Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 64


__ADS_3

Dari sekian banyak keluarga, kenapa harus Jenderal Wei? Apa ini semacam lelucon hidup?


Berawal dari hubungan akan saudara yang dipercayai terikat darah. Oleh karenanya, tak mampu begitu bebas dalam mencintai pun sering bertanya-tanya pada diri, apakah pantas perasaan ini? Lantas, sekarang sudah mampu mencintai secara bebas, tapi kenyataan terlalu menakutkan sampai titik di mana lebih baik mengorbankan cinta dan memilih sang kakak sungguh adalah kakak kandung terikat darah.


Nyawa, jelas saja lebih penting daripada hal lainnya, bukan? Setidaknya dengan nyawa masih bersemayam dalam tubuh, kapan pun dan dimana pun masihlah bisa bertemu, mengobrol dan saling menyayangi. Namun, jika dipisahkan oleh kematian, siapa yang mampu menjamin jikalau masih akan dipertemukan? Siapa pula yang mampu menjamin jikalau ingatan dan perasaan yang dirasakan sewaktu hidup di dunia ini masih akan sama?


Pun Zhen Xian tertawa di sela-sela isak tangisnya, bukankah hidupnya ini pantas untuk dijadikan suatu cerita dalam buku-buku? Karena tidak ada seorang pun yang akan memercayai cerita perjalanan hidupnya ini kecuali mereka yang ikut serta di dalamnya.


“Bawa Selir Zhen kembali!”


Dengan sigap pula, Zhen Xian menolak menjadikan dua pengawal yang dititahkan Jin Kai enggan atau tepatnya tak berani mendekat apalagi menyentuh. Pun dengan sisa-sisa energi yang ada, gadis ini membangunkan diri dari duduk terpuruknya sembari netra sembap nan membengkak itu lurus memandangi Jin Kai. “Apa kau akan membunuh semuanya? Orang tuaku?! Para pekerja?!”


“Perintah Huangdi tidak bisa kuabaikan.”


“Orang tuaku! Para pekerja ...!” Mengucapkan saja rasanya begitulah sulit, begitu menyesakkan hingga harus memukul-mukul dada, mengembalikan kerja napas yang tercekat. “Apa salah mereka?” tanyanya melirih. “Kumohon ... ampuni nyawa mereka. Mereka tidak salah apa pun, kumohon hentikan. Kumohon padamu, kumohon … hiks ....” Sembari mensujudkan diri, pun Zhen Xian gadis ini kembali kesulitan mengatur napas memucatkan kembali wajah.


Namun tetap saja, Jin Kai pria ini tak sama sekali menunjukkan belas kasih, malah kian menajamkan rahang pun netra nyalangnya. Tidak seperti biasa yang jika melihat Zhen Xian terpuruk ataupun terluka, ia akan melunak dengan mudahnya.


Wajar saja, bukan? Jika hal itu dialaminya. Kenyataan bahwa ia merupakan seorang Putra Mahkota Agung dengan masa depan cerah dan gemilang, justru mendapat perlakukan seperti ini dari istrinya yang tenggelam dalam keterpurukan teramat hanya karena pria lain yang merupakan anak dari seorang pengkhianat kerajaan. Bukankah ini sama saja dengan merendahkan dirinya? Dan sejak kapan, seorang istri diperbolehkan menurunkan derajat dari seorang suami dengan sedemikian jauhnya? Tak tahu malu, tak tahu tempat dan dipertontonkan banyak orang seperti ini.


“Tampaknya, aku sungguh telah terlalu memanjakan dirimu selama ini, Zhen Xian.”


“Kumohon ... kumohon lepaskan keluargaku, kumohon pula lepaskan aku ....”


“Melepaskanmu ...? Setelah apa yang telah kau lakukan hari ini padaku? Zhen Xian, hanya karena aku menyukaimu, bukan berarti kau mampu bertindak sesukamu seperti ini,” ucapnya, sedikit menekan. “Apa yang kalian tunggu ... bawa Selir Zhen kembali ke Kediaman Chahua!”


“Jin Kai, apa benar sama sekali tidak ada kebaikan dalam hatimu? Zhen Chen adalah temanmu, paling tidak dulu kalian berteman!” teriak Que Mo, mempertanyakan. “Mohon hentikan ... mohon hentikan.” Bersujud, pun membentur kening ke dinginnya tanah berkali-kali. Setidaknya, hanya hal ini yang mampu dilakukan untuk menyelamatkan Zhen Chen dan seluruh keluarga Zhen.


Yang mana Zhen Xian tak lagi tega menyaksikan, jika diteruskan seperti ini yang ada Que Mo akan melukai kepalanya sendiri. Tidak, tentu Zhen Xian tak ingin hal itu terjadi. Meminta dengan sangat agar Que Mo berhenti. Namun, tetap saja Que Mo tak menuruti, telah berkomitmen penuh jikalau hanya Jin Kai yang mampu menghentikan tindakan gila tersebut.

__ADS_1


“Taizi, mintalah dia berhenti.”


“Lin Feng, apa tadi aku yang menyuruhnya melakukan tindakan membentur kepala seperti itu?” Sedikit melirik ke samping, pun Lin Feng serta merta menurunkan pandangan. “Kau jangan ikut campur,” lanjut Jin Kai lebih lagi, yang dipahami Lin Feng sebagai kecaman dari seorang Putra Mahkota pada bawahan, mengesampingkan sepenuhnya hubungan pertemanan yang ada.


Namun, nyawa Que Mo akan dalam bahaya jikalau tak dihentikan segera. Apa pula yang akan terjadi pada Zhen Xian jikalau Que Mo ikutan terancam nyawanya? Dan Lin Feng tak menginginkan hal itu, setidaknya keberadaan Que Mo juga demi kebaikan Jin Kai ke depannya seraya membantu Zhen Xian untuk mampu bertahan dalam istana ini.


Alhasil, Lin Feng memajukan langkah mendekat lebih lagi pada Jin Kai. “Taizi ....” Terhenti, mendapati Zhen Xian pun ikutan mendekatkan diri pada Jin Kai seraya luruhan air matanya dihapuskan. Keseriusan jelas mengambil alih gadis ini, tapi bukan berarti kemarahan yang dirasakan telah pergi. Akan lebih tepat, kemarahan itu disembunyikan jauh di sepasang netra memandangi sang suami yang menanti hal apa yang akan disampaikan dari gadis ini.


“Maka bunuhlah aku. Aku adalah bagian dari keluarga Zhen ... bunuh aku dan letakkan pula mayatku bersama dengan lainnya.”


Jangankan Que Mo, bahkan waktu seakan terhenti oleh semacam sihir tak kasatmata. Benar, sekuat itulah pengaruh ucapan putus asa seorang Zhen Xian. Mendatangkan pula angin yang berdesau kencang mengisi kesunyian, seakan menyadarkan harus seperti apa membalas ucapan gadis ini.


“Kau akan tetap di sisiku. Di istana ini, di sampingku!”


Anehnya Zhen Xian malah tersenyum, mendekatkan diri lebih lagi yang menjadikan Jin Kai sendiri terhenyak akan sikap gadis ini. Kenapa dan apa maksud tindakan tak biasa ini? Apa ini semacam ide atau rencana nakal yang hendak dimainkan? Tapi tidak mungkin, saat ini jelas saja bukanlah waktu untuk bercanda.


Di kala kelengahan Jin Kai yang sedang berpikir itu pula, dengan cepat, pasti dan penuh kemantapan. Zhen Xian, gadis muda yang terpaksa menjadi seorang selir dari Putra Mahkota ini akhirnya menarik lepas sebilah pedang dari sarung yang dibawakan Lin Feng. Menempatkan tajamnya benda tersebut tepat pada leher sembari membawa diri mundur, menjauhi Jin Kai dan mengecam lainnya untuk tak bergerak selangkah pun dari posisi masing-masing.


“Taizi, tidak ada yang ingin kukatakan ataupun dengar darimu. Semua yang kuinginkan ... telah kau ambil dan renggut.” Air mata kembali meluruh, bahkan tanpa berkedip sedikit pun. “Tidak ada lagi harapan bagiku, apa gunanya hidup jika hati telah kosong?!” teriaknya, bergema hingga bahkan langit saja bergemuruh.


“Jin Kai, apa itu yang kau mau?!” teriak Que Mo.


Yang mana teriakan dan bentakan yang didapat barusan, bukannya membuat Jin Kai kian panik melainkan ia malah menghilangkan kepanikan. Parahnya lagi, Putra Mahkota ini justru tertawa-tawa seakan baru saja mempertontonkan suatu pertunjukan. Pun panggilan Lin Feng, tak lagi dipedulikan.


“Orang yang kau cintai? Anak pengkhianat itu?” tanyanya, dimana tawa perlahan tergantikan sudah dengan tatapan dingin nan tajam. Selangkah demi selangkah dilajukan seakan tak sama sekali takut jikalau Zhen Xian benar akan menggorok lehernya. Apa mungkin, Jin Kai tahu Zhen Xian tak akan berani melakukannya? Atau Jin Kai sedang bertaruh dengan keberuntungannya sendiri?


“Aku tidak akan membiarkan kau tewas, yang tewas harusnya Zhen Chen dan kau ... kematianmu hanya aku yang bisa memutuskannya!” Dan entah apa yang terjadi detik berikutnya, begitulah cepat sampai tak ada kata yang mampu menjelaskan pergerakan layaknya kilatan pada langit. Tahu-tahu saja, Jin Kai sudah membuang pergi pedang seraya menarik paksa Zhen Xian yang memberontak untuk mengikutinya. “Bawa Que Mo ke penjara dan hukum dia dengan lima puluh kali pukulan!”


“Que Mo! Tidak, Que Mo! Tidak, Jin Kai, kau tidak bisa menghukum Que Mo!”

__ADS_1


“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir!”


“Kumohon! Hanya Que Mo yang kumiliki sekarang ... kumohon jangan sakiti dia, kumohon padamu! Kumohon padamu, Jin Kai!”


Bergeming sudah Jin Kai, bukankah ini kali pertama Zhen Xian memanggil namanya sejak ia menjadi selir? Pun Jin Kai tak mampu untuk bersikap senang, melainkan hal itu terbilang cukup menyayat hati untuk didengar.


Apa ini akan menjadi hari dan malam terakhir mendengar namaku keluar dari mulutnya?


Namun, Jin Kai tetap tak akan menarik kembali titahnya terhadap Que Mo yang kini menjauh, berpisah jalan pula. Tanpa ada siapa pun yang tahu, bahwa di luar dari dinding berlobang. Zhen Chen, ahli sekaligus jenius muda bunga yang dicintai Zhen Xian telah mendengar semuanya.


Jika ditanya sejak kapan ia berada di sana, maka tak ada yang tahu dan tidaklah penting pula. Karena hal terpenting saat ini, sukses membawa sepasang tungkai pria ini berlarian sekencang yang ia mampu.


Bertahanlah, kumohon pada kalian bertahanlah.


Akankah sekiranya kali ini langit membantu? Memihak sedikit saja padanya dan bukannya Jin Kai yang kini telah tiba di Kediaman Chahua. Kembali mengurung Zhen Xian, tepatnya setelah meminta beberapa pengawal memastikan baik-baik jikalau tidak ada benda apa pun dalam ruangan ini yang mampu dipergunakan untuk menyakiti diri. Dan dengan begitu pula, Dayang Yun yang sempat dikurung akhirnya dititahkan untuk dibebaskan saat ini juga.


“Jaga Selir Zhen baik-baik. Jika terjadi sesuatu bahkan jika itu hanya sehelai rambutnya yang terluka, maka bukan hanya nyawa kalian melainkan seluruh keluarga kalian pun akan terkena imbasnya.” Dan seluruh pengawal yang ada menimpali dengan tegas, akan memenuhi dan mematuhi titah tersebut. “Lin Feng, mari kita pergi memenuhi titah Huangdi.”


“Saat darah dari keluargaku mengotori tanganmu, saat itu pula kebencianku padamu lebih abadi melebihi kehidupan para abadi sendiri. Ingatlah itu ... INGATLAH!”


“Maka kau pun harus ingat, jika kau tidak akan pernah lepas ikatan denganku.”


“Baik ... maka akan kujadikan diriku sebagai neraka-mu.”


Yang mana ucapan sarkas Zhen Xian barusan, berakhir menjadi pengantar kepergian Jin Kai dan Lin Feng. Menjadikan Zhen Xian pun terpuruk dalam tangisan, tangisan yang sekencang dan sekuat apa pun dikeluarkan tak akan pula ada sosok yang akan menghampiri apalagi menenangkan.


Satu-satunya hal yang bisa dilakukan, tak lain dengan meminta belas kasih langit. Namun, kepada siapa akhirnya langit akan berpihak taklah jelas. Karena selama ini, langit selalu saja berpihak dan memudahkan jalan Jin Kai, putra Raja, di mana sejak dahulu Raja memang telah dianggap dan dipercayai sebagai putra langit.


Lantas ... keluarga Zhen ... keluarga baik, damai nan hangat tersebut akankah benar-benar menjadi sejarah kini? Akankah pula, Zhen Chen yang masih mati-matian berlari pulang mampu menyelamatkan mereka? Yang bahkan Zhen Chen sendiri tampak bertekad akan menyerahkan nyawanya seorang jika memang itu diperlukan sebagai pertukaran.

__ADS_1


Tunggu aku ... Die, Niang ....


__ADS_2