga menampung satu sosok lainnya.
Zhen Chen, benar. Dia-lah pria itu.
“Apa dia curiga?” tanyanya.
“Kurasa tidak ... harusnya tidak,” jawab Que Mo. Karena memang itulah yang dirinya tangkap dari reaksi Jin Kai barusan. Belum lagi, Que Mo sempat percaya akan sandiwara Zhen Xian barusan. Jadi, harusnya Jin Kai pun percaya, bukan?
“Apa kau tahu bagaimana tegangnya kami saat melihat Jin Kai di kota tadi? Aku hampir saja tidak bisa bernapas,” ungkap Zhen Xian, seakan napasnya baru saja kembali normal kini. “Sungguh sangat membuatku ketakutan.”
“Bagaimana kalian bisa tahu Jin Kai melihat kalian?” tanya Que Mo lebih lanjut.
“Saat itu kami sedang melihat aksesoris, dari balik cermin aku pun melihat Jin Kai. Sontak saja kuberitahukan Xian’er dan bergegas kabur, kembali ke istana,” jelas singkat Zhen Chen.
“Maka beruntunglah kalian. Jika tidak, tamat sudah riwayat kita semua.”
Sayangnya, perkataan Que Mo tidak berlaku dalam kondisi ini. Jin Kai yang tadi sudah pergi dan tiba di kediaman pribadinya segera memerintahkan Lin Feng melaksanakan titahnya.
Langit, seakan memang sulit berpihak pada Zhen Chen.
“Zhen Xian berbohong. Dia tidak tidur melainkan berpura-pura, aku melihat jelas matanya bergerak. Selain itu, bagaimana mungkin sepatunya bisa sekotor itu jika dia dalam istana? Orang yang kulihat di kota tadi sudah pasti dia dan Zhen Chen,” ungkap Jin Kai, yang mana kedua tangan dikepalnya erat. Menyalurkan segala luapan amarah ke dalam sana. “Lin Feng, aku ingin kau melihat gerbang istana sekarang juga. Lihat apakah Zhen Chen benar keluar dari sana dan segera laporkan padaku.”
Serta merta Lin Feng menerima tugasnya, meninggalkan Jin Kai seorang diri yang bahkan Kasim Ma tak berani mendekat di luar dari kediaman ini. Yang mana Lin Feng sendiri meminta Kasim Ma kembali saja istirahat, menemani Jin Kai di saat seperti ini tampaknya tak akan banyak membantu mengurangi amarahnya.
__ADS_1
Kalian pikir bisa bermain-main dariku? Bermimpilah.