
Wajah yang diturunkan sibuk memerhatikan tusuk konde chahua. Yang mana sepasang tungkai sesekali digerakkan tuk mengayunkan diri dari duduk termenungnya pada ayunan ini. Bahkan luka lecet di sepasang telapak tangannya masihlah begitu menyakitkan, meringis begitu sedikit saja tersentuh.
Namun, setidaknya beruntung masih ada tempat aman baginya dalam istana ini. Belum lagi ditemani para chahua untuk sekadar menemani kesendiriannya, meskipun benar jikalau chahua masihlah dalam wujud putik siap mekar.
Cepatlah kembali, aku merindukanmu, Ge. Mari kita keluar dari istana dan hidup seperti dulu lagi.
Bukankah masalah terkait rumornya ini, sungguhlah menakutkan? Tanpa sang kakak rasanya ke mana-mana pun sangatlah menakutkan kini, meskipun benar dirinya tak sepatutnya berkeliaran. Akan tetapi, bagaimana dengannya yang ingin pulang? Tak mungkin terus-terusan bersembunyi di sini hingga rumor mereda, bukan? Yang mana rasa takut itu pula yang kian melemaskan tungkainya tuk bangun.
Belum lagi, langit kian saja meredupkan cahaya terangnya, memerahkan langit yang tadinya berawan putih. Indah memang tuk disaksikan, tapi apa gunanya jikalau pikiran sedang kalut yang bahkan kedatangan seseorang saja tak lagi disadari.
“Kau baik-baik saja?”
Suara ini. Seraya memakaikan kembali tusuk konde chahua, Zhen Xian tak serta merta menoleh ke arahnya. Namun, kehadiran pria ini mampu tertangkap pandangan meskipun wajah masihlah tertunduk. Tepat di hadapannya, pria yang tak seharusnya ditemui di masa-masa memanasnya rumor.
“Tentu baik-baik saja,” jawab Zhen Xian, wajah yang tak ingin menyunggingkan senyuman itu pun akhirnya tersenyum, mendapati Jin Kai menjongkokkan diri memandang penuh khawatir dan juga kelekatan. “K-kau ....”
“Lihatlah luka itu,” potongnya. Memegang kedua tangan gadis yang dicintainya ini seolah melihat saja taklah cukup menenangkannya. “Bagaimana mungkin kau baik-baik saja?”
Merasa ini tak benar, Zhen Xian sesegera mungkin menarik lepas tangannya pun membangunkan sepasang tungkainya. Ini tidak benar, bagaimana bisa seorang pria dan wanita asing bersentuhan fisik? Belum lagi jika dilihat seseorang, bukankah hanya akan menghidupkan rumor lebih besar lagi? Bahkan hanya sekadar bertemu atau bertegur sapa saja tak seharusnya dilakukan di saat-saat seperti ini, bukan? Tak mungkin Jin Kai tak paham akan situasi, orang cerdas sepertinya tak mungkin akan begitulah gegabah.
“Semua chahua ini akan segera mekar, kurasa sudah waktunya aku tak kemari.”
“Kau tidak akan datang ke istana lagi?”
“Kurasa tempat ini tidak cocok denganku, akan jauh lebih baik jika aku di luar istana saja.”
“Bagaimana denganku? Apa kau sama sekali tidak berpikir tentangku?”
Jika harus ditanya, tentu Zhen Xian ingin bertanya maksud dari pertanyaannya ini apa. Namun, jika bertanya bukankah akan kian melamakan pertemuan mereka? Yang mana Zhen Xian sendiri ingin rasanya menghilang saja dari sini andai bisa. “Kita bisa bertemu jika kau senggang di luar sana. Seperti dulu.”
Tapi aku ingin kau tetap di sisiku seperti ini.
“Hari akan segera gelap, aku kembali dulu.”
DEG!
Kembali Jin Kai menyentuh, menahan sebelah pergelangan tangan yang mengharuskan Zhen Xian sendiri menoleh padanya. Meminta melepaskan, akankah pria ini benar akan menuruti? Yang mana pegangan kian menguat, tak tahu pula apakah itu amarah atau kekesalan. Entahlah, karena Zhen Xian sendiri hanya ingin bebas sesegera mungkin dari pertemuan saat ini.
Namun, tampaknya tak akan semudah itu. Jin Kai malah menarik pergi dirinya, keluar dari taman belakang. “Kembalilah setelah aku mengobati lukamu,” ucapnya yang bagai suatu titah, atau memang justru suatu titah?
Pasalnya, nada ketegasannya serupa saat ketika dia memberikan titah pada Lin Feng yang berjaga didekat pintu kediaman ibunya ini. Menitahkan tuk memanggil tabib kerajaan kemari, yang mana Kasim Ma sendiri tak berani menghentikan berkat tatapan nyalang Putra Mahkota-nya ini.
“Tidak perlu, ini hanya luka kecil. Selain itu, rumor akan kian memanas. Sudah cukup dengan semua rumor sekarang.”
“Panggilkan tabib,” tegas Jin Kai.
“Sudah kubilang tidak ....”
__ADS_1
“Dengarkan aku!” bentaknya. “Jangan buat diriku khawatir!” lanjutnya lagi seraya menarik masuk Zhen Xian yang terdiam, lidah keluh. Pun Kasim Ma tak berani masuk, menutup pintu kediaman barangkali khawatir akan disaksikan oleh orang lain yang memata-matai.
Apa ini benar Jin Kai? Pertama kali menyaksikannya seperti ini, sungguh menakutkan. Di mana Lin Feng telah pergi memenuhi titah yang diberikan, yang sebenarnya tabib kerajaan dilarang keras tuk memeriksa mereka yang bukan bagian dari kerajaan.
Jika hal ini bocor, bukankah akan menambah masalah kian runyam?
“Aku hanya tidak ingin rumor beredar kian menggila, hanya itu.”
“Tidak peduli apa yang akan kau lakukan, rumor tidak akan hilang begitu saja hanya dengan kau diam tanpa melakukan apa-apa. Mereka sudah terlanjur percaya, iri dan cemburu padamu, Zhen Xian.”
“Maka alasanku untuk meninggalkan istana ini semakin kuat. Kepergianku jelas akan segera menghilangkan segala rumor itu.”
Entah dari mana keberanian gadis ini datang, yang jelas Zhen Xian mengucapkannya dengan penuh kemantapan tanpa mengedipkan sedikit saja netranya. Pun menarik lepas pegangan Jin Kai seraya membawa sepasang tungkai menjauh.
Sedari awal, istana memanglah tak cocok dengannya. Jikalau bukan karena sang kakak, Zhen Xian pun tak akan mau kemari. Siapa yang mengatakan istana dipenuhi peraturan? Bagi Zhen Xian, istana hanyalah tempat orang-orang berpikiran sempit pun mengisi kebosanan akan hal-hal yang tak penting. Jelas, hidup mereka jauh dari kata mengenal cinta.
Mungkin barangkali itulah yang mendasari Putri Mahkota tak menanamkan satu pun chahua di kediamannya. Karena pada akhirnya hanya akan menyia-nyiakan makna suci dari keberadaan bunga itu sendiri.
Namun, apa lagi mau dari Putra Mahkota ini kini? Kenapa bisa seorang pangeran begitulah tak sopan pada seorang wanita? Menarik, mendekap pun apa ini?
“Lepaskan, apa yang kau pikir akan lakukan?!” Mendorong kuat, yang mana Jin Kai tak kunjung juga menghentikan aksi tak senonohnya. Mencium, benar. Pria ini jelas ingin mencium paksa Zhen Xian yang meronta, merasa tak lagi aman akan pria yang tak tahu kenapa bisa berubah sedemikian drastisnya.
Akan tetapi, seorang gadis muda sepertinya bagaimana bisa melepaskan diri dari kekuatan seorang pria? Apalagi dari pria yang memang belajar bela diri seperti Jin Kai ini. Yang mana kian liar, semacam segala jenis ajaran menghormati lawan jenis tak lagi diingatnya. Yang ada hanyalah satu, mendapatkan apa yang diinginkan.
“APA KAU GILA?! LEPASKAN AKU!” ronta Zhen Xian, berusaha memanggil Kasim Ma yang tak kunjung juga menghampiri. Ke mana pula perginya si kasim itu di saat genting seperti ini, atau jangan bilang, Kasim Ma telah menutup mata dan telinganya? “LEPASKAN, TOLONG!”
“Apa kau benar tidak tahu dan tidak menyadari perasaanku? Apa tidak ada sedikit pun rasa suka di hatimu padaku?! Apa semua yang kau pikirkan hanya Zhen Chen dan Zhen Chen seorang?!”
“Maka jangan salahkan aku.” Kembali melakukan hal gilanya, yang mana ketakutan berlebih memenuhi Zhen Xian seraya cairan bening luruh dari sepasang netranya yang memohon dengan sangat tuk berhenti.
Apa benar Jin Kai tak lagi memiliki kesadaran? Dan siapa yang mampu menghentikan kegilaan pangeran ini sebelum segalanya benar-benar akan terlambat?
“JIN KAI!” sergah seseorang, tepatnya menerobos masuk. Barangkali kedatangannya kemari begitulah terburu-buru. Masihlah begitu jelas deruan napas memenuhinya, yang mana Kasim Ma berusaha pula menghentikan seseorang yang tak lain Zhen Chen ini tuk mendekat. “Lepaskan dia, kau lupa siapa dirimu? Haruskah kau berada di titik serendah ini sebagai manusia?! Sebagai calon Huangdi masa depan?!” bentak Zhen Chen.
“Ge .... “ Tangis Zhen Xian, tak mampu mengucapkan apa-apa berkat isakannya yang terus mengambil alih mulutnya.
Menyaksikan sang adik begitulah ketakutan, tubuh begitulah gemetaran. Sontak, Zhen Chen menyingkirkan Kasim Ma dengan begitulah mudah. Semacam energi tak kasatmata entah dari mana telah merasukinya. Pun kemudian menarik sang adik lepas dari Jin Kai, gantinya mencengkeram kerah pakaian Putra Mahkota yang terdiam ini dengan penuh luapan kemarahan dan juga kebencian.
Sedangkan Jin Kai, dirinya diam bukan karena takut atau apa, melainkan hanya karena tak menyangka akan kehadiran tiba-tiba Zhen Chen ini yang barangkali di luar rencananya.
“Apa yang kau pikir sedang lakukan?”
“Menurutmu?”
“Kau! Benarkah kau Jin Kai yang kukenal?!”
Yang mana Lin Feng menerobos masuk, bersama satu lagi pria yang barangkali tabib. Mendapati situasi ini, sebagai pengawal pribadi bagaimana bisa tak menghunuskan pedang pedang tepat pada leher Zhen Chen, bukan? “Taizi, kau baik-baik saja?” tanyanya, kian mendekatkan tajamnya pedang pada leher Zhen Chen.
__ADS_1
Mendapati situasi tak akan menguntungkan sang kakak, Zhen Xian serta merta mendekat. “Ge, lepaskan dia dan mari pergi dari sini,” pintanya dengan suara yang diusahakan taklah begitu gemetar. “Ge, kumohon.”
Alhasil, Zhen Chen mendengarkan. Benar saja, bagaimana bisa membiarkan sang adik berada satu ruangan dengan pangeran sepertinya ini. Di mana Zhen Chen meraih tangan sang adik, pergi meninggalkan Kediaman Chahua pun keluar dari istana sejauh yang dirinya bisa.
Sudah lama tak bertemu, tapi setelah bertemu kembali malah menyaksikan saat sang adik taklah dalam situasi baik. Terlambat sedikit saja, Jin Kai pria itu tak tahu akan bertindak sejauh apa.
“Maaf, ini salahku karena meninggalkanmu terlalu lama.” Memeluk erat, menenangkan sang adik yang masih terlingkupi ketakutan. Di mana adiknya ini tak lupa memeluk kembali sang kakak yang terus saja memohon pengampunan. Padahal, tak perlu sampai sejauh itu, karena memang sang kakak tidaklah salah dalam hal ini.
“Jangan pergi lagi dan bawa aku bersamamu lain kali.”
Mengangguk menanggapi seraya menepuk-nepuk bahu yang mana pula mengelus lembut kepala sang adik dalam dekapannya yang kian mengerat. Dekapan yang mengartikan pula tidak akan pernah melepaskan lagi dan tidak akan membiarkan hal mengerikan seperti tadi terulang kembali. Zhen Xian, gadis muda ini tentu harus hidup dipenuhi kebahagiaan dan kebebasan, bukannya ketakutan.
Lantas, bagaimana dengan Jin Kai? Putra Mahkota yang masih saja di kediaman sang ibu, murka tiada tara tiap kali teringat akan tatapan Zhen Chen pada gadis yang dicintainya. Sampai titik di mana pedang Lin Feng-lah yang diambil alih, dihunuskan pada tabib pun melibasnya tanpa pengampunan. Darah terpecik ke wajah, tabib itu pun dengan mudahnya meregangkan nyawa.
“Saudara ... kakak! Lalu kenapa tatapanmu tampak seperti pria menatap wanita?!” teriaknya.
BRUUKKK!
Netra membulat, napas memburu dari seorang Dayang Yun yang masuk di saat tak tepat. Mengharuskan sepasang tungkainya melemah jatuh dalam keterdudukan, menyaksikan mayat seorang tabib berlumuran darah. Yang mana darah yang mengalir itu pun mengenai sedikit bagian sepatu dan juga kain pakaiannya. “T-Taizi. A-apa yang terjadi sekarang?” gagapnya, berusaha mengontrol keterkejutan.
Namun, bagaimana bisa hilang? Ketika pedang yang melibas si tabib malah diarahkan Jin Kai kepadanya kini. Apa sekarang sungguh akan menjadi giliran sang dayang tuk meregang nyawa? Yang mana Lin Feng beserta Kasim Ma bersujud, memohon sang Putra Mahkota tuk berhenti segera.
“Taizi!” panggil Lin Feng kembali, bersiap mengambil tindakan lebih apabila tak juga menyadarkan sang Putra Mahkota. Tungkai yang bersujud ini, perlahan-lahan dibangunkan, menjadikan Kasim Ma tak lagi mampu menyaksikan.
Akan tetapi, haruskah melakukannya? Karena Putra Mahkota sendiri telah menyingkirkan pedang, menjauhkan dari Dayang Yun yang mulai mampu bernapas kembali. Yang mana Lin Feng pun, kembali bersujud. “Jika kau berani mengatakan yang terjadi hari ini ... maka ...!”
“Taizi jangan khawatir. Aku selalu mendukungmu dan pasti akan menjaga semuanya yang terjadi dengan nyawaku,” jawab Dayang Yun.
“Baik, camkan itu. Juga, Lin Feng, bantulah Dayang Yun membereskan mayat ini. Pastikan hal ini tak diketahui siapa pun, jika tidak ... dayang ini yang akan menjadi sasaranku berikutnya.”
“Baik, baik, Taizi,” balas Dayang Yun, berkali-kali pula mengucapkan terima kasihnya atas kemurahan hati Putra Mahkota-nya yang berlalu pergi bersama Kasim Ma. Barulah, Dayang Yun bisa bernapas lega, biar kata efek ketakutan masihlah melekat kuat.
Yang mana hari di luar kian menggelap, bahkan bulan saja tak ingin menyaksikan aksi Dayang Yun dan Lin Feng yang berusaha menyingkirkan mayat ini. Namun, berbeda dengan bulan yang berada didekat dua saudara Zhen ini.
Rumah hangat mereka sudah tertangkap pandangan, di mana kondisi Zhen Xian sendiri sudahlah membaik. Meskipun tak bisa dipungkiri, sepasang netranya masihlah sedikit bengkak dan memerah.
“Mulai sekarang jangan datang ke istana lagi. Apa kau bisa berjanji padaku satu hal ini?” Menghentikan langkah, memposisikan diri berhadapan dengan sang adik yang mengangguk menyetujui. Kejadian sudah demikian adanya terjadi, tentu tak ada alasan lagi ke tempat terkutuk itu, bukan? “Aku juga akan mengundurkan diri setelah menyelesaikan tugasku. Jadi ... tunggulah sebentar dan mari hidup seperti sebelumnya.”
“Baik, mari hidup seperti itu, Ge.”
Namun, kenapa dalam tatapan senyum sang kakak ini malah tampak tersimpan suatu hal? Hal yang bagai tak ingin disampaikan, atau barangkali menjadi pertimbangan Zhen Chen tuk memberi tahu atau justru tidak. Hal yang baru diketahui belum lama ini, yang barangkali terkait Jin Kai, yang mana mungkin itu pula yang membuatnya segera kembali ke istana.
Kurasa aku harus menanyakan untuk yang satu ini. Akan tetapi, belum sepatah kata pun keluar. Seruan yang memanggil sang kakak terdengar cukuplah jelas, dialah Que Mo, seseorang yang memanggil di saat yang tak tepat. Yang mana akhirnya keinginan Zhen Xian tuk menanyakan hilang.
“Mari kita kembali, jangan membuat orang tua menunggu,” ajak Zhen Chen kemudian, atau barangkali sebelumnya tahu bahwa sang adik bermaksud menanyakan. “Untunglah kau datang,” lirihnya pada Que Mo yang tak paham apa maksudnya, tapi tersenyum saja.
“Tapi, ada apa dengan luka lecet telapak tanganmu itu, Zhen Xian? Orang tuamu pasti akan sangat khawatir begitu melihatnya.”
__ADS_1
Pun malam itu, berakhirlah keluarga hangat Zhen ini menikmati makan malam bersama. Menceritakan apa yang terjadi dengan luka lecet, menyusahkan Zhen Xian saja dalam menggunakan sumpit yang mengharuskan sang kakak pula yang membantu.
Hanya, Zhen Xian tak menceritakan perbuatan tidak senonoh Jin Kai padanya, dan sang kakak pun tidak membahasnya sama sekali. Menjadikan hal itu sebagai rahasia di antara keduanya saja. Yang mana Que Mo terus saja mengutarakan kata-kata kebencian dan kekesalan pada para pelayan yang berani merundung bahkan melukai Zhen Xian.