
Duduk dalam renungan, netra diarahkan pada rentetan semut-semut merayap begitulah antusias. Bagai ingin tahu dunia dari hewan-hewan kecil ini seperti apa, yang barangkali tidaklah semembosankan dirinya yang mendesah, pun menengadah menjadikan sebelah tangan sebagai perisai dari silaunya pancaran sang mentari yang meninggi di singgasananya.
Panas menyerang, lebih tepatnya menyengat. Sedangkan orang-orang yang merupakan pekerja satu demi satu menarik diri dari hamparan luasnya bunga-bunga ini, yang mana waktunya pula bagi dirinya untuk beranjak bangun. Mendapati hampir tidak ada siapa pun lagi, selain Que Mo yang tampaknya bekerja dengan begitulah rajin. Bahkan dari jarak yang terbilang jauh ini pun, tertangkap jelas pria itu berpeluh cukuplah banyak.
Namun, ke mana pria itu melihat kini? Melambaikan sebelah tangan layaknya menyapa seseorang yang begitulah dikenal. Jika dipikir-pikir, Que Mo taklah banyak kenal ataupun dekat dengan orang-orang. Lantas, siapakah yang disapa pria ini?
“Apa yang kalian lakukan di sini?” seru Que Mo.
Pun Zhen Xian bergegas mendekat, bergabung dengan lainnya yang ternyata sang kakak dengan kedua teman prianya, Meng Jun dan Mo Zhu. Yang mana kebosanan yang sempat menguasai gadis ini pun tentu saja seketika pula sirna. Samar-samar pula mendengar jawaban Mo Zhu, yang mana pula kedatangan tiba-tiba mereka ini untuk bersenang-senang.
Bagaimana bisa? Apa benar Mo Zhu sedang tak bercanda? Yang mana Zhen Xian yang baru bergabung kini, dapat dengan jelas menyaksikan bahwa ucapan Mo Zhu memanglah tidak bercanda. “Pekerjaan kalian?”
“Istana sedang kacau, jadi mereka meminta beberapa departemen yang tak begitulah berkepentingan untuk kembali,” jelas Meng Jun.
Memang benar adanya, rumor terkait anak Jenderal Wei masihlah hidup memang memprihatinkan. Kecuali tempat ini, tak sama sekali seperti di luaran sana yang gempar. Katakan saja, menolak masuk rumor yang memang taklah begitu penting untuk dibahas.
“Ayo kita pergi,” ajak Zhen Chen, bergantian memandang sang adik dan juga Que Mo. Belum sempat pula melanjutkan ucapannya, seruan sang ibu dari teras rumah tertangkap pendengaran. “Niang, kami pergi makan dulu ke kota!” Yang mana sang ibu mengangguk, mengizinkan. “Terima kasih, Niang,” ucap Zhen Chen lagi, pun Zhen Xian ikutan dengan antusias mengatakan hal serupa. Paling kegirangan pula di antara lainnya seraya menarik sang kakak dan Que Mo untuk sesegera mungkin berangkat.
Perjalanan mereka pun akhirnya lebih banyak diisi dengan suara Mo Zhu, menyuarakan betapa indahnya tempat tinggal keluarga Zhen ini. Meskipun benar ini kunjungan ke dua kalinya, tapi kunjungan pada saat siang hari begini jelas adalah yang pertama kali.
Tak terkecuali pula dengan Meng Jun, hanya saja pria ini lebih mampu mengontrol mulutnya. Yang mana kemudian obrolan mereka dialihkan Que Mo, seperti salah satunya kenapa mereka harus repot-repot kemari bersama Zhen Chen? Jarak dari istana ke sini jelas saja tak bisa dibilang begitulah dekat, bukan?
Alhasil, pertanyaan itu malah lagi dan lagi kembali pada keindahan tempat tinggal keluarga Zhen. Baik Mo Zhu ataupun Meng Jun memang hanya ingin menyaksikan pemandangan yang ada saat siang hari, karena jelas akan jauh lebih berwarna, bukan? Seperti kehidupan ini yang penuh warna, yang mana setiap makhluk hidup di dalamnya juga berwarna.
Apalagi jika sudah bertemu dengan keramaian seperti ini. Kota yang pagi tadi sangatlah sibuk akan membicarakan rumor yang ada, dan sekarang pun masihlah demikian adanya.
Apa mungkin mereka tak bosan? Memang apalagi hal yang bisa dibicarakan? Yang ada rumor itu akan kian berkembang ke arah yang jauh lebih dari sekadar anak mendiang Jenderal Wei masih hidup. Heran, sungguhlah heran dengan manusia-manusia ini.
“Bagaimana jika kita makan mie saja?” tawar Zhen Xian. “Mengingat ini kali kita semua berkumpul bersama, jadi kita rayakan dengan makan mie agar hubungan selalu bertahan lama. Adakah yang setuju?” tanyanya seraya mengacungkan tangannya sendiri.
“Ide yang bagus,” jawab Mo Zhu, pun disetujui lainnya pula.
__ADS_1
Di sinilah kemudian, mereka mendudukkan diri. Kedai mie yang Zhen Xian pernah kunjungi bersama Que Mo. Yang mana kali ini Que Mo-lah yang memesan, pesanan yang sama seperti waktu lalu. Mie dengan tambahan pangsit.
“Kapan mereka akan berhenti membicarakan rumor ini?” rengek Mo Zhu, menegak teh dengan sedikit kesal. Barangkali bermaksud mencari sedikit ketenangan saja dari aroma menenangkan teh tersebut. “Berharap saja Taizi akan mengurus masalah ini dengan cepat,” tambah Meng Jun.
Yang mana Que Mo baru saja bergabung, menepuk pundak Meng Jun seraya duduk di sebelahnya. “Untuk menutup rumor tidaklah segampang seperti menangkap pencuri atau pembunuh. Jadi menurut kalian, rencana seperti apa yang akan digunakan Taizi?” tanyanya, melemparkan pandangan ke semua orang yang mana berakhir jatuh pada Zhen Chen. “Tampaknya kau tahu, bukan begitu?”
“Rumor hanya bisa hilang jika ada suatu kejadian yang lebih mengejutkan dari rumor itu sendiri,” jawab Zhen Chen, begitulah santai seolah jawabannya itu begitulah mudah untuk dijawab semua orang. Namun, kenapa mereka malah bereaksi demikian? Bagai jawabannya ini adalah salah satu jawaban yang tak mungkin mereka mampu pikirkan. “Bukankah begitu?”
“Itu benar.” Meng Jun menjawab. “Sepertinya kota akan terus ramai membicarakan rumor demi rumor mulai sekarang.”
Mendesah, Mo Zhu kembali menegak teh untuk kali keduanya. “Menjadi rakyat biasa memang jauh lebih baik, bukan? Bisa menikmati hidup bebas seperti ini,” ucapnya seraya mengajak bersulang, meskipun hanya berupa teh, tapi tak apalah.
“Aku setuju denganmu. Mari kita semua bersulang!” ajak Zhen Xian lebih semangat lagi. “Bersulang!”
Pun suara dentingan bagai perisai tak kasatmata, sukses menutupi sepasang telinga mereka masing-masing, mengabaikan dan tak lagi terganggu akan obrolan orang-orang di sekitaran.
Tertawa, tentu keharusan. Apalagi di saat waktu berkumpul yang jarang sekali mereka dapatkan di siang hari begini. Belum lagi saat ketika pesanan mereka akhirnya tiba, kian pula suasana terbangkitkan bagai hidup ini memang sudah seharusnya seperti ini. Mengobrol, bersenda gurau, menikmati sajian enak bersama teman-teman terdekat.
“Kalian benar-benar tidak mirip seperti saudara. Apa kalian sadar?”
Mendengar itu, Zhen Chen sukses menghentikan kekehannya, menoleh pada si penanya yang tak lain adalah Mo Zhu. Yang mana Zhen Xian sendiri mengangguk-angguk menanggapi pertanyaan, semacam pertanyaan demikian sudah biasa dilemparkan. “Bahkan, kebanyakan akan mengatakan kami sepasang kekasih yang sangat cocok. Bukankah kau dan Meng Jun juga berpikir demikian saat ketika bertemu kali pertama denganku?”
“Itu benar,” jawab Meng Jun. “Lalu bagaimana kalian menjawab? Apa mungkin kalian hanya mengatakan bahwa kalian saudara?” tanyanya lagi.
Menggeleng, Zhen Xian bahkan menghentikan acara makannya dengan wajah senyum-senyumnya. “Terkadang kami akan bermain-main, bersikap seolah kami sepasang kekasih sungguhan,” ucapnya, senyuman pun berakhir menjadi pecahan tawa seraya tangan bertepuk ria.
“Itu adalah idenya. Aku sudah meminta untuk berhenti, tapi dia tetap melakukannya apalagi di depan wanita,” tambah Zhen Chen. “Baiklah, berhentilah tertawa. Orang-orang melihatmu.” Namun, diri sendiri pun ikutan terkekeh seraya menggeleng-geleng akan sikap adiknya ini yang mulai pula berhenti tertawa.
“Itu karena aku tidak suka dengan para wanita yang ingin mendekatimu, Ge. Mereka tampak tidak layak berpasangan denganmu.”
Sontak, Que Mo menghentikan makannya. Memandang Zhen Xian di hadapannya dengan pandangan menyelisik. “Lalu ... wanita seperti apa yang kau harapkan untuk Zhen Chen?” Meletakkan sumpit, yang mana mangkuk mie memanglah telah kosong.
__ADS_1
“Tentu seperti diriku. Cantik, baik, ceria dan ....”
“Hentikan!” sela Que Mo, bagai sekujur tubuh merinding tak sanggup lagi mendengar kelanjutan gadis ini. “Kau akan menghilangkan nafsu makan mereka semua,” lanjutnya, yang mana sukses membuat Meng Jun dan Mo Zhu menahan tawa.
Pun Zhen Xian memandang kakaknya, memastikan apakah sang kakak juga ikutan mentertawakan dirinya. Mendapati tidak, gadis ini segera mengembalikan pandangan memicing pada Que Mo. “Apa maksudmu? Apa kau lupa dulu hampir menjualku karena kecantikanku ini? Ha?!”
“Itu karena tidak ada pilihan lain makanya aku membawamu.”
“Kau!” serunya mendengkus, bangun dari duduknya menghampiri Que Mo yang menyilangkan kedua tangan sebagai bentuk pertahanan diri. “Apa kau benar temanku? Kenapa suka menggodaku seperti ini?! Kembalikan Que Mo! Kembalikan!” protesnya seraya mengguncang-guncang tubuh Que Mo yang terus saja meminta berhenti.
Namun, begitu gadis ini berhenti. Que Mo malah beranjak bangun dari duduknya, kembali menggoda Zhen Xian bagai kini baru saja menemukan keseruan lain dalam hidupnya.
Jangan heran pula apabila kini dua orang itu saling beradu mulut, dan Zhen Chen tak mempermasalahkan sama sekali. Tahu dan sadar dengan baik, mereka tidak akan sampai berargumen. Lagian siapa yang bertengkar dengan saling menjulurkan lidah bahkan tak jarang sesekali akan tertawa begitu, bukan?
Beda halnya dengan Mo Zhu dan Meng Jun yang tampak terkejut. Kenyataan macam apa ini? Jikalau memang Que Mo dulu benar hampir menjual Zhen Xian, lantas kenapa keluarga Zhen bahkan Zhen Chen sendiri begitulah baik dan dekat dengan Que Mo kini?
Alhasil, inilah yang terjadi.
“Menjual?!” seru keduanya berbarengan, pun saling bertukar pandang yang mana Mo Zhu berakhir meminta Meng Jun saja yang menanyakan. “Tepatnya apa yang terjadi?”
Mengangguk, Zhen Chen pun sedikit bergumam membenarkan. “Itu waktu pertama kali mereka bertemu, juga pertama kalinya aku bertemu dengan Taizi.”
Berakhir pula, jenius bunga ini menceritakan kejadiannya. Terasa layaknya kejadian itu barulah terjadi kemarin. Sedangkan kedua temannya ini begitulah betah, mendengar kata demi kata yang disampaikan.
Sementara Putra Mahkota yang menjadi salah satu orang terkait dalam cerita Zhen Chen, tampak kini dalam kediaman pribadinya begitulah termenung biar kata meja dipenuh dokumen. Yang mana pula Jin Kai meletakkan kembali kuas pada tempatnya, menutup dokumen dan melemparkan pandangan pada Lin Feng dan juga Kasim Ma.
“Apa menurut kalian aku orang yang kejam?” tanyanya, mendesah. “Kalian sudah bersamaku dari sejak kecil, apa menurut kalian aku banyak berubah? Bahkan aku tidak tahu siapa diriku dan apa yang telah kulakukan sampai sejauh ini.”
“Jika Taizi tidak ingin melanjutkan, maka hentikan sebelum terlambat,” ucap Lin Feng, lebih ke suatu permohonan kepada sahabatnya alih-alih sekadar ucapan dari seorang pengawal pribadi kepada sang tuan. “Taizi,” panggilnya kembali, yang mana panggilan ini penuh penekanan. Berharap, jawaban yang didapat adalah anggukan. Namun, justru gelengan yang didapat.
“Semua berjalan dengan lancar dan sekarang adalah tahap akhir.” Membangunkan diri dari duduk, pun mendekati Lin Feng menyisakan beberapa jarak saja dalam posisi berhadap-hadapannya ini. “Aku tidak akan berhenti dan akan membayar seumur hidupku sebagai gantinya pada mereka." Menepuk pundak Lin Feng, tapi pandangan diturunkan pada salah satu lengan berjubahnya. Mengeluarkan sesuatu berupa botol porselen putih seukuran genggaman tangan, digenggamnya pula dengan erat.
__ADS_1
Maafkan aku untuk semua yang akan kulakukan pada kalian. Ke depannya, aku akan menanggung rasa bersalah ini sebagai bentuk hukuman bagi diriku sendiri. Sontak pula sorot di sepasang netranya berubah, begitu yakin nan menajam pula. “Lin Feng, bawa dia kemari menemuiku sekarang.”