
Sabetan demi sabetan bagai tiada akhir, pun para wanita yang tak lain merupakan dayang memilih memalingkan wajah alih-alih harus menyaksikan sabetan yang kian menguarkan suara nyaring nan menyakitkan. Belum lagi rasa panas yang menjalar oleh sang surya di pusat ketinggian kini semakin meluluhkan buliran keringat, kian merintihkan Zhen Xian selaku korban dalam posisi sujudnya alih-alih memohon ampun.
“Hentikan.”
Bukankah kekuasaan itu sangatlah menakutkan? Cukup satu kata saja, siksaan fisik pun berakhir. Namun, luka yang tercetak pada tubuh selain korban itu sendiri, siapa memang yang akan tahu seperti apa denyut-denyut nyerinya? Pun Dayang Chu selaku Ketua Dayang Istana yang memberikan titah menghentikan tadi, membawa kedua tungkainya mendekat lebih lagi memerhatikan luka mengoyak yang memenuhi tubuh Zhen Xian.
“Katakan, siapa kau dan kenapa masuk ke kediaman terlarang?”
Akan tetapi, alih-alih menjawab Zhen Xian malah melepaskan kepalan tangan termasuk pula mengembuskan napas kecil melalui mulut yang terkatup gemetar sebelumnya. Kedua tungkai yang tertekuk, perlahan-lahan dibangunkan kembali dan jelas saja butuh usaha tuk memantapkan pijakan. Sedangkan wajah tertunduk, pada akhirnya terangkat. Tak ada air mata, bahkan sedikit saja kaca-kaca bening taklah terdeteksi keberadaannya. Justru yang ada, hanyalah suatu pandangan tajam terlingkup kemarahan dan kebencian serta ketidakterimaan yang lurus diarahkan pada Dayang Chu.
“Kau ... beraninya memandangku seperti itu!” kecamnya, tapi Zhen Xian bagai tak menggubris seolah tak lagi peduli jenis siksaan apalagi yang akan tubuhnya dapatkan. “Apa yang kalian tunggu? Lanjutkan mencambuk mata-mata ini!”
Apa itu sengiran? Apa benar gadis ini melakukannya? Tak heran Dayang Chu dibuat geram, menarik kembali titah yang baru saja diutarakan pun sebelah tangan dilayangkan seiring dengan netra membulat tak mampu berkedip lagi.
Namun, apalagi ini? Bukannya berhasil menampar, justru tangan Dayang Chu tertahan kuat oleh sosok yang baru saja menginterupsi masuk pun berhadap-hadapan pula dengan Dayang Chu yang serta merta menarik lepas tangannya dari genggaman pria tak dikenal ini.
“Siapa kau?! Beraninya masuk kemari tanpa izin, apa kau ingin menjadi seperti gadis ini?!”
“Aku tidak tahu kesalahan apa yang telah adikku lakukan, tapi dia bukan bagian dari istana dan tidak seharusnya mengikuti hukuman dari dayang istana.”
“Gadis itu masuk ke tempat yang tidak seharusnya ....”
“Dia hanya menemaniku mendaftar untuk kompetisi dekorasi lalu tersesat. Apa itu sudah cukup untuk dijadikan bukti ketidaksalahannya?” potong Zhen Chen, meninggikan suaranya, tapi wajah malah terlihat teduh. “Bisakah aku membawanya pergi sekarang?”
__ADS_1
“Akan kuanggap selesai setelah gadis itu menerima 5 kali cambukan lagi, bagaimana?”
“Baiklah ... biarkan aku yang menerima sisanya.”
“Tidak!” henti Zhen Xian, menggeleng-geleng pun menarik-menarik lengan pakaian sang kakaknya ini tuk menoleh melihatnya. “Ge, biar aku saja, jangan menyakiti tubuhmu hanya karena masalahku,” mohonnya, netra pada akhirnya mulai mendatangkan genangan demi genangan cairan bening tertahan.
“Xian’er ... dengarkan aku.”
“Aku tidak mau. Tidak mau, Ge,” pinta Zhen Xian, cairan bening luruh begitu saja tanpa dikedipkan.
"Menurutlah, tidak apa-apa, aku bisa menahannya," ucapnya, lagian bagaimana bisa Zhen Chen mampu menyaksikan sang adik yang begitu kesakitan ini kembali menahan lima kali cambukan lagi? Tubuh sudah begitu tertutupi noda darah, melihat ini saja sudah meremukkan hati Zhen Chen yang mulai menyeka luruhan bertubi-tubi buliran cairan bening murni milik sang adiknya ini.
Namun, berbeda dengan Dayang Chu yang bagai tak lagi memiliki jenis perasaan apa pun menyaksikan dua saudara di hadapannya ini. Mungkinkah, tinggal dalam istana memang mampu mematikan segala jenis perasaan? Jika memang demikian, tempat seperti apa istana ini?
Alhasil, suara sabetan berbentur dengan rintihan kembali terdengar. Akan tetapi, tangisan yang sebelumnya tak dilakukan Zhen Xian kini malah pecah seiring dengan seruan demi seruan meminta tuk berhenti mencambuk, sampai titik di mana terdengar layaknya permohonan tepat di dalam pelukan sang kakak yang melindungi.
“Ge, maafkan aku ....” lirihnya, sekujur tubuh tak lagi gemetar kesakitan, melainkan gemetar tersedu-sedu dalam tangisan ketidaktegaan. Sang kakak, yang biasanya hanya tahu merawat, menjaga dan mendekorasi bunga-bunga sekarang malah harus berakhir seperti ini. “Ini semua salahku, kenapa aku terus-terusan melibatkanmu?”
“Sebagai kakak, tentu aku harus melindungimu.” Tersenyum, tapi berikutnya malah menahan rintihan. Pun hukuman cambuk selesai, dan apabila melihat dari bercakan noda darah punggung Zhen Chen ini. Dapat Zhen Xian hitung bahwa cambukan yang dilontarkan tadi bukanlah lima kali, melainkan sekitar sepuluh atau barangkali lebih.
Oleh sebab itu, Zhen Xian kembali melemparkan pandangan selayaknya siap menelan habis Dayang Chu yang tersenyum menang.
“Apa kami boleh pergi sekarang?” tanya Zhen Chen.
__ADS_1
“Pergilah, dan ajarkan pula tata krama yang baik pada adikmu.”
Mendengar itu, bagaimana bisa membuat Zhen Xian tahan menahan amarah menggebu-gebunya? Semacam ucapan Dayang Chu jelas adalah minyak, siap meledakkan kobaran api ke dalam pecahan api raksasa. Sontak, Zhen Chen memapah pergi Zhen Xian yang sungguh enggan melangkah barangkali selangkah saja. Namun, setelah beberapa langkah menjauh, justru Zhen Xian-lah yang dibuat bingung akan sikap kakaknya ini. Menghentikan langkah
“Bagiku ... tata kramamu yang harusnya diperbaiki. Sebagai Ketua Dayang, kau bahkan menghukum rakyat biasa dengan cara istana, tanpa bukti dan hanya dugaan. Apa itu pantas?”
“Kau! Kau!”
Tersenyum puas Zhen Xian akan reaksi kekesalan Dayang Chu pun mengejek dengan menjulurkan sedikit lidah, barulah Zhen Chen menggandeng sebelah tangan adiknya yang tampak puas, meninggalkan istana dengan tubuh tertutupi noda darah. Tak heran, orang-orang memerhatikan keduanya setiap kali bertemu.
“Maafkan aku, Ge. Tidak seharusnya aku berkeliaran tadi.”
“Ini pelajaranmu, dan untuk ke sekian kalinya kuberitahukan, Xian'er ... cobalah untuk tidak berkeliaran sendiri tanpaku, apa kau mengerti?” tanyanya sambil merapikan rambut sang adik yang mengangguk paham. “Ayo pergi, kita tidak mungkin pulang dalam kondisi seperti ini, bukan?”
“Tentu saja, bisa-bisa kita berdua tidak akan diizinkan keluar selangkah pun dari rumah,” jawab cepat Zhen Xian. “Tapi, Ge. Mengenai Dayang Chu ... kenapa dia begitu kejam? Apa kehidupan istana sekeras itu sampai mengharuskan dia melampiaskan kekesalannya pada orang lain?”
“Mungkin,” jawab singkat Zhen Chen, jawaban yang malah membuat keduanya tertawa lepas seiring tungkai yang bergerak menelusuri jalanan kota. Mungkin, kembali teringat akan reaksi kekesalan Dayang Chu, dan barangkali karena tawa itu pula orang-orang tak lagi memerhatikan. Lagian, mana ada orang yang terlibat masalah besar malah tertawa, bukan? Apalagi tertawa di saat sekujur tubuh terlihat begitu menyakitkan. Candaan, mungkin itulah tebakan orang-orang akan luka yang sebenarnya nyata adanya.
Lantas ... ke manakah tujuan awal mereka kini?
Mungkin pergi menemui tabib, kemudian membeli beberapa pakaian atau bahkan obat. Entahlah yang mana duluan, karena begitu langit telah dikuasai cahaya jingga. Barulah mereka tiba di rumah dalam kondisi yang sama sekali tak terlihat telah mengalami hukuman cambuk sebelumnya.
Pun Zhen Xian ataupun Zhen Chen, setiap memakan makanan di meja makan ini akan saling bertukar pandang, lega berkat segalanya aman. Rahasia, terjamin pula kerahasiaannya tuk tak membuat kedua orang tua mereka cemas dan khawatir.
__ADS_1