Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 70


__ADS_3

Baik itu dayang ataupun para pelayan, semua yang mendiami Kediaman Chahua bergegas menjauh. Tak terkecuali Que Mo, biar kata ia sangatlah berjuang dengan tidak akan meninggalkan Zhen Xian seorang dengan Jin Kai. Akan tetapi, dengan kekuatan Lin Feng dan juga Kasim Ma, bagaimana bisa ia melawan? Yang ada terseret paksalah yang justru dialami Que Mo sembari mulut terus saja meminta Zhen Xian berhati-hati pun meneriaki Jin Kai agar jangan berani-beraninya menyakiti gadis itu lagi, seperti apa yang telah terjadi pada Aula Merak tadi.


Namun, Zhen Xian yang berhadap-hadapan dengan pria nyalang penuh ketajaman ini tidaklah sama sekali menunjukkan tanda-tanda akan ketakutan atau apa pun itu. Yang mana Jin Kai pada akhirnya mencengkeram pun menarik gadis ini untuk menatap lebih dekat dan lekat lagi. “Apa kau pikir aku tidak tahu? Kau sengaja membuat marah mereka agar kau bisa dikeluarkan dari istana!”


“Selama kau tahu maka itu cukup.”


Mendengar kedataran dari ucapan gadis ini, sontak saja Jin Kai mengencangkan cengkeraman seiring akan napasnya yang berderu. “Kau pikir bisa lepas dariku? Kau pikir kali ini kau bisa meninggalkan istana?! Lihat saja, Zhen Xian ... akan kupastikan membawamu kembali dalam istana ini, bersama denganku!” Mendekatkan wajah lebih lagi, sampai titik di mana ia sendiri mampu melihat bayangannya di sepasang netra gadis ini. “Sesegera mungkin,” lanjutnya, menekan. Yang kemudian menghempaskan Zhen Xian mundur beberapa langkah seraya gadis ini sendiri tidak sama sekali melepaskan pandangan dari Putra Mahkota memuakkan ini.


Yang ada, Zhen Xian malah ikutan memandang nyalang. “Saat itu, aku akan mencari cara lain untuk keluar. Mungkin bukan sementara ... melainkan diasingkan selamanya, setidaknya ke tempat dirimu tidaklah ada!”


Beberapa detik diisi oleh kesunyian, entah karena sepasang suami-istri ini sedang mencoba mencerna pertengkaran atau apalah itu. Tetap saja, baik itu Jin Kai, ataupun Zhen Xian. Keduanya sama-sama tidak ada yang akan mengalah, berpegang teguh akan keyakinan masing-masing terkait ucapan siapa yang akan menang akhirnya.


Namun, pernahkah Zhen Xian berpikir? Atau mungkin tidak menyangka karena sejak hari ia memasuki dan tinggal dalam Kediaman Chahua ini, Jin Kai memanglah tidak pernah memaksa apalagi menuntut untuk menyempurnakan hubungan suami-istri mereka. Lantas, bagaimana jika Putra Mahkota yang kembali menarik tangan Zhen Xian kini mulai mencium paksa? Bukankah ini suatu ancaman? Di kala Jin Kai barangkali akan menjadikan penyempurnaan hubungan mereka sebagai pengikat ataupun pembelajaran bagi Zhen Xian sendiri agar tidak berani atau macam-macam terhadapnya.


PLAK!


Menyeringai? Bukannya marah ataupun kesal, Jin Kai malah menyeringai seakan tamparan wajah barusan hanya suatu kesenangan belaka. Yang mana Zhen Xian barulah merasakan apa itu rasa takut, memundurkan langkah dengan napas memburu dan merasakan dengan jelas pula jikalau situasi saat ini sungguhlah tidak baik. Haruslah sesegera mungkin menjauh dari pria ini yang kembali menangkap dan mendekap erat sembari menggendong Zhen Xian yang meronta-ronta. Pun mulut tiada henti menyerukan, meminta atau bahkan memohon untuk dilepaskan.


Sayangnya, Jin Kai bertindak seakan tidak mendengar apa pun, terus saja membawa masuk ke dalam kamar pun menjatuhkan kelambu hanya untuk kemudian membaringkan pun menindih tubuh gadis pemilik hatinya ini yang telah jatuh dalam tangisan. “Sudah kukatakan, aku bisa melakukan apa pun padamu,” ucapnya, menghapus air mata Zhen Xian sembari menyentuh bibir ranum gadis ini dengan begitulah lembut. “Dan sekarang, adalah waktunya.”


Satu hal yang mampu Zhen Xian tangkap di kala ketakutannya saat ini, yaitu Jin Kai serius akan ucapan barusan pun sepasang netra Putra Mahkota ini bukan hanya terisi penuh kegairahan menggebu melainkan pula ketidakinginan mundur lagi seperti lalu-lalu yang pernah ia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Lantas, apa yang bisa dilakukan Zhen Xian untuk melawan pria sekuat ini? Meronta tidak lagi mampu, berkat tubuhnya yang benar-benar telah ditindih mati. Yang mana mulut pun tak lagi mampu menyuarakan untuk meminta berhenti, berkat Jin Kai yang terus saja mencumbunya. Pun dimulailah, tangan pria ini menggerayangi tubuh seraya membuka helaian demi helaian pakaian yang ada. Hanya untuk kemudian membuang secara sembarangan sampai titik di mana lantai berserakan sudah akan pakaian dari sepasang suami-istri ini, tak terkecuali pula embusan angin masuk tanpa diundang seakan dititahkan untuk memadamkan api-api lilin yang terpasang.


Jikalau sudah mencapai tahap ini, bagaimana dan harus seperti apa pula agar Zhen Xian mampu menjalani hidupnya? Meskipun memang benar kehidupannya sudah tidak lagi penuh arti dari sejak kehilangan keluarganya, tapi tetap saja kehilangan satu-satunya kehormatan suci bukanlah hal kecil. Apalagi orang yang menodai kesucian itu malah tak lain adalah pembunuh dari keluarganya sendiri. Bukankah ini semacam suatu penghinaan tersendiri? Penghinaan yang tidak akan pernah lagi bisa dihilangkan, sampai kapan pun dan berapa lama pun.


Oleh karenanya, saat hari telah berganti. Saat di mana rembulan tak lagi menguasai langit, melainkan hanya sang surya yang siap meninggi dan kian pula meninggi membawa dirinya kian mendekati singgasana tertinggi. Saat itu pula, nyanyian kicauan dari burung-burung bersahut-sahutan. Membangunkan ia yang masih terbaring pada ranjang, mendekati sang istri di sebelahnya yang memunggungi tanpa sehelai pakaian pun kecuali selimut. Pun mencium bahu gadis ini sebelum akhirnya menarik diri dari ranjang, keluar begitu saja setelah selesai mengenakan kembali pakaian yang ada. Tanpa ia ketahui, jikalau sosok yang masih terbaring di dalam kamar sana telah tenggelam dalam tangisan pilu yang seorang pria terhormat sepertinya tidak akan bisa pahami.


Lihat saja sekarang, setelah apa yang selama ini telah diperbuat dengan perbuatan kejamnya itu, tetap saja ia begitulah dihormati tepat pada saat baru saja melangkah keluar dari pintu kediaman ini. Yang mana Dayang Yun beserta pelayan lainnya, sibuk membawa baskom berisi air bersih dan juga handuk. Hanya untuk kemudian meminta dengan teramat sopan, pada Putra Mahkota untuk membasuh wajah.


Lebih tepatnya pada Putra Mahkota yang terlihatlah begitu cerah, tidak seperti kemarin yang begitulah kelam nan menakutkan. Pun cerahnya sang surya di langit sana menjadi saksi, atau barangkali ikut merayakan kebahagiaan yang dirasakan Jin Kai saat ini, Jin Kai yang baru saja selesai menyeka wajahnya sembari netra berbinar-binar itu diarahkan pada Dayang Yun.


“Kau boleh membebaskan Que Mo,” ucapnya, dan ini menjadi titah pertamanya hari ini. Mendapati pula Lin Feng menghampiri di kala Dayang Yun menerima dengan sangat titah yang diberikan. “Selain itu, persiapkan keperluan Selir Zhen untuk berangkat ke kuil, dan pastikan kalian menjaganya. Jangan biarkan dia sendiri dan selalu perhatikan apa yang dia lakukan,” lanjut Jin Kai, barulah kemudian benar-benar membawa diri meninggalkan Kediaman Chahua.


Di mana Lin Feng sendiri, beberapa kali sempat dibuat menoleh ke arah kediaman tersebut. Pun pandangan yang diberikan tidaklah baik, semacam ada rasa prihatin juga iba. Namun, sejadinya ditutupi sembari mengimbangi langkahan cepat Jin Kai yang kian menjauh.


Yang kemudian hanya buat apa? Menyaksikan saat-saat di mana hancurnya seorang Zhen Xian dalam tangisan tiada henti? Dan jika memang demikian adanya, lantas kenapa Que Mo malah bertingkah sepanik ini? Sembari netra membulat pun sebelah tangan terulur, takut-takut layaknya seseorang yang sedang mencoba bersepakat akan suatu hal penting. Katakan saja, sebuah nyawa.


“Aku tahu kau tidak akan bermaksud, bukan?” bujuk Que Mo, langkahan kecil demi langkahan terus ia lakukan, tapi pandangan tidaklah bisa lepas dari Zhen Xian. “Berikan padaku, Zhen Xian. Berikan padaku pisau itu, kau tidak seharusnya melakukan ini. Terlebih tidak seharusnya menyakiti dirimu sendiri seperti ini setelah dua tahun bertahan dalam tempat terkutuk ini! Apa kau telah lupa?!”


Yang mana Zhen Xian hanya memberikan jawaban berupa isak tangis, lidah tidak lagi mampu berucap. Saat itulah, Que Mo melesat pun mengambil dan membuang segera pisau yang hampir saja menggores pergelangan tangan gadis ini. Menangkap tubuh limbung Zhen Xian, membawanya perlahan kembali duduk pada pinggiran ranjang yang menghadirkan pula noda atau bercak darah tercetak jelas di sana.


Marah? Jangan tanyakan lagi bagaimana meluapnya amarah seorang Que Mo kini. Namun demi Zhen Xian, ia pun harus meredamnya. Setidaknya di hadapan Zhen Xian yang bagaikan kehilangan seluruh semangat hidup yang ada.

__ADS_1


Bukankah mengembalikan semangat hidup itu lebih penting? Yang mana Que Mo mengeluarkan sapu tangan, menyeka habis air mata gadis ini sembari ia sendiri menahan dengan sangat agar tidak ikut terlarut pula dalam kesedihan.


“Lihat aku. Lihat aku, Zhen Xian!” tegas Que Mo, tapi gadis ini tidak mendengarkan dan malah terus saja menurunkan wajah. Alhasil, Que Mo-lah yang harus bergerak, memposisikan diri bersujud di hadapan Zhen Xian langsung. Meskipun memang benar, gadis ini masih tidak ingin memandang balik. “Kuatkan dirimu, kumohon. Bukankah Zhen Chen sedang menunggu? Apa kau akan mengecewakannya? Di saat kita akan segera meninggalkan istana ini.”


Gelengan, hanya itu yang mampu diberikan Zhen Xian sebagai balasan sembari buliran demi buliran air mata terus saja meluruh.


“Benar, kau tentu tidak boleh mengecewakan Zhen Chen. Ini waktu yang kau dan aku tunggu selama dua tahun, tentu kau tidak ingin usaha bertahan Zhen Chen selama ini sia-sia, bukan?”


“A-aku ... aku ... Que Mo ...!”


“Aku tahu, tidak perlu mengatakannya. Aku tahu apa yang berengsek itu telah lakukan padamu!” rutuknya, mengepal erat kedua tangan seakan siap menghajar Jin Kai jikalau saja pria itu hadir dengan wajah memuakkannya. “Jangan menangis, mari kita berangkat dan menemui Zhen Chen.”


Barulah gadis ini mengangkat wajah terturunkannya, memandangi Que Mo seraya mengangguk. Yang mana Que Mo sendiri kembali mengusap pergi air mata Zhen Xian, memaksakan sebuah senyuman keluar untuk memecahkan suasana menyesakkan ini. Setidaknya, bujukan telah termakan. Dan memang benar jikalau hanya Zhen Chen satu-satunya orang yang mampu membangkitkan semangat, satu-satunya pula harapan hidup yang ada. Karena itu, mari lihat kembali kilas balik. Tepatnya apa dan bagaimana Que Mo mampu mengatakan dengan yakin jikalau Zhen Chen sedang menanti mereka kini.


Kejadian itu terjadi semalam, masih ingat pelayan wanita mencurigakan yang menyajikan makanan di meja Zhen Xian sewaktu acara makan malam di Aula Merak? Pun kemudian Que Mo dimintai Zhen Xian untuk menemuinya, mencari-cari ke mana perginya wanita pelayan barusan yang ternyata memanglah masih menanti tepat bersembunyi di sisi samping bangunan aula megah ini.


Bergegas, Que Mo menghampiri tanpa lupa memastikan kembali jikalau tidak ada siapa-siapa yang memata-matai. Pun bergegas pula membawa pelayan wanita ini ke tempat yang lebih sepi dan dianggap lebih aman lagi untuk berbicara, biar kata Que Mo sendiri tidaklah tahu apa yang hendak dikatakan pelayan ini.


“Tuan Meng Jun dan Mo Zhu yang memintaku memberikan pesan ini pada Selir Zhen.” Menyodorkan gulungan kertas kecil, dan Que Mo seketika menerima pun menyembunyikan dalam pakaiannya. “Mereka mengatakan hal ini penting, dan harus diberikan langsung pada Selir Zhen.”


“Baiklah, kau bisa pergi.”

__ADS_1


Yang mana Que Mo tidak serta merta kembali masuk ke aula, tetapi menanti atau memastikan terlebih lagi sampai pelayan wanita itu benar-benar pergi. Barulah kemudian, Que Mo bergegas kembali ke aula sembari menyerahkan gulungan kertas yang didapat. Hanya untuk kemudian melihat dengan nyata, tulisan yang tertera di sana cukuplah singkat, tapi sangatlah menyentuh nan membahagiakan.


‘Cari waktu keluar istana. Aku akan datang'.


__ADS_2